
Hari Raya Idul Fitri merupakan simbol
ketulusan orang tua terhadap anak dan anak kepada orang tua. Guru terhadap
murid, murid terhadap guru, dan pejabat terhadap rakyat dan rakyat terhadap
pejabat. Setiap pintu rumah terbuka. Menyambut para tamu dengan senyum terindah.
Melayani tamu dengan hidangan makanan dan minuman terbaiknya.
Bagi yang masih mempunyai orang tua, Idul
Fitri menjadi momentum terindah merasakan masakan spesial dari nya. Ada masakan
istimewa yang muncul hanya di hari itu. Masakan dari Sang Ibu.
Anak-anaknya, cucu-cucunya sama-sama makan
di tempat sama. Mereka merasakan sangat nikmat sekali. Melebihi Restoran
termahal sekalipun. Ada kenikmatan, ada rasa yang sulit diungkapkan dengan
kata-kata.
Dapur Sang Ibu orang tua kita biasa saja. Sederhana.
Kadang malah ada yang kelewat sederhana. Tungku sudah mulai rusak, gripis,
dan berwarna hitam. Ada banyak arang, dan bekas-bekas kayu bakar ukuran
kecil-kecil di lantai semennya juga mulai retak dan mengelupas. Di atas Tungku
itu, ada Wajan berisi Gulai Ayam. Di Meja Kayu dekat Tungku juga sudah
tersedia, Opor Ayam, dan tidak ketinggalan Ketupat yang dibungkus dengan Daun
Kelapa berbentuk segi empat. Semua ada di Meja. Tidak ketinggalan juga, ada peyek
kacang atau krupuk udang sebagai penambah nikmat jamuan di Hari Fitri.
Dapur sang ibu ada kalanya terbuat dari
kayu atau anyaman bambu sudah mulai lapuk. Dindingnya sudah berubah warna
coklat kehitam-hitaman. Di sudut atas ada gantungan terbuat dari kayu untuk
menyimpang peralatan dapur. Di pojok itu juga sudah banyak sekali “sawang” dari
asap dapur dan juga rumah laba-laba. Sang ibu yang sudah mulai renta hidup di
tempat seperti itu. Ia sudah tidak lagi kepikiran persoalan baju baru atau kueh
yang mewah-mewah. Tidak sama sekali. Bahkan ia pun tidak mau dapur yang
dindingnya mulai lapuk untuk diperbaiki. Ada kenangan masa lalu yang
menyebabkan ibu kita menolaknya.
Sang ibu yang sudah renta berjalan
pelan-pelan ke dapur. Ia bangun saat anak-anak nya masih tidur. Ia tidak mau
mengganggunya. Ia merasa kasihan terhadap anak-anak nya yang baru pulang dari
perantauan. Meskipun anak-anak nya sudah punya istri dan anak-anak. Ia sekarang
statusnya sudah menjadi seorang nenek. Tapi sang ibu tetap melihat anak-anaknya
yang sudah memakai dasi, sudah bekerja di perkantoran, sudah merantau di luar
negeri tetap dianggap sebagai anak-anaknya seperti dulu. Sang ibu yang sudah
menjadi nenek melihat anak-anak nya sama saat mereka masih kena bentak karena
main kelereng tidak pulang pulan. Jika sore hari, tidak juga mandi. Lalu ia menjewer
anak-anaknya agar cepat mandi dan berangkat ke Mushola atau Masjid untuk
belajar turutan [istilah juz ama’].
Itu sebabnya, saat anak-anak dan
cucu-cucunya kumpul, kedua statusnya tersebut sering hilang. Anak-anak nya yang
telah jadi ayah dan ibu kembali lagi seperti anak-anak kecil. Sang ibu masih
juga memegang centong menambah nasi atau sendok menambah lauk ke piring
anak-anaknya.
Bahkan juga saat kita berpamitan ingin
kembali lagi ke tempat masing-masing, Sang Ibu tidak lupa menyiapkan buntelan
berupa nasi plus lauknya. Kadang juga menyiapkan rengginang yang
dimasukan dalam wadah kueh roma atau plastik. Anak-anaknya tidak bisa
menolaknya. Sebab mereka menyadari, nasi, lauk dan rengginang adalah hadiah
dari Sang Ibu yang telah diberkati dengan doa-doa mustajab. Sehingga
anak-anak nya menjadi orang sukses dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Bagi anda yang masih mempunyai orang tua,
terutama seorang ibu dan bisa berjumpa di Hari Fitri adalah anugerah yang
luarbiasa. Bertemu denganya adalah surga dunia. Tidak ada kebahagiaan yang
kekal abadi di dunia kecuali bisa bertemu dengan orang tua. Darinya kita bisa
bermanja-manja dan melupakan segala beban persoalan di kantor dan lain-lain.
Bagi anda yang tidak bisa bertemu karena
ada persoalan ekonomi atau karena ia sudah meninggal dunia, maka anda bisa
membayangkan sifat, sikap dan perbuatan mu saat masih kecil dan saat masih
bersama nya. Anda akan menemukan betapa banyak perbuatan-perbuatan yang
menyebabkan ibu anda marah, sakit tidak kunjung sembuh. Waktu itu anda mungkin
tidak merasakan. Kini anda menyadari atas kekeliruan yang anda lakukan saat
itu.
Saat ini anda ingin bertemu. Tapi orang tua
telah meninggal. Ingin sekali waktu itu kembali hadir dan ia ada dan ingin
meminta maaf kepada nya. Tapi itu tidak mungkin. Masa lalu tidak akan terulang
kembali. Satu detik yang telah lalu lebih jauh dari seribu tahun yang akan
datang.
Hati lembut anda akan menyebabkan mata anda
memerah dan meneteskan air mata. Anda kehilangan kata. Pikiran terasa tumpul
dan perasaan semakin tidak karuan. Ada lukisan-lukisan kehidupan yang meningat
saat anda bersama dengannya.
Tapi percayalah, ibu yang anda dan kita
pernah sakiti adalah malaikat yang diutus untuk memberikan doa terbaik buat
kita. Percayalah, ia selalu mengirimkan doa kebaikan tanpa kita memintanya.
Jika kita sekarang merasa baik dan sukses, yakinlah itu bagian dari mustajab
doa. Jika kita belum merasa baik dalam kehidupan, mungkin kita telah lama
melupakan nya dalam penderitaan yang berkepanjangan akibat dari sikap anda yang
sangat egosis.
Di hari raya yang fitri ini, panjatkan doa
untuk kebaikan orang tua anda. Jika masih hidup dan tidak bisa berjumpa,
sempatkanlah silaturahim melalui video call. Gunakan sebaik-baiknya dan
mintalah doa kebaikan dari nya.
Semoga kita menemukan Hari Idul Fitri
benar-benar membawa keagungan bagi keluarga kita, orang tua kita dan
terkhususkan untuk sang ibu yang telah melahirkan kita.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871