Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Malaikat-Malaikat Penjaga Kueh di Masjid



Jumat , 23 Agustus 2024



Telah dibaca :  296

Tulisan ini tidak akan membahas tentang Keputusan MK berkaitan dengan pilkada. Saya memang sudah berjanji tidak akan membahas politik praktis sejak tahun 2019. Lebih baik membahas yang ringan-ringan. Semoga ada yang membaca. Ada yang mengambil manfaatnya. Meskipun cuma sekecil dzarah (debu atau atom). Anggap saja, saya lagi belajar mengamalkan hadist nabi, “sebaik-baik orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain”.

Saya melihat saat ini masjid mulai berbenah ke arah lebih baik. Manajemen masjid kelihatannya sudah mulai baik. Tentu ukuran kebaikan relatif. Ada sudut pandang yang berbeda. Tapi jujur saja, pola masjid dulu dan sekarang mulai ada perubahan. Jika dulu, masjid hanya sebatas untuk ritual, kini mulai digunakan kegiatan bernilai sosial. Seperti tadi siang di salah satu masjid tertentu, masjid menyediakan beragam makanan dan kueh. Siapapun boleh mengambil. Gratis.

Siapa penjaganya? Para malaikat berjilbab. Tentu bukan makna hakiki,tapi majazi. Seperti seorang ibu menyebut anak-anaknya sebagai “malaikat penghibur” saat seorang diri dan dalam kesedihan. Atau seorang suami yang menyanjung istrinya dengan kalimat, “istriku bidadariku”. Padahal, tidak lah demikian. Mana ada, seorang bidadari “marah-marah” atau “ngompreng” suka gosip kesana-kemari?.

Kenapa ibu-ibu yang menjaga? Sebab kaum laki-laki sholat jum’at. Baik yang sudah dewasa maupun anak-anak. Kadang mereka bising di masjid, tidak masalah. Saya sendiri tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Meskipun juga perlu diatur agar mereka bisa mengurangi volume guyonannya.

Siapa yang menyiapkan makanan tersebut setiap hari jum’at? Tidak tahu dan tidak mau tahu. Bisa anggota jamaah tersebut, bisa juga orang lain yang sudah bertekad sedekah setiap hari jum’at.

Jika bicara motivasi, maka bisa beragam. Bisa jadi, agar masyarakat umum tertarik untuk sholat jum’at. Sebab memang, ada juga seorang laki-laki tidak bisa sholat karena mikir makan. Ketika dia sholat, bisa ngajak anak-anaknya. Jika anaknya empat pergi ke masjid, berarti mendapatkan lima bungkus.

Ini realita. Tidak semua yang datang ke masjid adalah orang-orang yang sudah maqam ketakwaannya seperti para imam dan khatib. Sebagian jamaah ada yang bermasalah. Salah satunya masalah belum makan.

Ada juga karena panggilan jiwa. Ingin sedekah. Tidak ada motiv apa-apa berkaitan dengan persoalan dunia. Politik praktis juga bukan. Ingin nyalon bupati/wakil bupati juga tidak. Memang ia berniat ingin mengeluarkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya.

Jadi, memang dunia ini dibuat beragam. Ada yang suka berbuat baik, ada juga sebaliknya. Ada yang selalu menutup aib saudaranya, ada juga sebaliknya. Ada yang suka mencaci maki, ada juga yang menebar budi pekerti. Ada yang berbakti kepada orang tua, ada yang durhaka kepadanya. Ada yang baik di depan, ada juga dibelakang sebaliknya.

Tuhan memberi kebebasan untuk memilih. Apa yang kita lakukan tergantung pada niat, dan niat tersebut bisa berubah-rubah. Dan para malaikat berkerudung tadi telah menyuguhkan tentang pentingnya niat dan realisasi niat dalam kebaikan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900