
Sedangkan tantangan eksternal NU dalam memasuki satu abad dan menyambut abad kedua, yaitu: Pertama, perubahan perilaku masyarakat menuju zaman yang disebut 5.0. Zaman ini sebenarnya kelanjutan dari masa sebelumnya yaitu 4.0. kedua zaman ini berangkat dari zaman modernisasi yang ditandai adanya pergeseran kebiasaan kegiatan manusia yang sebelumnya menggunakan tenaga manusia berangsur-angsur berganti menjadi tenaga mesin, robot dan sejenisnya. Ini berdampak pada pengangguran terjadi di berbagai sektor. Dulu, saat memasuki Jalan Tol, Penulis masih melihat para pegawai berseragam menerima pembayaran manual dari para Sopir. Kini mereka sudah diganti dengan mesin e-toll card. Kini berbagai Instansi sudah mulai menerapkan pelayanan online. Ini berarti telah memangkas sangat banyak tenaga kerja manusia, dan berlahan tapi pasti ada perubahan baik secara evolusi atau bahkan bisa terjadi revolusi yang mungkin ini bagian dari apa yang disebut reformasi birokrasi dan administrasi. Semua kesempatan untuk masuk menjadi bagian sistem ini harus bersaing dan mereka yang mempunyai kemampuan intelektual, skill dan keseuaian formasi sangat mempunyai peluang lebih besar untuk bisa eksis dalam persaingan di Dunia kerja saat sekarang ini.
Baca juga: Menyongsong Satu Abad NU (bag-1)
Ormas NU harus merespon secara cepat
perubahan zaman dan merespon gaya yang sebelumnya terkesan masa bodoh terhadap
perubahan tersebut dengan melengkapi berbagai keahlian-keahlian yang mengarah
kepada keahlian mekanik, bahasa dan hal-hal yang berkaitan dengan era tersebut.
Keterlambatan merespon keadaan tersebut akan menjadi persoalan kolektif, dan
akan tertinggal oleh kelompok lain yang lebih siap menjemput persaingan
tersebut. Dari sini penulis bisa memahami, bahwa menerima sesuatu yang baru
yang lebih baik dalam hal ini menjadi hal urgen bagi generasi NU untuk mengisi
abad kedua. Sebab abad kedua, kadang ormas sudah tidak begitu mementingkan lagi
mempunyai jumlah anggota besar. Pada era
ini, ormas dengan jumlah beberapa ribu kadang
mampu menguasi pola pikir ormas yang berjumlahnya jutaan orang. Jumlah kecil
mampu melakukan perubahan pola pikir masyarakat melalui Media-Media yang masuk
melalui aplikasi-aplikasi yang tersedia di Android yang setiap saat bisa
dibuka, dibaca dan kemudian mempengaruhi pola perilaku kader-kader ormas yang
besar tersebut. Dan sejarah masa lalu telah membuktikan tenang efektif Media
tersebut. Dan ini akan terulang kembali pada saat sekarang ini dan masa-masa
yang akan datang.
Kedua, perubahan sistem pendidikan Pesantren. Pendidikan di Era Digital ini memang mengalami persoalan serius di kalangan ormas NU yang mempunyai ribuan Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Pola pendidikan yang dulu sangat mengutamakan bertemu dengan Kiai atau Ustadz dengan belajar tatap muka dan mengambil berkah atau tabarukan dengan berjalan kaki atau naik Bus dari Pesantren satu ke Pesantren lain tiada lain hanya sebatas ngaji Kitab Kuning kilatan di Bulan Romadhan atau hanya sebatas tabarukan bertemu dengan Ulama dengan mengharapkan keberkahan doa dari nya. Pola model ini adalah pola pendidikan yang sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum ada Pesantren. Para Sahabat, Tabi’in, Tabi’in-Tabi’in telah melakukan tradisi ini. Para Mujtahid seperti Imam Syafi’i telah melakukan perjalanan untuk melakukan rihlah intelektual. Imam Bukhori harus pergi ke suatu negara tertentu atau kota tertentu hanya untuk mengambil satu hadist karena ingin menjadi kualitas kitab yang sedang ia tulis.
Baca juga: Menyongsong Satu Abad NU ( bagian-2)
Pola keberkahan tradisi Pesantren dan pola
pembelajaran dalam Kitab Ta’lim Muta’alim sebagai pondasi Pesantren Nahdliyin
harus siap menerima sistem baru dengan tetap tidak melupakan tradisi tersebut.
Tantangan ini tentu bukan hal yang sederhana. Ada hal-hal yang memungkinkan
makna ‘keberkahan’ terasa kurang dalam diri seorang santri ketika sebatas
belajar dan mencari ilmu melalui apa yang dibuat pada era 4.0 dan 5.0 yang
disebut dengan sistem daring dan sejenisnya. Ada nilai-nilai yang tidak didapat
melalui sistem tersebut, yaitu pola mengambil contoh dari para kiai dan ustadz
saat langsung bertemu dengan para Santri. Sedang di Dunia Maya, muncul sosok
penampilan orang-orang yang dianggap kiai, ustadz oleh masyarakat memberi oase
baru dan secara penyampaian jauh lebih mengena dibanding para kiai atau ustadz
yang sering bertemu. Pertarungan psikologis di kalangan santri jauh lebih
komplek ketimbang pada masa-masa lalu. Sehingga tidak menutup kemungkinan ada
idola baru pada diri nya dan mengabaikan para pendidik yang sering bertemu di
Pesantren. Bahkan bisa jadi, ruh nya santri bukan lagi sebagai jati diri
seorang santri, tapi sudah menjadi jati diri orang lain atau penganut paham
lain yang telah mewarnai cara berfikir, berbicara dan berperilaku sehari-hari.
Maka wajar apabila terjadi berbagai kasus negatif yang belum pernah terjadi,
tiba-tiba muncul di Pesantren saat sekarang ini. Salah satunya adalah efek dari
informasi yang masuk di Pesantren melalui Media Sosial yang berada di Android-Android
mereka. Kehadiran era ini benar-benar menjadi Pisau bermata dua, yang tidak
hati-hati justru korbanya adalah peserta didik bahkan juga lembaga pendidikan Pesantren
tersebut.
Ketiga, hubungan antara NU dan Negara. Persoalan ini sepertinya belum tuntas dalam tataran realita. Penulis masih melihat ada beragam pandangan diantara para tokoh ulama NU. Satu sisi ada yang menginginkan posisi nu secara organisasi netral dari persoalan politik praktis. Dalil disampaikan cukup shohih, bahwa warga NU yang memilih partai politik yang didirikan oleh NU sebesar kurang-lebih 12%. Ini adalah suatu fakta bahwa warga NU tidak serta menyalurkan aspirasinya melalui Partai Politik tersebut, dalam hal ini tentu PKB. Sebagian besar masuk pada partai-partai politik nasionalis seperti Pdi-P, Golkar, Nasdem, Demokrat, Golkar dan lain-lain. Satu sisi lain, ada para tokoh menginginkan agar warga NU bisa menjadi bagian penyangga terkuat partai politik PKB. Alasan logis, bahwa satu-satu nya partai politik yang memberi aspirasi terhadap kepentingan NU secara kuantitas dan kualitas adalah PKB. Harapanya dengan adanya, kekuatan besar partai politik yang berlatarbelakang Nahdiyin, bukan hanya sebatas sumbangsih terhadap warga nya, tetapi juga terhadap sumbangsih kepada bangsa dan Negara semakin besar, terutama dalam memperkuat nilai-nilai politik kebangsaan yang saat ini sudah semakin terbuka ancaman dari paham-paham politik identitas yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca juga: Menyongsong satu abad NU (bagian-3)
Dari papaaran tulisan yang menurut penulis
masih semrawut ini, kelihatan nya perlu adanya kumpul bareng para kiai dan para
pengambil kebijakan di tubuh ormas NU, atau istilah yang sering di dengar “Turun
Gunung” dalam menyambut satu abad usia NU dan memasuki abad kedua. Istilah “Turun
Gunung” tentu bisa berhasil dengan baik apabila duduknya berhadap-hadapan,
tidak ‘ungkur-ungkuran’. Perbedaan dalam pemilihan kepengurusan saya
kira sudah tutup buku. Kini perlu untuk bersama-sama merembug strategi
membangun NU ke depan semakin kuat dan membawa keberkahan sebagaimana yang diinginkan
oleh para pendidi nya. Jika semua kumpul dan saling bersinergi, berbagai persoalan
bisa diselesaikan. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2988
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884