Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kuliah Lintas Disiplin Ilmu di Emperan Rektorat UIN Syarif Hidayatullah



Rabu , 23 Juli 2025



Telah dibaca :  444

Hari ini saya bertemu dengan sahabat lama di UIN Syarif Hidayatullah: Prof Sunhaji. Sangat sering bertemu dengannya -Mbah Sunhaji -dari UINSAIZU Purwokerto. Sudah sangat sering juga Mbah Sunhaji ngajak ke rumah nya. Tapi sebanyak permintaannya sebanyak itu, saya belum sempat ke rumah nya. Semoga saja, suatu saat saya bisa silaturahim ke rumah nya.

Di sela-sela pertemuan para ulama kontemporer spesifikasi bidang kemahasiswaan dan kerjasama, Prof Sunhaji menyempatkan selfi. Katanya ciri-ciri ulama kemahasiswaan yaitu ulama sufi-suka selfi. Dia yang selfi. Sebab Mbah Sunhaji tahu kalau HP ku bermasalah. Ternyata Mbah Sunhaji punya bakat fotografer.

Kami berdua ngobrol ringan-ringan saja. Mbah Sunhaji juga tanya tentang akreditasi MPI beberapa waktu lalu yang asesornya Prof.Rahmat dari UINSAIZU. Saya menceritakan kepada nya, bahwa saat AL, Prof Rahmat lagi kurang sehat. Penilaian model online, alhamdulillah berjalan baik sekali. Bahkan bisa dikatakan sudah pada maqam unggul.

Mendengar kata terakhir, Mbah Sunhaji tersenyum hampir tertawa. Suatu ekspresi yang ulama sufi yang selalu membahagiakan orang lain. Suatu ekspresi tentang pentingnya optimisme terhadap qadha dan qadhar dari Allah SWT.

Kami cukup banyak ngobrol di emper Rektorat UIN Syarif Hidayatullah siang menuju sore. Ada beberapa penggede dari perguruan lain yang ikut dialog. Insya Allah dibahas dilain waktu.

Hari tersebut tentu saja saya tidak hanya ngaji kehidupan kepada mbah sunhaji yang notabene dari kalangan akedemisi. Saya juga sempat ngaji kepada pak Paijo yang siang ini. Ia supir Grab mengantarku ke bandara Soekarno-hatta.

Hari sudah menunjukan jam 15.30 wib, Paijo baru mendapatkan dua penumpang. Satu penumpang mendapatkan komisi Rp.30.000. Jika sampai sore dapat satu penumpang, anggap saja mendapatkan tambahan Rp.30.000. Artinya hari ini estimasi mendapat Rp.90.000.

Paijo jika dilihat dari luar terkesan seorang laki-laki yang bersih dan berpenampilan menarik. Penghasilan sebanyak itu harus pinta-pintar membagi kebutuhan untuk keluarga dan untuk makan saat ia sedang tugas. Tentu saja, dia tidak berani beli nasi di Bandara. Selain rasanya kurang enak- menurutnya -juga harga nya terlalu tinggi. Satu porsi di Bandara, bisa tiga kali lipat harga di Warteg. Apalagi setelah diberlakukan sistem ganjil-genap. Bukan hanya makanan di bandara yang mahal, di wilayah warteg pun ikut mahal. Bukan karena ada perubahan harga nasi, tapi perubahan penghasilan akibat dari berlaku sistem genap-ganjil. Kebetulan juga, kendaraan Paijo bernomor ganjil.

“Hidup terasa ganjil terus. Aturan terasa ganjil dan nasib pun terasa bertambah ganjil” kata Paijo berseloroh.

Senada dengan Paijo, salah satu supir Grab yang terlihat masih muda pun merasakan. Sebut saja namanya Parman. Asli dari Bengkulu. Di usia yang sudah tidak muda lagi belum sempat mengumpulkan duit untuk meminang pujaan hati. Meskipun hidup nya berada di Bandara, tapi jiwa nya warteg. Meskipun baju dan penampilan sangat menggiurkan. Tapi jiwanya menangis. Ingin mengumpulkan duit sebanyak banyaknya. Tapi penghasilan harian hampir habis untuk kebutuhan hidupnya.

Sedih rasanya. Tapi kelihatannya ia sudah memahami tentang kehidupan di Ibu Kota Jakarta yang kata sebagian orang: keras, dan kejam.

“Saya walaupun masih belum menikah, saya kalau ingin bakso di pinggir jalan. Murah. Rp.10.000 bisa makan bakso. Di Bandara, satu porsi Rp. 60.000” katanya.

Paijo dan Parman adalah manusia-manusia tangguh di tengah persaingan hidup di Ibu Kota Jakarta, yang perputaran ekonomi sangat luarbiasa cepatnya. Seperti perputaran kincir air yang mengalir ke sawah-sawah surga kaum orang-orang hebat. Paijo dan Parman hanya mendapatkan tempiasnya. Seperti embun di pagi hari yang menempel di kaca depan mobil. Ia hilang sekali sapu oleh wiper. Atau bahkan dibiarkan terkena sinar matahari akan menguap dengan sendirinya.

Paijo dan Parman melihat bahwa Gedung-gedung pencakar tinggi, pusat perbelanjaan, dan fasilitas ibu kota hanya untuk orang-orang yang berduit. Keadilan, kemanusiaan di kota-kota besar sering sebatas slogan semata. Setiap saat para orang-orang politikus yang hebat-hebat selalu saja sangat semangat menyuarakan keadilan di ruangan ber-AC. Namun sampai detik ini, Paijo dan Parman bilang kepada ku: “Udara Ibu Kota sangat panas pak”.

Saya, Mbah Sunhaji, Paijo, parman dan manusia-manusia yang sumrambah di bumi nya gusti Allah memang senantiasa merasakan makna kepuasan dan ketidakpuasan. Saya secara pribadi memang tidak terlalu bisa mengkritik sebagaimana yang dilakukan oleh Paijo dan Parman. Saya tahu, bahwa pada wilayah-wilayah yang bersifat operasional dan penggerak mesin operasional politik dan pemerintahan ada punya metode yang dipunyai oleh orang-orang yang khusus.

Saya hanya berharap, kebijakan pemerintah semakin hari semakin memberikan kebahagiaan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Meskipun saya tahu, setiap kebijakan selalu saja tidak memberi kepuasan semua orang. Sebab memang politik dan pemerintahan hadir bukan untuk memberi kebahagiaan semua lapisan. Ia hadir untuk memberi kepastian bahwa perbaikan itu ada dan grafiknya terus semakin hari semakin baik. Ini yang dalam Al-Qur’an disebut perbaikan yang istiqomah, yaitu perbaikan yang grafiknya meningkat dan menanjak positif. Semoga saja saja tercapai.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876