Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mahfud MD Makan Bareng Bersama Said Didu?



Senin , 20 Februari 2023



Telah dibaca :  218

Jika saya melihat Twitter, saya paling suka membaca diskusi Pak Mafhud MD [ Pak Mahfud] dan Pak Said Didu[ Pak Said]. Saya memakai istilah diskusi nya ‘Tom and Jery”. Satu bicara ngalor, satu lagi ngidul. Saya kira kalau kedua nya bertemu, mereka pelototan. Eh ternyata tidak, malah makan bareng. Entah kapan peristiwanya. Saya hanya melihat Pak Mahfud membagi momen makan bersama dengan Pak Said. Semoga saya kapan-kapan bisa diajak makan juga.

Apakah sikap kritis Said akan berhenti setelah selesai makan, atau akan berlanjut, saya tidak tahu. Memang dalam berbagai postingan di Twitter Pak Said sering mendapat serbuan tentang kekurangan data saat mengkritik. Tapi saya kira apa yang dilakukan oleh nya cukup baik untuk menjaga keseimbangan perjalanan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Bagi saya kritik harus, tapi menghina jangan. Saya sebagai orang yang dididik oleh kiai-kiai NU yang di Kampung, terasa risih sekali saat anak-anak bangsa memaknai demokrasi sebagai kebebasan tanpa nilai dalam pengertian semau nya saja.

Saya masih ingat, bagaimana implikasi dari demokrasi yang terlalu bebas berbicara saat memasuki setiap pesta demokrasi. Mimbar-mimbar Masjid, Mushola sering digunakan untuk menyerang pasangan lain atas nama suku dan agama. Padahal kadang sama-sama satu suku, dan satu agama. Kelompok yang merasa iman nya lebih kuat menguliti keimanan calon lain dengan kata-kata yang tidak pantas. Seolah-olah kelompok mereka yang paling bertaqwa dan paling dekat dengan Tuhannya. Sedangkan calon lain hanya sebatas warga kelas dua di depan Tuhan mereka. Sungguh ironis bukan?

Betul manusia lahir berasal dari identitasnya. Makna “ulil amri minkum” dari para ulama tafsir klasik diartikan; ahli ilmu, ulama, pemimpin, ulama dan pemimpin. Mereka hadir dari golongan mu. Sebagaimana Nabi Muhamad lahir menjadi pemimpin dari golongan Arab, bukan dari Cina atau Indonesia. Walaupun saat manusia mengalami pembauran saat sekarang ini dan kemudian mengalami naturalisasi cukup lama, batas-batas identitas pun mulai kabur. Namun tetap identitas dari seorang selalu ada. Karena memang itu bawaan dan anugerah sejak lahir.

Kenapa Nabi bisa berhasil menjadi pemimpin bangsa Arab, dan sebelum nya gagal. Karena sebelum nabi mengutamakan dan mendewa-dewakan identitas diri, bukan identitas kolektif, bukan identitas pengikat bersama. Ini keberhasilan nabi mampu mengikat seluruh identitas parsial menjadi identitas bersama yang meminjam istilah Robert N Bellah sebagai gerakan gerakan yang sangat modern dan melampaui batas zaman. karena melampau batas zaman, generasi setelah nya belum sanggup menerima. Akibatnya muncul lagi politik Identitas; Identitas Ummayah, Identitas Abbasiyah dan Identitas Ali bin Abi Thalib[ Syiah dan Khawarij]. Identitas ini yang kemudian melahirkan perkelahian antara umat Islam dan kemudian sebagian sahabat hijrah untuk tidak mau terjebak oleh pertikaian politik.

Para ilmuwan mengatakan bahwa identitas itu tidak bisa dihilangkan dan berbicara Politik Identitas sebagai jalan untuk memperjelas arah politik, saya kira sah-sah saja. Itu pendapat dan siapa saja boleh berbeda pendapat bahkan pendapatan. Para ilmuwan sebagian lagi punya pendapat sebaliknya, bahwa ini sebagai ancaman eksistensi nkri, dan akan membuka subur keakuan sempit atas dasar suku, etnis dan agama serta budaya.

Fakta-fakta bahwa di daerah-daerah masih ada kata-kata “pendatang belum saatnya menjadi pemimpin” dan sejenisnya di NKRI masih sering terjadi. Anda mungkin tidak bisa menjadi ketua RT karena anda lahir dan bukan berasal dari suku tempatan. Anda hanya cukup menjadi warga dan tidak perlu ikut-ikuta dalam kontestasi demokrasi. Hal-hal yang seperti ini masih terjadi. Apalagi jika identitas ditonjolkan dalam politik yang kemudian melahirkan istilah politik identitas. Apakah tidak bertambah semakin liar makna identitas?.

Saya sependapat bahwa identitas itu perlu dirawat dengan baik. Saya kira ini yang dilakukan oleh para pendiri bangsa dengan menerima pancasila dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Ini langkah yang jenius sekali. Hingga sampai detik ini Indonesia masih eksis. Identitas kita berbeda, tapi saat berbicara politik maka identitas kita adalah Ideologi Pancasila, bukan khilafah dan juga bukan Kerajaan serta bentuk-bentuk lainnya. Jika berbicara politik sudah menonjolkan diri atas nama agama dan suku tentu sah secara kelompok tertentu, tapi menjadi persolan ketika bertemu dengan kelompok lain. Itu sebabnya, berbicara politik di Indonesia adalah politik moral; bicara visi-misi membangun kejayaan NKRI sebagai wujud dari kalimatun sawa. Saya kira ini lebih baik dan lebih mendidik daripada bicara identitas. Walaupun tidak bicara identitas pun, kita sudah punya identitas.

Betul orang akan hancur kalau tidak mengenal identitas dirinya, dan lebih hancur kalau tidak mengenal identitas berbangsa dan bernegara. Saat saya pergi ke Mall dan tempat hiburan, maka identitas saya adalah seorang muslim dan akan menjaga etika dan moral saya sebagai seorang muslim, walaupun saya memakai Celana Jin. Saya tetap beridentitas sebagai seorang muslim. Saya memang jarang memakai atribut muslim, kecuali ketika sholat di Masjid, menjadi pengisi mau’idlatul khasanah. Karena meminjam istilah Nurcholish Madjid ‘tidak mau mensyakralkan sesuatu bernilai duniawi’. Bisa jadi ungkapan Cak Nur terinspirasi sabda nabi bahwa takwa adalah, ‘hahuna’, arti disini dengan mengarahkan telunjuk ke dada nya. Itulah identitas.

Itu sebabnya membangun bangsa dan negara ini berdasarkan identitas ketakutan kita kepada Allah dan ketaatan kita kepada-Nya tanpa harus berbicara suku dan agama. Itu sudah ada dalam biodata kita. Saya lebih setuju jika orang mengenal identitas kita pada gagasan yang besar untuk membangun bangsa dan negara ini dengan memperkecil konflik antar suku dan agama.

Sebagai penutup, Alhamdulillah saya mendapat pelajaran dari Pak Mahfud dan Pak Said, bahwa mereka telah menempatkan diri pada identitas sebagai bagian pengambil kebijakan dan identitas diri sebagai orang yang senantiasa mengontrol kebijakan. Namun mereka tetap rukun dan tetap saling menghormati. Itulah identitas bangsa Indonesia yang agung. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884