
Kata santri semakin familiar di kalangan
perkotaan. Ia sudah menjadi bagian gaya hidup yang tidak hanya “gaya-gaya-an”.
Ia sudah menjadi pilihan dan membentuk komunitas di antara ribuan komunitas
manusia dengan beragam sebutan.
Sebutan santri datang dari pesantren
tradisional dan semi modern seperti pesantren tebuireng, Darussalam Banyuwangi,
ploso dan lain-lain. Ia mengalami diaspora. Dari kampung menuju kota. Santri menggunakan
teori “makan bubur”. Jika bubur masih panas, maka makan yang pinggir
pelan-pelan terus habis sampai tengah. lalu muncul istilah santri urban yaitu
budaya santri desa yang ditranformasikan menjadi bagian budaya kota dan
kemudian menjalar kemana-mana, masuk instansi, media sosial, media elektronik
dan sebagaimana. Sehingga saat ini sudah tidak asing lagi apabila ada acara
keagamaan di perkotaan, di instansi pemerintahan budaya-budaya santri sudah
menjadi bagian sub-budaya kota.
Santri tidak lagi dipresepsikan sebagai
budaya kumuh, jorok, dan terbelakang. Pesantren sebagai sub-sistem pendidikan masyarakat
telah bersimbiosis dengan sistem pendidikan nasional. Presepsi lambat laun mulai
bergeser. Dulu ketika melihat baju almamater dari perguruan tinggi negeri umum
kelas wahid di Indonesia, persepsi yang berkembang di masyarakat adalah
generasi hebat dan cerah masa depannya.
Kini sudah mulai luntur. Makna mahasiswa
bukan sebatas label formalitas perguruan tinggi, tapi sudah masuk pada
subtansi. Kini kita bisa melihat metamorphosis mahasiswa menjadi anggota TNI, dokter,
pegawai dan sejenisnya dengan beberapa predikat “hafidz al-qur’an, bisa baca
kitab kuning, juara qori nasional dan internasional”. Kebesaran perguruan
tinggi seolah-olah tenggelam oleh kebesaran status tambahan pada diri mahasiswa
tersebut. Makna mahasiswa telah melebur menjadi santri dan telah membentuk
identis lebih spesifik lagi; berprestasi, bermoral dan mempunyai jiwa
nasionalisme tinggi.
Proses metamorphosis santri akan terus
berlangsung. Saat ia masih laksana ulat dan sudah menjadi kupu-kupu, tentu saja
idealnya tidak mungkin lagi menjadi
watak semula yaitu ulat. Tantangan santri semakin berat. Proses panjang yang
sekarang masih terus berproses untuk menjadi satu identitas diri belum final. Perspektif
positif masih perlu ujian keakurasian untuk membawa nama santri. Sebab dalam
proses seleksi alamiah, terkadang sebagian santri mengalami kemunduran menjadi
ulat dan menebarkan penyakit “gatal-gatal”. Ia yang kini hadir membawa energi
positif jangan sampai kemudian hari menjadi cibiran yang menusuk telinga. Ma’lum
lah, proses metamorphosis yang kemudian hari ia harus beradaptasi dengan
lingkungan akan menemukan beragam kepentingan. Ada nilai yang berhamburan di
dalam nya; idealis, realistis atau pragmatis dan sebagainya. Saat itulah ujian
kehidupan untuk konsisten membawa nama “santri” benar-benar menjadi taruhan
yang sangat menentukan diri dan nama kebesaran tersebut.
Tantangan berat tersebut tentu bukan harus
ditakuti. Jiwa kemandirian, kesederhanaan dan siap menanggung beban perjuangan
seharusnya terus menyala dalam setiap Langkah hidup seorang santri. Rintangan dan
sejenisnya sebenarnya adalah bentuk pendewasaan di jenjang yang lebih tinggi. Sepanjang
masih teguh berpegang pada prinsip-prinsip kesantrian, maka dalam kondisi
apapun dan bentuk rintangan jenis apapun tidak perlu khawatir. Sebab santri
lahir memang untuk menjaga nilai-nilai kesantrian yang agung, menyebarkannya
dan kemudian menjadi jalan hidup untuk diri dan bangsa Indonesia secara
menyeluruh.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Leres banget...mengingat agar santri berdiaspora dg tetap mikul duwur mendem jero..Adab tetap dijunjung tinggi dengan mengadaptasi pada Glpbalisasi.. Ijin saya share ke komunitas2 mhs
Admin
inggih monggo pak dosen
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875