Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kyai Islahuddin Cerita Tentang Bencana Alam



Kamis , 04 Desember 2025



Telah dibaca :  748

Alhamdulillah, siang ini saya kerawuhan K.H. Dr. Kholid Junaidi- saya memanggilnya Kyai Kholid. Kebetulan saya berada di Grand Central Hotel, ada acara bersama teman-teman dari Kampus IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Setelah bertemu, langsung ngajak ngopi di kedai sebelah Indomaret. Mencari durian. Saya ingin durian lokal, tapi yang ada Musang King. Kaget juga, satu kilo harganya Rp.300.000. meskipun saya dipaksa terus oleh Kyai Kholid untuk mengambilnya, tetap tidak mau. Milih kentang goreng. Minuman cukup kopi hitam campur susu. Hitam tapi ada putihnya.

Kyai Kholid terlihat segar. Terlihat lebih muda dari umur nya. Meskipun demikian, saya melihat pada aura wajah ada guratan-guratan kesedihan yang mendalam. Itu wajar. seorang kyai yang memikirkan umat selalu sedih ketika ada persoalan yang menimpa mereka. Saya kira itu bagian dari ciri khas seorang kyai, ustadz dan pendidik yang merindukan kedamaian, kerukunan dan kebersamaan. Sebab rahmat Allah hanya turun di hati-hati muslim yang qalbun salim.

“Ada santri ku di prodi ini sangat susah sekali diatur. Janji jam sekian, sampai detik ini tidak juga datang” kata kyai kholid. Saya tersenyum. Seorang kyai, buya, ajengan, ustadz akan menghadapi keberagaman tingkah laku dari para jama’ahnya. Bisa jadi pada jam’iyah nya di pesantren, di sekolah nya atau di kampusnya. Keberagaman perilaku yang kadang membuat pikiran sumpeg dan gelisah.

Saya teringat nabi saat sakit keras. Saat itu nabi berkata: “umati, umati, umati…”. Kata ustadz ucapan tersebut menunjukan kecintaan nabi kepada umat nya. Cinta jangan sampai umat nya terjadi perselisihan sebagaimana pada masa jahiliyah. Kyai kholid bertanya tentang seperti apa perselisihan pada masa jahiliyah.

Mungkin dia sedang mengetes ku. Padahal dia sudah punya jawabannya. Tapi ini forum diskusi antara dua orang. Saya pun menjawab,”Perselisihan jaman jahiliyah diselesaikan dengan peperangan bukan dengan perdamaian”.

Kyai kholid tersenyum. Saya kurang paham makna senyum nya. Sangat misteri. Tapi saya melihat ada aliran batiniah yang mendalam pada dirinya betapa penting makna “perdamaian” yang tidak lain searti dengan makna “Islam”, yang kebetulan searti dengan kata “damai”. Agama Islam-kata para ustadz dan kyai-artinya agama damai.

Iya saya setuju. Islam itu agama damai. Persoalan manusia nya lain. Sebab manusia bukan agama. Jadi kadang berkelahi, akur, berkelahi lagi, nesu-nesuan, ungkur-ungkuran atau geger-gegeran lalu ger ger an. Itu manusia. Antara agama dan penganut agama dua hal yang berbeda.

Saya jadi teringat kyai kampung. Namanya kyai Islahuddin. Sebagaimana Namanya, ia senantiasa hadir sebagai penengah ketika ada persoalan serius terjadi di masyarakat baik persoalan tentang keluarga, persoalan patok sawah pindah, persoalan pencalonan kades sampai pada persoalan seorang janda yang merasa ketipu oleh seorang suami yang mengaku duda.

Kyai Islahuddin bukan ahli fiqh, bukan juga ahli tauhid atau tasawuf. Ia tipe seorang kyai yang pernah nyantri kalong-tidak tinggal di asrama. Ketika ada ulama, atau kyai ngaji memberikan materi kuliah maka seluruh energi nya difokuskan untuk mendengarkan. Lalu dipraktekan. Salah satu tarekat yang diamalkan oleh kyai Islahuddin yaitu “Siapa mengenal dirinya sendiri maka mampu mengenal Tuhan nya”.

Ketika dalam Forum Grup Discussion-FGD- dengan para santri dan masyarakat dan kebetulan dia sebagai narasumbernya, kyai Islahuddin berpenampilan biasa saja. Dia tidak memerlukan catatan atau persiapan materi. Apa adanya.

“Kyai, kenapa terjadi bencana akhir-akhir ini?” tanya peserta diskusi.

“Karena manusia belum mengenal Allah, dia lebih mengenal rukun sholat, rukun iman, haram-halal, hanya mengenal partai, mengenal ormas, mengenal hutan, Batubara dan sejenisnya” jawab kyai Islahuddin.

Paijo santri yang sering tidur belum paham. Tapi mentalnya cukup pemberani. Saat orang lain tidak berani bertanya, dia pun berani mempertanyakan karena merasa belum paham.

“Saya kurang paham jawaban tuan kyai, coba jelaskan secara mendetail” pinta paijo.

Kyai islahuddin memandang dengan pandangan kasih sayang. Lalu dia menjelaskan secara sederhana dengan harapan paijo bisa memahami nya.

“Maksudnya jika kamu ingin mengenal Allah terlebih dahulu mengenal diri nya sendiri jangan sibuk mengenal orang lain” jawabnya.

Kyai islahuddin paham bahwa sinyal pemahaman paijo masih muter-muter sinyal nya.

“ Anak ku Paijo, jika tangan mu kau cubit dan merasa sakit, maka ingatlah ketika kamu mencubit orang lain maka akan terasa sakit. maka jangan kamu mencubit orang lain. Jika kamu memaksa juga mencubit orang lain padahal tahu dampaknya, maka kamu telah menyakiti diri sendiri. Padahal Tuhan tidak suka menyakiti makhluk Nya. Allah sangat menyayangi dengan selalu mencurahkan rahman dan rahim-Nya. Itu sebabnya ketika kamu mencintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri. Sangat sulit. Itulah prinsip hidup. Jika ini dilakukan, maka kamu berarti telah mengenal esensi dari ajaran agama, yaitu kebaikan. Berarti kamu sudah mulai mengenal Allah” jawab kyai Islahuddin.

“Itu persoalan lain kyai, yang saya tanyakan kenapa terjadi bencana sekarang ini?” tanya paijo kurang puas terhadap jawaban nya.

“Iya sama, hutan rusak karena manusia tidak mengenal Allah. Tidak mengenal-Nya karena manusia belum mampu mengenal dirinya sendiri. Jika manusia sudah mengenal diri nya sendiri maka ia akan mencintai alam semesta. Sebab orang yang sudah mengenal dirinya sendiri pasti mengenal alam semesta ini. Gunung, hutan, batu, pohon dan semua nya seperti manusia, yaitu bertasbih kepada Allah swt. Tapi manusia lupa diri seolah-olah hanya dirinya yang bertasbih, selainya tidak. Lalu ditebanglah pohon-pohon sesuka hatinya. Maka seluruh alam semesta menjerit sejadi-jadinya, bencana pun datang” jawab kyai Islahuddin.

“Bagaimana caranya untuk menyelesaikan ini kyai?” tanya paijo

“Pertama, membangun silaturahim dengan Allah. Duduk bersimpuh di sajadah. Menangislah dengan melakukan taubatan nasuha. Akui segala dosa-dosanya. Perbaiki lagi kedekatan dengan nya. Kedua, silaturahim dengan sesama manusia. Jangan sampai putus silaturahim. Sebab itu kunci terbuka rahmat dari langit turun. Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan silaturahim. Ketiga, silaturahim dengan alam semesta. Sayangi alam tersebut dengan merawat hutan, Menanam hutan yang gundul dan mengambil kemanfaatan dari hutan sebatas kebutuhan. Tidak boleh berlebihan.” Jika ini kamu lakukan, maka kamu sudah mulai mengenal Allah di dunia” jawab kyai Islahuddin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

uas abi 1D-RAHMA DESTRI YANI

1).Sejarah lahirnya aliran Syiah dan Khawarij a. Lahirnya Aliran Syiah Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M), khususnya akibat persoalan kepemimpinan (khalifah). Syiah berasal dari kata Syī‘atu ‘Alī yang berarti pengikut Ali bin Abi Thalib. Kaum Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menggantikan Nabi Muhammad SAW karena: Hubungan keluarga (sepupu dan menantu Nabi), Kedekatan dan keilmuan Ali. Perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi khalifah akhirnya berkembang menjadi perbedaan teologis dan politik, hingga terbentuklah aliran Syiah. Intinya: Syiah lahir karena perbedaan pandangan tentang kepemimpinan umat Islam setelah Nabi wafat. b. Lahirnya Aliran Khawarij Aliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin (antara Ali dan Muawiyah). Ketika terjadi tahkim (arbitrase/perundingan) antara kedua pihak, sebagian pendukung Ali menolak keputusan tersebut. Mereka berpendapat bahwa: “Hukum hanya milik Allah” (Lā ḥukma illā lillāh). Kelompok ini kemudian keluar dari barisan Ali, sehingga disebut Khawarij (artinya: orang-orang yang keluar). Khawarij dikenal bersikap keras dan ekstrem, bahkan mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham. Intinya: Khawarij lahir karena penolakan terhadap tahkim dan sikap ekstrem dalam memahami agama. 2).Pelajaran yang dapat diambil dari artikel tentang bencana alam Pelajaran penting yang dapat diambil antara lain: -Manusia harus menjaga keseimbangan alam Banyak bencana diperparah oleh ulah manusia seperti penebangan hutan, pencemaran, dan eksploitasi alam berlebihan. -Bencana sebagai pengingat akan kekuasaan Tuhan Manusia tidak boleh sombong karena pada hakikatnya manusia lemah di hadapan alam dan kehendak Tuhan. -Pentingnya solidaritas dan kepedulian sosial Saat bencana terjadi, diperlukan kerja sama, empati, dan tolong-menolong antar sesama. -Kesiapsiagaan dan edukasi kebencanaan Manusia harus belajar dari bencana agar lebih siap dan mampu meminimalkan dampak di masa depan.

Avatar

UAS ABI 1D - SRI MELDIANA NOR AVIVA

1. Sejarah Lahirnya Aliran Syiah dan Khawarij Lahirnya aliran Syiah dan Khawarij tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik dan sosial umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Pada masa Nabi, umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan beliau. Namun, setelah beliau wafat, muncul persoalan besar mengenai siapa yang paling berhak memimpin umat Islam. Lahirnya Aliran Syiah Aliran Syiah bermula dari persoalan kepemimpinan (imamah). Kelompok ini meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya berada di tangan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, serta keturunannya. Pendukung Ali berpendapat bahwa beliau memiliki kedekatan darah, keilmuan, dan spiritual dengan Nabi, sehingga dianggap paling layak memimpin umat. Ketegangan politik semakin memuncak pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, terutama setelah terjadinya Perang Jamal dan Perang Shiffin melawan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Ali dan peristiwa tragedi Karbala (wafatnya Husain bin Ali), paham Syiah semakin menguat dan berkembang sebagai aliran tersendiri dengan doktrin utama bahwa kepemimpinan harus diwariskan kepada Ahlul Bait (keluarga Nabi). Lahirnya Aliran Khawarij Aliran Khawarij muncul akibat peristiwa tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah setelah Perang Shiffin. Sebagian pengikut Ali menolak keputusan tahkim karena menganggap bahwa hukum Allah tidak boleh digantikan oleh keputusan manusia. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali, sehingga disebut Khawarij (orang-orang yang keluar). Khawarij memiliki pandangan yang sangat keras, di antaranya: Menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir Menghalalkan darah pihak yang berbeda pendapat Menekankan pemahaman agama secara tekstual dan ekstrem Dengan demikian, Syiah dan Khawarij lahir dari konflik politik yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dalam Islam. 2. Pelajaran dari Artikel tentang Bencana Alam Artikel “Kyai Islahuddin: Cerita tentang Bencana Alam” memberikan pelajaran penting bahwa bencana alam tidak hanya dipandang sebagai peristiwa fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual, moral, dan sosial. Pelajaran utama yang dapat diambil antara lain: Bencana sebagai Pengingat Kekuasaan Allah Bencana alam mengingatkan manusia bahwa kekuatan dan kekuasaan Allah SWT berada di atas segalanya. Manusia tidak boleh sombong dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Introspeksi dan Muhasabah Diri Bencana menjadi sarana untuk mengevaluasi perilaku manusia, terutama kerusakan lingkungan, ketidakadilan sosial, dan pengabaian nilai-nilai moral. Pentingnya Solidaritas Sosial Islam mengajarkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Bencana menjadi momentum untuk memperkuat nilai tolong-menolong (ta’awun), sedekah, dan kepedulian sosial.

Avatar

UAS Nisya febriani putri ABI 1D

1.Aliran Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M akibat perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan umat Islam. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah. Pandangan ini terus berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib dan semakin kuat setelah terjadinya tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain bin Ali oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Sejak peristiwa tersebut, Syiah meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam harus berada di tangan keturunan Ali dan Fatimah. Aliran Khawarij muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib setelah terjadinya Perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ketika disepakati tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan konflik, sebagian pengikut Ali menolak keputusan tersebut karena berpendapat bahwa hukum hanya milik Allah. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan disebut Khawarij, yang berarti orang-orang yang keluar. Khawarij dikenal memiliki pandangan keras, seperti menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir, dan salah satu anggotanya terlibat dalam pembunuhan Ali bin Abi Thalib. 2.Pelajaran yang dapat diambil dari artikel ini adalah bahwa bencana alam tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai akibat dari perilaku manusia yang tidak menjaga keseimbangan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Artikel ini menekankan bahwa kerusakan lingkungan, seperti hutan yang gundul dan eksploitasi alam berlebihan, terjadi karena manusia belum mengenal dirinya sendiri dan belum benar-benar mengenal Allah. Ketika manusia kehilangan kesadaran spiritual dan moral, alam pun rusak dan akhirnya mendatangkan bencana. Selain itu, artikel mengajarkan pentingnya menjalin silaturahim dalam tiga aspek, yaitu dengan Allah melalui taubat dan ibadah, dengan sesama manusia melalui kerukunan dan perdamaian, serta dengan alam melalui sikap menjaga, merawat, dan tidak mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Jika ketiga hubungan ini dijaga dengan baik, maka rahmat Allah akan turun dan bencana dapat diminimalisir. Dengan demikian, bencana alam menjadi pengingat bagi manusia untuk berintrospeksi, memperbaiki perilaku, dan hidup selaras dengan alam serta nilai-nilai agama, bukan hanya mengandalkan penjelasan teknis semata.

Avatar

UAS ABI 1D-ALISA

1.Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW karena perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin umat Islam. Kelompok Syiah mendukung Ali bin Abi Thalib karena masih keluarga dekat Nabi, sehingga mereka dikenal sebagai pengikut Ali. Khawarij muncul pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin. Mereka menolak keputusan tahkim karena menganggap hukum hanya milik Allah, lalu keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok sendiri. 2.Pelajaran dari artikel tersebut adalah bahwa bencana alam mengingatkan manusia untuk rendah hati dan sadar akan keterbatasannya. Bencana juga menjadi peringatan agar manusia lebih peduli pada sesama dan lingkungan, serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, bencana mengajarkan pentingnya saling tolong-menolong dan kesiapsiagaan saat musibah terjadi. Selain itu, bencana juga menjadi peringatan agar manusia lebih peduli terhadap lingkungan dan memperbaiki perilaku, karena kerusakan alam sering disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Bencana juga mengajarkan pentingnya saling tolong-menolong, kebersamaan, dan kesiapsiagaan agar dampak musibah dapat diminimalkan.

Avatar

ABI 1D-EKA AGUSTINA

1. Sejarah lahirnya aliran Syiah dan Khawarij Syiah lahir karena perbedaan pendapat tentang kepemimpinan umat Islam setelah wafat Nabi Muhammad SAW. Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah pihak yang paling berhak memimpin umat Islam. Khawarij muncul setelah Perang Siffin akibat penolakan terhadap tahkim (arbitrase) antara Ali dan Mu’awiyah. Mereka beranggapan bahwa hukum hanya milik Allah, sehingga keputusan manusia dianggap menyimpang. 2. Pelajaran dari artikel terkait bencana alam Bencana alam adalah ujian dari Allah untuk meningkatkan keimanan. Mengajarkan introspeksi diri, bukan menyalahkan pihak lain. Mendorong sikap sabar, tawakal, dan saling tolong-menolong sesama manusia.

Avatar

Nur rizka Fadilah UAS ABI 1D no absen 21

Jwbn no 1 1. Lahirnya Aliran Syiah Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M), berkaitan dengan persoalan kepemimpinan (khalifah) umat Islam. Sebagian umat berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib—sepupu sekaligus menantu Nabi—adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah. Kelompok pendukung Ali ini disebut Syī‘atu ‘Alī (pengikut Ali), yang kemudian berkembang menjadi aliran Syiah. Konflik politik semakin menguat pada masa Perang Jamal dan Perang Shiffin, serta setelah wafatnya Ali. 2. Lahirnya Aliran Khawarij Aliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, khususnya setelah Perang Shiffin (657 M) antara Ali dan Muawiyah. Ketika terjadi tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan konflik, sebagian pendukung Ali menolak keputusan tersebut karena menganggap hukum hanya milik Allah (“lā ḥukma illā lillāh”). Mereka keluar dari barisan Ali, sehingga disebut Khawarij (orang-orang yang keluar). Aliran ini dikenal dengan pandangan yang sangat keras dalam menilai keimanan dan kepemimpinan. Kesimpulan: Kedua aliran ini lahir dari konflik politik dan perbedaan pandangan tentang kepemimpinan dalam Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Jika kamu ingin versi lebih singkat, dalam poin, atau bahasa akademik, Jwbn no 2 • Introspeksi dan evaluasi diri agar kembali pada ketaatan kepada Tuhan.  • Ujian iman dan kesabaran, yang menguatkan spiritualitas.  • Peringatan agar tidak lupa akan hakikat ketergantungan kepada Tuhan.  • Kepedulian sosial terhadap sesama manusia.  • Tanggung jawab terhadap lingkungan dan alam. 

Avatar

UAS ABI 1D—ILMADYAN FAHIRRA

1. Syiah: Aliran Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW karena adanya perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak memimpin umat Islam. Kelompok ini meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib seharusnya menjadi khalifah karena ia adalah sepupu sekaligus menantu Nabi serta termasuk orang yang paling awal masuk Islam. Keyakinan tersebut kemudian berkembang menjadi ajaran bahwa kepemimpinan umat Islam harus berada di tangan Ali dan keturunannya. Khawarij: Aliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, terutama setelah terjadinya Perang Shiffin. Ketika dilakukan tahkim untuk menyelesaikan konflik antara Ali dan Muawiyah, sebagian pengikut Ali menolaknya karena menganggap hukum hanya milik Allah dan tidak boleh ditentukan oleh manusia. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok Khawarij. 2. Pelajaran yang bisa diambil dari artikel tentang bencana alam: Bencana alam dipahami bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi memiliki makna moral dan spiritual. Manusia sering menempatkan dirinya sebagai pusat kekuasaan atas alam, padahal alam memiliki hukum yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Bencana menjadi pengingat bahwa eksploitasi lingkungan, keserakahan, dan pengabaian terhadap keseimbangan alam dapat berujung pada kerusakan yang berdampak luas. Selain itu, bencana menguji kualitas keimanan dan kemanusiaan manusia: apakah manusia mampu bersabar, bertawakkal, serta tetap berikhtiar secara rasional. Bencana juga membuka realitas ketimpangan sosial, karena dampaknya sering kali lebih berat dirasakan oleh kelompok lemah. Oleh karena itu, bencana menuntut tanggung jawab kolektif, kepedulian sosial, dan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan manusia.

Avatar

UASABI1D-SISKAMURLYA

1. Syiah dan Khawarij lahir dari konflik politik setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, bukan langsung karena perbedaan ajaran agama. Saat Nabi wafat, umat Islam berbeda pendapat tentang siapa yang paling berhak menjadi pemimpin. Sebagian umat meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, adalah orang yang paling layak memimpin. Para pendukung Ali inilah yang kemudian dikenal sebagai Syiah. Perkembangan Syiah semakin kuat setelah wafatnya Ali dan terutama setelah peristiwa Karbala, ketika Husain bin Ali terbunuh. Sejak saat itu, Syiah meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya berada di tangan keturunan Nabi (Ahlul Bait). Sementara itu, Khawarij muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah. Ketika kedua pihak sepakat melakukan tahkim atau arbitrase, sebagian pendukung Ali menolak keras keputusan tersebut karena menganggap hukum hanya milik Allah, bukan manusia. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan disebut Khawarij. Aliran ini dikenal memiliki pandangan yang sangat keras, mudah mengkafirkan pemimpin dan umat Islam lain yang dianggap melakukan kesalahan besar, bahkan membenarkan penggunaan kekerasan. 2. Intinya, kisah Kyai Islahuddin tidak memaknai bencana alam sekadar sebagai musibah yang menakutkan, melainkan sebagai cara untuk berpikir, introspeksi, dan membangun kesadaran spiritual. Beliau mengajak pembaca untuk melihat setiap kejadian besar seperti gempa, banjir, atau letusan gunung bukan hanya dari sisi dampaknya, tetapi sebagai moment refleksi untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan Tuhan, serta sebagai pengingat tentang kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah.  Dalam perspektif yang sejalan dengan penafsiran Al-Qur’an dan ulama lain, bencana alam sering dipahami sebagai fenomena yang mengandung hikmah untuk manusia melakukan muhasabah (evaluasi diri), memperbaiki moral dan perilaku, serta menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Kisah-kisah umat terdahulu yang ditimpa musibah sering kali dipaparkan bukan sekadar sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai pelajaran etika dan spiritual: bahwa bencana bisa menjadi panggilan untuk taubat, introspeksi, dan perubahan sikap agar menjadi pribadi lebih berhati-hati, taat kepada nilai moral dan agama, sekaligus memperkuat solidaritas sosial di antara manusia. Jadi, jika menghubungkan artikel itu dengan tema bencana alam, pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa bencana bukan hanya soal alam yang “marah”, tetapi lebih sebagai cermin untuk mengevaluasi diri sendiri, bertumbuh secara spiritual, dan meningkatkan rasa empati serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Avatar

UAS-ABI 1-D WAHYU BUDIMAN

1. Sejarah lahirnya aliran Syiah dan Khawarij a. Lahirnya Aliran Syiah Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Permasalahan utama yang memicu lahirnya Syiah adalah perbedaan pandangan tentang siapa yang paling berhak menjadi pemimpin (khalifah) umat Islam. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah karena hubungan keluarga dan kedekatannya dengan Nabi. Kelompok pendukung Ali ini kemudian dikenal sebagai Syiat Ali (pengikut Ali), yang selanjutnya berkembang menjadi aliran Syiah. Konflik semakin kuat pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, terutama setelah terjadinya Perang Jamal dan Perang Shiffin melawan Muawiyah bin Abi Sufyan. Puncak penderitaan kaum Syiah terjadi pada peristiwa Karbala (680 M), ketika Husain bin Ali dibunuh oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini semakin menguatkan identitas dan ajaran Syiah hingga berkembang menjadi aliran tersendiri dalam Islam. ⸻ b. Lahirnya Aliran Khawarij Aliran Khawarij muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, khususnya setelah Perang Shiffin. Ketika terjadi konflik antara Ali dan Muawiyah, kedua pihak sepakat melakukan tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan perselisihan. Sebagian pendukung Ali menolak tahkim karena menganggap bahwa hukum hanya milik Allah (la hukma illa lillah). Mereka keluar dari barisan Ali dan kemudian dikenal sebagai Khawarij (orang-orang yang keluar). Khawarij memiliki pandangan yang sangat keras, antara lain: • Menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir • Membolehkan pemberontakan terhadap pemimpin yang dianggap tidak adil • Bersikap ekstrem dan radikal dalam memahami ajaran Islam Aliran ini kemudian terpecah menjadi beberapa kelompok, meskipun sebagian besar akhirnya hilang, kecuali kelompok Ibadiyah yang masih ada hingga sekarang. ⸻ 2. Pelajaran yang dapat diambil dari artikel tentang bencana alam Pelajaran yang dapat diambil dari artikel tentang bencana alam antara lain: 1. Manusia harus menjaga keseimbangan alam, karena kerusakan lingkungan sering memperparah dampak bencana. 2. Bencana alam merupakan ujian dan peringatan agar manusia lebih sadar akan keterbatasannya dan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT. 3. Pentingnya sikap gotong royong dan solidaritas sosial, terutama dalam membantu korban bencana. 4. Perlu adanya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, baik dari pemerintah maupun masyarakat, untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian. 5. Manusia harus bersikap sabar dan tawakal, namun tetap berusaha dan berikhtiar dalam menghadapi musibah. ⸻ 3. Nilai modernisasi dalam ajaran Islam Nilai modernisasi dalam ajaran Islam menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dan relevan sepanjang zaman, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar syariat. Nilai-nilai modernisasi dalam Islam antara lain: 1. Rasionalitas (akal) Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dalam berpikir, menuntut ilmu, dan menyelesaikan masalah kehidupan. 2. Ilmu pengetahuan dan teknologi Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Kemajuan sains dan teknologi dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan umat. 3. Ijtihad Islam membuka ruang ijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang tidak secara eksplisit dibahas dalam Al-Qur’an dan Hadis. 4. Keadilan dan kemanusiaan Modernisasi dalam Islam tetap berlandaskan nilai keadilan, persamaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. 5. Keseimbangan dunia dan akhirat Islam mengajarkan bahwa modernisasi tidak boleh membuat manusia melupakan nilai spiritual dan akhlak.

Avatar

UAS Nur Rizki Fadilah_ABI 1D

Jawaban no 1 1. Lahirnya Aliran Syiah Awal Sejarahnya Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Masalah utama saat itu adalah siapa yang berhak memimpin umat Islam (khilafah/imamah). Penyebab Munculnya. Para pendukung Ali bin Abi Thalib meyakini bahwa: ✔ kepemimpinan setelah Nabi harus diberikan kepada Ali, karena beliau: • sepupu Nabi • menantu Nabi (suami Fatimah) • termasuk sahabat yang paling dekat dan berilmu Pendukung Ali ini disebut “Syī‘ah ‘Alī” (pengikut Ali), yang kemudian dikenal sebagai Syiah. Perkembangan Konflik Ketika Ali menjadi khalifah ke-4, terjadi konflik besar: • perang Jamal (melawan Aisyah, Talhah, Zubair) • perang Shiffin (melawan Muawiyah) Setelah Ali wafat dan Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, pengikut Ali semakin mengkristal menjadi kelompok teologis dan politis. Keyakinan Inti Syiah Beberapa poin penting: • kepemimpinan (imam) adalah hak keturunan Ali • imam dianggap memiliki kedudukan spiritual khusus • mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi) menjadi pusat ajaran 2. Lahirnya Aliran Khawarij Awal Sejarahnya Khawarij juga muncul pada masa kekhalifahan Ali, terutama setelah Perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah tahun 657 M. Penyebab Utamanya Saat perang hampir dimenangkan pihak Ali, Muawiyah menawarkan tahkīm (arbitrase). Sebagian pasukan Ali menolak, lalu berkata: “La hukma illa lillah” (“Tidak ada hukum kecuali milik Allah”) Kelompok itu keluar (khārija) dari barisan Ali, sehingga disebut Khawarij = “mereka yang keluar”. Karakter dan Keyakinan Awal Khawarij Kelompok ini memiliki ciri: ✔ sangat keras dalam penafsiran agama ✔ menganggap pelaku dosa besar kafir ✔ menghalalkan pemberontakan terhadap penguasa yang dianggap tidak adil Peristiwa Penting Khawarij juga terlibat dalam tragedi: • pembunuhan Ali bin Abi Thalib oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam Jawaban no.2 1. Bencana sebagai ujian atau cobaan Dalam Islam, bencana alam sering dipandang sebagai bentuk ujian dari Allah SWT untuk mengukur iman, kesabaran, dan ketabahan manusia dalam situasi sulit. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia dapat menjadi musibah yang menguji keimanan mereka.  ???? 2. Bencana sebagai peringatan atau refleksi Bencana juga sering kali dijadikan sebagai peringatan bagi umat manusia untuk kembali memperbaiki perilaku dan hubungan dengan Tuhan serta dengan sesama manusia, bukan sebagai sekadar hukuman. Dalam beberapa tafsiran, bencana ditujukan untuk mengingatkan manusia bahwa hidup di dunia bersifat fana dan harus kembali kepada Allah SWT.  ???? 3. Hubungan manusia dengan alam Beberapa pandangan kontemporer (yang mungkin dikutip Kyai Islahuddin atau penulis artikel) menegaskan bahwa kerusakan lingkungan (misalnya penebangan hutan, eksploitasi sumber daya alam) menunjukkan bahwa bencana ekologis yang terjadi juga merupakan akibat dari perilaku manusia yang tidak menjaga keseimbangan ciptaan Allah. Ini bukan sekadar logika teknis, tetapi juga persoalan etika moral manusia sebagai khalifah di bumi.  ???? 4. Hikmah di balik bencana Meski bencana menimbulkan penderitaan, dalam pandangan Islam tinggi terdapat hikmah seperti: ✔ memperkuat iman ✔ mendorong manusia saling tolong-menolong ✔ meningkatkan rasa tawakal dan introspeksi diri ✔ mengingatkan akan kehidupan akhirat Semua itu disebut dalam artikel-artikel tentang bencana dalam perspektif Al-Qur’an dan Sunnah.  ???? Kesimpulan Gambaran Isinya Walau isi lengkapnya tidak dapat diakses langsung dari link yang kamu kirim, artikel “Kyai Islahuddin Cerita Tentang Bencana Alam” kemungkinan besar berisi: 1. Cerita atau pengalaman Kyai Islahuddin terkait bencana alam (cerita empiris atau narasi agama). 2. Penafsiran Islam tentang makna bencana dalam kehidupan umat Islam. 3. Hikmah dan pesan moral dari peristiwa bencana. 4. Pandangan teologis dan spiritual tentang hubungan manusia dengan Allah dan alam.

Avatar

DEA MANDELA

UAS ABI 1D-DEA MANDELA 1. Jelaskan sejarah terjadi lahirnya aliran Syiah dan Khawarij !  ● Lahirnya aliran Syiah Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Perbedaan pendapat terjadi mengenai siapa yang paling berhak menjadi pemimpin umat Islam (khalifah). Kelompok Syiah berpendapat bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya dipegang oleh Ali bin Abi Thalib, karena beliau adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Perselisihan ini semakin kuat setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Puncak penguatan aliran Syiah terjadi setelah peristiwa Karbala (680 M), ketika Husain bin Ali terbunuh oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini membuat pengikut Ali dan keturunannya semakin solid dan berkembang menjadi aliran Syiah. ●Lahirnya aliran Khawarij Aliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin (657 M) antara pasukan Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ketika terjadi tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan konflik, sebagian pengikut Ali menolak keputusan tersebut karena menganggap bahwa hukum hanya milik Allah (“La hukma illa lillah”). Mereka keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok sendiri yang kemudian dikenal sebagai Khawarij (artinya: orang-orang yang keluar). Khawarij terkenal dengan sikapnya yang keras dan ekstrem, mudah mengkafirkan pihak lain yang berbeda pendapat, bahkan menghalalkan darah sesama Muslim yang dianggap menyimpang. 2.Bencana alam mengingatkan manusia bahwa mereka memiliki keterbatasan dan tidak sepenuhnya menguasai alam, sehingga perlu melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan rasa empati, kesabaran, dan kepedulian sosial terhadap sesama yang terdampak musibah.

Avatar

UAS ABI 1D-MARCSHELLA ZARIDES

1.Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M) akibat perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi khalifah. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah yang paling berhak memimpin umat Islam. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husain bin Ali memperkuat perkembangan Syiah sebagai aliran tersendiri. Khawarij muncul pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin (657 M). Mereka menolak tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah karena menganggap hukum hanya milik Allah. Kelompok ini keluar dari barisan Ali dan dikenal sebagai Khawarij, dengan sikap keras dan mudah mengkafirkan pihak lain. 2.Bencana alam adalah ujian untuk manusia Banyak ulama menekankan bahwa bencana bukan semata hukuman, tetapi ujian untuk mengukur dan menguatkan keimanan, agar manusia lebih dekat kepada Allah dan lebih sadar atas kelemahan dirinya

Avatar

ABI 1D - Dinia anis syafira

nomor 1 : 1. Syiah Syiah muncul pada abad ke-7 M sebagai kelompok yang meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam (imamah) harus berada pada keluarga Nabi Muhammad, khususnya Ali bin Abi Thalib sebagai penerus yang sah. Akar kemunculannya terkait perselisihan politik setelah wafatnya Nabi (632 M) mengenai siapa yang berhak menjadi khalifah. Peristiwa penting yang memperkuat identitas Syiah adalah Tragedi Karbala (680 M), ketika Husain bin Ali terbunuh, sehingga dimensi teologis dan emosional Syiah berkembang—mencakup konsep imamah, keadilan ilahi, dan posisi Ahlul Bait. 2. Khawarij Khawarij muncul dari konflik politik pada masa Perang Saudara Pertama (Fitnah Kubra) antara Ali bin Abi Thalib dan Mu‘awiyah. Mereka berpisah dari kelompok Ali setelah peristiwa Tahkim (arbitrase) pada Perang Shiffin (657 M). Khawarij menolak arbitrase manusia dalam urusan yang mereka anggap milik Allah, dan mengembangkan doktrin pengkafiran pelaku dosa besar serta prinsip kesetaraan politik radikal: siapa pun Muslim yang saleh dapat menjadi pemimpin, tanpa syarat keturunan Quraisy. Mereka juga terlibat dalam aksi politik bersenjata, termasuk pembunuhan Ali. nomor 2 : Pelajaran yang Bisa Diambil dari artikel tersebut adalah : Bencana Alam sebagai Pengingat akan Kekuasaan Allah Artikel menekankan bahwa bencana alam bukan sekadar kejadian fisik semata, tetapi mengandung pesan spiritual, yakni mengingatkan manusia bahwa kekuatan Allah SWT jauh di atas kemampuan manusia. Ini mengajak pembaca untuk kembali menyadari keterbatasan manusia dan kebesaran Tuhan. Mempertebal Rasa Tawakal dan Rendah Hati Menyikapi bencana dengan tawakal (pasrah) dan rendah hati merupakan pelajaran penting. Manusia diajak untuk tidak sombong atau merasa paling mampu, tetapi mengakui bahwa segala sesuatu di luar kendali dan kehendak-Nya. Pemahaman Sosial dan Empati terhadap Sesama Cerita ini juga menekankan pentingnya kepedulian sosial dan empati terhadap mereka yang terdampak bencana. Bencana tidak hanya soal kehilangan materi, tetapi juga mendorong solidaritas kemanusiaan dan rasa saling bantu antar sesama. Introspeksi Diri (Muhasabah) Sikap yang diajarkan bukan hanya menyalahkan kondisi alam, tetapi mengajak untuk berintrospeksi diri—memikirkan sudah sejauh mana perilaku dan hubungan kita dengan Tuhan serta sesama. Bencana bisa menjadi momentum untuk memperbaiki diri secara spiritual dan moral. Makna Bencana Lebih dari Fisik: Moral dan Sosial Artikel menegaskan bahwa bencana alam bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga mengandung makna moral dan sosial yang mendorong umat manusia untuk berpikir lebih luas tentang kehidupan, hubungan sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Avatar

UAS ABI 1D-MARCSHELLA ZARIDES

1.Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M) akibat perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi khalifah. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah yang paling berhak memimpin umat Islam. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husain bin Ali memperkuat perkembangan Syiah sebagai aliran tersendiri. Khawarij muncul pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin (657 M). Mereka menolak tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah karena menganggap hukum hanya milik Allah. Kelompok ini keluar dari barisan Ali dan dikenal sebagai Khawarij, dengan sikap keras dan mudah mengkafirkan pihak lain. 2.Bencana alam adalah ujian untuk manusia Banyak ulama menekankan bahwa bencana bukan semata hukuman, tetapi ujian untuk mengukur dan menguatkan keimanan, agar manusia lebih dekat kepada Allah dan lebih sadar atas kelemahan dirinya

Avatar

UAS ABI 1D-MARCSHELLA ZARIDES

1.Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M) akibat perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi khalifah. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah yang paling berhak memimpin umat Islam. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husain bin Ali memperkuat perkembangan Syiah sebagai aliran tersendiri. Khawarij muncul pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin (657 M). Mereka menolak tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah karena menganggap hukum hanya milik Allah. Kelompok ini keluar dari barisan Ali dan dikenal sebagai Khawarij, dengan sikap keras dan mudah mengkafirkan pihak lain. 2.Bencana alam adalah ujian untuk manusia Banyak ulama menekankan bahwa bencana bukan semata hukuman, tetapi ujian untuk mengukur dan menguatkan keimanan, agar manusia lebih dekat kepada Allah dan lebih sadar atas kelemahan dirinya

Avatar

awani khalila familta

ABI 1D - AWANI KHALILA FAMILTA 1. Jelaskan sejarah terjadi lahirnya aliran Syiah dan Khawarij = Sejarah Lahirnya Syiah • Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. • Penyebab utamanya adalah perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin umat Islam. • Sebagian umat mendukung Ali bin Abi Thalib karena ia keluarga dekat Nabi. • Kelompok pendukung Ali ini kemudian dikenal sebagai Syiah (pengikut Ali). Sejarah Lahirnya Khawarij • Khawarij muncul pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib. • Mereka awalnya adalah pendukung Ali dalam Perang Shiffin. • Mereka keluar (memisahkan diri) karena menolak keputusan tahkim (arbitrase) antara Ali dan Mu’awiyah. • Karena itu, mereka disebut Khawarij, artinya orang-orang yang keluar. 2. Pelajaran yang dapat diambil dari artikel tentang bencana alam: Bencana alam merupakan peringatan dan ujian bagi manusia agar lebih sadar akan keterbatasannya dan tidak sombong. Melalui bencana, manusia diajak untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki keimanan, serta meningkatkan hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Selain itu, bencana juga mengajarkan bahwa setiap musibah pasti mengandung hikmah, seperti tumbuhnya rasa empati, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam membantu korban. Oleh karena itu, sikap yang tepat dalam menghadapi bencana adalah bersabar, bijaksana, tidak saling menyalahkan, dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Avatar

UAS ABI 1D - WINDARI

1.Jelaskan sejarah terjadi lahirnya aliran Syiah dan Khawarij ! Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW karena perbedaan pendapat tentang kepemimpinan umat Islam. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah pihak yang paling berhak menjadi pemimpin (imam). Khawarij lahir pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin, ketika terjadi tahkim (arbitrase) antara Ali dan Muawiyah. Mereka menolak tahkim dan menganggap keputusan harus hanya berdasarkan hukum Allah, sehingga keluar dari barisan Ali. 2. Apa pelajaran yang bisa diambil dari artikel ini berkaitan dengan bencana alam Pelajaran yang dapat diambil adalah Bencana alam dapat mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Kita diajak untuk introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama, memperkuat iman dan kesabaran, serta menunjukkan solidaritas kepada yang tertimpa musibah. Ini semua adalah pelajaran penting yang bisa diambil dari artikel tersebut.

Avatar

UAS-ABI 1D-Juliana safitri

(1)Jelaskan sejarah terjadi lahirnya aliran Syiah dan Khawarij? aliran syiah dan khawarij lahir setelah wafatnya nabi muhammad karena muncul perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin umat islam. sebagian umat menganggap ali bin abi thalib yang paling berhak karena ia keluarga dekat nabi, dan para pendukungnya disebut syi’at ali yang kemudian berkembang menjadi aliran syiah. konflik memuncak pada masa pemerintahan ali ketika terjadi perang dengan mu’awiyah, lalu disepakati tahkim (arbitrase) untuk berdamai. sebagian pendukung ali menolak tahkim karena menganggap hukum hanya milik allah, mereka keluar dari barisan ali dan disebut khawarij. sejak saat itu, syiah dan khawarij berkembang menjadi dua aliran yang berbeda dalam sejarah islam. (2)Apa pelajaran yang bisa diambil dari artikel ini berkaitan dengan bencana alam? pelajaran yang bisa diambil dari artikel tentang kyai islahuddin dan bencana alam itu adalah bahwa bencana bukan cuma sekadar musibah, tapi juga jadi pengingat buat kita supaya lebih introspeksi diri, lebih sabar, lebih dekat sama tuhan, dan sadar bahwa manusia punya tanggung jawab menjaga alam, karena di balik setiap bencana pasti ada hikmah, baik untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, maupun menumbuhkan rasa peduli dan tolong-menolong terhadap sesama.

Avatar

UAS ABI 1D Siti nailul izzah

1. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat (632 M), muncul persoalan siapa yang berhak menjadi khalifah. Mayoritas sahabat memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Namun, sebagian sahabat berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, lebih berhak menjadi pemimpin karena kedekatan keluarga dan kapasitas keilmuannya. Kelompok pendukung Ali inilah yang kemudian dikenal sebagai Syiat Ali (pengikut Ali), yang berkembang menjadi aliran Syiah. Lahirnya Khawarij berkaitan langsung dengan Perang Shiffin (657 M) antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan. Ketika perang hampir dimenangkan oleh pihak Ali, pasukan Mu‘awiyah mengangkat Al-Qur’an di ujung tombak sebagai tanda ajakan damai. Ali setuju melakukan tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan konflik. Sebagian pendukung Ali menolak tahkim karena menganggap hukum hanya milik Allah, bukan manusia. 2. Manusia lebih mementingkan dirinya sendiri dibandingkan dengan yang lain, sehingga mereka dapat merusak hutan untuk kepuasan hati mereka tanpa sadar bahwa itu dapat menjadi bencana kedepannya. Karena itu, kita sebagai manusia harusnya sadar bahwa kehidupan bukan hanya milik manusia saja. Tapi banyak kehidupan lain yang menjadi sasaran ketika lingkungannya dirusak. Karena itu kita seharusnya mencintai lingkungan yang ada.

Avatar

UAS Nur Rizki Fadilah_ABI 1D

Jawaban no.3 ???? 1. Modernisasi Islam Tidak Bertentangan dengan Ajaran Islam Islam tidak menolak modernisasi — justru Islam bisa sejalan dengan proses perubahan ke arah kemajuan sepanjang nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan tetap dijaga. Modernisasi yang dipahami sebagai pembaruan dan perkembangan masyarakat tidak sama dengan westernisasi atau sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.  ???? 2. Pendekatan Rasional dan Wahyu Dalam pandangan Islam: • Rasio (akal) penting dan membantu manusia menemukan kebenaran-kebenaran yang bersifat relatif. • Wahyu (agama) tetap menjadi sumber kebenaran mutlak yang mengarahkan kemajuan agar bermanfaat dan tidak merusak. Artinya, modernisasi menggunakan akal, ilmu, dan rasionalitas, tetapi tidak absolut — tetap harus dibingkai oleh nilai iman dan wahyu Islam.  ???? 3. Nilai Modernisasi dalam Konteks Sosial-Politik Menurut Robert N. Bellah Menurut yang dikutip dari Robert N. Bellah dalam artikel: ✔ Masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW melakukan kemajuan sosial dan politik yang bisa disebut modern, karena: • Tingkat komitmen, partisipasi, dan keterlibatan rakyat tinggi • Kepemimpinan boleh dinilai berdasarkan kualitas dan kapabilitas, bukan keturunan • Ajaran tauhid menciptakan kesetaraan derajat manusia • Kekuasaan otoriter berbasis keturunan tidak diberi ruang Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menolak modernitas sosial dan politik, melainkan mengarahkannya pada prinsip universal keadilan dan kesetaraan.  ???? 4. Modernisasi Islam Bersifat Universal dan Etis Islam mendorong kemajuan dalam berbagai bidang (ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, politik) asal tujuan akhirnya adalah kemaslahatan, bukan sekadar kemajuan materi semata. Modernisasi harus: ✔ membawa manfaat universal ✔ menjaga keadilan dan kesejahteraan ✔ tidak merusak moral, spiritual, atau manusia lain ✔ selaras dengan prinsip maqāṣid syariah (tujuan syariat) yang menekankan perlindungan jiwa, harta, akal, keturunan, dan agama.  ???? 5. Ciri Modernisasi yang Ideal dalam Perspektif Islam Berdasarkan artikel tersebut (termasuk penjelasan mahasiswa yang dikutip), modernisasi ideal menurut Islam mencakup beberapa nilai utama:  ???? a. Humanity-Centered (Bertumpu pada Kemanusiaan) Modernisasi tidak hanya mengejar teknologi atau efisiensi, tetapi meningkatkan kualitas hidup manusia, tidak membuat manusia kehilangan empati atau nilai kemanusiaan.  ???? b. Moral dan Etika Tetap Terjaga Kemajuan teknologi atau sosial harus tetap terikat dengan nilai moral, etika, dan spiritual agar tidak menimbulkan kerusakan sosial, ketimpangan, atau krisis moral.  ???? c. Tidak Meniru Barat Secara Buta Modernisasi bukan sekadar meniru budaya Barat (westernisasi), tetapi mengadopsi hal-hal positif secara selektif dan tetap berakar pada nilai budaya sendiri dan ajaran Islam.  ???? d. Berkeadilan dan Inklusif Kemajuan harus dirasakan oleh seluruh masyarakat, tidak hanya segelintir kelompok, serta mengurangi ketimpangan sosial.  ???? e. Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Modernisasi ideal juga mengambil pertimbangan lingkungan, sehingga pembangunan tidak merusak alam dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.  ⸻ ???? Inti Kesimpulan Secara garis besar, nilai modernisasi dalam Islam menurut artikel tersebut adalah bahwa: ???? Islam dapat menerima dan mendorong modernisasi. ???? Modernisasi harus berlandaskan iman kepada Allah dan moral-etika Islam, bukan semata sekularisme atau rasionalisme tanpa batas. ???? Tujuan modernisasi bukan hanya kemajuan material, tetapi kemaslahatan, keadilan, kesejahteraan umat, dan pelestarian nilai moral serta identitas manusia. 

Avatar

UAS ABI 1D QOMARUDIN

1. Sejarah Lahirnya Aliran Syiah dan khawarij ???? Awal Mula Kata Syiah artinya pengikut atau pendukung. Yang dimaksud adalah Syiah Ali = pengikut Ali bin Abi Thalib. Syiah muncul karena perselisihan tentang siapa yang paling berhak menjadi khalifah setelah Nabi wafat. ???? Peristiwa Penting: Setelah Nabi wafat, yang menjadi khalifah berturut-turut: Abu Bakar Umar bin Khattab Utsman bin Affan Ali bin Abi Thalib Saat Ali menjadi khalifah, terjadi konflik besar dengan: Muawiyah (gubernur Syam, kerabat Utsman) Terjadi Perang Shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyah. Ketika dilakukan tahkim (arbitrase / perundingan), posisi Ali justru melemah secara politik. Setelah itu, sebagian umat Islam tetap setia mendukung Ali dan keturunannya → inilah yang menjadi cikal bakal Syiah. ???? Keyakinan Utama Syiah: Yang paling berhak memimpin umat Islam adalah Ali dan keturunannya (Ahlul Bait). Kepemimpinan (imam) harus dari keluarga Nabi. ???? . Sejarah Lahirnya Aliran Khawarij ???? Arti Kata: Khawarij artinya: orang-orang yang keluar. Mereka disebut begitu karena keluar dari barisan Ali. ???? Penyebab Munculnya: Saat perang Ali vs Muawiyah, dilakukan tahkim (arbitrase). Sebagian pengikut Ali menolak tahkim dan berkata: "Hukum hanya milik Allah, bukan manusia!" Mereka menganggap: Ali salah karena mau menerima tahkim Muawiyah juga salah Akhirnya mereka keluar dari pasukan Ali → inilah Khawarij. ???? Ciri Pemikiran Khawarij: Menganggap orang Islam yang melakukan dosa besar = kafir Menganggap Ali, Muawiyah, dan pendukungnya sesat Bersifat keras dan ekstrem Bahkan salah satu anggota Khawarij membunuh Ali bin Abi Thalib 2. Kita sebagai manusia harus ingat siapa Tuhan kita siapa yg sudah menciptakan kita dan yang pastinya kita juga harus dan wajib ingat dg apa aja yg diciptakan oleh allah sabagai Tuhan kita, jngan sesekali merusak atau bukan mencemari apa yang sudah allah berikan kepada kita, selayaknya hamba yang cinta ke pada allah kita juga harus menjaga apa saja segala sesuatu yang telah di ciptakan olehnya, kalau kamu menghargai dan mencintai semua ciptaan allah maka kamu juga di anggap mencintai penciptanya..

Avatar

UAS ABI 1D-SOFIA CAHAYA INDAH

JAWABAN SOAL NO 1: 1. Sejarah Lahirnya Aliran Syiah Syiah berasal dari kata syī‘at ‘Alī yang berarti pengikut Ali bin Abi Thalib. Latar Belakang: Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M), muncul persoalan besar: siapa yang berhak menjadi pemimpin umat Islam (khalifah). Sebagian umat Islam berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu Nabi) adalah orang yang paling berhak karena: Hubungan keluarga dekat dengan Nabi Keilmuan dan ketakwaannya Perkembangan: Namun, yang terpilih menjadi khalifah pertama adalah Abu Bakar, lalu Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Setelah Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keempat. Pada masa Ali terjadi konflik besar, terutama Perang Shiffin (657 M) melawan Muawiyah bin Abi Sufyan. Konflik ini memperkuat kelompok pendukung Ali yang kemudian berkembang menjadi aliran Syiah. Inti Ajaran Syiah: Kepemimpinan umat Islam (Imamah) harus berasal dari keturunan Ali dan Fatimah. Imam dianggap sebagai pemimpin yang sah dan memiliki otoritas keagamaan. 2. Sejarah Lahirnya Aliran Khawarij Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Latar Belakang: Aliran ini juga muncul akibat konflik pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Saat Perang Shiffin, terjadi peristiwa Tahkim (arbitrase) antara pihak Ali dan Muawiyah untuk menghentikan perang. Perkembangan: Sebagian pendukung Ali menolak Tahkim, karena menganggap: “Hukum hanya milik Allah” (lā ḥukma illā lillāh) Mereka keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok sendiri, yang kemudian dikenal sebagai Khawarij. Inti Ajaran Khawarij: Menolak kepemimpinan yang dianggap tidak adil. Menganggap kafir orang Islam yang melakukan dosa besar. Berpandangan keras dan ekstrem dalam menilai iman seseorang. JAWABAN SOAL NO 2: pelajaran penting yang bisa diambil dari artikel “Kyai Islahuddin Cerita Tentang Bencana Alam : 1. Alam itu bukan sekadar latar belakang — ia “berbicara” Artikel menyebutkan bahwa semua unsur alam seperti gunung, hutan, batu, pohon, semuanya seolah-olah bertasbih (mengagungkan Allah), tapi manusia sering lupa diri dan tidak menyadari hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Pesan: kita perlu belajar menghargai alam sebagai bagian dari ciptaan yang selalu mengingatkan kita akan kekuasaan Tuhan. Imam Ghozali 2. Manusia perlu introspeksi dan rendah hati Penekanan bahwa manusia “lupa diri” menunjukkan bahwa bencana alam bisa menjadi panggilan untuk muhasabah (introspeksi) — mengingatkan kita akan keterbatasan dan ketergantungan pada Tuhan. Ini sejalan dengan ajaran bahwa bencana bisa menjadi peringatan untuk merendahkan hati dan memperbaiki perilaku, bukan sekadar kejadian alam yang diabaikan. 3. Bencana sebagai pelajaran, bukan semata musibah Dalam banyak kajian keagamaan tentang bencana alam (yang konteksnya relevan dengan artikel seperti ini), bencana sering digambarkan sebagai ujian atau panggilan untuk perbaikan diri dan solidaritas sosial — bukan sekadar takdir yang fatalistis. Pesan penting: kita diajak untuk belajar, berempati, dan berbuat baik terhadap sesama serta lingkungan, baik kita yang terdampak langsung maupun tidak. 4. Menghormati alam adalah bagian dari keimanan Cerita yang menyiratkan bahwa alam “bertasbih” juga mengandung pesan bahwa manusia harus menghormati, melindungi, dan menjaga keseimbangan alam — bukan memperlakukannya semena-mena. Ini sangat relevan untuk Indonesia yang sering menghadapi bencana alam karena faktor geografi dan juga praktik manusia yang merusak lingkungan.

Avatar

UAS ABI 1D -OCTA AIDIL FITRI

1.Syiah lahir dari keyakinan bahwa kepemimpinan Islam harus diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (Ahlul Bait), berakar pada peristiwa pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama terkait suksesi kepemimpinan dan pertentangan politik. Sementara itu, Khawarij muncul sebagai kelompok yang memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib karena menolak keputusan arbitrase (tahkim) dalam Perang Shiffin, menuntut keadilan mutlak dan menganggap Ali serta lawannya sama-sama bersalah, serta mengedepankan doktrin "tidak ada hukum kecuali milik Allah".  Sejarah Lahirnya Syiah Inti Keyakinan: "Syiah" (dari bahasa Arab syī'ah, artinya "pengikut") awalnya adalah kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib, yang meyakini Ali lebih berhak menjadi pemimpin (Imam/Khalifah) setelah Nabi Muhammad SAW berdasarkan kedekatannya dengan Nabi dan statusnya sebagai bagian dari Ahlul Bait (keluarga Nabi). Pemicu: Kemunculan Syiah sering dikaitkan dengan Setelah Wafat Nabi: Perebutan kepemimpinan segera setelah wafatnya Nabi, dengan keyakinan bahwa Nabi telah menunjuk Ali di Ghadir Khum. Akhir Kekhalifahan Utsman: Munculnya tokoh seperti Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi Yaman yang menampakkan keislaman) yang menggalang dukungan untuk Ali dan mengkritik khalifah sebelumnya, memicu doktrin keimaman Ali yang lebih kuat. Perang Shiffin: Kegagalan negosiasi antara Ali dan Muawiyah pada Perang Shiffin semakin mengukuhkan perbedaan pandangan politik dan ideologis, memicu pembentukan Syiah sebagai kekuatan politik yang lebih solid.  Sejarah Lahirnya Khawarij Inti Keyakinan: Khawarij (dari bahasa Arab khawārij, artinya "mereka yang keluar") adalah kelompok yang keluar (membangkang) dari barisan Ali bin Abi Thalib setelah ia menerima keputusan arbitrase (tahkim) dengan Muawiyah dalam Perang Shiffin. Pemicu:Penolakan Tahkim: Kaum Khawarij merasa Ali telah melakukan kesalahan fatal dengan setuju pada arbitrase, menganggapnya melanggar prinsip bahwa "tidak ada hukum (hakim) kecuali milik Allah" (La Hukma Illa Lillah). Keluarnya Kelompok: Sekitar 12.000 pengikut Ali meninggalkan barisannya, mendirikan basis di Harura, dan menyatakan diri sebagai kelompok yang berlepas diri dari Ali, Muawiyah, serta semua yang terlibat dalam arbitrase. Doktrin Radikal: Mereka memiliki pandangan ekstremis, menganggap kaum Muslimin yang tidak sepaham dengan mereka sebagai kafir dan boleh diperangi, serta menuntut pemimpin yang dipilih secara bebas oleh seluruh Muslim, tidak harus dari suku Arab.  Secara singkat, Syiah lahir dari dukungan politik dan ideologis terhadap kepemimpinan Ahlul Bait (Ali), sementara Khawarij lahir dari pembangkangan politik dan ideologis terhadap khalifah Ali karena menerima tahkim 2.Dari artikel Kyai Islahuddin Cerita Tentang Bencana Alam di imamghozali.id, pembelajaran utamanya adalah bencana alam bukan hanya urusan fisik, tapi juga spiritual, mengajarkan manusia untuk introspeksi, bertaubat ekologis, mengubah cara hidup, serta menegaskan peran manusia sebagai penjaga bumi yang bertanggung jawab, bukan perusak, agar terhindar dari bencana berikutnya dan membangun peradaban yang lebih beradab melalui perbaikan diri dan alam. 

Avatar

Uas ABI 1D_qur'aniah atmojo setri

1.Aliran Syiah muncul karena perbedaan pandangan tentang siapa yang paling berhak menjadi pemimpin umat Islam setelah Nabi wafat. Kelompok Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, yang merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah. Menurut mereka, kepemimpinan seharusnya tetap berada di keluarga Nabi (Ahlul Bait). Awalnya, Syiah bersifat politik, bukan aliran teologi. Namun seiring waktu, berkembang menjadi aliran keagamaan dengan ajaran-ajaran khusus, seperti konsep imam yang dianggap suci dan terjaga dari kesalahan.sedangkanAliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, terutama setelah peristiwa tahkim (arbitrase) antara Ali dan Mu’awiyah dalam konflik perang Shiffin. Kelompok Khawarij menolak hasil tahkim tersebut karena mereka beranggapan bahwa hukum hanya milik Allah, bukan keputusan manusia. Khawarij dikenal sebagai kelompok yang sangat keras dan ekstrem, mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat, bahkan menganggap sah untuk memerangi sesama Muslim yang dianggap menyimpang. 2.Menurut artikel Kyai Ishlahuddin, bencana alam bukan cuma kejadian alam biasa, tapi juga bisa jadi peringatan dari Allah supaya manusia lebih sadar dan mau memperbaiki sikapnya. Banyak bencana muncul karena ulah manusia sendiri, misalnya merusak lingkungan, menebang hutan sembarangan, dan mencemari alam. Islam juga ngajarin kita supaya nggak langsung nyalahin Tuhan kalau bencana terjadi. Justru dari situ kita diajak buat lebih mendekatkan diri ke Allah dan peduli sama sesama, seperti saling bantu dan punya rasa empati. Selain itu, umat Islam juga harus berusaha mencegah bencana dengan cara menjaga alam dan patuh sama aturan, jadi nggak cuma berdoa tapi juga ada usaha nyata.

Avatar

FENNY SYAVIRA

1. Syiah lahir dari keyakinan bahwa kepemimpinan Islam harus diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (Ahlul Bait), berakar pada peristiwa pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama terkait suksesi kepemimpinan dan pertentangan politik. Sementara itu, Khawarij muncul sebagai kelompok yang memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib karena menolak keputusan arbitrase (tahkim) dalam Perang Shiffin, menuntut keadilan mutlak dan menganggap Ali serta lawannya sama-sama bersalah, serta mengedepankan doktrin "tidak ada hukum kecuali milik Allah". 2. pelajaran yang dapat di ambil dari artikel di atas adalah selalu menghargai kehidupan, senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah SWT, Rasa takut kepada Allah,Murka-nya,dan azab-nya. membangun silaturahim dengan Allah. Akui segala dosa-dosanya. Perbaiki lagi kedekatan dengan nya. Kedua, silaturahim dengan sesama manusia. Jangan sampai putus silaturahim. Ketiga, silaturahim dengan alam semesta. Sayangi alam tersebut dengan merawat hutan, Menanam hutan yang gundul dan mengambil kemanfaatan dari hutan sebatas kebutuhan.

Avatar

UAS ABI 1.D_SILVIA AFRIANI

1.Sejarah lahirnya aliran Syiah dan Khawarij berawal dari peristiwa wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Setelah Nabi wafat, umat Islam menghadapi perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin atau khalifah. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian melahirkan berbagai aliran dalam Islam. Aliran Syiah muncul dari kelompok yang berpendapat bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya dipegang oleh Ali bin Abi Thalib, karena ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Kelompok ini meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam harus tetap berada di tangan keluarga Nabi atau Ahlul Bait. Pandangan ini semakin kuat setelah terjadinya konflik politik pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, terutama setelah Perang Shiffin. Sejak saat itu, para pendukung Ali berkembang menjadi aliran Syiah dengan keyakinan bahwa imam memiliki kedudukan khusus dalam memimpin umat. Aliran Khawarij lahir pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, khususnya setelah terjadinya Perang Shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ketika kedua pihak sepakat melakukan tahkim atau arbitrase untuk menyelesaikan konflik, sebagian pengikut Ali menolak keputusan tersebut. Mereka beranggapan bahwa hukum hanya boleh ditetapkan oleh Allah, bukan oleh manusia. Akibat penolakan ini, mereka keluar dari barisan Ali dan dikenal sebagai Khawarij. Kelompok ini kemudian berkembang dengan pandangan bahwa seorang pemimpin harus berlaku adil dan bahwa muslim yang melakukan dosa besar dapat dianggap kafir. 2.Pelajaran yang dapat diambil dari artikel tersebut adalah bahwa bencana alam mengajarkan manusia untuk lebih sadar akan kekuasaan Tuhan dan keterbatasan manusia. Selain itu, bencana alam mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan agar kerusakan alam tidak semakin parah. Artikel tersebut juga menunjukkan perlunya kesiapsiagaan dan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana. Dengan demikian, manusia diharapkan dapat lebih peduli, waspada, dan saling membantu ketika bencana terjadi.

Avatar

ABI 1D - SAVIRA

1. Sejarah Lahirnya Aliran Syiah dan Khawarij Aliran Syiah lahir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M karena perbedaan pendapat tentang siapa yang berhak menjadi khalifah. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi, paling berhak memimpin umat. Kelompok pendukung Ali ini disebut Syi‘atu ‘Ali (pengikut Ali), yang kemudian dikenal sebagai Syiah. Aliran ini semakin berkembang setelah peristiwa Karbala, ketika Husain bin Ali terbunuh, sehingga pengikut Syiah semakin yakin bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya berada di keturunan Nabi. Aliran Khawarij muncul pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin melawan Muawiyah. Saat terjadi tahkim (arbitrase) untuk menghentikan perang, sebagian pendukung Ali menolak karena menganggap hukum hanya milik Allah, bukan keputusan manusia. Mereka kemudian keluar dari barisan Ali dan disebut Khawarij, yang artinya orang-orang yang keluar. Khawarij berpendapat bahwa pemimpin yang dianggap salah harus ditentang dan menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir. 2. Pelajaran yang bisa diambil dari artikel tersebut adalah bahwa bencana alam tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai pengingat agar manusia memperbaiki hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Manusia diajak untuk lebih mengenal diri dan Tuhan, sehingga tumbuh rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Selain itu, manusia tidak boleh merusak alam seperti menebang hutan sembarangan karena hal itu dapat memperparah bencana. Jadi, upaya mencegah bencana tidak hanya melalui teknologi, tetapi juga melalui perbaikan sikap, moral, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Avatar

UAS ABI 1D -NASYWA SIFA HALMALA

no 1. Sejarah Lahirnya Aliran Syiah dan Khawarij Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam mulai menghadapi masalah besar, yaitu siapa yang akan memimpin umat Islam. Dari sinilah muncul perbedaan pendapat yang akhirnya melahirkan beberapa aliran, termasuk Syiah dan Khawarij. Aliran Syiah muncul karena adanya kelompok umat Islam yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin setelah Nabi. Mereka beranggapan bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya tetap berada di keluarga Nabi, khususnya keturunan Ali dan Fatimah. Walaupun pada akhirnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang menjadi khalifah, pendukung Ali tetap setia kepadanya. Paham Syiah semakin kuat setelah terjadi peristiwa Karbala, yaitu ketika Husain bin Ali terbunuh oleh pasukan Yazid. Sejak saat itu, Syiah berkembang sebagai aliran yang menekankan pentingnya imam dari keturunan Ali. Sementara itu, aliran Khawarij lahir pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib juga, tetapi karena sebab yang berbeda. Awalnya, mereka adalah pendukung Ali dalam konflik melawan Muawiyah. Namun, saat terjadi tahkim (arbitrase) untuk menyelesaikan konflik, kelompok ini tidak setuju. Mereka menganggap bahwa urusan kepemimpinan dan hukum harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada keputusan manusia. Karena itu, mereka keluar dari barisan Ali dan disebut Khawarij, yang artinya “orang-orang yang keluar”. Khawarij dikenal sangat keras dalam pemikiran, bahkan menganggap orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka sebagai kafir. Kesimpulannya, Syiah lahir karena perbedaan pandangan tentang hak kepemimpinan setelah Nabi, sedangkan Khawarij muncul karena penolakan terhadap tahkim dan sikap keras dalam memahami agama. No 2. Pelajaran utama yang bisa diambil dari artikel tersebut adalah bahwa bencana alam tidak hanya disebabkan oleh faktor alam semata, tetapi juga oleh perilaku manusia. Artikel menekankan bahwa kerusakan alam terjadi karena manusia kehilangan kesadaran diri dan kesadaran ketuhanan, sehingga mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa memikirkan dampaknya. Selain itu, artikel mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam adalah hubungan yang saling terkait. Ketika manusia merusak hutan, menebang pohon sembarangan, dan mengambil sumber daya alam tanpa batas, maka alam akan “bereaksi” dalam bentuk bencana seperti banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan lainnya. Pelajaran penting lainnya adalah bahwa mencegah bencana tidak cukup hanya dengan teknologi, tetapi juga membutuhkan perbaikan sikap dan moral manusia. Islam mengajarkan pentingnya mengenal diri sendiri, mencintai sesama, dan menyayangi alam sebagai ciptaan Allah. Jika manusia mampu menjaga hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta, maka keseimbangan akan terjaga dan risiko bencana dapat dikurangi.

Avatar

Uas ABI 1D-FENNY SYAVIRA

1. Syiah lahir dari keyakinan bahwa kepemimpinan Islam harus diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (Ahlul Bait), berakar pada peristiwa pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama terkait suksesi kepemimpinan dan pertentangan politik. Sementara itu, Khawarij muncul sebagai kelompok yang memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib karena menolak keputusan arbitrase (tahkim) dalam Perang Shiffin, menuntut keadilan mutlak dan menganggap Ali serta lawannya sama-sama bersalah, serta mengedepankan doktrin "tidak ada hukum kecuali milik Allah". 2. pelajaran yang dapat di ambil dari artikel di atas adalah selalu menghargai kehidupan, senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah SWT, Rasa takut kepada Allah,Murka-nya,dan azab-nya. membangun silaturahim dengan Allah. Akui segala dosa-dosanya. Perbaiki lagi kedekatan dengan nya. Kedua, silaturahim dengan sesama manusia. Jangan sampai putus silaturahim. Ketiga, silaturahim dengan alam semesta. Sayangi alam tersebut dengan merawat hutan, Menanam hutan yang gundul dan mengambil kemanfaatan dari hutan sebatas kebutuhan.

Avatar

ABI 1D-ADZKIYA NUR FITRI

1) Aliran Syiah dan Khawarij muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sebagai akibat dari konflik politik besar dalam sejarah Islam awal, khususnya Perang Siffin melawan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kedua aliran ini lahir dari perpecahan umat terkait legitimasi kepemimpinan dan keputusan arbitrase (tahkim). Latar Belakang UmumPerpecahan dimulai setelah pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan pada 656 M, yang memicu kekacauan politik. Ali bin Abi Thalib naik menjadi khalifah keempat, tapi Muawiyah menolak baiat dan menuntut balas dendam atas pembunuhan Utsman. Perang Siffin (657 M) berlangsung alot hingga pasukan Ali hampir menang, tapi Muawiyah mengusulkan arbitrase untuk menyelesaikan konflik dengan Al-Qur'an sebagai penengah Kelahiran Aliran KhawarijKhawarij (artinya "orang-orang yang keluar") lahir tepat setelah keputusan tahkim pada 657 M. Sekelompok sekitar 12.000 prajurit Ali menolak arbitrase karena menganggapnya bertentangan dengan syariat; mereka yakin kemenangan militer sudah jelas sebagai kehendak Allah. Kelompok ini keluar dari barisan Ali, berkumpul di Harura (dekat Kufah, Irak), dan mendirikan pemerintahan sendiri dengan Abdullah bin Wahab ar-Rasyidi sebagai pemimpin Kelahiran Aliran SyiahSyiah (artinya "pengikut" atau "partisan") mulai terbentuk pada akhir masa Utsman dan semakin kuat pada masa Ali. Mereka adalah kelompok yang tetap setia kepada Ali sebagai khalifah sah dan penerus utama Nabi Muhammad SAW melalui garis keturunan (Ahlul Bait). Berbeda dengan Khawarij, Syiah menerima tahkim meski akhirnya menolak hasilnya, dan aliran ini berkembang menjadi keyakinan imamah keturunan Ali. 2) pelajaran yang bisa diambil adalah: -Pelajaran MitigasiPemerintah perlu investasi lebih besar pada pencegahan bencana, termasuk pemangkasan deforestasi dan pembangunan infrastruktur tahan bencana seperti tanggul banjir serta rumah tahan gempa -Respons PemulihanPemulihan pascabencana memerlukan keseimbangan antara bantuan darurat dan pembangunan jangka panjang, seperti task force khusus untuk isu lahan dan pemukiman aman -Keterlibatan MasyarakatMasyarakat harus dilibatkan melalui simulasi evakuasi rutin, reboisasi lahan kritis, dan edukasi mitigasi bencana di sekolah via Program SPAB.Gotong royong membersihkan selokan dan adaptasi pola hidup, seperti rumah panggung di daerah banjir, terbukti mengurangi risiko.

Avatar

UAS ABI 1D-ALDA SAFIRA

1.Aliran Syiah muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW karena perbedaan pendapat tentang kepemimpinan umat Islam. Syiah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah karena memiliki hubungan keluarga dekat dengan Nabi. Sementara itu, Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah Perang Shiffin. Mereka menolak peristiwa tahkim karena menganggap hukum hanya milik Allah, sehingga keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok sendiri. 2.Pelajaran dari artikel tersebut adalah bahwa bencana alam mengingatkan manusia untuk rendah hati dan menyadari keterbatasannya, sehingga manusia tidak boleh bersikap sombong terhadap alam. Selain itu, bencana juga menjadi peringatan agar manusia lebih peduli terhadap lingkungan dan memperbaiki perilaku, karena kerusakan alam sering disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Bencana juga mengajarkan pentingnya saling tolong-menolong, kebersamaan, dan kesiapsiagaan agar dampak musibah dapat diminimalkan.

Avatar

UAS ABI 1D-chika

Soal no 1)Aliran Syiah - Latar Belakang Awal: Ada beberapa pandangan tentang awal kemunculannya. Sebagian menyatakan bahwa sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, saat proses pemilihan khalifah di Saqifah Bani Sa'idah, muncul suara dari Bani Hasyim dan sebagian kecil Muhajirin yang menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai yang berhak menjadi khalifah penerus, karena mereka percaya Ali telah ditunjuk pada peristiwa Ghadir Khum. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa Syiah baru terbentuk secara terorganisir setelah konflik politik antara Ali dan Dinasti Umayyah. - Perkembangan: Setelah pembunuhan Khhalifah Usman bin Affan pada tahun 656 M, Ali terpilih menjadi khalifah. Pada tahun 657 M terjadi Perang Siffin antara Ali dan gubernur Syiria Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah berlangsung cukup lama, kedua belah pihak sepakat untuk arbitrase. Keputusan ini membuat sebagian pendukung Ali keluar dan membentuk kelompok Khawarij, sementara yang tetap setia pada Ali dikenal sebagai Syi'atu Ali (Pengikut Ali), yang menjadi cikal bakal Syiah. Tragedi Karbala pada tahun 680 M, di mana Husain bin Ali (putra Ali) dan pengikutnya dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, semakin memperkuat identitas dan kesatuan kelompok ini, serta menjadikannya berkembang menjadi mazhab dengan doktrin dan struktur yang jelas. Aliran Khawarij - Latar Belakang: Munculnya Khawarij erat kaitannya dengan situasi politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama setelah pembunuhan Khhalifah Usman bin Affan yang menyebabkan perselisihan. Setelah Ali menjadi khalifah, ia berseteru dengan Muawiyah yang menolak untuk membaiatnya, hingga terjadi Perang Siffin pada tahun 657 M. - Perkembangan: Saat Ali mulai mendominasi perang, pihak Muawiyah mengusulkan arbitrase dengan mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak. Ali awalnya tidak setuju, namun akhirnya menerima karena didesak sebagian pengikutnya. Sebagian besar pengikut Ali yang tidak menyetujui keputusan ini keluar dari barisan Ali dan memilih Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka bermukim di desa Harurah dekat Kufah. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Khawarij (orang yang keluar) dengan semboyan La Hukma Illa Lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah). Mereka menganggap mereka yang terlibat dalam arbitrase telah kafir dan boleh dibunuh. Setelah itu, Khawarij terpecah menjadi beberapa kelompok seperti Azariqah dan Najdat. Soal no2) - Penyebab Bencana Berkaitan dengan Hubungan Manusia dan Tuhan serta Diri Sendiri: Bencana alam terjadi karena manusia seringkali hanya fokus pada hal-hal duniawi seperti aturan agama secara formal, kelompok atau sumber daya alam, namun belum benar-benar mengenal diri sendiri dan Allah. Ketidakmampuan mengenal diri membuat manusia tidak menghargai alam semesta yang juga merupakan ciptaan Allah yang bertasbih. - Alam Semesta Bersinergi dengan Keadaan Manusia: Kerusakan alam seperti penebangan pohon secara sembarangan membuat alam "menjerit" dan mengakibatkan bencana. Alam bukan hanya sumber daya yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan bagian dari kesatuan yang saling mempengaruhi dengan kehidupan manusia. - Solusi Bencana Berbasis Hubungan yang Sehat: Penyelesaiannya melibatkan tiga aspek silaturahim: 1. Dengan Allah melalui ibadah dan taubat untuk memperbaiki hubungan batin. 2. Dengan sesama manusia agar terjalin kedamaian dan kerja sama dalam menangani masalah alam. 3. Dengan alam semesta melalui perawatan, penanaman kembali, dan pemanfaatan yang sesuai kebutuhan tanpa berlebihan.

Avatar

UAS ABI1D-CHIKA

Soal no 1)Aliran Syiah - Latar Belakang Awal: Ada beberapa pandangan tentang awal kemunculannya. Sebagian menyatakan bahwa sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, saat proses pemilihan khalifah di Saqifah Bani Sa'idah, muncul suara dari Bani Hasyim dan sebagian kecil Muhajirin yang menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai yang berhak menjadi khalifah penerus, karena mereka percaya Ali telah ditunjuk pada peristiwa Ghadir Khum. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa Syiah baru terbentuk secara terorganisir setelah konflik politik antara Ali dan Dinasti Umayyah. - Perkembangan: Setelah pembunuhan Khhalifah Usman bin Affan pada tahun 656 M, Ali terpilih menjadi khalifah. Pada tahun 657 M terjadi Perang Siffin antara Ali dan gubernur Syiria Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah berlangsung cukup lama, kedua belah pihak sepakat untuk arbitrase. Keputusan ini membuat sebagian pendukung Ali keluar dan membentuk kelompok Khawarij, sementara yang tetap setia pada Ali dikenal sebagai Syi'atu Ali (Pengikut Ali), yang menjadi cikal bakal Syiah. Tragedi Karbala pada tahun 680 M, di mana Husain bin Ali (putra Ali) dan pengikutnya dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, semakin memperkuat identitas dan kesatuan kelompok ini, serta menjadikannya berkembang menjadi mazhab dengan doktrin dan struktur yang jelas. Aliran Khawarij - Latar Belakang: Munculnya Khawarij erat kaitannya dengan situasi politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama setelah pembunuhan Khhalifah Usman bin Affan yang menyebabkan perselisihan. Setelah Ali menjadi khalifah, ia berseteru dengan Muawiyah yang menolak untuk membaiatnya, hingga terjadi Perang Siffin pada tahun 657 M. - Perkembangan: Saat Ali mulai mendominasi perang, pihak Muawiyah mengusulkan arbitrase dengan mengangkat mushaf Al-Qur'an di ujung tombak. Ali awalnya tidak setuju, namun akhirnya menerima karena didesak sebagian pengikutnya. Sebagian besar pengikut Ali yang tidak menyetujui keputusan ini keluar dari barisan Ali dan memilih Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka bermukim di desa Harurah dekat Kufah. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Khawarij (orang yang keluar) dengan semboyan La Hukma Illa Lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah). Mereka menganggap mereka yang terlibat dalam arbitrase telah kafir dan boleh dibunuh. Setelah itu, Khawarij terpecah menjadi beberapa kelompok seperti Azariqah dan Najdat. Soal no 2) - Penyebab Bencana Berkaitan dengan Hubungan Manusia dan Tuhan serta Diri Sendiri: Bencana alam terjadi karena manusia seringkali hanya fokus pada hal-hal duniawi seperti aturan agama secara formal, kelompok atau sumber daya alam, namun belum benar-benar mengenal diri sendiri dan Allah. Ketidakmampuan mengenal diri membuat manusia tidak menghargai alam semesta yang juga merupakan ciptaan Allah yang bertasbih. - Alam Semesta Bersinergi dengan Keadaan Manusia: Kerusakan alam seperti penebangan pohon secara sembarangan membuat alam "menjerit" dan mengakibatkan bencana. Alam bukan hanya sumber daya yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan bagian dari kesatuan yang saling mempengaruhi dengan kehidupan manusia. - Solusi Bencana Berbasis Hubungan yang Sehat: Penyelesaiannya melibatkan tiga aspek silaturahim: 1. Dengan Allah melalui ibadah dan taubat untuk memperbaiki hubungan batin. 2. Dengan sesama manusia agar terjalin kedamaian dan kerja sama dalam menangani masalah alam. 3. Dengan alam semesta melalui perawatan, penanaman kembali, dan pemanfaatan yang sesuai kebutuhan tanpa berlebihan.

Avatar

UAS ABI 1D-ADZKIYA NUR FITRI

3).Modernisasi dalam islam tidak sama dengan rasionalisme, yaitu suatu paham yang mengakui kemutlakan rasio,sebagaimana yang dilakukan oleh kaum komunis. Orang yang menggunakan akal pikiran-rasio-adalah orang yang menggunakan akal pikirannya dengan sebaik-baiknya sehingga ia sanggup menemukan kebenaran, sampai merupakan kebenaran terakhir. Sedangkan dalam Islam rasio dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang relative,sedangkan yang mutlak hanya dapat diketahui oleh manusia melalui sesuatu yang lain yang lebih tinggi dari rasioa, yaitu wahyu yang melahirkan agama-agama Tuhan melalui nabi-nabi. Modernisasi yang diungkapkan oleh Robert N Bellah menunjukan pada kehidupan sosial politik. Menurutnya ajaran tauhid sebagai bentuk pengakuan diri umat Islam kepada Tuhan nya telah memberikan dampak positif tumbuh nya nilai-nilai kebaikan universal di kalangan masyarakat pada masa Nabi Muhammad saw. Kalimat tauhid telah membentuk kesetaraan derajat umat Islam, adanya kontrol masyarakat hidup secara alamiah, dan tertutupnya potensi-potensi kekuasaan otoriter berdasarkan keturunan. Dari sini sistem sosial politik Islam menghendaki seorang pemimpin lahir berdasarkan kualitas, kapabilitas, kredibilitas dan profesionalitas dengan tidak melihat latarbelakang nya. semua mempunyai hak sama untuk memilih dan dipilih. Sebab manusia dihargai oleh amal perbutannya, bukan karena keturunannya.

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872