Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Lail Al-Qadr dan Pesan Peradaban Yang Terlupakan



Senin , 17 April 2023



Telah dibaca :  296

Saat saya masih kecil, para ustadz dan guru-guru di Sekolah menerangkan proses pertama turun firman Allah. Ada suatu dialog yang khas antara malaikat Jibril dan Nabi Muhammad. Sebagai seorang yang “umi”[tidak bisa membaca dan menulis], nabi mengalami kesulitan ketika malaikat menyuruh untuk membaca untaian firman Allah yang dinampakan di hadapanya. Malaikat menyuruhnya, namun nabi tetap pada jawaban semula, tidak bisa membaca. Hingga diterangkan dalam cerita tersebut, nabi mengeluarkan keringat dingin. Ada perasaan yang tidak karuan di hatinya. Sampai-sampai ketika pulang ke rumah, nabi menyuruh istrinya untuk menyelimuti dirinya. Ada perasaan badan terasa-panas dingin tidak karuan. Seperti demam. Sebagai manusia yang oleh Allah disifati “basyarun mislukum”, dia punya perasaan sama saat keadaan demam. Perasaan tidak karuan dalam kondisi badan dan jiwa. Apalagi kejadian yang baru saja terjadi. Suatu peristiwa pertama terjadi, dan sangat sulit dijelaskan secara akal sehat. Untung saja, Khotijah seorang intelektual sekaligus mempunyai mata batin yang tajam. Selain itu, keluarganya banyak dari para ahli agama pada masanya. Dia bisa menjelaskan kepada suaminya, bahwa mahluk yang datang kepada nya adalah Malaikat Jibril yang datang kepada para nabi sebelumnya.

Setiap saya membuka kembali sejarah turunnya Al-Qur’an, saya melihat tentang ketabahan seorang Khotijah dalam merespon setiap persoalan yang melanda suaminya. Dia benar-benar berfungsi sebagai perisai sekaligus sebagai busur suaminya saat respon masyarakat Kafir Qurayis mulai tidak sehat. Apalagi budaya Arab yang sangat feodal dan kemampuan mengendalikan masyarakat kelas bawah dengan kekayaan dan kekuasaanya, jelas informasi tentang kenabian Muhammad menjadi ancaman para Kafirin dan orang-orang Yahudi yang telah mendapatkan kemapanan dalam status sosial. Bahkan paman-paman nabi sendiri pun demikian. Orang-orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab adalah bagian dari kelompok yang ketakutan kehilangan legitimasi di tengah-tengah masyarakat Arab. Sebab kedudukan yang terhormat di tengah-tengah masyarakat waktu itu telah menjadi sumber penghormatan, kekuasaan dan kekayaan.

Nabi Muhammad sebagai basyarun mislukum mempunyai sifat kemanusiaan ada rasa takut dan gelisah pada awal-awal menjadi seorang Nabi dan Rasul. Ketika dua perisai diri meninggal dunia (Khatijah dan Abu Thalib), nabi sedih luarbiasa. Bagaimanapun dalam kehidupan normal, dia membutuhkan orang-orang yang kuat dan terpandang untuk membantu menerangkan kebaikan dan kebenaran kepada masyarakat. Kondisi dimana kekuatan umat nya belum maksimal, dan saat yang sama kaum kafirin terus melakukan intimidasi dan psywar melalui berita-berita miring dari mulut ke mulut yang disebarkan oleh kaum munafikun.

Allah s.w.t menghibur dirinya. Isra Mi’raj menjadi perjalanan spiritual nabi untuk mengenal secara utuh hakikat diri nya dan misi yang diemban oleh nya, yaitu sebagai rahmat semesta alam. Nabi Muhammad benar-benar di tempa sebagai manusia yang wajar agar bisa dicontoh oleh umat nya dan manusia suci dengan menerima segala pesan-pesan Tuhan melalui wahyu-Nya.

Pesan suci yang terekam saat turun Al-Qur’an yaitu; iqra dan bismi rabika al-khalq, bacalah dan sebut nama Tuhan Mu yang telah menciptakan”. Kata “iqra” menjadi kata kunci dari perjalanan peradaban sepanjang sejarah. Tidak ada suatu kehidupan yang sempurna tanpa melewati suatu proses membaca segala yang terlihat dalam alam semesta. Tradisi membaca adalah tradisi naluri manusia yang diwariskan melalui “natiq”. Dari sini berkembang yang kemudian melahirkan kerjasama atau al-ijtima’. Saat terjadi pertemuan ini, lahir konsep madaniyun yang kemudian dikristalisasikan sebagai wujud peradaban Islam atau tamadun Islam.

Padahal ketika meminjam istilah madaniyun yang merupakan definisi manusia itu sendiri, “al-insanu madaniyu bitab’i, yang mempunyai arti secara naluri manusia tidak bisa hidup sendiri. Dari kata ini kemudian berkembang dalam berbagai nama seperti kata “hadharah” dan “tamadun”. Dari akar kata ini, bahwa tradisi peradaban manusia adalah tradisi kerjasama antara sesama manusia dalam mencapai suatu tujuan bersama.

Untuk mencapai suatu tujuan bersama, Islam memberi pelajaran yaitu agar masyarakat senantiasa membudayakan baca dan kemudian bertambah lagi budaya tulis. Kini terkenal dengan budaya baca-tulis. Membaca tradisi lama yang diwujudkan dalam hapalan, menulis tradisi baru yang diwujudkan dalam dokumentasi. Sebuah peradaban yang baik adalah peradaban yang bisa dijelaskan secara kata-kata dan mampu dibuktikan dalam dokumen-dokumen. Dua standar ini yang saat sekarang ini digunakan masyarakat modern. Siapapun orangnya yang terlibat dalam kehidupan sosial akan diminta rekam jejak perjalanan hidupnya yang akurat melalui ucapan dan dokumentasi kehidupan. Jika dirunut ke arah ini, kita bisa melihat bahwa Tuhan begitu indah mengatur kehidupan sosial dengan tradisi membaca. Sebab dengan tradisi ini kita bisa melihat berbagai data dan ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Namun Tuhan juga memperingatkan bahwa tradisi membaca bisa menyesatkan peradaban yang sudah dibangun. Dulu saat sumber-sumber ilmu pengetahuan masih minim, kita beranggapan bahwa ia adalah sumber dari segala ilmu. Kini sudah tidak lagi. Bahkan saat ini kita bisa melihat ada pertarungan data-data kebenaran. Persoalan sekarang, pertarungan data ada mempunyai motif sendiri-sendiri; ada motif ilmiah dan politik. Ketika berbicara ilmiah, maka forum-forum ilmiah bisa menyelesaikan dengan argumentatif. Namun ketika data bermuatan politis, penyelesaian dengan cara politik.

Itu sebabnya, Allah memberikan suatu warning dalam membangun peradaban yaitu berdasarkan pada,”bismirab”, dengan menyebut nama Allah. Sebab suatu peradaban saat ini adalah peradaban semu. Dia tidak kekal. Maka tuhan menginginkan bahwa peradaban dalam wujud majunya ilmu pengetahuan, teknologi, tatanan masyarakat dan sebagainya harus kekal dan menjadi amal sholeh. Maka, umat Islam tidak boleh terlena oleh waktu dalam melakukan segala akivitas kegiatan tanpa bernilai ibadah. Dari sini kita bisa memahami bahwa peradaban Islam terdiri dari dua dimensi; dimensi duniawiyah dan dimensi ukhrowiyah yang mempunyai tujuan untuk menciptakan kebahagiaan di Dunia dan Akherat serta terbebas dari Api Neraka. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883