Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Lelaki Tidur di Emper Hotel



Minggu , 08 September 2024



Telah dibaca :  545

Tuhan kadang menghadirkan kesadaran manusia dengan cara unik dan terkadang tidak terpikirkan sebagian umat manusia. Sebab memang hidayah mengandung rahasia luarbiasa. Ia terus bergerak dan mencari kecocokan seperti seseorang mendapatkan jodoh, jabatan atau rezeki lainnya.

Ada seorang mahasiswa  sudah ta’aruf bertahun-tahun. Rencana menikah setelah kuliah dengan kekasihnya. Ketika ditanya kapan menikah. Jawabanya,”Nanti setelah selesai kuliah”. Tapi tuhan berkehendak lain. Ia menikah bukan dengan kekasihnya yang dulu. Ia menikah karena perkenalan dengan pemuda saat proses Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kenalan singkat. Cocok. Menikah.

Para penggali kubur sangat riang gembira. Mereka bisa merokok dan tertawa ria. Seolah tidak ada beban hidup. Padahal saat menggali, terkadang menemukan tulang belulang manusia. Kita tidak tahu kenapa tertawa. Mungkin mereka sudah siap merima takdir kematian di masa mendatang. Sudah merasa cukup bekal hidup. Mungkin karena kurang memahami hakikat hidup. Mungkin juga karena sudah menjadi pekerjaan tetap. Semakin sering orang meninggal, semakin banyak pemasukan. Terutama di kota-kota. Pekerjaan ini telah menjadi profesi. Meskipun tidak pernah dicantumkan dalam raport anak-anaknya. Umpamanya ada kolom pekerjaan orang tua, sangat tidak lucu jika diisi : profesi penggali kubur.

Dulu ada seorang pemuda Tionghoa. Tiap hari selalu duduk di emper masjid mendengarkan seorang ustadz menyampaikan pesan-pesan moral. Ustadz membaca, santri mendengarkan dan mencatat hal-hal yang penting. selesai ngaji, santri pun masuk ke dalam kamar masing-masing.

Bagi santri dan ustadz kegiatan tersebut biasa-biasa saja. Lumrah. Itulah pekerjaan sehari-hari. Sudah menjadi sarapan harian.

Bagi pemuda Tionghoa yang berumur 19 tahunan terasa sangat Istimewa. Ia memberanikan diri menemui ustadz di rumah nya. Hasil silaturahim, ia mengatakan bahwa sudah satu minggu ini mendengarkan pengajiannya. Ia merasa bahagia dan hati terasa damai. Sehingga ia memutuskan untuk masuk Islam. Singkat cerita, pemuda Tionghoa ini sekarang menjadi muslim dan  kerja di Bandung pada Perusahaan Tekstil.

Bagi anda yang berlimpah harta, air aqua gallon tidak begitu penting. Sebab perut sudah penuh terisi makanan, dan dompet terisi uang. Mobil sudah tidak Istimewa. Liburan di luarnegeri sudah biasa. Tapi bagi orang-orang yang tidur di emper toko, satu aqua dan duit 10.000 ribu sangat berharga. Ketika anda datang dan menemui nya, lalu anda memberi satu aqua gelas, maka tidak akan berhenti mengucapkan terima kasih kepada anda.

Jika anda sudah berlimpah ilmu, mungkin bab tentang thaharah dan sejenisnya sudah tidak begitu penting. level anda sudah pada maqamah mahmudah. Namun bagi sebagian orang, sedang kebingungan bagaimana cara berwudhu dan mandi wajib. Mau bertanya malu nanti dianggap pertanyaan kolot, dan terlihat bodohnya. Tidak bertanya kenyataannya memang tidak mengetahui sama sekali. Hidup dalam kebimbangan dan kebingungan.

Haruskah orang-orang yang sudah pada maqam-maqam mulia sudah merasa damai di singgasana keagungan dalam alam malakut dan alam spiritual sehingga lupa terhadap dinamika sosial yang sangat beragam?. Haruskah orang-orang yang sudah mendapatkan titipan pemahaman agama dengan baik mengasingkan diri dan membiarkan dunia kehidupan penuh dengan kebingungan?.

Suatu hari ada seorang yang sudah terkenal waliyullah. Malam tidak bisa tidur. Ibadah dan wiridan tidak khusu’. Lalu ia keluar rumah. Saat berada di luar rumah, ada seorang pemuda tidur di lantai depan rumah. Tidur telungkup karena udara malam itu sangat dingin. Sang waliyullah membangunkan. Ketika pemuda tersebut ditanya, ia pun menjawab;”sudah berhari-hari tidak makan, mohon berkenan memberi sedikit makanan dan minuman untuk ganjal perut.”

Sang waliyullah kurang begitu menggubrisnya. Ia menganggap kejadian itu biasa-biasa saja sebagaimana kebiasaan negara tersebut membiarkan orang-orang jalanan tidur di emper toko.

Sang waliyulloh pun kembali ke rumah dan tidur. Namun belum lama tidur, ia bermimpi dan ada suara menasehati dalam mimpinya kurang lebih begini;” betapa tega kamu membiarkan seorang kelaparan pada saat ia sangat membutuhkannya. Apa artinya semua ibadah kamu jika dihatimu masih merasa hebat dari pemuda tersebut”.

Ia terbangun. Segera ia mengambil makanan dan keluar rumah. Pemuda tadi tersenyum melihatnya, lalu pemuda tersebut  berkata; “ Haruskah seorang waliyullah membantu kepada makhluknya Allah harus ditegur dulu melalui mimpi?”. Pemuda itu pun pergi dengan tidak mengambil makanan sedikit pun. Dari sini kealpaan adalah sifat siapa saja sebagai wujud hakikat manusia. Meskipun demikian, tidak mengurangi status sebagai waliyullah.

Kita kemungkinan bukan waliyullah dalam pengertian yang umum sebagaimana yang tertera dalam literatur kitab turos. Kita pun tidak perlu berlagak seolah-olah seperti waliyullah yang bisa menerawang masa depan orang. Waliyulloh bukan ahli ramal. Waliyullah dalam definisi bahasa adalah kekasih-kekasihnya Allah. Siapa saja. Saat anda sudah mengucapkan syahadat dan mengikrarkan diri masuk ke dalam Islam, maka pintu-pintu syurga dibuka untuk ahli syahadat. Supaya lengkap, maka syariat-syariat dalam wujud ibadah dan muamalah perlu dikerjakan untuk mengimbangi unsur spiritual yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Itu sebabnya, sebagai ahli tauhid pertemuan melalui media apa saja selalu mempunyai tujuan untuk mengingatkan diri sebagai sama-sama hamba Allah. Meskipun terkadang nasehat yang masuk kurang disukai oleh diri sendiri. Sebab memang nasehat kadang laksana jamu yang harus diminum untuk Kesehatan ruhaniah kita.

Kita memang harus belajar terhadap para pendahulu yang telah mengukir kemulyaan di sisi-Nya. Mereka mempunyai keterbukaan hati menerima kebaikan darimana jalannya. Tidak mudah tersinggung karena umur, tidak mudah tersinggung karena yang ngomong orang-orang yang tidak berilmu. Dalam proses pendewasaan diri dan keluasan hati, semua nasehat adalah cahaya-cahaya kebaikan yang dihadirkan Allah kepada kita.

Jika seorang waliyullah disadarkan oleh Allah dengan pemuda yang tidur di halaman rumahnya, maka kita juga harus belajar kepada seorang pemuda yang tidur di emper hotel. Dia mungkin orang yang sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. Tapi saat ia hadir di hadapan kita, maka kita semakin sadar bahwa kita sedang bermasalah dengan diri kita sendiri tentang ilmu, ibadah, amal sholeh dan keikhlasan dalam melaksanakan semua itu. Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah semakin bertambah umur semakin baik ibadah dan amal sholeh. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875