Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Lautan Hati di Era Post Truth



Sabtu , 13 Januari 2024



Telah dibaca :  865

Kisah sabahat Sa’id berikut ini sangat menarik untuk diabadikan dalam tulisan ini. Berikut sepenggal kisah sahabat Sa’id yang dituduh oleh penduduk Homs (Hums) yang dianggap tidak memperhatikan kepentingan masyarakat.

“Suatu hari ketika Umar bin Khatab berkunjung ke Homs, ia bertanya kepada penduduk yang sedang berkumpul: “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Sa’id?”. Beberapa orang pun bangkit untuk mengadukan Said. Katanya: “Kami akan mengadukan empat hal padanya: ia tidak pernah keluar menemui kami hingga hari beranjak siang. Ia juga tidak pernah memenuhi (keinginan) siapapun pada malam hari. Setiap bulan ia memiliki dua hari yang ia gunakan untuk tidak keluar menemui kami dan kami tidak melihatnya. Hal yang lian, memang di luar kemampuan, tetapi cukup mengganggu kami, yaitu ia sering jatuh pingsan.”

Sa’id berkata kepada Umar bin Khatab:

“Adapun yang mereka katakan bahwa aku tidak menemui mereka hingga hari beranjak siang, sebenarnya aku tidak ingin menjelaskannya. Pasalnya, kami adalah keluarga yang tidak memiliki pembantu rumah tangga. Karena itu, akulah yang membuat adonan sendiri kemudian kubiarkan hingga menjadi ragi. Selanjutnya, aku membuat roti lalu aku mengambil wudhu untuk sholat dhuha. Setelah itu, barulah aku menemui mereka” (Khalid, 2015).

Ini sepenggal dari kisah Said ibn Amir seorang walikota di Homs, Suriah. Saat pertama menjabat dan berpindah ke Homs, Umar bin Khatab mengusulkan kepadanya untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan rumah tangga dan bekal hidup untuk keluarganya. Namun, karena seluruh hartanya disedekahkan kepada fakir-miskin, Said setiap hari sebelum bekerja membantu pekerjaan istrinya. Dia membagi waktunya; untuk Allah, keluarga dan pemerintah.

Namun masyarakat terkadang tidak memahaminya. Sebagian mereka menilai dengan kacamatanya yang penuh egoisme, kadang juga penuh dengan kemarahan dan prasangka negatif. Lalu menyebarkan berita-berita yang tidak jelas dan jauh dari kebenaran. Jika ini terus berkembang, maka kebohongan berubah seolah-olah suatu kebenaran. Bagaimana kisah ini juga melanda keluarga Rasulullah saw. Saat Nabi dalam perjalanan, ada kabar bohong bahwa Aisyah berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’athal. Sang penyebar berita bohong adalah Abdullah bin Ubay. Dia muslim tapi munafik. Hampir saja meruntuhkan keluarga nabi. Allah menyakinkan kepada nabi bahwa berita itu tidak benar, dan mengatakan bahwa Aisyah adalah orang yang bersih dan terjaga dari maksiat. Q.S. An-Nur[24]: 3 berbunyi: Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)."

Muhammad adalah seorang nabi dan rasulullah. Allah mempunyai kewenangan mutlak untuk menunjukan keagungan-Nya, bahwa keluarga nabi adalah orang-orang yang suci. Meskipun demikian, fitnah dan berita bohong pun terus dihembuskan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Kadang status mereka sudah menyatakan diri masuk Islam, tapi dalam kehidupan belum muslim (memasrahkan diri secara totalitas) sebagaimana yang telah diajarkan olehnya. Itu sebabnya, berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan pada masa nya dan pada masa setelahnya adalah bagian dari golongan umat Islam yang belum benar-benar memahami ajaran agama nya dengan benar.

Kini berita bohong sudah tidak terbendung lagi. Media sosial dan media online telah memproduksi begitu masif berita-berita. Masyarakat tidak bisa  membedakan antara benar dan salah, haq dan bathil. Era post truth telah menggiring manusia menjadi masa bodoh, depresi dan sering apatis untuk menentukan pilihan-pilihan yang terbaik dari yang baik-baik. Semua berita, semua sumber mengaku benar. Para pengambil kebijakan memberikan data ilmiah. Para pengkritik menyuguhkan data ilmiah. Semua merasa benar. Para pemegang organisasi merasa benar. Orang-orang yang keluar atau dikeluarkan dari organisasi merasa benar. Mereka bicara atas kebenaran di berbagai media. Para dosen berbicara kebenaran dengan nilai yang dibuatnya, para mahasiswa berpegang data tentang kebenaran nilai yang salah dibuat oleh dosen. Semua berbicara di media sosial. Bingung. Tidak ada lagi tradisi para leluhur yang mengatakan begini;”maaf saya yang salah”. Tidak ada lagi jawaban : “sama-sama, saya juga salah”. Dulu kedua belah pihak dengan terbuka mengatakan ketulusan mengaku salah. Kini, era telah berubah. Semua mengaku benar. Bahkan jika jujur mengaku salah, malah terkadang dianggap sebagai perilaku yang harus dicemooh, dihina dibully dan direndahkan di muka umum.

Padahal fitrah manusia itu menerima dan menjalankan agama. Orang yang meninggalkan ajaran agama tak akan hidup bahagia. Jiwanya sakit. Ia akan ditimpa kejenuhan, kecapaian dan kebingungan. Karena itu, ia tidak tahu mau dibawa kemana kehidupan ini (Rahmat, 1999). Fitrah manusia yang hatinya selalu berkata jujur, kini telah ditutupi oleh nafsu keakuan yang sangat membahayakan. Padahal, egoisme ini adalah suatu penyakit yang paling ditakutkan dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan melalui egoisme lahir penyakit ujub, sombong dan takabur. Jika ini terjadi, kita tentu saja khawatir jika Allah murka sebagaimana murka-Nya kepada iblis dan diturunkan dari langit, bahkan di nash menjadi penghuni neraka selamanya.

Fitrah manusia sering tenggelam oleh pertarungan nafsunya. Keinginan diri sendiri untuk lebih dari orang lain dengan melakukan segala rekayasa dan menghalalkan segala cara sebenarnya permainan dan bisikan iblis akibat dari dengki nya kepada manusia. Sayangnya manusia tidak menyadarinya. Padahal doktrin yang paling sakral dan datang dari Allah dan dia telah tmenyebutkan dirinya sebagai dzat mempunyai sifat al-qohhar yaitu sifat yang tidak bisa dikuasai oleh siapapun. Kekuasaan Allah atas segala sesuatu ada pada dirinya. Siapapun orangnya yang menginginkan kekuasaan dengan kekuatan mereka (Al-Asyqar, 2007), maka Allah sangat mudah menggagalkan rencana mereka. Tapi manusia sering tidak menyadarinya. Bisikan iblis sering memperdaya kecerdasan pikiran dan kejernihan qalbu.

Saya jadi ingat nasehat Syeikh Ibn ‘Athailah As-Kandari sebagaimana dikutip oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai berikut: “Janganlah bersahabat dengan siapa pun yang perilakunnya tidak membangkitkan gairahmu mendekakti Allah dan kata-katannya tidak menunjukkanmu kepada-Nya” (Wahid, Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar , 2011). Dari sini Syeikh Askandari mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menjaga hubungan diri kita dengan Allah secara baik. Pergaulan sosial tidak menjadi kendala untuk selalu mesra bersama-Nya. Aktivitas dan pekerjaan juga bisa berjalan seperti biasa. Pada saat yang sama kita bisa melakukan kedua-duanya. Sebab cinta kepada Allah adalah lahan spiritual yang harus senantiasa dipupuk subur, agar kehidupan realita dalam kehidupan sosial bisa mendapat “rembesan” dan “keberkahan” dari cinta kepada-Nya. Cara ini membuat kita tidak hanyut dalam pusaran post truth yang tidak jelas benar dan salah. Saat hati sudah tertata dengan baik, saat itu cahaya kebenaran terlihat terang dalam tumpukan kegelapan sampah di sekitar kita.

Daftar Pustaka

Al-Asyqar, U. S. (2007). Al-Asma' Al-Husna,terj; Syamsuddin TU dan Hasan Suaidi. Jakarta : Qisthi Press.

Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat Rasulullah, terj;Kaserun A.S. Rahman . Jakarta : Qisthi Press.

Rahmat, J. (1999). Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah .

Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876