
Tulisan ini terinspirasi ujian skripsi pada
hari jum’at tanggal 18 Oktober 2024. Ada jawaban lucu, rasa sedih, dan jawaban
yang menggemaskan, dan kadang bikin emosi. Benar-benar rasa nano-nano. Selamat menikmati.
Ada cerita menarik dari imam besar
sekaligus Dosen STAIN Bengkalis,,H.Muhlas. Saat ia berada di Indonesia bagian
timur. Ada pemandangan terlihat ganjil. Ketika
acara pesta, disediakan minuman yang ber-alkohol. Memabukkan. Saat ada
biduan wanita atau artis bernyanyi,sebagian mereka berdiri dan memberikan
"saweran". Jumlah uang
pun luarbasa besar-besar. Para pesawer bukan orang biasa. Mereka kadang para
tokoh masyarakat yang sudah bergelar haji, saudagar dan kelompok terpandang.
Apalagi pesta nya tidak jauh dari pantai atau pesisir laut. Suasana
"liberal" sangat terasa sekali.
Keganjilan kedua tentang persoalan sikap masyarakat setempat sangat "loman" atau suka memberi makanan, menjamu tamu dan ringan tangan membantu tetangganya. seperti mata angin. Seolah-olah tidak ada beban sama sekali. cang-cung. Laksana sudah menjadi tradisi sikap bantu-membantunya.
Sahabat kami ( Pak Saifunnajar, Mas Jarir, dan
Mas Muhlas) berdiskusi. Ingin mendudukan cerita di atas dari sudut pandang
syariat Islam. Mereka setuju bahwa
ketika sudah mengikrarkan diri sebagai seorang muslim, maka totalitas
melaksanakan perintah Alloh dan meninggalkan larangan-Nya. Jadi,kehidupan di
atas sangat kontradiktif. Percampuran antara hak dan batil. Secara syariat
jelas tidak diperkenankan.
Saya mengangguk sebagai tanda setuju. Ketika
Mas Muhlas meminta tanggapanku tentang persoalan tersebut, mau tidak mau saya
pun harus “urun rembug” supaya diskusi kosong di sore menjelang malam
agak sedikit terisi.
Saya mencoba melihat dari sudut denyut nadi
masyarakat yang heterogen. Masyarakat merupakan kelompok yang beragam
ilmu,pengalaman hidup dan pemahaman tentang makna "la yukallifullohu
nafsan Illa wus'aha". Alloh tidak memberikan beban kepada hamba nya
melebihi batas kemampuannya. Bisa jadi,sebagian masyarakat mengambil tafsir
tersebut untuk melihat pada diri sendiri yang belum bisa sholat secara sempurna
dan belum bisa meninggalkan tradisi minum. Mereka baru sebatas pada tradisi
membahagiakan orang lain dengan bantuan harta dan uang. Mereka merasa bahagia
saat memberi manfaat kepada orang lain.
Jadi mereka ada pilihan-pilihan hidup atas
makna syariat Islam. Mereka belum begitu kaffah merealisasikan ayat atau
hadist tentang sholat dan haramnya khamr. Mereka baru mengamalkan “Sebaik-baik
manusia yang memberi kemanfaatan kepada orang lain”. Jangan-jangan mereka
punya prinsip “ora opo-opo aku dadi lilin, yang penting orang lain terasa
terang”.
Saya jadi ingat ucapan Dahlan Iskan saat
pidato di Pesantren Zaitun Indramayu. Ia
menceritakan statemen tokoh bagian sekte agama Budha ( jika tidak salah saya
menyimpulkan). Menurut tokoh Budha; “Agama
bukan sholat,bukan doa. Agama adalah menolong orang lain”.
Baik ajaran agama Budha,atau apa yang
disampaikan oleh Dahlan Iskan tentu bukan sedang mengabaikan subtansi-subtansi agama.
Hal demikian juga syariat Islam. Agama tidak bisa memisahkan antara ritual dan
muamalah. Dua dua nya satu kesatuan. Fenomena yang terjadi di masyarakat sering
mempersempit makna agama sebatas pada kesolehan individual sematas dan
mengabaikan aspek sosial.
Ungkapan Dahlan Iskan (bisa jadi sebagian
dari kita) wujud dari kekhawatiran agama dijadikan Tuhan,sehingga konflik
terjadi di masyarakat karena berlomba lomba "gede-gedean"masjid,gereja,
klenteng,pura dan lain lain. Setiap penganut agama sibuk memperbesar
ritual,tapi semakin kering jiwa kemanusiaan. Merasa dekat dengan Tuhan,
akhirnya meremehkan keimanan saudaranya sendiri. Sehingga makna
"kemanusiaan"sebatas sektoral. Padahal, agama mengajarkan kasih
sayang kepada manusia secara global lintas suku,etnis dan agama.
Walhasil, di dunia yang semakin tua memang
kita selalu mencita-citakan pola hidup manusia yang taat kepada Alloh dan baik
kepada sesama manusia. Lagi-lagi realita hidup selalu berbicara lain. Selalu
ada yang tidak sempurna. Termasuk masyarakat yang diceritakan H.Muhlas.
Tapi,dari mereka saya bisa belajar bahwa sekurang apapun kesholehan kita kepada
Alloh, ada yang tidak boleh yang dilupakan dalam kehidupan sosial,yaitu selalu
menebarkan kebaikan kepada sesama manusia. Pola efektif untuk mewarnai wajah
dunia semakin indah dan mempesona.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875