Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyongson Satu Abad NU (bagian-1)



Selasa , 17 Januari 2023



Telah dibaca :  310

Usia Nahdlatul Ulama (NU) sebentar lagi 100 tahun. Satu sisi penulis bersyukur atas anugerah umur yang telah diberikan Allah kepada nu. Di usia sebentar lagi satu abad ini, NU telah memberikan sumbangsih yang sangat besar baik dalam sekala nasional maupun internasional terkait tentang pengenalan sekaligus praktek secara langsung ajaran Islam washatiyah di tengah-tengah umat manusia yang beragam agama dan keyakinan serta perbedaan Suku, Etnis Bangsa dan Negara di seluruh penjuru Dunia. Namun disisi lain, Penulis cukup gelisah saat NU memasuki abad kedua nanti. Dalam perspektif saya sebagai masyarakat Nahdliyin yang tinggal di daerah terluar NKRI, ada dua persoalan penting ; internal dan eksternal.

Ada beberapa persoalan internal saat ini terjadi di internal NU, yaitu: Pertama, keberagaman dalam pemahaman ajaran garis-garis besar NU. Dalam diskusi di forum-forum tidak resmi seperti di Media Sosial atau juga forum-forum ‘jagongan’ di Kedai Kopi, sering mendengar kalimat yang memprovokasi dan itu masuk akal untuk meruntuhkan secara pelan-pelan organisasi NU. Contoh kalimat yang sering Penulis dengar seperti ini: “ Islam itu NU, tapi NU belum tenttu Islam”, “Islam bukan organisasi, NU itu organisasi”, “ Islam menyatukan, organisasi mengkotak-kotakan”, “Ajaran yang benar itu Islam, bukan ajaran NU”, “Kita ikut Al-Qur’an dan Al-Sunnah, bukan ikut Ulama atau Kiai”, “sumber hukum Islam itu jelas, Al-Qur’an dan Sunnah, ngapain ikut-ikut NU!”, dan masih banyak lagi.

Lucunya, orang-orang yang mengatakan demikian dan merasa tidak berkelompok sebenarnya juga sudah membuat kelompok sendiri yang secara praktiknya juga telah membentuk sebuah organisasi baik secara langsung dalam wujud organisasi politik atau ormas-ormas agama tertentu, atau secara tidak langsung yang berfungsi sebagai corong untuk mengarahkan kepada organisasi keagamaan yang bersifat eklusif. Contoh kecil, ketika ada sebuah kelompok bilang bahwa kita  harus ‘Kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadist’ dan menyerang secara terang-terangan terhadap NU, tapi tidak disadari bahwa mereka sedang melakukan legitimasi kepada para jamaah nya untuk menyakini pendapatnya dan pendapat para ulama yang menjadi pengikutnya. Sikap, ucapan, dan perbuatan yang ambigu. Mereka menyerang NU karena sering mengutip pendapat para Ulama dengan hujah andalan “Al-Qur’an dan al-Hadist lebih mulia ketimbang pendapat ulama”. Tapi pada saat yang sama, mereka juga sedang menafsiri ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi ( yang kadang-kadang) secara asal-asalan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang benar. Namun karena dikemas dengan sangat menarik, kelompok-kelompok seperti ini menarik anak-anak muda, termasuk kader-kader NU yang belum mendapatkan bekal yang cukup tentang ke-NU-an ketika masih di tingkat level bawah. Akibatnya, ada kader NU menyerang ormas NU sendiri.

Juga, ada sekelompok NU yang kecewa terhadap kepengurusan terpilih. Penulis mempelajari adanya gelombang ‘mufaroqoh’ dari kepengurusan NU dan kemudian tidak ‘cawe-cawe’ terhadap organisasi tersebut mulai terlihat saat kepemimpinan Gus Dur. Namun saat itu, legitimasi Gus Dur sebagai Cucu Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari masih sangat kuat dikalangan Ulama dan akar rumput kultural. Bagi sebagian Ulama dan warga Nahdiyin, Gus Dur mempunyai kemampuan ‘linuwih’ dan mampu membaca perjalanan sejarah. Kelebihan penilaian seperti ini benar-benar memberi kekuatan efektif baginya dalam melakukan  kebijakan-kebijakan organisasi terkadang dianggap ‘nyeleneh’ tetap mendapat dukungan kuat dari kalangan Nahdiyin. Hal ini terbukti ketika era reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Politik PKB, meraup 13.336.982 suara (12,61%). Pada tahun 2004-2009, PKB kembali masuk dalam lima besar partai pemenang pemilu. Ini sudah cukup membuktikan kepiawaian Gus Dur dalam mengelola ormas NU.

Pasca Gus Dur, ormas NU dibawah pimpinan Hasyim Muzadi mulai menata kembali struturasisasi organisasi sampai tingkat ranting. Dia juga mencoba sedikit mengurangi kesan bahwa tokoh-tokoh NU bukan lokomotif liberal. Berbagai pidato nya, dia juga mengkritik tokoh-tokoh nu yang dianggap liberal. Pada kesempatan lain, dia menerangkan  makna toleransi dan mendapatkan sambutan, baik dari kalangan NU maupun luar NU. Sebagai alumni Gontor, Kyai Muzadi juga menjelaskan tentang arti penting hubungan NU dan Muhamadiyah yang diibaratkan seperti ‘Sepasang Sandal’, yang kedua-duanya harus dipakai sebagai ciri khas Islam ke-indonesia-an. Menurutnya, Islam di Indonesia hanya dua jenis, kalau tidak NU berarti Muhamadiyah. kedua ormas ini yang telah membentuk watak Islam washatiyah.

Sebagaimana Gus Dur, Kyai Muzadi pun tidak bisa terlepas dari persoalan politik praktis. Pada tahun 2004 dia menjadi cawapres Megawati. Pencalonan ini tentu saja dalam rangka menarik hati warga Nahdliyin untuk memilih calon yang lahir dari Rahim NU. Tentu saja perhitungan yang realistis, sebagaimana masyarakat juga belajar realistis menyikapi situasi politik saat itu saat pemerintahan Megawati. Kemenangan pasangan SBY-JK saat itu adalah bukti bahwa masyarakat menginginkan suatu perubahan yang fundamental pada stabilitas keamanan, perbaikan ekonomi, pendidikan dan meningkatnya kesejahteraan.

Pada tahun 2010, Kyai Said Aqil Siradj menjadi Ketua PBNU. Dia mencoba mengembalikan NU ke khittah 1926 yaitu sebagai organisasi sosial-keagamaan. Sebagai ormas terbesar, dia menginginkan kader-kader muda NU harus berfikir ke depan untuk membangun peradaban Islam yang humanis, moderat dan melindungi serta mengayomi keberagaman yang ada di masyarakat majemuk sebagaimana yang telah dirintis oleh Gus Dur. Jadi, saya menilai Kiai Said adalah representasi pemikiran Gus Dur dalam hal kemoderatan, kemajemukan, dan kepedulian terhadap kelompok-kelompok non-muslim minoritas. Itu sebabnya pidato-pidatonya terkesan sering menyerang terhadap kelompok muslim mayoritas dan kelompok Islam yang eklusif dan terkesan lebih membela kepada non-muslim. maka wajar apabila Kiai Said dituduh tokoh Islam Liberal oleh sebagian tokoh-tokoh NU sendiri atau kelompok puritan sebagaimana yang dialami oleh Gus Dur. Tuduhan ini semakin kencang saat Kiai Ma’ruf Amin ( Rais Aam Syuriah PBNU) menjadi Cawapres Joko Widodo pada pemilihan presiden 2019. Pencalonan ini masih mengundang presepsi di tengah warga nahdliyin, bahwa Pengurus PBNU belum bisa bersikap netral dan masih tergoda oleh politik praktis.

Bersambung…



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884