
Tulisan ini tidak akan membahas tentang Keputusan
MK berkaitan dengan pilkada. Saya memang sudah berjanji tidak akan membahas
politik praktis sejak tahun 2019. Lebih baik membahas yang ringan-ringan. Semoga
ada yang membaca. Ada yang mengambil manfaatnya. Meskipun cuma sekecil dzarah
(debu atau atom). Anggap saja, saya lagi belajar mengamalkan hadist nabi, “sebaik-baik
orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain”.
Saya melihat saat ini masjid mulai berbenah
ke arah lebih baik. Manajemen masjid kelihatannya sudah mulai baik. Tentu ukuran
kebaikan relatif. Ada sudut pandang yang berbeda. Tapi jujur saja, pola masjid
dulu dan sekarang mulai ada perubahan. Jika dulu, masjid hanya sebatas untuk ritual,
kini mulai digunakan kegiatan bernilai sosial. Seperti tadi siang di salah satu
masjid tertentu, masjid menyediakan beragam makanan dan kueh. Siapapun boleh
mengambil. Gratis.
Siapa penjaganya? Para malaikat berjilbab. Tentu
bukan makna hakiki,tapi majazi. Seperti seorang ibu menyebut anak-anaknya
sebagai “malaikat penghibur” saat seorang diri dan dalam kesedihan. Atau seorang
suami yang menyanjung istrinya dengan kalimat, “istriku bidadariku”. Padahal,
tidak lah demikian. Mana ada, seorang bidadari “marah-marah” atau “ngompreng”
suka gosip kesana-kemari?.
Kenapa ibu-ibu yang menjaga? Sebab kaum
laki-laki sholat jum’at. Baik yang sudah dewasa maupun anak-anak. Kadang mereka
bising di masjid, tidak masalah. Saya sendiri tidak merasa terganggu dengan
kehadiran mereka. Meskipun juga perlu diatur agar mereka bisa mengurangi volume
guyonannya.
Siapa yang menyiapkan makanan tersebut
setiap hari jum’at? Tidak tahu dan tidak mau tahu. Bisa anggota jamaah
tersebut, bisa juga orang lain yang sudah bertekad sedekah setiap hari jum’at.
Jika bicara motivasi, maka bisa beragam. Bisa
jadi, agar masyarakat umum tertarik untuk sholat jum’at. Sebab memang, ada juga
seorang laki-laki tidak bisa sholat karena mikir makan. Ketika dia sholat, bisa
ngajak anak-anaknya. Jika anaknya empat pergi ke masjid, berarti mendapatkan lima
bungkus.
Ini realita. Tidak semua yang datang ke
masjid adalah orang-orang yang sudah maqam ketakwaannya seperti para imam dan
khatib. Sebagian jamaah ada yang bermasalah. Salah satunya masalah belum makan.
Ada juga karena panggilan jiwa. Ingin sedekah.
Tidak ada motiv apa-apa berkaitan dengan persoalan dunia. Politik praktis juga
bukan. Ingin nyalon bupati/wakil bupati juga tidak. Memang ia berniat ingin
mengeluarkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya.
Jadi, memang dunia ini dibuat beragam. Ada yang
suka berbuat baik, ada juga sebaliknya. Ada yang selalu menutup aib saudaranya,
ada juga sebaliknya. Ada yang suka mencaci maki, ada juga yang menebar budi
pekerti. Ada yang berbakti kepada orang tua, ada yang durhaka kepadanya. Ada yang
baik di depan, ada juga dibelakang sebaliknya.
Tuhan memberi kebebasan untuk memilih. Apa yang
kita lakukan tergantung pada niat, dan niat tersebut bisa berubah-rubah. Dan para
malaikat berkerudung tadi telah menyuguhkan tentang pentingnya niat dan
realisasi niat dalam kebaikan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3600
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3047
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900