
Usia Nahdlatul Ulama (NU) sebentar lagi 100 tahun.
Satu sisi penulis bersyukur atas anugerah umur yang telah diberikan Allah
kepada nu. Di usia sebentar lagi satu abad ini, NU telah memberikan sumbangsih
yang sangat besar baik dalam sekala nasional maupun internasional terkait
tentang pengenalan sekaligus praktek secara langsung ajaran Islam washatiyah
di tengah-tengah umat manusia yang beragam agama dan keyakinan serta
perbedaan Suku, Etnis Bangsa dan Negara di seluruh penjuru Dunia. Namun disisi
lain, Penulis cukup gelisah saat NU memasuki abad kedua nanti. Dalam perspektif
saya sebagai masyarakat Nahdliyin yang tinggal di daerah terluar NKRI, ada dua
persoalan penting ; internal dan eksternal.
Ada beberapa persoalan internal saat ini terjadi di
internal NU, yaitu: Pertama, keberagaman dalam pemahaman ajaran garis-garis
besar NU. Dalam diskusi di forum-forum tidak resmi seperti di Media Sosial atau
juga forum-forum ‘jagongan’ di Kedai Kopi, sering mendengar kalimat yang
memprovokasi dan itu masuk akal untuk meruntuhkan secara pelan-pelan organisasi
NU. Contoh kalimat yang sering Penulis dengar seperti ini: “ Islam itu NU, tapi
NU belum tenttu Islam”, “Islam bukan organisasi, NU itu organisasi”, “ Islam
menyatukan, organisasi mengkotak-kotakan”, “Ajaran yang benar itu Islam, bukan
ajaran NU”, “Kita ikut Al-Qur’an dan Al-Sunnah, bukan ikut Ulama atau Kiai”,
“sumber hukum Islam itu jelas, Al-Qur’an dan Sunnah, ngapain ikut-ikut NU!”,
dan masih banyak lagi.
Lucunya, orang-orang yang mengatakan demikian dan
merasa tidak berkelompok sebenarnya juga sudah membuat kelompok sendiri yang
secara praktiknya juga telah membentuk sebuah organisasi baik secara langsung
dalam wujud organisasi politik atau ormas-ormas agama tertentu, atau secara
tidak langsung yang berfungsi sebagai corong untuk mengarahkan kepada
organisasi keagamaan yang bersifat eklusif. Contoh kecil, ketika ada sebuah
kelompok bilang bahwa kita harus ‘Kembali
ke Al-Qur’an dan Al-Hadist’ dan menyerang secara terang-terangan terhadap NU,
tapi tidak disadari bahwa mereka sedang melakukan legitimasi kepada para jamaah
nya untuk menyakini pendapatnya dan pendapat para ulama yang menjadi
pengikutnya. Sikap, ucapan, dan perbuatan yang ambigu. Mereka menyerang
NU karena sering mengutip pendapat para Ulama dengan hujah andalan “Al-Qur’an
dan al-Hadist lebih mulia ketimbang pendapat ulama”. Tapi pada saat yang sama,
mereka juga sedang menafsiri ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi ( yang
kadang-kadang) secara asal-asalan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang benar.
Namun karena dikemas dengan sangat menarik, kelompok-kelompok seperti ini
menarik anak-anak muda, termasuk kader-kader NU yang belum mendapatkan bekal
yang cukup tentang ke-NU-an ketika masih di tingkat level bawah. Akibatnya, ada
kader NU menyerang ormas NU sendiri.
Juga, ada sekelompok NU yang kecewa terhadap
kepengurusan terpilih. Penulis mempelajari adanya gelombang ‘mufaroqoh’
dari kepengurusan NU dan kemudian tidak ‘cawe-cawe’ terhadap organisasi
tersebut mulai terlihat saat kepemimpinan Gus Dur. Namun saat itu, legitimasi Gus
Dur sebagai Cucu Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari masih sangat kuat dikalangan Ulama
dan akar rumput kultural. Bagi sebagian Ulama dan warga Nahdiyin, Gus Dur mempunyai
kemampuan ‘linuwih’ dan mampu membaca perjalanan sejarah. Kelebihan
penilaian seperti ini benar-benar memberi kekuatan efektif baginya dalam
melakukan kebijakan-kebijakan organisasi
terkadang dianggap ‘nyeleneh’ tetap mendapat dukungan kuat dari kalangan
Nahdiyin. Hal ini terbukti ketika era reformasi, Gus Dur mendirikan Partai
Politik PKB, meraup 13.336.982 suara (12,61%). Pada tahun 2004-2009, PKB
kembali masuk dalam lima besar partai pemenang pemilu. Ini sudah cukup
membuktikan kepiawaian Gus Dur dalam mengelola ormas NU.
Pasca Gus Dur, ormas NU dibawah pimpinan Hasyim Muzadi
mulai menata kembali struturasisasi organisasi sampai tingkat ranting. Dia juga
mencoba sedikit mengurangi kesan bahwa tokoh-tokoh NU bukan lokomotif liberal.
Berbagai pidato nya, dia juga mengkritik tokoh-tokoh nu yang dianggap liberal.
Pada kesempatan lain, dia menerangkan makna toleransi dan mendapatkan sambutan, baik
dari kalangan NU maupun luar NU. Sebagai alumni Gontor, Kyai Muzadi juga
menjelaskan tentang arti penting hubungan NU dan Muhamadiyah yang diibaratkan
seperti ‘Sepasang Sandal’, yang kedua-duanya harus dipakai sebagai ciri khas Islam
ke-indonesia-an. Menurutnya, Islam di Indonesia hanya dua jenis, kalau tidak NU
berarti Muhamadiyah. kedua ormas ini yang telah membentuk watak Islam washatiyah.
Sebagaimana Gus Dur, Kyai Muzadi pun tidak bisa
terlepas dari persoalan politik praktis. Pada tahun 2004 dia menjadi cawapres Megawati.
Pencalonan ini tentu saja dalam rangka menarik hati warga Nahdliyin untuk
memilih calon yang lahir dari Rahim NU. Tentu saja perhitungan yang realistis,
sebagaimana masyarakat juga belajar realistis menyikapi situasi politik saat
itu saat pemerintahan Megawati. Kemenangan pasangan SBY-JK saat itu adalah
bukti bahwa masyarakat menginginkan suatu perubahan yang fundamental pada
stabilitas keamanan, perbaikan ekonomi, pendidikan dan meningkatnya
kesejahteraan.
Pada tahun 2010, Kyai Said Aqil Siradj menjadi Ketua PBNU.
Dia mencoba mengembalikan NU ke khittah 1926 yaitu sebagai organisasi
sosial-keagamaan. Sebagai ormas terbesar, dia menginginkan kader-kader muda NU
harus berfikir ke depan untuk membangun peradaban Islam yang humanis, moderat
dan melindungi serta mengayomi keberagaman yang ada di masyarakat majemuk sebagaimana
yang telah dirintis oleh Gus Dur. Jadi, saya menilai Kiai Said adalah
representasi pemikiran Gus Dur dalam hal kemoderatan, kemajemukan, dan
kepedulian terhadap kelompok-kelompok non-muslim minoritas. Itu sebabnya
pidato-pidatonya terkesan sering menyerang terhadap kelompok muslim mayoritas
dan kelompok Islam yang eklusif dan terkesan lebih membela kepada non-muslim.
maka wajar apabila Kiai Said dituduh tokoh Islam Liberal oleh sebagian tokoh-tokoh
NU sendiri atau kelompok puritan sebagaimana yang dialami oleh Gus Dur. Tuduhan
ini semakin kencang saat Kiai Ma’ruf Amin ( Rais Aam Syuriah PBNU) menjadi Cawapres
Joko Widodo pada pemilihan presiden 2019. Pencalonan ini masih mengundang
presepsi di tengah warga nahdliyin, bahwa Pengurus PBNU belum bisa bersikap
netral dan masih tergoda oleh politik praktis.
Bersambung…
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3582
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2989
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884