
Menarik jadi bahan diskusi ketika Muktamar NU Ke-34 di Lampung pada tahun 2021. Dua kandidat muncul di permukaan ada dua yang kuat; Kiai Said Aqil Siraj dan Kiai Yahya Kholil Staquf. Dua-duanya adalah kader NU hasil didikan Gus Dur. Namun Muktamar NU memang sering tampil berbeda. Selalu saja muncul suatu framing setiap kandidat untuk mendapatkan simpatisan dari para pemilih. Selain itu berbagai isu pun bermunculan layaknya pemilihan presiden. Pendukung Kiai Said mengkritik Kiai Yahya Staquf yang terlalu mesra dengan Israel. Menurutnya tindakan ini jelas menyalahi garis perjuangan NU yang senantiasa mendukung kemerdekaan palestina dan menolak terhadap segala penjajahan, termasuk penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina. Isu ini sangat menarik untuk diangkat di permukaan, mengingat hal yang sama juga dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam berbagai forum mengatakan pentingnya kemerdekaan Palestina. Dari sini terlihat bahwa pendukung sedang membangun opini bahwa cita-cita besar kiai said selaras dengan cita-cita pemerintah; sama-sama menolak tindakan Israel terhadap Palestina.
Baca Juga: Menyongson Satu Abad NU (bagian-1)
Kelihatanya Kiai Yahya tidak memperdulikan. Menurutnya
perjuangan untuk kemerdekaan tidak harus melulu dengan melakukan pemutusan
hubungan (non-kooperatif), namun juga bisa dilakukan dengan keterbukaan
melakukan dialog antara Negara, Bangsa dan seluruh elemen masyarakat. Ketika
dialog bisa berjalan, maka peluang untuk mewujudkan suatu perdamaian dan bahkan
sebuah cita-cita terwujudnya kemerdekaan Palestina hal yang tidak mustahil bisa
diwujudkan. Maka, untuk mencapai tujuan ini, saya membaca dari pemikiran Kiai
Staquf adalah melepaskan ketergantungan kepada partai politik tertentu. Sebab
kader nu berada di berbagai partai politik, dan mereka mempunyai tanggung jawab
yang sama terhadap masa depan NU, bukan sebatas partai politik yang dilahirkan
oleh NU saja.
Dari sini semakin jelas perbedaan pandangan tentang hubungan
NU dan Partai Politik. Kiai Said sebagai seorang ulama yang ikut melahirkan PKB. Pada Pilpres 2019 telah berhasil
menempatkan Kiai Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden Joko Widodo. Saya melihat,
keberhasilan ini terus dilanjutkan agar NU dan partai politik yang dilahirkan
oleh NU sama-sama kuat dan memberikan sumbangsih lebih luas, bukan sebatas
untuk warga Nahdliyin, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum. Sedangkan
kiai yahya staquf mempunyai keinginan kuat merangkul seluruh kader NU di
berbagai partai politik untuk sama-sama membesarkan NU tanpa tersandera atau
didominasi oleh partai tertentu.
Kedua; latar
belakang Sumber Daya Manusia (Sdm) NU beragam. Berbeda dengan muhamadiyah yang
lahir dari sistem modern dan sdm yang mempunyai satu jenis pendidikan yaitu
berasal dari pendidikan formal. Pola kaderisasi yang berasal dari satu sistem
pendidikan mempunyai potensi kecil terhadap berbagai perbedaan dan mempunyai
peluang lebih mudah untuk merapikan pergerakan organisasi. Walaupun disisi
lain, Muhamadiyah akan semakin kekurangan ulama-ulama yang menguasai ilmu agama
secara mendalam. Sebab sistem perkuliahan sebagai kaderisasi muhamadiyah saat
ini adalah sistem SKS yang memungkinkan penguasaan ilmu-ilmu agama terbatas.
Berbeda dengan kader NU, banyak para ulama dari
berbagai bidang mendirikan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan. Para ulama
NU yang mempunyai keahlian dalam Ilmu Al-Qur’an mendirikan pesantren takhasus
ilmu-ilmu Al-Qur’an secara mendetail. Pondok-pondok sejenis ini seperti Pesantren
Yanbu’ul Qur’an yang didirikan oleh KH Arwani Amin Said. Pesantren Al-Munawwir
Krapyak, Pesantren Tahfidul Qur’an Sidayu Gersik, Pesantren Asl-Asy’ariyah
Wonosobo yang didirikan oleh K.H. Muntaha Al-Hafidz dan lain-lain. ada juga
ulama mempunyai kemampuan ilmu tatabahasa dan kita kuning yang tersebar di
berbagai daerah yang tidak terhitung jumlahnya.
Pesantren-pesantren tersebut mempunyai kemandirian
dalam mengatur, mengurus dan mengembangkan dengan model sesuai keinginan
pemimpinannya. Itu sebabnya, pendidikan ini senantiasa eksis dan tidak
terpengaruh oleh situasi krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia. Jiwa
kemandirian para santri telah membentuk sejak pertama masuk dengan membiasakan
diri tirakat, puasa senin-kamis, puasa mutih, bekerja mencari bekal untuk
membeli kitab dan peralatan sekolah.
Berkah dari kepemimpinan Gus Dur dan
diteruskan oleh para pengurus besar pbnu saat sekarang ini, kader-kader NU
telah semakin banyak yang telah mengenyam pendidikan umum dan telah banyak yang
telah bergelar Doktor dan Guru Besar. Namun demikian, watak NU sebagai
masyarakat mandiri dan beragam latar belakang pendidikan sangat berat untuk
menyatukan dalam satu bingkai kesamaan presepsi di tubuh NU, baik struktural
maupun kultural.
Bersambung ….
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3582
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2989
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884