
"Mencintai pasangan hidup sebenarnya siap menerima segala kelebihan dan kekurangan nya. Pasangan anda sama seperti anda penuh dengan kekurangan. Sangat tidak adil jika anda terlalu sibuk melihat kekurangan pasangan anda dan lupa terhadap kekurangan diri sendiri. Saling menyadari kekurangan dan menghargai di antara mereka adalah jalan mengenal cinta yang sebenarnya".
Judul tulisan episode kali ini mungkin terlihat sangat provokatif. Akun “Resep
Nusantara” menceritakan seorang lelaki bernama Roel Mustafa membuat gerakan sosial
dengan tagline “Menafkahi tidak harus
menikahi”. Ia membuat program membantu ibu-ibu yang kehilangan suaminya dengan
beragam program bantuan sosial dengan melakukan pendampingan moral dan
finansial
Bagi anda yang mungkin secara ekonomi mempunyai kemampuan lebih, atau secara genetika mempunyai kemampuan di atas rata-rata melakukan poligami sah-sah saja. Dari segi agama juga diperbolehkan. Artinya jika ada seseorang melakukan poligami dengan alasan yang tepat dan diperbolehkan oleh pasangannya, maka poligami menjadi bagian solusi, bukan polusi. Jika memang tidak ada kemampuan sama sekali, Solusi nya cukup satu saja plus sering perbanyak puasa. Supaya nafsunya berkurang. Jika sudah puasa senin-kamis masih juga tidak bisa ditahan, mungkin bisa dirubah dengan puasa daud. Satu hari puasa, satu hari tidak. Sudah puasa, masih juga tidak turun-turun juga nafsunya, perlu “rapat terbatas” (ratas) dengan pasangannya. Cari win-win solution.
Namun ada yang perlu dipahami, bahwa
seorang suami bisa mempunyai istri lebih dari satu karena memang sudah ada “garis
tangan”. Suka tidak suka jika jatah lebih dari satu, ada juga jalan nya. Kita tidak
bisa mengukur dari segi fisik, ekonomi dan keturunan. Ada seorang lelaki
bekerja sebagai bengkel honda di pinggir jalan punya dua istri. Istri pertama
kerja di rumah sebagai IRT. Istri kedua seorang pegawai ASN di salah satu instansi
titik-titik. Dua-dua nya akur. Tidak pernah cek-cok [entah kalau di kamar,
soalnya lelaki tersebut tidak cerita kepadaku]. Jadi, poligami bukan karena lelakinya
macho. Kadang-kadang malah punya tubuh “eglek-eglek”, “tidak mitayani”, bisa
mempunyai jodoh lebih dari satu. Saya tegaskan lagi, itu sudah “garis tangan”,
tidak bisa ditolak [siapa sih lelaki yang mau menolak rezeki?, hehehe).
Kembali lagi kepada kisah Roel Mustafa,
saya merasa sangat salut. Ada kepedulian yang mendalam terhadap nasib para
janda sebagai jalan pengabdian hidup. Ia tidak hanya memberikan kebutuhan ekonomi,
juga melakukan pendampingan moral dengan melakukan edukasi tentang hakikat
kehidupan. ia telah benar-benar mencoba
menjaga perasaan batiniah seorang kaum perempuan dengan menempuh makna cinta
yang tidak menyayat hati. sebab persoalan cinta berkaitan dengan rasa. Sangat sulit
bagi seorang suami membagi rasa adil kepada istri-istrinya. Sebab keadilan itu
hanya pada wilayah fisik, sedang perasaan batin dan rasa cinta pasti tidak bisa.
Sulit dan sangat sulit sekali berperilaku adil pada rasa kasih sayang seorang
suami kepada istri-istrinya.
Kenapa demikian? Sebab seorang perempuan selalu
berbicara dengan perasaan. Antara akal dan perasaan terkadang tidak singkron. Itu
sebabnya perempuan mudah terbawa perasaan saat ia menganalisis suatu persoalan
[jika anda tidak percaya, silahkan nonton drama Indosiar]. Sedangkan lelaki
pada pikirannya. Wajar jika perempuan marah dan suaminya menerima omelan nya
(yang kadang tidak masuk akal) dengan penuh kekhusu’an dan keikhlasan. Disini seorang
suami harus belajar ilmu rasa.
Saya jadi ingat saat di Pesantren, para
kyai menceritakan kisah Umar bin Khatab dibentak istrinya ( ini kisah lama
sekali, duluuuu…tahun 1998-an, sebelum Perguruan Tinggi ada Pusat Studi Gender ).
Saat ada seorang lelaki bertamu ke rumah khalifah, tiba-tiba istri khalifah
marah-marah kepada-nya. Sang khalifah hanya diam saja. Padahal, Umar bin Khatab
adalah Singa Padang Pasir. Kena bentak istrinya diam saja
Roel Mustafa adalah segelintir orang yang
telah mendalami perasaan kaum perempuan. Ia tidak mau masuk pada wilayah sakral
arti sebuah cinta dan perasaan. Ia ingin memulyakan kaum perempuan dengan cara
yang unik dan sangat solutif. Tentu saja apa yang dilakukan merupakan suatu
terobosan positif yang belum tentu sudah 100% sukses. Sebab hakikat kesuksesan
tidak ada 100%. Selalu saja ada kekurangan dari sana-sini. Meskipun demikian, penulis
sangat mengapresiasi langkah Roel Mustafa membantu para janda.
Tidak apa-apa mereka tidak mendapatkan
program makan gratis dari pemerintah. Sebab itu hanya untuk para murid dan
siswa. Para janda sudah mendapatkan makan gizi gratis dari Roel Mustafa. Semoga
ada Roel-Roel lainnya semakin banyak peduli “menafkahi janda tanpa harus
menikahi nya”. Program yang memberi solusi dan tidak menimbulkan polusi rumah
tangga anda. Silahkan coba menafkahi, tapi jangan coba-coba menikahi lhoo. Kalau
tidak hati-hati, bisa kebakaran melebihi Los Angeles, hehehe.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872