Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Masakan Sang Ibu di Hari Fitri



Senin , 31 Maret 2025



Telah dibaca :  594

Hari Raya Idul Fitri merupakan simbol ketulusan orang tua terhadap anak dan anak kepada orang tua. Guru terhadap murid, murid terhadap guru, dan pejabat terhadap rakyat dan rakyat terhadap pejabat. Setiap pintu rumah terbuka. Menyambut para tamu dengan senyum terindah. Melayani tamu dengan hidangan makanan dan minuman terbaiknya.

Bagi yang masih mempunyai orang tua, Idul Fitri menjadi momentum terindah merasakan masakan spesial dari nya. Ada masakan istimewa yang muncul hanya di hari itu. Masakan dari Sang Ibu.

Anak-anaknya, cucu-cucunya sama-sama makan di tempat sama. Mereka merasakan sangat nikmat sekali. Melebihi Restoran termahal sekalipun. Ada kenikmatan, ada rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Dapur Sang Ibu orang tua kita biasa saja. Sederhana. Kadang malah ada yang kelewat sederhana. Tungku sudah mulai rusak, gripis, dan berwarna hitam. Ada banyak arang, dan bekas-bekas kayu bakar ukuran kecil-kecil di lantai semennya juga mulai retak dan mengelupas. Di atas Tungku itu, ada Wajan berisi Gulai Ayam. Di Meja Kayu dekat Tungku juga sudah tersedia, Opor Ayam, dan tidak ketinggalan Ketupat yang dibungkus dengan Daun Kelapa berbentuk segi empat. Semua ada di Meja. Tidak ketinggalan juga, ada peyek kacang atau krupuk udang sebagai penambah nikmat jamuan di Hari Fitri.

Dapur sang ibu ada kalanya terbuat dari kayu atau anyaman bambu sudah mulai lapuk. Dindingnya sudah berubah warna coklat kehitam-hitaman. Di sudut atas ada gantungan terbuat dari kayu untuk menyimpang peralatan dapur. Di pojok itu juga sudah banyak sekali “sawang” dari asap dapur dan juga rumah laba-laba. Sang ibu yang sudah mulai renta hidup di tempat seperti itu. Ia sudah tidak lagi kepikiran persoalan baju baru atau kueh yang mewah-mewah. Tidak sama sekali. Bahkan ia pun tidak mau dapur yang dindingnya mulai lapuk untuk diperbaiki. Ada kenangan masa lalu yang menyebabkan ibu kita menolaknya.

Sang ibu yang sudah renta berjalan pelan-pelan ke dapur. Ia bangun saat anak-anak nya masih tidur. Ia tidak mau mengganggunya. Ia merasa kasihan terhadap anak-anak nya yang baru pulang dari perantauan. Meskipun anak-anak nya sudah punya istri dan anak-anak. Ia sekarang statusnya sudah menjadi seorang nenek. Tapi sang ibu tetap melihat anak-anaknya yang sudah memakai dasi, sudah bekerja di perkantoran, sudah merantau di luar negeri tetap dianggap sebagai anak-anaknya seperti dulu. Sang ibu yang sudah menjadi nenek melihat anak-anak nya sama saat mereka masih kena bentak karena main kelereng tidak pulang pulan. Jika sore hari, tidak juga mandi. Lalu ia menjewer anak-anaknya agar cepat mandi dan berangkat ke Mushola atau Masjid untuk belajar turutan [istilah juz ama’].

Itu sebabnya, saat anak-anak dan cucu-cucunya kumpul, kedua statusnya tersebut sering hilang. Anak-anak nya yang telah jadi ayah dan ibu kembali lagi seperti anak-anak kecil. Sang ibu masih juga memegang centong menambah nasi atau sendok menambah lauk ke piring anak-anaknya.

Bahkan juga saat kita berpamitan ingin kembali lagi ke tempat masing-masing, Sang Ibu tidak lupa menyiapkan buntelan berupa nasi plus lauknya. Kadang juga menyiapkan rengginang yang dimasukan dalam wadah kueh roma atau plastik. Anak-anaknya tidak bisa menolaknya. Sebab mereka menyadari, nasi, lauk dan rengginang adalah hadiah dari Sang Ibu yang telah diberkati dengan doa-doa mustajab. Sehingga anak-anak nya menjadi orang sukses dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Bagi anda yang masih mempunyai orang tua, terutama seorang ibu dan bisa berjumpa di Hari Fitri adalah anugerah yang luarbiasa. Bertemu denganya adalah surga dunia. Tidak ada kebahagiaan yang kekal abadi di dunia kecuali bisa bertemu dengan orang tua. Darinya kita bisa bermanja-manja dan melupakan segala beban persoalan di kantor dan lain-lain.

Bagi anda yang tidak bisa bertemu karena ada persoalan ekonomi atau karena ia sudah meninggal dunia, maka anda bisa membayangkan sifat, sikap dan perbuatan mu saat masih kecil dan saat masih bersama nya. Anda akan menemukan betapa banyak perbuatan-perbuatan yang menyebabkan ibu anda marah, sakit tidak kunjung sembuh. Waktu itu anda mungkin tidak merasakan. Kini anda menyadari atas kekeliruan yang anda lakukan saat itu.

Saat ini anda ingin bertemu. Tapi orang tua telah meninggal. Ingin sekali waktu itu kembali hadir dan ia ada dan ingin meminta maaf kepada nya. Tapi itu tidak mungkin. Masa lalu tidak akan terulang kembali. Satu detik yang telah lalu lebih jauh dari seribu tahun yang akan datang.

Hati lembut anda akan menyebabkan mata anda memerah dan meneteskan air mata. Anda kehilangan kata. Pikiran terasa tumpul dan perasaan semakin tidak karuan. Ada lukisan-lukisan kehidupan yang meningat saat anda bersama dengannya.

Tapi percayalah, ibu yang anda dan kita pernah sakiti adalah malaikat yang diutus untuk memberikan doa terbaik buat kita. Percayalah, ia selalu mengirimkan doa kebaikan tanpa kita memintanya. Jika kita sekarang merasa baik dan sukses, yakinlah itu bagian dari mustajab doa. Jika kita belum merasa baik dalam kehidupan, mungkin kita telah lama melupakan nya dalam penderitaan yang berkepanjangan akibat dari sikap anda yang sangat egosis.

Di hari raya yang fitri ini, panjatkan doa untuk kebaikan orang tua anda. Jika masih hidup dan tidak bisa berjumpa, sempatkanlah silaturahim melalui video call. Gunakan sebaik-baiknya dan mintalah doa kebaikan dari nya.

Semoga kita menemukan Hari Idul Fitri benar-benar membawa keagungan bagi keluarga kita, orang tua kita dan terkhususkan untuk sang ibu yang telah melahirkan kita.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871