
Saat saya masih kecil, para ustadz dan
guru-guru di Sekolah menerangkan proses pertama turun firman Allah. Ada suatu
dialog yang khas antara malaikat Jibril dan Nabi Muhammad. Sebagai seorang yang
“umi”[tidak bisa membaca dan menulis], nabi mengalami kesulitan ketika
malaikat menyuruh untuk membaca untaian firman Allah yang dinampakan di
hadapanya. Malaikat menyuruhnya, namun nabi tetap pada jawaban semula, tidak
bisa membaca. Hingga diterangkan dalam cerita tersebut, nabi mengeluarkan
keringat dingin. Ada perasaan yang tidak karuan di hatinya. Sampai-sampai
ketika pulang ke rumah, nabi menyuruh istrinya untuk menyelimuti dirinya. Ada
perasaan badan terasa-panas dingin tidak karuan. Seperti demam. Sebagai manusia
yang oleh Allah disifati “basyarun mislukum”, dia punya perasaan sama
saat keadaan demam. Perasaan tidak karuan dalam kondisi badan dan jiwa. Apalagi
kejadian yang baru saja terjadi. Suatu peristiwa pertama terjadi, dan sangat
sulit dijelaskan secara akal sehat. Untung saja, Khotijah seorang intelektual
sekaligus mempunyai mata batin yang tajam. Selain itu, keluarganya banyak dari
para ahli agama pada masanya. Dia bisa menjelaskan kepada suaminya, bahwa
mahluk yang datang kepada nya adalah Malaikat Jibril yang datang kepada para
nabi sebelumnya.
Setiap saya membuka kembali sejarah
turunnya Al-Qur’an, saya melihat tentang ketabahan seorang Khotijah dalam
merespon setiap persoalan yang melanda suaminya. Dia benar-benar berfungsi
sebagai perisai sekaligus sebagai busur suaminya saat respon masyarakat Kafir Qurayis
mulai tidak sehat. Apalagi budaya Arab yang sangat feodal dan kemampuan
mengendalikan masyarakat kelas bawah dengan kekayaan dan kekuasaanya, jelas
informasi tentang kenabian Muhammad menjadi ancaman para Kafirin dan
orang-orang Yahudi yang telah mendapatkan kemapanan dalam status sosial. Bahkan
paman-paman nabi sendiri pun demikian. Orang-orang seperti Abu Jahal dan Abu
Lahab adalah bagian dari kelompok yang ketakutan kehilangan legitimasi di
tengah-tengah masyarakat Arab. Sebab kedudukan yang terhormat di tengah-tengah
masyarakat waktu itu telah menjadi sumber penghormatan, kekuasaan dan kekayaan.
Nabi Muhammad sebagai basyarun mislukum
mempunyai sifat kemanusiaan ada rasa takut dan gelisah pada awal-awal menjadi
seorang Nabi dan Rasul. Ketika dua perisai diri meninggal dunia (Khatijah dan
Abu Thalib), nabi sedih luarbiasa. Bagaimanapun dalam kehidupan normal, dia
membutuhkan orang-orang yang kuat dan terpandang untuk membantu menerangkan
kebaikan dan kebenaran kepada masyarakat. Kondisi dimana kekuatan umat nya belum
maksimal, dan saat yang sama kaum kafirin terus melakukan intimidasi dan psywar
melalui berita-berita miring dari mulut ke mulut yang disebarkan oleh kaum
munafikun.
Allah s.w.t menghibur dirinya. Isra Mi’raj
menjadi perjalanan spiritual nabi untuk mengenal secara utuh hakikat diri nya
dan misi yang diemban oleh nya, yaitu sebagai rahmat semesta alam. Nabi Muhammad
benar-benar di tempa sebagai manusia yang wajar agar bisa dicontoh oleh umat
nya dan manusia suci dengan menerima segala pesan-pesan Tuhan melalui wahyu-Nya.
Pesan suci yang terekam saat turun Al-Qur’an
yaitu; iqra dan bismi rabika al-khalq, bacalah dan sebut nama Tuhan
Mu yang telah menciptakan”. Kata “iqra” menjadi kata kunci dari perjalanan
peradaban sepanjang sejarah. Tidak ada suatu kehidupan yang sempurna tanpa
melewati suatu proses membaca segala yang terlihat dalam alam semesta. Tradisi membaca
adalah tradisi naluri manusia yang diwariskan melalui “natiq”. Dari sini
berkembang yang kemudian melahirkan kerjasama atau al-ijtima’. Saat terjadi
pertemuan ini, lahir konsep madaniyun yang kemudian dikristalisasikan
sebagai wujud peradaban Islam atau tamadun Islam.
Padahal ketika meminjam istilah madaniyun
yang merupakan definisi manusia itu sendiri, “al-insanu madaniyu bitab’i,
yang mempunyai arti secara naluri manusia tidak bisa hidup sendiri. Dari kata
ini kemudian berkembang dalam berbagai nama seperti kata “hadharah” dan “tamadun”.
Dari akar kata ini, bahwa tradisi peradaban manusia adalah tradisi kerjasama
antara sesama manusia dalam mencapai suatu tujuan bersama.
Untuk mencapai suatu tujuan bersama, Islam
memberi pelajaran yaitu agar masyarakat senantiasa membudayakan baca dan
kemudian bertambah lagi budaya tulis. Kini terkenal dengan budaya baca-tulis. Membaca
tradisi lama yang diwujudkan dalam hapalan, menulis tradisi baru yang
diwujudkan dalam dokumentasi. Sebuah peradaban yang baik adalah peradaban yang
bisa dijelaskan secara kata-kata dan mampu dibuktikan dalam dokumen-dokumen. Dua
standar ini yang saat sekarang ini digunakan masyarakat modern. Siapapun orangnya
yang terlibat dalam kehidupan sosial akan diminta rekam jejak perjalanan
hidupnya yang akurat melalui ucapan dan dokumentasi kehidupan. Jika dirunut ke arah
ini, kita bisa melihat bahwa Tuhan begitu indah mengatur kehidupan sosial
dengan tradisi membaca. Sebab dengan tradisi ini kita bisa melihat berbagai
data dan ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Namun Tuhan juga memperingatkan bahwa
tradisi membaca bisa menyesatkan peradaban yang sudah dibangun. Dulu saat
sumber-sumber ilmu pengetahuan masih minim, kita beranggapan bahwa ia adalah
sumber dari segala ilmu. Kini sudah tidak lagi. Bahkan saat ini kita bisa
melihat ada pertarungan data-data kebenaran. Persoalan sekarang, pertarungan
data ada mempunyai motif sendiri-sendiri; ada motif ilmiah dan politik. Ketika berbicara
ilmiah, maka forum-forum ilmiah bisa menyelesaikan dengan argumentatif. Namun ketika
data bermuatan politis, penyelesaian dengan cara politik.
Itu sebabnya, Allah memberikan suatu
warning dalam membangun peradaban yaitu berdasarkan pada,”bismirab”,
dengan menyebut nama Allah. Sebab suatu peradaban saat ini adalah peradaban
semu. Dia tidak kekal. Maka tuhan menginginkan bahwa peradaban dalam wujud
majunya ilmu pengetahuan, teknologi, tatanan masyarakat dan sebagainya harus
kekal dan menjadi amal sholeh. Maka, umat Islam tidak boleh terlena oleh waktu
dalam melakukan segala akivitas kegiatan tanpa bernilai ibadah. Dari sini kita
bisa memahami bahwa peradaban Islam terdiri dari dua dimensi; dimensi
duniawiyah dan dimensi ukhrowiyah yang mempunyai tujuan untuk
menciptakan kebahagiaan di Dunia dan Akherat serta terbebas dari Api Neraka.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883