Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Los Angeles bukan Lost Angeles



Senin , 13 Januari 2025



Telah dibaca :  748

“Allah telah menjelaskan bahwa segala ciptaan-Nya tidak ada yang batil. Semua baik dalam kacamata spiritual. Termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada diri kita. Tapi kita sering gagal memaknai hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita sering terjebak pada kesedihan berkepanjangan. Kita khawatir, kesedihan yang berkepanjangan menyebabkan semakin jauh rahmat  Allah SWT”

Penulis masih melihat dunia maya terus membahas Los Angeles. Orang-orang yang sudah menanamkan kebencian mendalam terhadap perilaku pemerintah AS mempunyai energi luarbiasa untuk mengutuk dengan bersandar pada ayat-ayat Al-Qur’an ataupun Hadist sebagai dasar pembenar hujan mereka. Sedangkan orang-orang yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang mendalam, mereka sangat sedih. Joe Biden dan Donald Trump tidak bisa digeneralisir wajah masyarakat AS. Seperti tidak boleh melihat masyarakat Indonesia adalah Jokowi atau Prabowo semua. Tidak semua setuju model politik Jokowi dan Prabowo. Ada pro dan kontra. Tuhan memang telah menciptakan cara pikir dan cara pandang berbeda-beda dalam menyikapi suatu persoalan.

Hamparan dunia sama. Di tanah suci ada juga orang-orang yang tidak suci membuat perilaku maksiat. Di tanah yang katanya penuh maksiat, ada juga orang-orang yang hatinya mengenal Allah dan selalu berdzikir. Di AS juga ada trend sangat baik orang-orang di sana mengenal Allah. Mereka muak melihat kehidupan yang bebas. Mereka mencari kehidupan yang membuat kebahagiaan sejati. Mereka menemukan nya dalam ajaran Islam. jadi, hikmah dari gemerlapan dan kebebasan masyarakat, menumbuhkan kesadaran tauhid di sisi lain. Itu dulu yang terjadi di Arab seperti itu, kondisi yang memuakan berubah menjadi kehidupan yang mulia.

Kita memang tidak cepat-cepat menggenalisir dan mengutuk as secara keseluruhan. Kita belajar membaca hikmah di balik semua itu. Bisa jadi, bencana yang terjadi menjadi jalan orang-orang di sana semakin dekat dengan allah swt.

Penulis teringat firman Allah dalam Q.S. Ar-Rum ([30]:41) sebagai berikut:

 “ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “,

artinya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari  perbuatan mereka, agar mereka kembali.

Apakah bencana kebakaran Los Angeles sebesar Tsunami di Aceh?. Data tanggal 12 Januari bertambah 13 orang meninggal dunia, sedangkan yang mengungsi puluhan ribu (https://www.antaranews.com, 2025). Penulis membandingkan bencana Tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 memakan korban sebanyak 230.000 jiwa lebih, 500.000 orang kehilangan tempat tinggal (https://www.djkn.kemenkeu.go.id, 2022). Gempa di Bantul pada 27 mei 2006 di Bantul menelan korban sebanyak 4000 orang (https://bantulkab.go.id, 2024).

Data tersebut menunjukan bahwa Los Angeles masih kalah jauh dengan Bantul dan Aceh. Apakah kita harus menyimpulkan isu-isu agama? Jika ia, kenapa yang agamis justru korban lebih banyak. Kenapa Los Angeles lebih kental diarahkan kepada persoalan agama. Dari sini bencana alam bisa terjadi sama siapa saja, daerah manapun, negara manapun.

Penulis lebih cocok mengikuti firman Allah Q.S. Ar-Rum([30]:41) sebagai dasar bahwa bencana disebabkan disebabkan oleh tangan-tangan manusia baik mereka yang menyembah kepada Allah maupun yang ateis. Semua terkena hukum Allah atas segala maksiat yang dibuat oleh manusia. Dalam perpektif agama membagi istilah bencana dalam beberapa istilah: adzab, bencana dan musibah. Ada unsur keimanan yang membedakan istilah tersebut.

Maka dalam perspektif iman, sebesar apapun ujian tetap sebagai peringatan atas kealpaan manusia akibat segala perbuatannya yang telah melakukann kerusakan di muka bumi. Ada manusia melakukan kerusakan dengan merusak alam semesta seperti yang kita lihat di beberapa tempat seperti: pengrusakan hutan, pembukaan lahan tanpa perhitungan keberlanjutan keselamatan ekosistem alam semesta, pencemaran air dan udara dan masih banyak lagi. Ada juga kerusakan yang dilakukan oleh manusia berupa kerusakan hati yang menyebabkan hubungan sesama manusia tidak harmonis, baik dalam satu agama maupun berbeda agama. Sering kita dipertontonkan ucapan, ungkapan, tulisan dan perbuatan-perbuatan yang berlebih-lebihan dengan ucapan melaksanat, intimidasi, merusakan tempat ibadah, melukai fisik, bahkan melakukan pembunuhan masal atau genosida seperti pernah terjadi di bosnia pada tahun 1995. Pada tahun tersebut terjadi pembantaian sekitar 5000 muslim oleh tentara Serbia. Ada sekitar 25.000-30.000 pengusiran warga bosnia dari negaranya (https://id.wikipedia.org, n.d.). Contoh-contoh kerusakan tersebut yang menyebab terjadi bencana saat sekarang ini. Egoisme atas nama suku, etnis, agama yang berlebihan telah melahirkan kerusakan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Allah SWT telah memberikan suatu panduan dalam beragama dalam surat  Surat Al-Fatehah sebagai berikut:

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ

Artinya:

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat”.

Makna ayat tersebut bahwa Allah menyuruh manusia yang mendapatkan kenikmatan agung seperti para nabi, para suhada, para sholihin dan orang-orang penebar kebaikan di alam semesta atau menjaga keharmonisan keseimbangan alam semesta, bukan manusia yang melakukan kerusakan dan tidak menerima ajaran Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW (Az-Zuhaili, 2013). Termasuk orang-orang yang sesat adalah kelompok kaum musrikin dan munafiqin sebagai simbol pengagungan terhadap kemewahan dunia dan cinta palsu kepada-nya (Qurthubi, 2015). Semua itu berangkat dari kesombongan manusia-manusia seolah-olah mampu mengendalikan seluruh ada di jagat raya ini. Padahal, kemampuan tersebut hanyalah sebagian kecil saja. Dalam kontek keimanan, Tuhan sangat mudah meluluhlantakan segala apa yang menjadi “kebanggaan” manusia yang seolah-olah kebanggaan tersebut yang menentukan masa depan terbaik bagi mereka.

Dari ini kita belajar bahwa Allah telah memberi pembelajaran pada alam semesta, bahwa siapapun manusia dari kelompok apapun dan dari agama apapun saat tidak mengikuti kelompok “orang-orang yang mendapatkan kenikmatan” sebagaimana di jelaskan di atas, maka Tuhan akan memberikan suatu bencana dengan perspektif definisi beragam. Semua bencana sebenarnya wujud kasih sayang Allah dalam bentuk lain sebagaimana Allah menciptakan Neraka. Allah terlalu sayang jangan sampai manusia menciptakan neraka di Dunia dan Neraka di hari akhir. Namun lagi-lagi, sering manusia lupa dan terkadang sengaja dengan kecongkakannya. Mereka telah memutuskan sendiri untuk memilih Neraka. Dan alam semesta telah mengabulkan pilihan tersebut.

Penulis memohon perlindungan kepada Allah dari orang-orang yang tergolong “maghdu”dan “dzalin”. Semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dari-Nya. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872