
Jika saya melihat Twitter, saya paling suka
membaca diskusi Pak Mafhud MD [ Pak Mahfud] dan Pak Said Didu[ Pak Said]. Saya
memakai istilah diskusi nya ‘Tom and Jery”. Satu bicara ngalor, satu lagi
ngidul. Saya kira kalau kedua nya bertemu, mereka pelototan. Eh ternyata tidak,
malah makan bareng. Entah kapan peristiwanya. Saya hanya melihat Pak Mahfud membagi
momen makan bersama dengan Pak Said. Semoga saya kapan-kapan bisa diajak makan
juga.
Apakah sikap kritis Said akan berhenti
setelah selesai makan, atau akan berlanjut, saya tidak tahu. Memang dalam
berbagai postingan di Twitter Pak Said sering mendapat serbuan tentang
kekurangan data saat mengkritik. Tapi saya kira apa yang dilakukan oleh nya
cukup baik untuk menjaga keseimbangan perjalanan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Bagi
saya kritik harus, tapi menghina jangan. Saya sebagai orang yang dididik oleh
kiai-kiai NU yang di Kampung, terasa risih sekali saat anak-anak bangsa
memaknai demokrasi sebagai kebebasan tanpa nilai dalam pengertian semau nya
saja.
Saya masih ingat, bagaimana implikasi dari
demokrasi yang terlalu bebas berbicara saat memasuki setiap pesta demokrasi. Mimbar-mimbar
Masjid, Mushola sering digunakan untuk menyerang pasangan lain atas nama suku
dan agama. Padahal kadang sama-sama satu suku, dan satu agama. Kelompok yang
merasa iman nya lebih kuat menguliti keimanan calon lain dengan kata-kata yang
tidak pantas. Seolah-olah kelompok mereka yang paling bertaqwa dan paling dekat
dengan Tuhannya. Sedangkan calon lain hanya sebatas warga kelas dua di depan Tuhan
mereka. Sungguh ironis bukan?
Betul manusia lahir berasal dari
identitasnya. Makna “ulil amri minkum” dari para ulama tafsir klasik
diartikan; ahli ilmu, ulama, pemimpin, ulama dan pemimpin. Mereka hadir dari
golongan mu. Sebagaimana Nabi Muhamad lahir menjadi pemimpin dari golongan
Arab, bukan dari Cina atau Indonesia. Walaupun saat manusia mengalami pembauran
saat sekarang ini dan kemudian mengalami naturalisasi cukup lama, batas-batas
identitas pun mulai kabur. Namun tetap identitas dari seorang selalu ada. Karena
memang itu bawaan dan anugerah sejak lahir.
Kenapa Nabi bisa berhasil menjadi pemimpin
bangsa Arab, dan sebelum nya gagal. Karena sebelum nabi mengutamakan dan
mendewa-dewakan identitas diri, bukan identitas kolektif, bukan identitas
pengikat bersama. Ini keberhasilan nabi mampu mengikat seluruh identitas
parsial menjadi identitas bersama yang meminjam istilah Robert N Bellah sebagai
gerakan gerakan yang sangat modern dan melampaui batas zaman. karena melampau
batas zaman, generasi setelah nya belum sanggup menerima. Akibatnya muncul lagi
politik Identitas; Identitas Ummayah, Identitas Abbasiyah dan Identitas Ali bin
Abi Thalib[ Syiah dan Khawarij]. Identitas ini yang kemudian melahirkan
perkelahian antara umat Islam dan kemudian sebagian sahabat hijrah untuk tidak
mau terjebak oleh pertikaian politik.
Para ilmuwan mengatakan bahwa identitas itu
tidak bisa dihilangkan dan berbicara Politik Identitas sebagai jalan untuk
memperjelas arah politik, saya kira sah-sah saja. Itu pendapat dan siapa saja
boleh berbeda pendapat bahkan pendapatan. Para ilmuwan sebagian lagi punya
pendapat sebaliknya, bahwa ini sebagai ancaman eksistensi nkri, dan akan
membuka subur keakuan sempit atas dasar suku, etnis dan agama serta budaya.
Fakta-fakta bahwa di daerah-daerah masih ada
kata-kata “pendatang belum saatnya menjadi pemimpin” dan sejenisnya di NKRI
masih sering terjadi. Anda mungkin tidak bisa menjadi ketua RT karena anda
lahir dan bukan berasal dari suku tempatan. Anda hanya cukup menjadi warga dan
tidak perlu ikut-ikuta dalam kontestasi demokrasi. Hal-hal yang seperti ini
masih terjadi. Apalagi jika identitas ditonjolkan dalam politik yang kemudian
melahirkan istilah politik identitas. Apakah tidak bertambah semakin liar makna
identitas?.
Saya sependapat bahwa identitas itu perlu
dirawat dengan baik. Saya kira ini yang dilakukan oleh para pendiri bangsa
dengan menerima pancasila dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Ini langkah
yang jenius sekali. Hingga sampai detik ini Indonesia masih eksis. Identitas kita
berbeda, tapi saat berbicara politik maka identitas kita adalah Ideologi Pancasila,
bukan khilafah dan juga bukan Kerajaan serta bentuk-bentuk lainnya. Jika berbicara
politik sudah menonjolkan diri atas nama agama dan suku tentu sah secara
kelompok tertentu, tapi menjadi persolan ketika bertemu dengan kelompok lain. Itu
sebabnya, berbicara politik di Indonesia adalah politik moral; bicara visi-misi
membangun kejayaan NKRI sebagai wujud dari kalimatun sawa. Saya kira ini
lebih baik dan lebih mendidik daripada bicara identitas. Walaupun tidak bicara
identitas pun, kita sudah punya identitas.
Betul orang akan hancur kalau tidak
mengenal identitas dirinya, dan lebih hancur kalau tidak mengenal identitas
berbangsa dan bernegara. Saat saya pergi ke Mall dan tempat hiburan, maka
identitas saya adalah seorang muslim dan akan menjaga etika dan moral saya
sebagai seorang muslim, walaupun saya memakai Celana Jin. Saya tetap
beridentitas sebagai seorang muslim. Saya memang jarang memakai atribut muslim,
kecuali ketika sholat di Masjid, menjadi pengisi mau’idlatul khasanah. Karena
meminjam istilah Nurcholish Madjid ‘tidak mau mensyakralkan sesuatu bernilai
duniawi’. Bisa jadi ungkapan Cak Nur terinspirasi sabda nabi bahwa takwa
adalah, ‘hahuna’, arti disini dengan mengarahkan telunjuk ke dada nya. Itulah
identitas.
Itu sebabnya membangun bangsa dan negara ini
berdasarkan identitas ketakutan kita kepada Allah dan ketaatan kita kepada-Nya
tanpa harus berbicara suku dan agama. Itu sudah ada dalam biodata kita. Saya lebih
setuju jika orang mengenal identitas kita pada gagasan yang besar untuk
membangun bangsa dan negara ini dengan memperkecil konflik antar suku dan
agama.
Sebagai penutup, Alhamdulillah saya
mendapat pelajaran dari Pak Mahfud dan Pak Said, bahwa mereka telah menempatkan
diri pada identitas sebagai bagian pengambil kebijakan dan identitas diri
sebagai orang yang senantiasa mengontrol kebijakan. Namun mereka tetap rukun
dan tetap saling menghormati. Itulah identitas bangsa Indonesia yang agung.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2983
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884