
Selesai menjadi Tim Penilai Tulisan Karya
Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) Kabupaten Kepulauan Meranti, saya segera ke Masjid
Agung Darul Ulum. Waktu sudah menunjukan pukul 11.45 WIB. Sekarang masuk waktu
sholat jum’at lebih cepat. Bulan september siang terasa pendek, dan malam
terasa lama. Meskipun demikian masih normal. Untung saja hidup di Indonesia,
perubahan waktu tidak begitu terasa menyiksa. Kecuali bulan Ramadhan. Itupun masih
untung hidup di Indonesia. paling nambah waktu menunggu berbuka 15-20 menit. Bayangkan
jika berpuasa di Helsinki Finlandia, puasa mencapai 17 jam. Jika disamakan
dengan waktu Indonesia, berarti jam 23.00 baru berbuka puasa. Jadi, malam hanya
mendapat 5 jam saja. Berbuka puasa, selesai berbuka tidak lama lagi sahur.
Selesai sholat jum’at biasanya sholat
sunnah. Namun hari ini tidak sholat ba’diyah. Saya ganti wiridan setelah sholat
jum’at di perpanjang. Tinggal sedikit jama’ah yang tersisa di masjid. Selesai wiridan,
saya segera keluar masjid. Tapi tertahan tidak segera pulang. Nyari sandal. Keliling
masjid. Bingung tidak ketemu. Sudah tiga kali saya mencari di berbagai sisi,
tapi juga tidak ketemu.
“Mungkin ada yang pinjam” kata ku dalam
hati.
Saya pun meng-ikhlas-kan. Saya segera keluar
masjid. Tapi tertahan lagi. Dua anak-anak masih berumur belasan tahun
menemuiku.
“Pak, sandal bapak hilang?” kata salah satu
dari dua anak kecil tadi.
“Tidak, ada teman bapak pinjam. Nanti juga
diantar ke rumah bapak, nak” kataku tersenyum kepada anak tadi. Padahal hati ku
agak sedikit dongkol juga karena pulang harus “nyeker” tidak pakai
sandal. Tapi buat apa dongkol. Marah juga tetap hilang, tidak marah juga tetap
hilang. Mendingan tidak usah marah.
“Pak, jangan pulang dulu. Kami carikan
sandal bapak” kata salah satu dari dua anak kecil tadi yang kira-kira kelas
satu SLTP. Keduanya pergi naik honda prutul yang sudah tidak ada BM-nya.
Saya kaget. Bagaimana mereka mencari
sandal?. Apa mereka tahu?. Jika tahu, jangan-jangan bukan sandal saya. Sebab hari
itu memang ada dua jamaah yang kehilangan sandal, salah satunya saya yang lagi
nunggu janji kedua anak tadi.
Cukup lama saya menunggu. Bukan persoalan
sandal. Sebab sandal ku harga nya murah. Harganya kurang lebih Rp. 60.000. Itupun
sudah mulai rusak. Saya menghargai perjuangan anak-anak yang berusaha
mencarikan sandal. Sekitar 15 menit, mereka berdua datang dan membawa dua
pasang sandal.
“Ini sandal bapak?” menunjukan dua pasang
sandal. Saya mengamatinya, dan membenarkan salah satu sandal tersebut miliku. Setelah
menyerahkan kepadaku, mereka segera balik arah dan segera pergi. Tapi saya
tahan. Keduanya saya panggil di teras masjid.
“Kok bisa tahu ada yang mengambil sandal?”
tanya ku kepadanya.
Diantara mereka pun cerita, anak-anak yang
mengambil sandal sudah diikuti saat berada di masjid al-falah. Lalu pindah ke
masjid agung. Mereka pun mengikuti anak-anak yang sholat jum’at di masjid agung.
Dan terus memperhatikan sampai selesai sholat. Sebenarnya mereka melarang anak-anak tadi mengambil sandal. Tapi nekat. Lalu
pergi. Itu sebabnya, ketika melihat ku bingung mondar-mandir mencari sandal,
mereka pun respon nya cepat. Pasti sandal hilang.
“ Berapa orang yang mengambil sandal?”
tanya ku.
“Tiga orang” jawab mereka.
“Masih sekolah?” tanyaku.
“Masih” jawab mereka. Setelah saya telusuri
lebih mendalam, anak-anak masih tingkat SLTP.
Lalu saya mengambil duit dari Rp. 70.000
terdiri dua lembar dua puluh ribu, dan tiga lembar sepuluh ribu. Kedua nya saya
beri masing-masing dua puluh ribu terasa keberatan. Mereka menolak. Tapi saya
paksa akhirnya mau. Sedangkan tiga puluh ribu sisanya, saya suruh berikan
kepada tiga anak yang mengambil sandal tadi. Pikiranku, mereka mungkin butuh
duit jajan dan tidak punya duit jajan. Atau memang tidak punya sandal dan ingin
memakai sandal.
Sandal ku harganya Rp. 60.000, dan saya
berikan untuk mereka Rp. 70.000. Tidak apa-apa. Saya harus mengapresiasi
anak-anak yang telah berbuat baik. Saya percaya, di dunia ini yang ( katanya ) mulai
krisis kepercayaan kepada sesama manusia, masih ada generasi muda yang masih
menegakan kebaikan,keadilan dan kebenaran. Berat memang untuk berbuat baik
tanpa pamrih. Dunia dengan desain pola hedonisme sangat berat
melaksanakan pengabdian dan perjuangan tanpa imbalan. Kebutuhan hidup tinggi
dan persaingan sangat terasa. Segala aktivitas ( termasuk akvititas politik)
telah menjadi marketing sendiri telah melahirkan “perbuatan untuk siapa”
dan setelah itu “dapat apa”.
Kembali lagi pada pembahasan awal. Apakah anda
pernah mengalami kisah mirip-mirip seperti ku di atas dalam beragam versi?. Saya
menyakini ada dan akan terus ada cerita kebaikan yang selalu muncul silih
berganti dalam kehidupan.
Sudah tidak terhitung lagi, saya merasa Allah
selalu menolong diriku dalam berbagai persoalan. Anda yang membaca artikel ini
pada saat-saat tertentu pasti pernah merasakan hal demikian. Pada saat tertentu
ada beragam persoalan. Pikiran kalut, pekerjaan menumpuk, fitnah dan ujian lain
bertubi-tubi. Anda menenangkan pikiran dan hati memohon petunjuk kepada-Nya.
Saat anda berdoa mungkin Tuhan belum mengambulkan doanya. Namun pada proses
berikutnya, Tuhan membukakan pikiran anda suatu ide-ide yang tidak pernah
disangka-sangka. Atau Tuhan memberikan suatu peristiwa yang memberikan suatu
sinyal positif bahwa Tuhan telah membantu menjawab berbagai persoalan yang
sedang menimpa anda.
Allah telah menjelaskan;”Sekecil apapun,
kebaikan akan dibalas oleh Allah swt”. Saya mempercayai hal tersebut. Begitu
sebaliknya. Saya merasa bahwa saat saya berbuat tidak baik, maka Tuhan pun
menunjukan suatu berbagai persoalan sebagai jawaban nya. Kadang saya berfikir
terlalu ekstrem dan terlihat penganut kaum pesimistis; “Masa bodoh,
mau apa kepada ku terserah. Saya yakin Allah selalu menolongku setiap saat”.
Tapi terkadang sikap tersebut justru hadir seperti Lorong-lorong cahaya di
tempat yang gelap. Saya pun tertuntun menuju cahaya dan selamat dari gegelapan
yang mencekam.
Dalam kehidupan sosial kita pernah disikut,
dijegal, difitnah sampai terasa sulit bernafas. Kontestasi kehidupan yang
terkadang tidak fair membuat segala persoalan “jungkir balik” dan susah
lagi membedakan dan menjelaskan “mana kebaikan” dan “mana keburukan”.
Keduanya berpenampilan sama dan kemasan sama. Mereka semua mengklaim baik. Dan kita
telah memasuki dunia yang sulit membedakan jenis kelamin kebaikan dan
keburukan.
Tapi manusia sering lupa. Meskipun dunia
kacau-balau dan orang saling membuat rekayasa dengan sistematis, Allah meletakan
kebenaran di dalam hati manusia yang tidak bisa ditembus oleh teknologi
tercanggih manapun. Hebatnya lagi, saat anda mungkin sedang terpuruk dengan
segala fitnah dan cacian, maka rahasia kebenaran dimunculkan oleh Allah dalam
rangka menunjukan kebenaran dan menunjukan keagungan Allah kepada anda. Saat
itu, segala kesedihan akan hilang dan saat itu anda kemudian bersujud dan
menetes air mata kuasa Tuhan Yang Maha Agung.
Penulis : Imam Ghozali
???? Message: Operation 1.8276 BTC. Confirm => htt
y56yde
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875