Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Manusia Mabuk



Jumat , 18 Oktober 2024



Telah dibaca :  470

Tulisan ini terinspirasi ujian skripsi pada hari jum’at tanggal 18 Oktober 2024. Ada jawaban lucu, rasa sedih, dan jawaban yang menggemaskan, dan kadang bikin emosi. Benar-benar rasa nano-nano. Selamat menikmati.

Ada cerita menarik dari imam besar sekaligus Dosen STAIN Bengkalis,,H.Muhlas. Saat ia berada di Indonesia bagian timur. Ada pemandangan terlihat ganjil. Ketika  acara pesta, disediakan minuman yang ber-alkohol. Memabukkan. Saat ada biduan wanita atau artis bernyanyi,sebagian mereka berdiri dan memberikan "saweran".  Jumlah uang pun luarbasa besar-besar. Para pesawer bukan orang biasa. Mereka kadang para tokoh masyarakat yang sudah bergelar haji, saudagar dan kelompok terpandang. Apalagi pesta nya tidak jauh dari pantai atau pesisir laut. Suasana "liberal" sangat terasa sekali.

Keganjilan kedua tentang persoalan sikap masyarakat setempat sangat "loman" atau suka memberi makanan, menjamu tamu dan ringan tangan membantu tetangganya. seperti mata angin. Seolah-olah tidak ada beban sama sekali. cang-cung. Laksana sudah menjadi tradisi sikap bantu-membantunya.

Keganjilan ketiga,saat ada orang meninggal dunia, para peziarah dan jamaah yang mensholati "mbuldak". Selesai trip pertama, maka trip kedua pun memenuhi masjid untuk mensholati, selesai trip kedua,ada lagi trip ketiga yang menunggu untuk mensholati nya. Orang yang meninggal bukan seorang ulama atau tokoh agama, tapi penghormatannya sangat luarbiasa. Masjid benar-benar menjadi saksi betapa banyak orang men-sholati.

Saya jadi ingat dawuh para ulama. Semakin banyak orang yang mensholati semakin menjadi tanda husnul khotimah. Ada lagi yang mengatakan "jenazah yang mensholati lebih empat puluh, derajatnya sama dengan disholati oleh para waliyullah". saya pun jadi ingat, saat bapak meninggal dunia. Saya sedih tidak berada di sampingnya. Ia meninggal saat posisiku di Bengkalis. Tapi saat saya pulang, ibu menceritakan para peziarah. Ada ribuan orang yang men-sholati-nya. Hingga tempat peristirahatan terakhir selalu diziaraih oleh saudara dari seluruh penjuru daerah. Hingga kini. Bisa jadi, berkah bapak yang ringan tangan membantu tetangga dan orang-orang yang memerlukan bantuan.

Sahabat kami ( Pak Saifunnajar, Mas Jarir, dan Mas Muhlas) berdiskusi. Ingin mendudukan cerita di atas dari sudut pandang syariat Islam.  Mereka setuju bahwa ketika sudah mengikrarkan diri sebagai seorang muslim, maka totalitas melaksanakan perintah Alloh dan meninggalkan larangan-Nya. Jadi,kehidupan di atas sangat kontradiktif. Percampuran antara hak dan batil. Secara syariat jelas tidak diperkenankan.

Saya mengangguk sebagai tanda setuju. Ketika Mas Muhlas meminta tanggapanku tentang persoalan tersebut, mau tidak mau saya pun harus “urun rembug” supaya diskusi kosong di sore menjelang malam agak sedikit terisi.

Saya mencoba melihat dari sudut denyut nadi masyarakat yang heterogen. Masyarakat merupakan kelompok yang beragam ilmu,pengalaman hidup dan pemahaman tentang makna "la yukallifullohu nafsan Illa wus'aha". Alloh tidak memberikan beban kepada hamba nya melebihi batas kemampuannya. Bisa jadi,sebagian masyarakat mengambil tafsir tersebut untuk melihat pada diri sendiri yang belum bisa sholat secara sempurna dan belum bisa meninggalkan tradisi minum. Mereka baru sebatas pada tradisi membahagiakan orang lain dengan bantuan harta dan uang. Mereka merasa bahagia saat memberi manfaat kepada orang lain.

Jadi mereka ada pilihan-pilihan hidup atas makna syariat Islam. Mereka belum begitu kaffah merealisasikan ayat atau hadist tentang sholat dan haramnya khamr. Mereka baru mengamalkan “Sebaik-baik manusia yang memberi kemanfaatan kepada orang lain”. Jangan-jangan mereka punya prinsip “ora opo-opo aku dadi lilin, yang penting orang lain terasa terang”.

Saya jadi ingat ucapan Dahlan Iskan saat pidato  di Pesantren Zaitun Indramayu. Ia menceritakan statemen tokoh bagian sekte agama Budha ( jika tidak salah saya menyimpulkan).  Menurut tokoh Budha; “Agama bukan sholat,bukan doa. Agama adalah menolong orang lain”.

Baik ajaran agama Budha,atau apa yang disampaikan oleh Dahlan Iskan tentu bukan sedang mengabaikan subtansi-subtansi agama. Hal demikian juga syariat Islam. Agama tidak bisa memisahkan antara ritual dan muamalah. Dua dua nya satu kesatuan. Fenomena yang terjadi di masyarakat sering mempersempit makna agama sebatas pada kesolehan individual sematas dan mengabaikan aspek sosial.

Ungkapan Dahlan Iskan (bisa jadi sebagian dari kita) wujud dari kekhawatiran agama dijadikan Tuhan,sehingga konflik terjadi di masyarakat karena berlomba lomba "gede-gedean"masjid,gereja, klenteng,pura dan lain lain. Setiap penganut agama sibuk memperbesar ritual,tapi semakin kering jiwa kemanusiaan. Merasa dekat dengan Tuhan, akhirnya meremehkan keimanan saudaranya sendiri. Sehingga makna "kemanusiaan"sebatas sektoral. Padahal, agama mengajarkan kasih sayang kepada manusia secara global lintas suku,etnis dan agama.

Walhasil, di dunia yang semakin tua memang kita selalu mencita-citakan pola hidup manusia yang taat kepada Alloh dan baik kepada sesama manusia. Lagi-lagi realita hidup selalu berbicara lain. Selalu ada yang tidak sempurna. Termasuk masyarakat yang diceritakan H.Muhlas. Tapi,dari mereka saya bisa belajar bahwa sekurang apapun kesholehan kita kepada Alloh, ada yang tidak boleh yang dilupakan dalam kehidupan sosial,yaitu selalu menebarkan kebaikan kepada sesama manusia. Pola efektif untuk mewarnai wajah dunia semakin indah dan mempesona.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875