Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Laki-Laki Tua Berkaki Satu; Selalu Ada Hikmah



Minggu , 20 April 2025



Telah dibaca :  523

Seorang laki-laki cukup berumur tua. Sekitar 55 tahun, telah kehilangan kaki sebelah kanan. Saya memperhatikan orang tua tersebut. Saat ia mau keluar dari pintu kapal, saya ingin menuntunnya. Namun, ia sangat fokus dengan kedua penyangga atau kedua tongkat. Ia sangat percaya diri. Ombak laut yang kuat membuat Pelabuhan bergoyang-goyang. Tapi dengan keyakinan dan pengalaman hidup, ia bisa berjalan keluar kapal tanpa bantuan orang lain. Justru ibu-ibu yang berada di belakangnya memegang tangan ku dan meminta ku untuk menuntunnya keluar dari kapal tersebut.

Saya tidak sedang membandingkan anda dengan orang tua berkaki satu tersebut. Tidak sama sekali. Kita tidak mengetahui kehidupan nya secara utuh. Mungkin ia orang yang sangat bahagia, atau bisa jadi orang yang lebih susah dari kita. Memang persoalan kehidupan, hanya masing-masing individu yang mengerti hakikat kehidupan itu sendiri. kita mungkin bisa menilai dengan angka-angka penampilan orang, tapi itu hanya sebatas penilaian mata kasar kita yang sering kali salah.

Tuhan menghadirkan beragam manusia dengan jabatan, kekayaan dan keadaan fisik serta kondisi pasangan kita masing-masing sebenarnya hadir untuk pembelajaran agar kita menerapkan syukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dan sabar atas segala keinginan kita belum terwujud atau belum sesuai dengan harapan-harapan kita.

Terkadang saat kita mengalami suatu kesusahan, terlihat dengan jelas segala kekurangan. Seolah-olah apa yang ada pada diri kita tidak ada harganya sama sekali. pikiran kadang hanya difokuskan pada satu persoalan.

Seperti ada seorang jualan es buah yang selalu mangkal di pinggir jalan. Beberapa hari ini selalu mengeluh. Pembelinya menurun dratis. Akibat hujan dan akibat para pegawai kantor jarang minum di warung nya. Bukan karena mereka tidak suka terhadap rasa es buahnya, tetapi mereka sudah tidak ada lagi pemasukan untuk membeli segelas es buah tersebut. “Mereka belum gajian”, kata penjual es.

Saya duduk di samping nya. Ia mengeluh para pembeli sepi. Tentu saja, selain penjual tersebut, para pelanggan juga sedang mengeluh. Bisa jadi keluhan mereka lebih besar lagi ketimbang penjual es. Lebih untung lagi penjual es, saat pikirannya panas, cukup dikasih es di kepalanya. Para pelanggan sulit menurunkan pikiran yang sedang panas. Bagaimana tidak panas; mereka harus mikir pekerjaan, anak kuliah, belanja istri ngepres, cicilan bank besar, dan rumah belum juga segera jadi. Sungguh stress tingkat dewa.

Sebenarnya persoalan penjual es terletak pada sepinya pelanggan. Orang-orang kantor mungkin persoalannya terletak pada penghasilan gaji yang kurang pada tempatnya. Artinya jika diperluas lagi setiap orang mempunyai permasalahan favorit yang selalu diingat-ingat terus terkadang sampai tidak bisa tidur. Akibatnya berpengaruh kepada fisik; tubuh kusut, mata cekung karena sering begadang, kolesterol naik dan gula darah naik akibat banyak pikiran, dan lama kelamaan daya tubuh pun jebol. Lalu muncul beragam penyakit.

Saat anda mengalami suatu persoalan, mungkin rasa nya ingin “menjerit sekuat tenaga”. Rasa nya bisa “plong” dan pikiran tenang. Tapi apa arti jeritan jika itu hanya sebatas pereda sakit yang sementara?. Padahal kita membutuhkan adanya suasana bahagia atau paling tidak kita bisa melewati hari-hari yang penuh dengan persoalan tersebut dalam kondisi “gayeng”, “ayem”, tidur bisa “nglungker”, dan bangun “awake kroso seger”.

Orang tua berkaki satu dan kemana-mana harus membawa dua tongkat hidup terlihat semangat. Ia manusia anti “stress”, tahan terhadap segala krisis di dunia. Ia tidak peduli perkelahian antara Donald Trump dan Xi Jinping gara-gara persoalan tarif dagang. Orang tua itu tidak peduli. Ia hanya berfikir sederhana, dengan dua tongkat dan duduk di pinggir jalan, rezeki datang. Atau lebih mulia lagi, dengan kaki satu duduk dipinggir jalan jualan bensin, rezeki datang. Bahkan bisa jadi dalam hati ia men-syukuri kekurangan sebagai suatu anugerah. Berkah tidak punya kaki, rezeki menjadi lancar.

Sangat sulit kita belajar melihat limpahan rezeki yang lebih besar pada diri kita. Ada seorang tukang ojek yang penghasilannya satu hari hanya Rp.35.000. Ia merasa terlalu sedikit. Akibatnya ia tidak bisa beli kopi di Kedai Pelabuhan. Setiap hari ia harus membawa air putih dimasukan dalam botol kemasan Aqua. Saya kira tidak masalah. Orang pun melihatnya sedang minum aqua. Meskpun hanya air hujan. Tidak mengapa juga tidak bisa beli kopi, bisa jadi badanya tambah sehat, kadar gula nya tambah semakin normal. Jadi ada kekurangan disisi lain sebenarnya Allah sedang menambah kenikmatan pada sisi lain yang sering kita tidak menyadarinya.

Jadi, mungkin saja kita belajar dari pak tua tadi. Ia menyadari tentang kekurangan pada dirinya, tapi ia bisa melihat keberuntungan disisi lain. Ada kenikmatan yang sangat besar yang sering tidak disadari.

Saat ini anda mungkin ada persoalan yang sangat memusingkan sekali. tapi lihat diri sendiri, lihat kenikmatan yang menempel pada diri sendiri. kepala kita masih baik, mata, telinga, hidung, hati dan jantung masih berfungsi, dan nafas masih normal. Usaha mu mungkin masih seret, tapi nafasmu dan jantung mu yang harganya tidak bisa dihargai dengan uang milyaran rupiah adalah anugerah yang sangat luarbiasa dari Allah SWT.

Saat anda pulang kerja di depan rumah sudah disambut oleh anak-anak minta duit jajan. Tidak perlu menangis. Tataplah mereka dengan bahagia, istri dan anak-anak anda. Mereka semua sehat. Tak apa-apa mereka menangis karena tidak mendapatkan uang jajan dari anda. Suatu masa, mereka akan terus ingat betapa besar perjuangan orang tua mereka. Tangisan saat masih kecil akan menjadi proses hidup bertambah dewasa. Sebab kedewasaan terbentuk dari serba kekurangan. Jiwa tangguh lahir dari kondisi kekurangan, memprihatinkan dan penuh dengan penderitaan.

Sedih dalam satu pintu kegagalan itu pasti. Tapi kenikmatan yang ada pada diri kita dan keluarga kita dari Allah sungguh sangat luarbiasa. Coba belajar diri untuk tersenyum dan mendekat kepada Allah secara berlahan-lahan tapi pasti. Kita terus untuk dekat kepada-Nya. Itu suatu jalan kita akan menemukan suatu kebahagiaan dan kesuksesan yang terkadang tidak tertulis dalam realita, tapi bisa dirasakan dalam sanubari kita. Semoga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872