
Hari ini saya bertemu dengan sahabat lama di UIN
Syarif Hidayatullah: Prof Sunhaji. Sangat sering bertemu dengannya -Mbah Sunhaji -dari UINSAIZU Purwokerto. Sudah sangat sering juga Mbah
Sunhaji ngajak ke rumah nya. Tapi sebanyak permintaannya sebanyak itu, saya
belum sempat ke rumah nya. Semoga saja, suatu saat saya bisa silaturahim ke
rumah nya.
Di sela-sela pertemuan para ulama
kontemporer spesifikasi bidang kemahasiswaan dan kerjasama, Prof Sunhaji menyempatkan
selfi. Katanya ciri-ciri ulama kemahasiswaan yaitu ulama sufi-suka
selfi. Dia yang selfi. Sebab Mbah Sunhaji tahu kalau HP ku bermasalah. Ternyata
Mbah Sunhaji punya bakat fotografer.
Kami berdua ngobrol ringan-ringan saja. Mbah
Sunhaji juga tanya tentang akreditasi MPI beberapa waktu lalu yang asesornya Prof.Rahmat
dari UINSAIZU. Saya menceritakan kepada nya, bahwa saat AL, Prof Rahmat lagi
kurang sehat. Penilaian model online, alhamdulillah berjalan baik sekali. Bahkan
bisa dikatakan sudah pada maqam unggul.
Mendengar kata terakhir, Mbah Sunhaji tersenyum hampir tertawa. Suatu ekspresi yang ulama sufi yang selalu membahagiakan orang lain. Suatu ekspresi tentang pentingnya optimisme terhadap qadha dan qadhar dari Allah SWT.
Kami cukup banyak ngobrol di emper Rektorat UIN Syarif Hidayatullah siang menuju sore. Ada beberapa penggede dari perguruan lain yang ikut dialog. Insya Allah dibahas dilain waktu.
Hari tersebut tentu saja saya tidak hanya
ngaji kehidupan kepada mbah sunhaji yang notabene dari kalangan akedemisi. Saya
juga sempat ngaji kepada pak Paijo yang siang ini. Ia supir Grab mengantarku ke
bandara Soekarno-hatta.
Hari sudah menunjukan jam 15.30 wib, Paijo baru
mendapatkan dua penumpang. Satu penumpang mendapatkan komisi Rp.30.000. Jika
sampai sore dapat satu penumpang, anggap saja mendapatkan tambahan Rp.30.000. Artinya
hari ini estimasi mendapat Rp.90.000.
Paijo jika dilihat dari luar terkesan
seorang laki-laki yang bersih dan berpenampilan menarik. Penghasilan sebanyak
itu harus pinta-pintar membagi kebutuhan untuk keluarga dan untuk makan saat ia
sedang tugas. Tentu saja, dia tidak berani beli nasi di Bandara. Selain rasanya
kurang enak- menurutnya -juga harga nya terlalu tinggi. Satu porsi di Bandara,
bisa tiga kali lipat harga di Warteg. Apalagi setelah diberlakukan sistem ganjil-genap.
Bukan hanya makanan di bandara yang mahal, di wilayah warteg pun ikut mahal. Bukan
karena ada perubahan harga nasi, tapi perubahan penghasilan akibat dari berlaku
sistem genap-ganjil. Kebetulan juga, kendaraan Paijo bernomor ganjil.
“Hidup terasa ganjil terus. Aturan terasa ganjil
dan nasib pun terasa bertambah ganjil” kata Paijo berseloroh.
Senada dengan Paijo, salah satu supir Grab
yang terlihat masih muda pun merasakan. Sebut saja namanya Parman. Asli dari Bengkulu.
Di usia yang sudah tidak muda lagi belum sempat mengumpulkan duit untuk
meminang pujaan hati. Meskipun hidup nya berada di Bandara, tapi jiwa nya
warteg. Meskipun baju dan penampilan sangat menggiurkan. Tapi jiwanya menangis.
Ingin mengumpulkan duit sebanyak banyaknya. Tapi penghasilan harian hampir
habis untuk kebutuhan hidupnya.
Sedih rasanya. Tapi kelihatannya ia sudah
memahami tentang kehidupan di Ibu Kota Jakarta yang kata sebagian orang: keras,
dan kejam.
“Saya walaupun masih belum menikah, saya
kalau ingin bakso di pinggir jalan. Murah. Rp.10.000 bisa makan bakso. Di Bandara,
satu porsi Rp. 60.000” katanya.
Paijo dan Parman adalah manusia-manusia tangguh
di tengah persaingan hidup di Ibu Kota Jakarta, yang perputaran ekonomi sangat
luarbiasa cepatnya. Seperti perputaran kincir air yang mengalir ke sawah-sawah surga
kaum orang-orang hebat. Paijo dan Parman hanya mendapatkan tempiasnya. Seperti embun
di pagi hari yang menempel di kaca depan mobil. Ia hilang sekali sapu oleh wiper.
Atau bahkan dibiarkan terkena sinar matahari akan menguap dengan sendirinya.
Paijo dan Parman melihat bahwa Gedung-gedung
pencakar tinggi, pusat perbelanjaan, dan fasilitas ibu kota hanya untuk
orang-orang yang berduit. Keadilan, kemanusiaan di kota-kota besar sering
sebatas slogan semata. Setiap saat para orang-orang politikus yang hebat-hebat
selalu saja sangat semangat menyuarakan keadilan di ruangan ber-AC. Namun sampai
detik ini, Paijo dan Parman bilang kepada ku: “Udara Ibu Kota sangat panas pak”.
Saya, Mbah Sunhaji, Paijo, parman dan
manusia-manusia yang sumrambah di bumi nya gusti Allah memang senantiasa
merasakan makna kepuasan dan ketidakpuasan. Saya secara pribadi memang tidak
terlalu bisa mengkritik sebagaimana yang dilakukan oleh Paijo dan Parman. Saya tahu,
bahwa pada wilayah-wilayah yang bersifat operasional dan penggerak mesin
operasional politik dan pemerintahan ada punya metode yang dipunyai oleh
orang-orang yang khusus.
Saya hanya berharap, kebijakan pemerintah
semakin hari semakin memberikan kebahagiaan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Meskipun saya tahu, setiap kebijakan selalu saja tidak memberi kepuasan semua
orang. Sebab memang politik dan pemerintahan hadir bukan untuk memberi
kebahagiaan semua lapisan. Ia hadir untuk memberi kepastian bahwa perbaikan itu
ada dan grafiknya terus semakin hari semakin baik. Ini yang dalam Al-Qur’an disebut
perbaikan yang istiqomah, yaitu perbaikan yang grafiknya meningkat dan menanjak
positif. Semoga saja saja tercapai.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876