Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Manunggaling Santri



Selasa , 22 Oktober 2024



Telah dibaca :  532

Kata santri semakin familiar di kalangan perkotaan. Ia sudah menjadi bagian gaya hidup yang tidak hanya “gaya-gaya-an”. Ia sudah menjadi pilihan dan membentuk komunitas di antara ribuan komunitas manusia dengan beragam sebutan.

Sebutan santri datang dari pesantren tradisional dan semi modern seperti pesantren tebuireng, Darussalam Banyuwangi, ploso dan lain-lain. Ia mengalami diaspora. Dari kampung menuju kota. Santri menggunakan teori “makan bubur”. Jika bubur masih panas, maka makan yang pinggir pelan-pelan terus habis sampai tengah. lalu muncul istilah santri urban yaitu budaya santri desa yang ditranformasikan menjadi bagian budaya kota dan kemudian menjalar kemana-mana, masuk instansi, media sosial, media elektronik dan sebagaimana. Sehingga saat ini sudah tidak asing lagi apabila ada acara keagamaan di perkotaan, di instansi pemerintahan budaya-budaya santri sudah menjadi bagian sub-budaya kota.

Santri tidak lagi dipresepsikan sebagai budaya kumuh, jorok, dan terbelakang. Pesantren sebagai sub-sistem pendidikan masyarakat telah bersimbiosis dengan sistem pendidikan nasional. Presepsi lambat laun mulai bergeser. Dulu ketika melihat baju almamater dari perguruan tinggi negeri umum kelas wahid di Indonesia, persepsi yang berkembang di masyarakat adalah generasi hebat dan cerah masa depannya.

Kini sudah mulai luntur. Makna mahasiswa bukan sebatas label formalitas perguruan tinggi, tapi sudah masuk pada subtansi. Kini kita bisa melihat metamorphosis mahasiswa menjadi anggota TNI, dokter, pegawai dan sejenisnya dengan beberapa predikat “hafidz al-qur’an, bisa baca kitab kuning, juara qori nasional dan internasional”. Kebesaran perguruan tinggi seolah-olah tenggelam oleh kebesaran status tambahan pada diri mahasiswa tersebut. Makna mahasiswa telah melebur menjadi santri dan telah membentuk identis lebih spesifik lagi; berprestasi, bermoral dan mempunyai jiwa nasionalisme tinggi.

Proses metamorphosis santri akan terus berlangsung. Saat ia masih laksana ulat dan sudah menjadi kupu-kupu, tentu saja idealnya tidak mungkin lagi  menjadi watak semula yaitu ulat. Tantangan santri semakin berat. Proses panjang yang sekarang masih terus berproses untuk menjadi satu identitas diri belum final. Perspektif positif masih perlu ujian keakurasian untuk membawa nama santri. Sebab dalam proses seleksi alamiah, terkadang sebagian santri mengalami kemunduran menjadi ulat dan menebarkan penyakit “gatal-gatal”. Ia yang kini hadir membawa energi positif jangan sampai kemudian hari menjadi cibiran yang menusuk telinga. Ma’lum lah, proses metamorphosis yang kemudian hari ia harus beradaptasi dengan lingkungan akan menemukan beragam kepentingan. Ada nilai yang berhamburan di dalam nya; idealis, realistis atau pragmatis dan sebagainya. Saat itulah ujian kehidupan untuk konsisten membawa nama “santri” benar-benar menjadi taruhan yang sangat menentukan diri dan nama kebesaran tersebut.

Tantangan berat tersebut tentu bukan harus ditakuti. Jiwa kemandirian, kesederhanaan dan siap menanggung beban perjuangan seharusnya terus menyala dalam setiap Langkah hidup seorang santri. Rintangan dan sejenisnya sebenarnya adalah bentuk pendewasaan di jenjang yang lebih tinggi. Sepanjang masih teguh berpegang pada prinsip-prinsip kesantrian, maka dalam kondisi apapun dan bentuk rintangan jenis apapun tidak perlu khawatir. Sebab santri lahir memang untuk menjaga nilai-nilai kesantrian yang agung, menyebarkannya dan kemudian menjadi jalan hidup untuk diri dan bangsa Indonesia secara menyeluruh. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Leres banget...mengingat agar santri berdiaspora dg tetap mikul duwur mendem jero..Adab tetap dijunjung tinggi dengan mengadaptasi pada Glpbalisasi.. Ijin saya share ke komunitas2 mhs

Admin

inggih monggo pak dosen

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875