
Ketiga, belum memahami pentingnya
organisasi. Jika menelusuri tokoh-tokoh agama yang sudah masuk level, Ulama,
Kyai atau ustadz di kalangan NU tidak serta merta mereka adalah pengurus
organisasi nu, baik organisasi dalam pada NU nya sendiri maupun kepada
badan-badan otonom-nya (banom). Ada seorang Pengurus Cabang NU (PCNU) di salah
satu Kabupaten di daerah Riau bertemu dengan pengurus Muhamadiyah. Dia bercerita
kepada Pengurus PCNU bahwa ada seseorang ditawari untuk menjadi salah satu
pengurus Muhamadiyah. Orang tersebut tidak mau menerimanya. Alasanya karena dia
merasa orang NU. Ketika dikroscek kepada Pengurus PCNU, ternyata orang tersebut
tidak masuk pada jajaran kepengurusan PCNU. Orang-orang seperti itu adalah NU
kultural yang mempunyai semangat menghidupkan NU melalui amaliah sehari-hari.
Fenomena seperti ini bisa jadi hampir terjadi di seluruh wilayah Nusantara. Penulis Artikel ini telah berkeliling di berbagai tempat lintas Provinsi dan Kabupaten melihat secara faktual bahwa rata-rata orang-orang yang menjadi Pengurus Masjid dan Mushola mempunyai amal ibadah sebagaimana yang dianut dan dilestarikan oleh NU. Namun ketika mereka ditanya tentang NU, ada dua jawaban; pertama, mereka tidak mengenal NU. Kedua, mereka kurang berkenan masuk ke dalam organisasi NU. Namun jangan heran, jika amalan sehari-hari mereka diganggu, maka mereka akan marah dan akan mempertahankan sekuat tenaga terhadap amalan tersebut yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Akibatnya, orang-orang yang masuk menjadi pengurus nu adalah orang-orang yang bisa jadi (sebagian di antara mereka ) orang yang belum mengenal NU, tapi mempunyai semangat ingin ‘ngurip-ngurip NU’, orang yang mempunyai cita-cita dunia melalui NU, atau cita-cita pragmatis melalui NU. Jadi kondisi demikian tidak perlu saling menyalahkan. Semua tetap ada hikmah. Dan proses kearah kesempurnaan memang selalu berawal dari datangnya hikmah-hikmah sebagai pembelajaran kita bersama.
Baca juga : Menyongson Satu Abad NU (bagian-1)
Orang tua saya, K.H.R. Munajat ( Almarhum)
adalah tokoh atau Ulama di Kabupaten Banyumas. Itu yang saya dapat informasi
tentang ayah ku. Sepengetahuan ku, Ayah adalah Penganut Tarekat Qadiriyah Wa
Naqsabandiyah. Banyak santri-santri nya atau tamu-tamu yang berbaiat kepada nya
lintas Provinsi dan Kabupaten. Artinya, ayah saya jelas secara kultural adalah
orang NU tulen. Namun ketika ada seseorang ulama mengajak ayah untuk masuk ke
dalam struktur NU, Ayah kurang berkenan. Jawabanya sederhana; ingin fokus wiridan.
Alasan yang memang tidak bisa dibantah, dan juga tidak bisa disalahkan. Setiap orang
mempunyai prinsip sendiri untuk melakukan sesuatu yang dianggap baik dan benar.
Dan pola seperti ayah pun pernah terjadi pada saya sendiri saat melihat fakta
tentang semrawut nya sebuah organisasi, sehingga ingin berhenti dari
organisasi. Tapi setelah berfikir lebih mendalam, saya harus tetap masuk dalam
organisasi. Tidak masalah hanya sebatas ‘akar’ atau sebatang ranting yang ‘kesangkut’
di semak-semak pinggir Sungai. Toh masih ada manfaatnya entah untuk petunjuk
atau pegangan sementara saat ada orang terpeleset di Sungai.
Orang-orang seperti bapak saya jika ditelusuri sangat banyak. Mereka ini bukan karena tidak mengetahui pendidikan agama. Justru mereka adalah alumni Pesantren pada era masih dalam penjajahan dan awal-awal kemerdekaan. Kesibukan merawat masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pengajian, tawajuh dan dzikrullah serta melakukan praktek-praktek pengobatan menyebabkan mereka menjadi tokoh yang senantiasa kedatangan tamu dari berbagai tempat dan berbagai kalangan baik mulai dari rakyat kecil sampai orang kelas menengah keatas. Mereka datang sebatas meminta doa, pencerahan dan banyak juga agar pencalonan menjadi anggota legislatif atau eksekutif terwujud.
Baca juga : Menyongsong Satu Abad NU (Bagian-2)
Ironisnya pola pikir seperti bapak saya
sampai hari ini masih terus berlangsung. Saya menemui beberapa kader NU yang
secara keilmuwan sudah tidak diragukan lagi. Namun sikap nya masih bersikap masa
bodoh merawat organisasi NU, dan sibuk terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang
telah dirintis atau pengajian-pengajian yang telah terjadwal cukup lumayan
banyak. Mereka seolah-olah sudah tidak mempunyai waktu untuk merawat organisasi
NU, walaupun saat mereka diundang untuk mengisi pengajian masih punya
kesempatan mengisi mau’idlatul hasanah.
Mengapa ini terjadi? Tentu sebagaimana
tulisan-tulisan sebelumnya antara lain karena adanya tradisi ‘kemandiriaan’
yang sudah terbangun lama di tubuh masyarakat NU. Para kiai, ulama dan
santri-santri telah dibekali jiwa wirausaha dan siap ‘trukah’ mendirikan
pengajian, lembaga pendidikan dan pesantren. Namun faktanya, pada saat tertentu
mereka juga membutuhkan orang lain dan organisasi NU agar bisa bersinergi untuk
menyangga keberadaan lembaga atau pesantrennya. Namun kebutuhan yang sering
muncul tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menghidupkan NU melalui
organisasi nya.
Slogan ‘ngurip-nguripi NU, ojo urip melalui
NU’, seolah-olah yang terbangun dalam presepsi saya (pribadi) hanya sebatas
iuran untuk organisasi NU. Tentu saja tidaklah demikian. Kalimat tersebut
mempunyai makna yang sangat dalam, yaitu saat semua bersinergi membangun
organisasi NU mulai dari masyarakaat biasa, Ulama, Kiai dan para Umaro, maka
semua mampu berkonstribusi ‘ngurip-ngurip NU’ melalui kedudukan masing-masing. Sehingga
apapun yang dicita-citakan oleh masyarakat Nadhiyin mudah terwujudkan. Padahal saat
era modern saat sekarang ini organisasi menjadi penyangga yang efektif untuk
bisa saling membantu dan bersinergi untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama. Namun
kesadaran kearah itu masih membutuhkan proses yang panjang.
Bersambung ….
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3582
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2989
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884