
Seorang laki-laki cukup berumur tua. Sekitar
55 tahun, telah kehilangan kaki sebelah kanan. Saya memperhatikan orang tua
tersebut. Saat ia mau keluar dari pintu kapal, saya ingin menuntunnya. Namun,
ia sangat fokus dengan kedua penyangga atau kedua tongkat. Ia sangat percaya
diri. Ombak laut yang kuat membuat Pelabuhan bergoyang-goyang. Tapi dengan
keyakinan dan pengalaman hidup, ia bisa berjalan keluar kapal tanpa bantuan
orang lain. Justru ibu-ibu yang berada di belakangnya memegang tangan ku dan
meminta ku untuk menuntunnya keluar dari kapal tersebut.
Saya tidak sedang membandingkan anda dengan
orang tua berkaki satu tersebut. Tidak sama sekali. Kita tidak mengetahui
kehidupan nya secara utuh. Mungkin ia orang yang sangat bahagia, atau bisa jadi
orang yang lebih susah dari kita. Memang persoalan kehidupan, hanya
masing-masing individu yang mengerti hakikat kehidupan itu sendiri. kita
mungkin bisa menilai dengan angka-angka penampilan orang, tapi itu hanya
sebatas penilaian mata kasar kita yang sering kali salah.
Tuhan menghadirkan beragam manusia dengan
jabatan, kekayaan dan keadaan fisik serta kondisi pasangan kita masing-masing sebenarnya
hadir untuk pembelajaran agar kita menerapkan syukur atas segala kenikmatan
yang telah diberikan oleh Allah dan sabar atas segala keinginan kita belum
terwujud atau belum sesuai dengan harapan-harapan kita.
Terkadang saat kita mengalami suatu
kesusahan, terlihat dengan jelas segala kekurangan. Seolah-olah apa yang ada
pada diri kita tidak ada harganya sama sekali. pikiran kadang hanya difokuskan
pada satu persoalan.
Seperti ada seorang jualan es buah yang selalu
mangkal di pinggir jalan. Beberapa hari ini selalu mengeluh. Pembelinya menurun
dratis. Akibat hujan dan akibat para pegawai kantor jarang minum di warung nya.
Bukan karena mereka tidak suka terhadap rasa es buahnya, tetapi mereka sudah
tidak ada lagi pemasukan untuk membeli segelas es buah tersebut. “Mereka belum
gajian”, kata penjual es.
Saya duduk di samping nya. Ia mengeluh para
pembeli sepi. Tentu saja, selain penjual tersebut, para pelanggan juga sedang
mengeluh. Bisa jadi keluhan mereka lebih besar lagi ketimbang penjual es. Lebih
untung lagi penjual es, saat pikirannya panas, cukup dikasih es di kepalanya. Para
pelanggan sulit menurunkan pikiran yang sedang panas. Bagaimana tidak panas;
mereka harus mikir pekerjaan, anak kuliah, belanja istri ngepres, cicilan bank
besar, dan rumah belum juga segera jadi. Sungguh stress tingkat dewa.
Sebenarnya persoalan penjual es terletak pada
sepinya pelanggan. Orang-orang kantor mungkin persoalannya terletak pada
penghasilan gaji yang kurang pada tempatnya. Artinya jika diperluas lagi setiap
orang mempunyai permasalahan favorit yang selalu diingat-ingat terus terkadang
sampai tidak bisa tidur. Akibatnya berpengaruh kepada fisik; tubuh kusut, mata cekung
karena sering begadang, kolesterol naik dan gula darah naik akibat banyak
pikiran, dan lama kelamaan daya tubuh pun jebol. Lalu muncul beragam penyakit.
Saat anda mengalami suatu persoalan,
mungkin rasa nya ingin “menjerit sekuat tenaga”. Rasa nya bisa “plong”
dan pikiran tenang. Tapi apa arti jeritan jika itu hanya sebatas pereda sakit
yang sementara?. Padahal kita membutuhkan adanya suasana bahagia atau paling
tidak kita bisa melewati hari-hari yang penuh dengan persoalan tersebut dalam
kondisi “gayeng”, “ayem”, tidur bisa “nglungker”, dan bangun “awake
kroso seger”.
Orang tua berkaki satu dan kemana-mana
harus membawa dua tongkat hidup terlihat semangat. Ia manusia anti “stress”,
tahan terhadap segala krisis di dunia. Ia tidak peduli perkelahian antara Donald
Trump dan Xi Jinping gara-gara persoalan tarif dagang. Orang tua itu tidak
peduli. Ia hanya berfikir sederhana, dengan dua tongkat dan duduk di pinggir
jalan, rezeki datang. Atau lebih mulia lagi, dengan kaki satu duduk dipinggir
jalan jualan bensin, rezeki datang. Bahkan bisa jadi dalam hati ia men-syukuri
kekurangan sebagai suatu anugerah. Berkah tidak punya kaki, rezeki menjadi
lancar.
Sangat sulit kita belajar melihat limpahan
rezeki yang lebih besar pada diri kita. Ada seorang tukang ojek yang
penghasilannya satu hari hanya Rp.35.000. Ia merasa terlalu sedikit. Akibatnya ia
tidak bisa beli kopi di Kedai Pelabuhan. Setiap hari ia harus membawa air putih
dimasukan dalam botol kemasan Aqua. Saya kira tidak masalah. Orang pun melihatnya
sedang minum aqua. Meskpun hanya air hujan. Tidak mengapa juga tidak bisa beli
kopi, bisa jadi badanya tambah sehat, kadar gula nya tambah semakin normal. Jadi
ada kekurangan disisi lain sebenarnya Allah sedang menambah kenikmatan pada
sisi lain yang sering kita tidak menyadarinya.
Jadi, mungkin saja kita belajar dari pak
tua tadi. Ia menyadari tentang kekurangan pada dirinya, tapi ia bisa melihat
keberuntungan disisi lain. Ada kenikmatan yang sangat besar yang sering tidak
disadari.
Saat ini anda mungkin ada persoalan yang
sangat memusingkan sekali. tapi lihat diri sendiri, lihat kenikmatan yang
menempel pada diri sendiri. kepala kita masih baik, mata, telinga, hidung, hati
dan jantung masih berfungsi, dan nafas masih normal. Usaha mu mungkin masih seret,
tapi nafasmu dan jantung mu yang harganya tidak bisa dihargai dengan uang
milyaran rupiah adalah anugerah yang sangat luarbiasa dari Allah SWT.
Saat anda pulang kerja di depan rumah sudah
disambut oleh anak-anak minta duit jajan. Tidak perlu menangis. Tataplah mereka
dengan bahagia, istri dan anak-anak anda. Mereka semua sehat. Tak apa-apa
mereka menangis karena tidak mendapatkan uang jajan dari anda. Suatu masa,
mereka akan terus ingat betapa besar perjuangan orang tua mereka. Tangisan saat
masih kecil akan menjadi proses hidup bertambah dewasa. Sebab kedewasaan
terbentuk dari serba kekurangan. Jiwa tangguh lahir dari kondisi kekurangan,
memprihatinkan dan penuh dengan penderitaan.
Sedih dalam satu pintu kegagalan itu pasti.
Tapi kenikmatan yang ada pada diri kita dan keluarga kita dari Allah sungguh
sangat luarbiasa. Coba belajar diri untuk tersenyum dan mendekat kepada Allah
secara berlahan-lahan tapi pasti. Kita terus untuk dekat kepada-Nya. Itu suatu
jalan kita akan menemukan suatu kebahagiaan dan kesuksesan yang terkadang tidak
tertulis dalam realita, tapi bisa dirasakan dalam sanubari kita. Semoga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872