Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Majelis Ilmu, Majelis Nasab dan Majelis Politik



Sabtu , 14 September 2024



Telah dibaca :  463

 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ

Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”

Peristiwa hari sabat sangat legendaris di kalangan kaum Yahudi. Sebab hari tersebut merupakan hari berkumpulnya kaum Yahudi untuk beribadah. Sedang bagi kaum Muslimin, tempat berkumpul ibadah bersama yaitu hari Jum’at yang artinya berkumpul. Itu sebabnya, Islam sebenarnya hanya mengenal enam hari, hari terakhir adalah hari jum’at. Sedangkan kaum Yahudi mengenal tujuh hari yang diabadikan menjadi hari sabtu. Itu berasal dari kata sabat. Dari sini kemudian kata sabat menjadi sab’atun artinya tujuh. Sedangkan  hari dalam islam setelah hari kamis (khomis yang berasal artinya lima) seharusnya sitatun (artinya enam) sebagaimana hari-hari sebelumnya yaitu ahad, isnaini, tsulasa,arba’a, khamis atau khomsatun. Kata sitatun berubah menjadi jum’at sebagai hari terakhir umat Islam.

Persoalan ibadah kemudian merembes pada persoalan sosial-politik. Pertama, Yahudi kemudian membuat kalender penanggalan dengan sistem masehi yang ini juga diikuti oleh kaum nasrani. Islam sebelumnya juga menggunakan kalender tersebut. namun ketika nabi meninggal dunia, Umar bin Khatab melakukan reformasi penanggalan yang kemudian terkenal dengan penanggalan hijriyah. Arab Saudi juga menggunakan kalender tersebut. Sejak tahun 2016, ia merubah kalender masehi.

Kedua, ada sesuatu yang menarik dalam pemerintahan arab Saudi. Kini negara tersebut lebih dekat dengan amerika serikat dan israel. Padahal, dalam perjalanan sejarah kaum yahudi sebenarnya sangat benci kepada nabi Muhammad sebagai orang arab. Namun bukan berarti seluruh orang arab dibenci oleh yahudi. Ada persoalan identitas etnis yang kemudian menjadi ideologi politik.  Ini bermula persoalan nasab.

Jika merujuk beberapa tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Ibrahim mempunyai dua Istri. Pertama Sarah yang sudah berumur senja belum mempunyai anak. Kedua, Hajar istri muda hadiah dari raja fir’aun (sejak dulu, raja-raja mesir bergelar fir’aun). Hal ini berangkat dari kesholehan nabi Ibrahim. Atas penghormatan yang agung, raja fir’aun memberi hadiah seorang budak cantik bernama Hajar.

Pernikahan dengan Hajar kemudian cepat membuahkan keturunan. Nama nya Ismail. Kebahagiaannya tidak bertahan lama. Sarah istri tua marah. Akhirnya terjadi peristiwa hijrah dari palestina menuju Makah. Akhirnya Hajar dan Ismail menjadi penduduk Makah.

Berkah pernikahan dengan Hajar, Sarah pun mempunyai anak laki-laki bernama Ishak. Meskipun sebenarnya sarah tidak percaya, ketika diberi kabar oleh nabi Ibrahim. Ia tertawa karena kondisi yang sudah tua renta. Tidak mungkin hamil dan mempunyai anak. Janji allah terwujud, lahir anak laki-laki diberi nama Ishak yang artinya tertawa.

Dalam perjalanan sejarah, keturunan dari Nabi Ishak yang kemudian hari disebut yahudi lama kelamaan membentuk identitas diri sebagai kelompok nasab yang mulia. Memang tidak semua, tapi sebagian besar. hingga hal tersebut dijelaskan kesombongan nya dalam Al-Qur’an. Itu sebabnya, agama yahudi menjadi agama non-misioneris. Mereka merasa agama tersebut khusus untuk kelas nasab tinggi dan tidak boleh disebarkan atau menikah dengan orang-orang yang tidak berasal dari Yahudi.

Ketika Islam semakin berkembang, kaum yahudi semakin membencinya. Insting politiknya hidup. Mereka melakukan propaganda. Salah satu yang sangat ketara yaitu menghina nabi dan keturunannya sebagai keturunan budak (sebab Hajar berasal dari budak pemberian Raja Fir’aun sebagaimana dijelaskan di atas). sedangkan Sarah adalah keturunan manusia yang mulia (masih keponakan nabi Ibrahim). Bahkan mereka saat sekarang ini menganggap sebagai anak tuhan. Persoalan nasab berubah menjadi persoalan akidah dan identitas nasab dan politik. Mereka menebarkan paham tersebut melalui revolusi industri dan ilmu pengetahuan tanpa batas di seluruh platform media online, lembaga pendidikan dan lain-lain sehingga saat sekarang ini, keduanya telah dikuasai oleh mereka dan menghantam umat Islam.

Bukti konkrit bisa dilihat yaitu bangsa barat tidak mendukung khalifah Syarif Husein keturunan nabi ke-37 menjadi khalifah Arab Saudi. Keturunannya digulingkan oleh bani saud ( bukan keturunan nabi) atas bantuan koloni Inggris dan koloni Wahab yang kemudian menjadi paham wahabi. Inggris sebagai perpanjangan tangan yahudi melakukan konspirasi politik hingga keturunan nabi tidak bisa menjadi khalifah. Lalu, kemudian hari Arab Saudi berubah menjadi monarchie.

Jadi pembahasan ilmu, nasab dan politik sudah sejak dulu telah menjadi persoalan serius hingga saat sekarang ini. Ilmu yang sebelumnya kita anggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan bersifat netral ternyata ada keterkaitan dengan menjaga identitas nasab dan politik dalam rangka menguasai seluruh sisi kehidupan manusia oleh Kaum Yahudi. Itu nyata. Berhasil. Hingga kini kita tergantung pada produk-produknya.

Kehadiran Nabi Muhammad membawa agama sebenarnya sebagai rahmat semesta alam. Kalimat “iqra” sebagai pesan pertama tentang peradaban sebenarnya mengisyaratkan agar umat Islam di kemudian hari mampu mewarnai aspek kehidupan dengan sinar-sinar ilmu pengetahuan.

Namun kelihatanya pesan tersebut masih trial and error, tapi lebih sering error. Ketika yahudi membahas tentang keagungan  nasab dan politik dibalut sedikit-sedikit selalu dilandasi dengan kajian ilmu, sedangkan sebagian umat Islam membahas ilmu sedikit-sedikit dibalut nuansa politik dan nasab.

Hasilnya bisa ditebak, Yahudi lebih siap berargumentasi dengan keilmuan yang kuat dan padat data. Kelemahan kita sering berargumentasi dengan nafsu dan angkara murka. Ironisnya semua dipertontonkan di media sosial, mimbar-mimbar agama dan media-media ofline lain nya. Ramai laksana busa laut. Tidak berguna sama sekali. Hanya merusak umat.

Umat Islam sebenarnya mempunyai modal sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaih” atas kelompok umat agama lain. Ada dua modal sangat indah, Al-Qur’an memberi modal “iqra” dan Nabi Muhammad memberi modal “makarimal akhlak”. Jika kedua tradisi tersebut menjadi way of life umat nabi Muhammad, Insya Allah umat Islam semakin lebih baik di masa mendatang. Jika hanya ilmu tanpa makarimal akhlak, dikhawatirkan seperti Yahudi yang di nash dalam Al-Qur’an menjadi (berperilaku) seperti Kera.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? You have 1 message № 428. Read > https://tele

g602uf

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875