Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyongsong Satu Abad NU (Bagian-2)



Rabu , 18 Januari 2023



Telah dibaca :  251

Menarik jadi bahan diskusi ketika Muktamar NU Ke-34 di Lampung pada tahun 2021. Dua kandidat muncul di permukaan ada dua yang kuat; Kiai Said Aqil Siraj dan Kiai Yahya Kholil Staquf. Dua-duanya adalah kader NU hasil didikan Gus Dur. Namun Muktamar NU memang sering tampil berbeda. Selalu saja muncul suatu framing setiap kandidat untuk mendapatkan simpatisan dari para pemilih. Selain itu berbagai isu pun bermunculan layaknya pemilihan presiden. Pendukung Kiai Said mengkritik Kiai Yahya Staquf yang terlalu mesra dengan Israel. Menurutnya tindakan ini jelas menyalahi garis perjuangan NU yang senantiasa mendukung kemerdekaan palestina dan menolak terhadap segala penjajahan, termasuk penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina. Isu ini sangat menarik untuk diangkat di permukaan, mengingat hal yang sama juga dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam berbagai forum mengatakan pentingnya kemerdekaan Palestina. Dari sini terlihat bahwa pendukung sedang membangun opini bahwa cita-cita besar kiai said selaras dengan cita-cita pemerintah; sama-sama menolak tindakan Israel terhadap Palestina.

Baca Juga: Menyongson Satu Abad NU (bagian-1)

Kelihatanya Kiai Yahya tidak memperdulikan. Menurutnya perjuangan untuk kemerdekaan tidak harus melulu dengan melakukan pemutusan hubungan (non-kooperatif), namun juga bisa dilakukan dengan keterbukaan melakukan dialog antara Negara, Bangsa dan seluruh elemen masyarakat. Ketika dialog bisa berjalan, maka peluang untuk mewujudkan suatu perdamaian dan bahkan sebuah cita-cita terwujudnya kemerdekaan Palestina hal yang tidak mustahil bisa diwujudkan. Maka, untuk mencapai tujuan ini, saya membaca dari pemikiran Kiai Staquf adalah melepaskan ketergantungan kepada partai politik tertentu. Sebab kader nu berada di berbagai partai politik, dan mereka mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap masa depan NU, bukan sebatas partai politik yang dilahirkan oleh NU saja.

Dari sini semakin jelas perbedaan pandangan tentang hubungan NU dan Partai Politik. Kiai Said sebagai seorang ulama yang ikut melahirkan  PKB. Pada Pilpres 2019 telah berhasil menempatkan Kiai Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden Joko Widodo. Saya melihat, keberhasilan ini terus dilanjutkan agar NU dan partai politik yang dilahirkan oleh NU sama-sama kuat dan memberikan sumbangsih lebih luas, bukan sebatas untuk warga Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum. Sedangkan kiai yahya staquf mempunyai keinginan kuat merangkul seluruh kader NU di berbagai partai politik untuk sama-sama membesarkan NU tanpa tersandera atau didominasi oleh partai tertentu.

Kedua;  latar belakang Sumber Daya Manusia (Sdm) NU beragam. Berbeda dengan muhamadiyah yang lahir dari sistem modern dan sdm yang mempunyai satu jenis pendidikan yaitu berasal dari pendidikan formal. Pola kaderisasi yang berasal dari satu sistem pendidikan mempunyai potensi kecil terhadap berbagai perbedaan dan mempunyai peluang lebih mudah untuk merapikan pergerakan organisasi. Walaupun disisi lain, Muhamadiyah akan semakin kekurangan ulama-ulama yang menguasai ilmu agama secara mendalam. Sebab sistem perkuliahan sebagai kaderisasi muhamadiyah saat ini adalah sistem SKS yang memungkinkan penguasaan ilmu-ilmu agama terbatas.

Berbeda dengan kader NU, banyak para ulama dari berbagai bidang mendirikan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan. Para ulama NU yang mempunyai keahlian dalam Ilmu Al-Qur’an mendirikan pesantren takhasus ilmu-ilmu Al-Qur’an secara mendetail. Pondok-pondok sejenis ini seperti Pesantren Yanbu’ul Qur’an yang didirikan oleh KH Arwani Amin Said. Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Pesantren Tahfidul Qur’an Sidayu Gersik, Pesantren Asl-Asy’ariyah Wonosobo yang didirikan oleh K.H. Muntaha Al-Hafidz dan lain-lain. ada juga ulama mempunyai kemampuan ilmu tatabahasa dan kita kuning yang tersebar di berbagai daerah yang tidak terhitung jumlahnya.

Pesantren-pesantren tersebut mempunyai kemandirian dalam mengatur, mengurus dan mengembangkan dengan model sesuai keinginan pemimpinannya. Itu sebabnya, pendidikan ini senantiasa eksis dan tidak terpengaruh oleh situasi krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia. Jiwa kemandirian para santri telah membentuk sejak pertama masuk dengan membiasakan diri tirakat, puasa senin-kamis, puasa mutih, bekerja mencari bekal untuk membeli kitab dan peralatan sekolah.

Berkah dari kepemimpinan Gus Dur dan diteruskan oleh para pengurus besar pbnu saat sekarang ini, kader-kader NU telah semakin banyak yang telah mengenyam pendidikan umum dan telah banyak yang telah bergelar Doktor dan Guru Besar. Namun demikian, watak NU sebagai masyarakat mandiri dan beragam latar belakang pendidikan sangat berat untuk menyatukan dalam satu bingkai kesamaan presepsi di tubuh NU, baik struktural maupun kultural.

Bersambung ….



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884