
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ
فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ
Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui
orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu
Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”
Peristiwa hari sabat
sangat legendaris di kalangan kaum Yahudi. Sebab hari tersebut merupakan hari
berkumpulnya kaum Yahudi untuk beribadah. Sedang bagi kaum Muslimin, tempat
berkumpul ibadah bersama yaitu hari Jum’at yang artinya berkumpul. Itu sebabnya,
Islam sebenarnya hanya mengenal enam hari, hari terakhir adalah hari jum’at. Sedangkan
kaum Yahudi mengenal tujuh hari yang diabadikan menjadi hari sabtu. Itu berasal
dari kata sabat. Dari sini kemudian kata sabat menjadi sab’atun
artinya tujuh. Sedangkan hari dalam islam
setelah hari kamis (khomis yang berasal artinya lima) seharusnya sitatun
(artinya enam) sebagaimana hari-hari sebelumnya yaitu ahad, isnaini, tsulasa,arba’a,
khamis atau khomsatun. Kata sitatun berubah menjadi jum’at sebagai hari
terakhir umat Islam.
Persoalan ibadah
kemudian merembes pada persoalan sosial-politik. Pertama, Yahudi kemudian
membuat kalender penanggalan dengan sistem masehi yang ini juga diikuti oleh
kaum nasrani. Islam sebelumnya juga menggunakan kalender tersebut. namun ketika
nabi meninggal dunia, Umar bin Khatab melakukan reformasi penanggalan yang
kemudian terkenal dengan penanggalan hijriyah. Arab Saudi juga menggunakan kalender
tersebut. Sejak tahun 2016, ia merubah kalender masehi.
Kedua, ada sesuatu
yang menarik dalam pemerintahan arab Saudi. Kini negara tersebut lebih dekat
dengan amerika serikat dan israel. Padahal, dalam perjalanan sejarah kaum
yahudi sebenarnya sangat benci kepada nabi Muhammad sebagai orang arab. Namun bukan
berarti seluruh orang arab dibenci oleh yahudi. Ada persoalan identitas etnis
yang kemudian menjadi ideologi politik. Ini
bermula persoalan nasab.
Jika merujuk
beberapa tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Ibrahim mempunyai dua Istri. Pertama
Sarah yang sudah berumur senja belum mempunyai anak. Kedua, Hajar istri muda
hadiah dari raja fir’aun (sejak dulu, raja-raja mesir bergelar fir’aun). Hal ini
berangkat dari kesholehan nabi Ibrahim. Atas penghormatan yang agung, raja fir’aun
memberi hadiah seorang budak cantik bernama Hajar.
Pernikahan dengan Hajar
kemudian cepat membuahkan keturunan. Nama nya Ismail. Kebahagiaannya tidak
bertahan lama. Sarah istri tua marah. Akhirnya terjadi peristiwa hijrah dari
palestina menuju Makah. Akhirnya Hajar dan Ismail menjadi penduduk Makah.
Berkah pernikahan
dengan Hajar, Sarah pun mempunyai anak laki-laki bernama Ishak. Meskipun sebenarnya
sarah tidak percaya, ketika diberi kabar oleh nabi Ibrahim. Ia tertawa karena
kondisi yang sudah tua renta. Tidak mungkin hamil dan mempunyai anak. Janji allah
terwujud, lahir anak laki-laki diberi nama Ishak yang artinya tertawa.
Dalam perjalanan
sejarah, keturunan dari Nabi Ishak yang kemudian hari disebut yahudi lama
kelamaan membentuk identitas diri sebagai kelompok nasab yang mulia. Memang tidak
semua, tapi sebagian besar. hingga hal tersebut dijelaskan kesombongan nya dalam
Al-Qur’an. Itu sebabnya, agama yahudi menjadi agama non-misioneris. Mereka
merasa agama tersebut khusus untuk kelas nasab tinggi dan tidak boleh
disebarkan atau menikah dengan orang-orang yang tidak berasal dari Yahudi.
Ketika Islam
semakin berkembang, kaum yahudi semakin membencinya. Insting politiknya hidup. Mereka
melakukan propaganda. Salah satu yang sangat ketara yaitu menghina nabi dan
keturunannya sebagai keturunan budak (sebab Hajar berasal dari budak pemberian Raja
Fir’aun sebagaimana dijelaskan di atas). sedangkan Sarah adalah keturunan
manusia yang mulia (masih keponakan nabi Ibrahim). Bahkan mereka saat sekarang
ini menganggap sebagai anak tuhan. Persoalan nasab berubah menjadi persoalan
akidah dan identitas nasab dan politik. Mereka menebarkan paham tersebut melalui
revolusi industri dan ilmu pengetahuan tanpa batas di seluruh platform media
online, lembaga pendidikan dan lain-lain sehingga saat sekarang ini, keduanya
telah dikuasai oleh mereka dan menghantam umat Islam.
Bukti konkrit bisa
dilihat yaitu bangsa barat tidak mendukung khalifah Syarif Husein keturunan
nabi ke-37 menjadi khalifah Arab Saudi. Keturunannya digulingkan oleh bani saud
( bukan keturunan nabi) atas bantuan koloni Inggris dan koloni Wahab yang
kemudian menjadi paham wahabi. Inggris sebagai perpanjangan tangan yahudi
melakukan konspirasi politik hingga keturunan nabi tidak bisa menjadi khalifah.
Lalu, kemudian hari Arab Saudi berubah menjadi monarchie.
Jadi pembahasan ilmu,
nasab dan politik sudah sejak dulu telah menjadi persoalan serius hingga saat sekarang
ini. Ilmu yang sebelumnya kita anggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan
bersifat netral ternyata ada keterkaitan dengan menjaga identitas nasab dan
politik dalam rangka menguasai seluruh sisi kehidupan manusia oleh Kaum Yahudi.
Itu nyata. Berhasil. Hingga kini kita tergantung pada produk-produknya.
Kehadiran Nabi Muhammad
membawa agama sebenarnya sebagai rahmat semesta alam. Kalimat “iqra” sebagai
pesan pertama tentang peradaban sebenarnya mengisyaratkan agar umat Islam di
kemudian hari mampu mewarnai aspek kehidupan dengan sinar-sinar ilmu
pengetahuan.
Namun kelihatanya pesan
tersebut masih trial and error, tapi lebih sering error. Ketika yahudi
membahas tentang keagungan nasab dan
politik dibalut sedikit-sedikit selalu dilandasi dengan kajian ilmu, sedangkan
sebagian umat Islam membahas ilmu sedikit-sedikit dibalut nuansa politik dan
nasab.
Hasilnya bisa
ditebak, Yahudi lebih siap berargumentasi dengan keilmuan yang kuat dan padat
data. Kelemahan kita sering berargumentasi dengan nafsu dan angkara murka. Ironisnya
semua dipertontonkan di media sosial, mimbar-mimbar agama dan media-media
ofline lain nya. Ramai laksana busa laut. Tidak berguna sama sekali. Hanya merusak
umat.
Umat Islam
sebenarnya mempunyai modal sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaih” atas
kelompok umat agama lain. Ada dua modal sangat indah, Al-Qur’an memberi modal “iqra”
dan Nabi Muhammad memberi modal “makarimal akhlak”. Jika kedua tradisi
tersebut menjadi way of life umat nabi Muhammad, Insya Allah umat Islam semakin
lebih baik di masa mendatang. Jika hanya ilmu tanpa makarimal akhlak,
dikhawatirkan seperti Yahudi yang di nash dalam Al-Qur’an menjadi (berperilaku)
seperti Kera.
Penulis : Imam Ghozali
???? You have 1 message № 428. Read > https://tele
g602uf
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875