Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyongsong Satu Abad NU (Bagian-3)



Rabu , 18 Januari 2023



Telah dibaca :  322

Ketiga, belum memahami pentingnya organisasi. Jika menelusuri tokoh-tokoh agama yang sudah masuk level, Ulama, Kyai atau ustadz di kalangan NU tidak serta merta mereka adalah pengurus organisasi nu, baik organisasi dalam pada NU nya sendiri maupun kepada badan-badan otonom-nya (banom). Ada seorang Pengurus Cabang NU (PCNU) di salah satu Kabupaten di daerah Riau bertemu dengan pengurus Muhamadiyah. Dia bercerita kepada Pengurus PCNU bahwa ada seseorang ditawari untuk menjadi salah satu pengurus Muhamadiyah. Orang tersebut tidak mau menerimanya. Alasanya karena dia merasa orang NU. Ketika dikroscek kepada Pengurus PCNU, ternyata orang tersebut tidak masuk pada jajaran kepengurusan PCNU. Orang-orang seperti itu adalah NU kultural yang mempunyai semangat menghidupkan NU melalui amaliah sehari-hari.

Fenomena seperti ini bisa jadi hampir terjadi di seluruh wilayah Nusantara. Penulis Artikel ini telah berkeliling di berbagai tempat lintas Provinsi dan Kabupaten melihat secara faktual bahwa rata-rata orang-orang yang menjadi Pengurus Masjid dan Mushola mempunyai amal ibadah sebagaimana yang dianut dan dilestarikan oleh NU. Namun ketika mereka ditanya tentang NU, ada dua jawaban; pertama, mereka tidak mengenal NU. Kedua, mereka kurang berkenan masuk ke dalam organisasi NU. Namun jangan heran, jika amalan sehari-hari mereka diganggu, maka mereka akan marah dan akan mempertahankan sekuat tenaga terhadap amalan tersebut yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Akibatnya, orang-orang yang masuk menjadi pengurus nu adalah orang-orang yang bisa jadi (sebagian di antara mereka ) orang yang belum mengenal NU, tapi mempunyai semangat ingin ‘ngurip-ngurip NU’, orang yang mempunyai cita-cita dunia melalui NU, atau cita-cita pragmatis melalui NU. Jadi kondisi demikian tidak perlu saling menyalahkan. Semua tetap ada hikmah. Dan proses kearah kesempurnaan memang selalu berawal dari datangnya hikmah-hikmah sebagai pembelajaran kita bersama.

Baca juga : Menyongson Satu Abad NU (bagian-1)

Orang tua saya, K.H.R. Munajat ( Almarhum) adalah tokoh atau Ulama di Kabupaten Banyumas. Itu yang saya dapat informasi tentang ayah ku. Sepengetahuan ku, Ayah adalah Penganut Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah. Banyak santri-santri nya atau tamu-tamu yang berbaiat kepada nya lintas Provinsi dan Kabupaten. Artinya, ayah saya jelas secara kultural adalah orang NU tulen. Namun ketika ada seseorang ulama mengajak ayah untuk masuk ke dalam struktur NU, Ayah kurang berkenan. Jawabanya sederhana; ingin fokus wiridan. Alasan yang memang tidak bisa dibantah, dan juga tidak bisa disalahkan. Setiap orang mempunyai prinsip sendiri untuk melakukan sesuatu yang dianggap baik dan benar. Dan pola seperti ayah pun pernah terjadi pada saya sendiri saat melihat fakta tentang semrawut nya sebuah organisasi, sehingga ingin berhenti dari organisasi. Tapi setelah berfikir lebih mendalam, saya harus tetap masuk dalam organisasi. Tidak masalah hanya sebatas ‘akar’ atau sebatang ranting yang ‘kesangkut’ di semak-semak pinggir Sungai. Toh masih ada manfaatnya entah untuk petunjuk atau pegangan sementara saat ada orang terpeleset di Sungai.

Orang-orang seperti bapak saya jika ditelusuri sangat banyak. Mereka ini bukan karena tidak mengetahui pendidikan agama. Justru mereka adalah alumni Pesantren pada era masih dalam penjajahan dan awal-awal kemerdekaan. Kesibukan merawat masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pengajian, tawajuh dan dzikrullah serta melakukan praktek-praktek pengobatan menyebabkan mereka menjadi tokoh yang senantiasa kedatangan tamu dari berbagai tempat dan berbagai kalangan baik mulai dari rakyat kecil sampai orang kelas menengah keatas. Mereka datang sebatas meminta doa, pencerahan dan banyak juga agar pencalonan menjadi anggota legislatif atau eksekutif terwujud.

Baca juga : Menyongsong Satu Abad NU (Bagian-2)

Ironisnya pola pikir seperti bapak saya sampai hari ini masih terus berlangsung. Saya menemui beberapa kader NU yang secara keilmuwan sudah tidak diragukan lagi. Namun sikap nya masih bersikap masa bodoh merawat organisasi NU, dan sibuk terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang telah dirintis atau pengajian-pengajian yang telah terjadwal cukup lumayan banyak. Mereka seolah-olah sudah tidak mempunyai waktu untuk merawat organisasi NU, walaupun saat mereka diundang untuk mengisi pengajian masih punya kesempatan mengisi mau’idlatul hasanah.

Mengapa ini terjadi? Tentu sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya antara lain karena adanya tradisi ‘kemandiriaan’ yang sudah terbangun lama di tubuh masyarakat NU. Para kiai, ulama dan santri-santri telah dibekali jiwa wirausaha dan siap ‘trukah’ mendirikan pengajian, lembaga pendidikan dan pesantren. Namun faktanya, pada saat tertentu mereka juga membutuhkan orang lain dan organisasi NU agar bisa bersinergi untuk menyangga keberadaan lembaga atau pesantrennya. Namun kebutuhan yang sering muncul tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menghidupkan NU melalui organisasi nya.

Slogan ‘ngurip-nguripi NU, ojo urip melalui NU’, seolah-olah yang terbangun dalam presepsi saya (pribadi) hanya sebatas iuran untuk organisasi NU. Tentu saja tidaklah demikian. Kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam, yaitu saat semua bersinergi membangun organisasi NU mulai dari masyarakaat biasa, Ulama, Kiai dan para Umaro, maka semua mampu berkonstribusi ‘ngurip-ngurip NU’ melalui kedudukan masing-masing. Sehingga apapun yang dicita-citakan oleh masyarakat Nadhiyin mudah terwujudkan. Padahal saat era modern saat sekarang ini organisasi menjadi penyangga yang efektif untuk bisa saling membantu dan bersinergi untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama. Namun kesadaran kearah itu masih membutuhkan proses yang panjang.

Bersambung ….



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884