
Dulu saat masih sekolah ditingkat Madrasah Ibtidaiyah [MI] sampai Aliyah sering nonton Pagelaran Wayang Kulit. Dalang yang terkenal waktu itu, seingat saya adalah Ki Anom Suroto dan Ki Mantep Soedharsono. Ba’da sholat Ashar sudah mulai pertunjukannya dan selesai menjelang Sholat Subuh. Biasanya setelah sholat Maghrib saya dan kawan-kawan generasi ahl ash-suffah [untuk menyebut mereka yang tidur nya di Mushola dan tidak pernah tidur di rumah apabila sudah sunnat] rajin hadir. Betapapun jauh jaraknya, kami rela jalan kaki yang ditempuh kadang sampai satu atau dua jam jalan kaki. Apalagi kalau ada hiburan layar tancap, hukum nya seolah-olah sudah fardhu ‘ain. Pokoknya tidak peduli, kondisi apapun cuaca saat itu, kami tetap berangkat. Duduk sama-sama di Lapangan Sepak Bola, Sarung dikalungkan di Leher. Sandal Jepit untuk alas duduk agar tidak kotor. Tangannya memegang makanan favorit. Waktu itu ada dua makanan enak, murah dan meriah ; Gembus dan Kacang Rebus. Makanan Gembus bentuknya seperti Lanting tapi besar dan lembut serta rasanya gurih. Makanan ini enaknya ketika selesai digoreng, masih panas sedikit “mrongah-mrongah’. Sebab kalau sudah dingin menjadi alot dan keras. Saya tidak tahu apakah di daerah Sumatera ada makanan sejenis ini pada masa lalu. Sebab saya menemukan makanan ini di daerah Jawa Tengah.

Ketika berbicara lakon Wayang Kulit
Kumbakarna, maka alur cerita tidak bisa melepaskan kisah pertarungan antara Rahwana
melawan Rama atau sering juga disebut Ramawijaya. Perang maha besar ini bermula
dari persoalan yang remeh temeh; yaitu tergodanya Rahwana [saudara tua Kumbakarna]
terhadap kecantikan Dewi Sinta. Ini juga yang menyebabkan pintu masuk peperangan
yang mengorbankan seluruh Kerajaanya. Bahkan juga saudara-saudara Rahwana
meninggal Dunia kecuali Gunawan Wibisana yang mempunyai wajah yang sangat tampan.
Secara politik, Kumbakarna sudah memberi saran agar Rahwanan mengembalikan Dewi Sinta ke Rama. Saran tersebut justru menambah marah Rahwana. Dia pun mengusir adiknya dari forum rapat kerajaan. Merasa sudah tidak dihiraukan pendapatnya, Kumbakarna ngambek dan masuk ke dalam kamar lalu melakukan amalan “tapa brata” yang unik yaitu tapa tidur. Dia benar-benar tidak campur dengan urusan kerajaan yang dipimpin oleh kakaknya.
Saat kerajaan diserang oleh pasukan Sugriwa, kerajaan Alengka kocar-kacir.
Semua pasukan elit dibabat habis. Bahkan Patih Prahasta terbunuh di medan laga.
Saudara-saudara kandung dan anak-anak rahwana pun sudah mati. Masih ada dua
yang tersisa; pertama, Gunawan Wibisana yang lari dari kerajaan dan bergabung
dengan pasukan rama. Kedua, Kumbakarna yang sedang melakukan “tapa tidur”.
Hanya satu harapan Rahwana untuk
menghentikan pasukan Sugriwa yaitu Kumbakarna. Namun tidak ada satu orang pun
yang bisa membangunkannya. Semua sudah mencobanya, mulai dengan cara halus
sampai dengan cara keras dengan memukul Senjata Gada di tubuhnya pun tetap
tidak bisa bangun. Rahwana tahu kelemahanya, mencabut rambut kakinya. Tapi
resiko nya besar. Dia bisa marah dan merusak apapun di sekitarnya. Namun karena
kerajaan sudah sangat genting, terpaksa Rahwana
mencabut bulu jempol kakinya. Dia pun terbangun.
Rahwana berkata:
“Kumbakarna adiku, kerajaan sudah sangat
genting. Paman Patih Prahasta sudah mati di medan pertempuran.
Saudara-saudaramu pun sudah habis. Termasuk anaku Indrajit. Kini tersisa
tinggal dirimu. Saya berharap kamu bisa menghancurkan dan menghalahkan Pasukan
Sugriwa.”
Hati Kumbakarna marah bergemuruh bagai kawah gunung yang hendak meletus. Kemarahan terhadap sikap politik yang kepala batu kakaknya dan berita tentang kematian saudara-saudaranya benar-benar membuat otaknya mendidih ingin membunuh Rahwana. Namun dia menyadari persoalan saat ini bukan sebatas keluarga. Saat ini Negara sedang dalam bahaya. Siapapun yang ingin menghancurkan Negara nya maka harus berhadapan dengan nya.

Kumbakarna berkata:
“Saya tidak ada urusan dengan
saudara-saudaraku yang mati dan kepala batu. Saya juga akan maju ke medan
perang bukan karena rahwana, tapi karena panggilan Negara untuk menyelamatkan
nya dari ancaman musuh.”
Entah apa sebabnya, cerita Kumbakarna kok jadi teringat pasukan GP Ansor, yaitu Pasukan Barisan Serba Guna [Banser]. Kehadirannya sejak dulu selalu saja tidak disukai. Pada masa Soekarno head to head dengan PKI. Mereka menjadi garda gerakan kepemudaan terdepan menghabisi PKI. Pesantren-pesantren NU sebagai basis pengkaderan Banser menjadi saksi. Penulis telah mengumpulkan berita dari sumber-sumber pesantren tentang aksi jihad Banser dalam memberantas PKI. Pada masa Orde Baru, Banser dan induk organisasi sekaligus yaitu NU mendapatkan diskriminasi sekaligus kriminalisasi dari kaki-tangan penguasa. Selama 32 tahun, NU seperti warga kelas dua. Pemerintah saat itu menutup seluruh akses pembangunan untuk warga NU. Akhirnya NU dan banom-banomnya harus mandiri menghidupi Pesantren dan organisasinya. Pada masa reformasi bukan hanya GP Ansor-Banser, tapi organisasi NU pun difitnah oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan sangat Islami yang sebenarnya tidak lebih hanya sebatas baju, sedangkan ucapan dan perilakunya selalu menfitnah NU dan banom-banom nya. Mereka sangat santai memfitnah seperti tidak punya dosa menebar fitnah kepada NU dan banom-banomnya melalui Canel-Canel Youtube, TV dan Media-Media Online. Ketika mereka diminta tanggungjawab, dengan enteng menggunakan senjata andalan; minta maaf dan membuat Surat Pernyataan tidak mengulangi dengan materi Rp. 10.000,00.
Baca juga:
Menyongsong Satu Abad NU (bagian ke-4)
Mengapa mereka sangat membenci GP ansor secara khusus dan NU secara
umum? Karena komitmen organisasi sangat jelas yaitu menjaga, mempertahankan dan
siap berkorban untuk NKRI. Sebab tanpa adanya Negara, maka tidak ada kedamaian,
kesejahteraan, keadilan dan penerapan ajaran agama Islam. Adanya Negara berarti
adanya peradaban. Merusak Negara berarti menghancurkan peradaban. Karena itu,
kelompok yang mengatasnamakan agama dan ideologi Komunis ingin menghancurkan GP
Ansor karena komitmen nya jelas yaitu GP Ansor ingin menghidupkan peradaban
dengan tetap menggunakan konsep NKRI.
Banser bukan Kumbakarna, begitu juga sebaliknya. Namun dari sisi kecintaan
terhadap Tanah Air, kisah Kumbakarna memang sangat menginspirasi bagi saya
pribadi bahwa apapun kondisi Negara, sebagai warga Negara harus mempertahankan
ekistensinya. Lebih baik makan ‘gaplek’ di negeri sendiri daripada makan
‘hamburger’ di Negara Asing. Walaupun enak, tapi hidup nya masih numpang
di Negara lain. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   216
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   239
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884