
Kisah sabahat Sa’id berikut ini sangat
menarik untuk diabadikan dalam tulisan ini. Berikut sepenggal kisah sahabat Sa’id
yang dituduh oleh penduduk Homs (Hums) yang dianggap tidak memperhatikan
kepentingan masyarakat.
“Suatu hari ketika Umar bin Khatab berkunjung
ke Homs, ia bertanya kepada penduduk yang sedang berkumpul: “Bagaimanakah pendapat
kalian tentang Sa’id?”. Beberapa orang pun bangkit untuk mengadukan Said.
Katanya: “Kami akan mengadukan empat hal padanya: ia tidak pernah keluar
menemui kami hingga hari beranjak siang. Ia juga tidak pernah memenuhi
(keinginan) siapapun pada malam hari. Setiap bulan ia memiliki dua hari yang ia
gunakan untuk tidak keluar menemui kami dan kami tidak melihatnya. Hal yang
lian, memang di luar kemampuan, tetapi cukup mengganggu kami, yaitu ia sering
jatuh pingsan.”
Sa’id berkata kepada Umar bin Khatab:
“Adapun yang mereka katakan bahwa aku tidak
menemui mereka hingga hari beranjak siang, sebenarnya aku tidak ingin
menjelaskannya. Pasalnya, kami adalah keluarga yang tidak memiliki pembantu
rumah tangga. Karena itu, akulah yang membuat adonan sendiri kemudian kubiarkan
hingga menjadi ragi. Selanjutnya, aku membuat roti lalu aku mengambil wudhu
untuk sholat dhuha. Setelah itu, barulah aku menemui mereka”
Ini sepenggal dari kisah Said ibn Amir seorang
walikota di Homs, Suriah. Saat pertama menjabat dan berpindah ke Homs, Umar bin
Khatab mengusulkan kepadanya untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan rumah
tangga dan bekal hidup untuk keluarganya. Namun, karena seluruh hartanya disedekahkan
kepada fakir-miskin, Said setiap hari sebelum bekerja membantu pekerjaan
istrinya. Dia membagi waktunya; untuk Allah, keluarga dan pemerintah.
Namun masyarakat terkadang tidak
memahaminya. Sebagian mereka menilai dengan kacamatanya yang penuh egoisme,
kadang juga penuh dengan kemarahan dan prasangka negatif. Lalu menyebarkan
berita-berita yang tidak jelas dan jauh dari kebenaran. Jika ini terus
berkembang, maka kebohongan berubah seolah-olah suatu kebenaran. Bagaimana kisah
ini juga melanda keluarga Rasulullah saw. Saat Nabi dalam perjalanan, ada kabar
bohong bahwa Aisyah berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’athal. Sang penyebar
berita bohong adalah Abdullah bin Ubay. Dia muslim tapi munafik. Hampir saja
meruntuhkan keluarga nabi. Allah menyakinkan kepada nabi bahwa berita itu tidak
benar, dan mengatakan bahwa Aisyah adalah orang yang bersih dan terjaga dari
maksiat. Q.S. An-Nur[24]: 3 berbunyi: Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah
dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu
bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari
dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian
terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar
(pula)."
Muhammad adalah seorang nabi dan
rasulullah. Allah mempunyai kewenangan mutlak untuk menunjukan keagungan-Nya,
bahwa keluarga nabi adalah orang-orang yang suci. Meskipun demikian, fitnah dan
berita bohong pun terus dihembuskan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
Kadang status mereka sudah menyatakan diri masuk Islam, tapi dalam kehidupan
belum muslim (memasrahkan diri secara totalitas) sebagaimana yang telah diajarkan
olehnya. Itu sebabnya, berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan pada masa nya
dan pada masa setelahnya adalah bagian dari golongan umat Islam yang belum
benar-benar memahami ajaran agama nya dengan benar.
Kini berita bohong sudah tidak
terbendung lagi. Media sosial dan media online telah memproduksi begitu masif
berita-berita. Masyarakat tidak bisa membedakan antara benar dan salah, haq dan
bathil. Era post truth telah menggiring manusia menjadi masa bodoh,
depresi dan sering apatis untuk menentukan pilihan-pilihan yang terbaik dari
yang baik-baik. Semua berita, semua sumber mengaku benar. Para pengambil
kebijakan memberikan data ilmiah. Para pengkritik menyuguhkan data ilmiah.
Semua merasa benar. Para pemegang organisasi merasa benar. Orang-orang yang
keluar atau dikeluarkan dari organisasi merasa benar. Mereka bicara atas
kebenaran di berbagai media. Para dosen berbicara kebenaran dengan nilai yang
dibuatnya, para mahasiswa berpegang data tentang kebenaran nilai yang salah
dibuat oleh dosen. Semua berbicara di media sosial. Bingung. Tidak ada lagi
tradisi para leluhur yang mengatakan begini;”maaf saya yang salah”.
Tidak ada lagi jawaban : “sama-sama, saya juga salah”. Dulu kedua belah
pihak dengan terbuka mengatakan ketulusan mengaku salah. Kini, era telah
berubah. Semua mengaku benar. Bahkan jika jujur mengaku salah, malah terkadang
dianggap sebagai perilaku yang harus dicemooh, dihina dibully dan direndahkan
di muka umum.
Padahal fitrah manusia itu menerima
dan menjalankan agama. Orang yang meninggalkan ajaran agama tak akan hidup
bahagia. Jiwanya sakit. Ia akan ditimpa kejenuhan, kecapaian dan kebingungan.
Karena itu, ia tidak tahu mau dibawa kemana kehidupan ini
Fitrah manusia sering tenggelam oleh
pertarungan nafsunya. Keinginan diri sendiri untuk lebih dari orang lain dengan
melakukan segala rekayasa dan menghalalkan segala cara sebenarnya permainan dan
bisikan iblis akibat dari dengki nya kepada manusia. Sayangnya manusia tidak
menyadarinya. Padahal doktrin yang paling sakral dan datang dari Allah dan dia
telah tmenyebutkan dirinya sebagai dzat mempunyai sifat al-qohhar yaitu
sifat yang tidak bisa dikuasai oleh siapapun. Kekuasaan Allah atas segala
sesuatu ada pada dirinya. Siapapun orangnya yang menginginkan kekuasaan dengan
kekuatan mereka
Saya jadi ingat nasehat Syeikh Ibn
‘Athailah As-Kandari sebagaimana dikutip oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai
berikut: “Janganlah bersahabat dengan siapa pun yang perilakunnya tidak membangkitkan
gairahmu mendekakti Allah dan kata-katannya tidak menunjukkanmu kepada-Nya”
Al-Asyqar, U. S. (2007). Al-Asma'
Al-Husna,terj; Syamsuddin TU dan Hasan Suaidi. Jakarta : Qisthi Press.
Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat Rasulullah, terj;Kaserun A.S.
Rahman . Jakarta : Qisthi Press.
Rahmat, J. (1999). Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah .
Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar .
Bandung : Nuansa .
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876