Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Malaikat Penolong Datang Menghampiri Anda; Kesedihan Pun Hilang



Sabtu , 21 September 2024



Telah dibaca :  617

Selesai menjadi Tim Penilai Tulisan Karya Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) Kabupaten Kepulauan Meranti, saya segera ke Masjid Agung Darul Ulum. Waktu sudah menunjukan pukul 11.45 WIB. Sekarang masuk waktu sholat jum’at lebih cepat. Bulan september siang terasa pendek, dan malam terasa lama. Meskipun demikian masih normal. Untung saja hidup di Indonesia, perubahan waktu tidak begitu terasa menyiksa. Kecuali bulan Ramadhan. Itupun masih untung hidup di Indonesia. paling nambah waktu menunggu berbuka 15-20 menit. Bayangkan jika berpuasa di Helsinki Finlandia, puasa mencapai 17 jam. Jika disamakan dengan waktu Indonesia, berarti jam 23.00 baru berbuka puasa. Jadi, malam hanya mendapat 5 jam saja. Berbuka puasa, selesai berbuka tidak lama lagi sahur.

Selesai sholat jum’at biasanya sholat sunnah. Namun hari ini tidak sholat ba’diyah. Saya ganti wiridan setelah sholat jum’at di perpanjang. Tinggal sedikit jama’ah yang tersisa di masjid. Selesai wiridan, saya segera keluar masjid. Tapi tertahan tidak segera pulang. Nyari sandal. Keliling masjid. Bingung tidak ketemu. Sudah tiga kali saya mencari di berbagai sisi, tapi juga tidak ketemu.

“Mungkin ada yang pinjam” kata ku dalam hati.

Saya pun meng-ikhlas-kan. Saya segera keluar masjid. Tapi tertahan lagi. Dua anak-anak masih berumur belasan tahun menemuiku.

“Pak, sandal bapak hilang?” kata salah satu dari dua anak kecil tadi.

“Tidak, ada teman bapak pinjam. Nanti juga diantar ke rumah bapak, nak” kataku tersenyum kepada anak tadi. Padahal hati ku agak sedikit dongkol juga karena pulang harus “nyeker” tidak pakai sandal. Tapi buat apa dongkol. Marah juga tetap hilang, tidak marah juga tetap hilang. Mendingan tidak usah marah.

“Pak, jangan pulang dulu. Kami carikan sandal bapak” kata salah satu dari dua anak kecil tadi yang kira-kira kelas satu SLTP. Keduanya pergi naik honda prutul yang sudah tidak ada BM-nya.

Saya kaget. Bagaimana mereka mencari sandal?. Apa mereka tahu?. Jika tahu, jangan-jangan bukan sandal saya. Sebab hari itu memang ada dua jamaah yang kehilangan sandal, salah satunya saya yang lagi nunggu janji kedua anak tadi.

Cukup lama saya menunggu. Bukan persoalan sandal. Sebab sandal ku harga nya murah. Harganya kurang lebih Rp. 60.000. Itupun sudah mulai rusak. Saya menghargai perjuangan anak-anak yang berusaha mencarikan sandal. Sekitar 15 menit, mereka berdua datang dan membawa dua pasang sandal.

“Ini sandal bapak?” menunjukan dua pasang sandal. Saya mengamatinya, dan membenarkan salah satu sandal tersebut miliku. Setelah menyerahkan kepadaku, mereka segera balik arah dan segera pergi. Tapi saya tahan. Keduanya saya panggil di teras masjid.

“Kok bisa tahu ada yang mengambil sandal?” tanya ku kepadanya.

Diantara mereka pun cerita, anak-anak yang mengambil sandal sudah diikuti saat berada di masjid al-falah. Lalu pindah ke masjid agung. Mereka pun mengikuti anak-anak yang sholat jum’at di masjid agung. Dan terus memperhatikan sampai selesai sholat. Sebenarnya mereka melarang  anak-anak tadi mengambil sandal. Tapi nekat. Lalu pergi. Itu sebabnya, ketika melihat ku bingung mondar-mandir mencari sandal, mereka pun respon nya cepat. Pasti sandal hilang.

“ Berapa orang yang mengambil sandal?” tanya ku.

“Tiga orang” jawab mereka.

“Masih sekolah?” tanyaku.

“Masih” jawab mereka. Setelah saya telusuri lebih mendalam, anak-anak masih tingkat SLTP.

Lalu saya mengambil duit dari Rp. 70.000 terdiri dua lembar dua puluh ribu, dan tiga lembar sepuluh ribu. Kedua nya saya beri masing-masing dua puluh ribu terasa keberatan. Mereka menolak. Tapi saya paksa akhirnya mau. Sedangkan tiga puluh ribu sisanya, saya suruh berikan kepada tiga anak yang mengambil sandal tadi. Pikiranku, mereka mungkin butuh duit jajan dan tidak punya duit jajan. Atau memang tidak punya sandal dan ingin memakai sandal.

Sandal ku harganya Rp. 60.000, dan saya berikan untuk mereka Rp. 70.000. Tidak apa-apa. Saya harus mengapresiasi anak-anak yang telah berbuat baik. Saya percaya, di dunia ini yang ( katanya ) mulai krisis kepercayaan kepada sesama manusia, masih ada generasi muda yang masih menegakan kebaikan,keadilan dan kebenaran. Berat memang untuk berbuat baik tanpa pamrih. Dunia dengan desain pola hedonisme sangat berat melaksanakan pengabdian dan perjuangan tanpa imbalan. Kebutuhan hidup tinggi dan persaingan sangat terasa. Segala aktivitas ( termasuk akvititas politik) telah menjadi marketing sendiri telah melahirkan “perbuatan untuk siapa” dan setelah itu “dapat apa”.

Kembali lagi pada pembahasan awal. Apakah anda pernah mengalami kisah mirip-mirip seperti ku di atas dalam beragam versi?. Saya menyakini ada dan akan terus ada cerita kebaikan yang selalu muncul silih berganti dalam kehidupan.

Sudah tidak terhitung lagi, saya merasa Allah selalu menolong diriku dalam berbagai persoalan. Anda yang membaca artikel ini pada saat-saat tertentu pasti pernah merasakan hal demikian. Pada saat tertentu ada beragam persoalan. Pikiran kalut, pekerjaan menumpuk, fitnah dan ujian lain bertubi-tubi. Anda menenangkan pikiran dan hati memohon petunjuk kepada-Nya. Saat anda berdoa mungkin Tuhan belum mengambulkan doanya. Namun pada proses berikutnya, Tuhan membukakan pikiran anda suatu ide-ide yang tidak pernah disangka-sangka. Atau Tuhan memberikan suatu peristiwa yang memberikan suatu sinyal positif bahwa Tuhan telah membantu menjawab berbagai persoalan yang sedang menimpa anda.

Allah telah menjelaskan;”Sekecil apapun, kebaikan akan dibalas oleh Allah swt”. Saya mempercayai hal tersebut. Begitu sebaliknya. Saya merasa bahwa saat saya berbuat tidak baik, maka Tuhan pun menunjukan suatu berbagai persoalan sebagai jawaban nya. Kadang saya berfikir terlalu ekstrem dan terlihat penganut kaum pesimistis; “Masa bodoh, mau apa kepada ku terserah. Saya yakin Allah selalu menolongku setiap saat”. Tapi terkadang sikap tersebut justru hadir seperti Lorong-lorong cahaya di tempat yang gelap. Saya pun tertuntun menuju cahaya dan selamat dari gegelapan yang mencekam.

Dalam kehidupan sosial kita pernah disikut, dijegal, difitnah sampai terasa sulit bernafas. Kontestasi kehidupan yang terkadang tidak fair membuat segala persoalan “jungkir balik” dan susah lagi membedakan dan menjelaskan “mana kebaikan” dan “mana keburukan”. Keduanya berpenampilan sama dan kemasan sama. Mereka semua mengklaim baik. Dan kita telah memasuki dunia yang sulit membedakan jenis kelamin kebaikan dan keburukan.

Tapi manusia sering lupa. Meskipun dunia kacau-balau dan orang saling membuat rekayasa dengan sistematis, Allah meletakan kebenaran di dalam hati manusia yang tidak bisa ditembus oleh teknologi tercanggih manapun. Hebatnya lagi, saat anda mungkin sedang terpuruk dengan segala fitnah dan cacian, maka rahasia kebenaran dimunculkan oleh Allah dalam rangka menunjukan kebenaran dan menunjukan keagungan Allah kepada anda. Saat itu, segala kesedihan akan hilang dan saat itu anda kemudian bersujud dan menetes air mata kuasa Tuhan Yang Maha Agung. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Message: Operation 1.8276 BTC. Confirm => htt

y56yde

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875