Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Matahari Kehidupan



Kamis , 26 Desember 2024



Telah dibaca :  1055

Pada saat moment tertentu, anda mungkin pernah mengalami titik jenuh terhadap segala yang ada di sekitar anda. Jenuh dengan pekerjaan yang belum juga membawa hasil memuaskan. Sudah banyak buku tentang motivasi hidup bahkan juga sudah membaca buku berjudul “Sukses Mulai Dari Nol”, tetap juga masih zonk. Para motivator mulai nasional sampai internasional sudah dipelajari. Sudah banyak buku lemari berjejer seperti buku yang ditulis oleh Mario Teguh, Nick Vujicic, Norman Peale, Anthony Robbins dan masih banyak lagi. Mereka telah menawarkan resep agar terlepas dari himpitan kehidupan. Saya juga pernah menulis buku berjudul “Kunci Sukses Di Lumpur Penderitaan”. Tapi sampai hari ini juga terkadang masih terasa di lembah lumpur penderitaan.

Padahal saya dan anda sudah membaca banyak buku. Tapi kenapa persoalan keluarga, anak, pekerjaan, karir politik, dan aktivitas lainnya terasa sangat semrawut. Kadang seperti kata pepatah “sudah jatuh ketimpa tangga”. Ada saja persoalan hidup. Kadang dalam hati berfikir, kenapa semua ini terjadi pada diriku?

Jika anda pernah membaca tentang kisah nick Vujicic, mungkin akan meneteskan air mata. Ia benar-benar kisah kehidupan nyata. Seorang anak yang terlahir tidak mempunyai tangan dan kaki. Ia mulai sadar saat mulai masuk sekolah dasar. Teman-temanya memandang dengan pandangan sinis. Saat usia bertambah remaja, ia mulai menyadari bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang sangat tidak berguna. Saat orang lain bisa berlari dan berenang serta mempunyai kekasih. Ia harus duduk dan selalu diantar dan taruh di kursi. Ia ingin sekali bunuh diri. Hidup sangat tidak berguna sama sekali.

Jika kita seorang Nick Vujicic mungkin sudah stress tidak sembuh-sembuh, menyendiri, mengurung di kamar dengan segala pikiran negatif. Kita visualisakan saja, seorang Nick Vujicic tidak punya tangan dan kaki. Jika ini terjadi pada diri kita, apa yang akan dilakukan? Apakah kita mempunyai jiwa lemah atau kuat untuk menghadapi realita yang terkadang terasa tidak berpihak pada kita?.

Kita kadang selalu memberi suatu alasan pembelaan dengan kalimat begini: “Anda tidak merasakan betapa menderita diriku”. Banyak kalimat sejenis ini untuk melakukan pembelaan atas kelemahan diri sendiri. Padahal hidup bukan hanya anda yang bermasalah. Kita, mereka dan semua di dunia ini banyak masalah. Bahkan jauh lebih besar masalah. Tapi kenapa mereka bisa tangguh dalam menghadapi persoalan hidup yang super berat?. Kenapa mereka bisa menyikapi super berat dengan sikap biasa-biasa saja. Kalau toh memang berat, tetapi mereka tangguh menyelesaikan? Padahal postur tubuh dan seluruh komponen tidak jauh-jauh beda. Makanan, minuman juga sama, nasi, sayuran, daging, ikan laut dan terkadang seluruh makanan yang ada di nusantara.sama.

Mungkin anda seolah-olah tidak merasakan perubahan meskipun anda banyak membaca buku. Pandangan tersebut tidaklah selalu benar. Buku kisah-kisah kehidupan itu sangat penting saat anda dalam masalah. Saat seorang diri, anda bisa membuka tentang kisah orang-orang yang terpuruk dalam kehidupan dan bisa bangkit lagi. Cari kisah hidup yang jauh lebih menderita dari anda. Sehingga anda akan menemukan komperasi, bahwa di lorong dunia yang gelap ini ada manusia jauh lebih menderita daripada kita. Mereka bisa bangkit, kenapa kita tidak bisa?. Nick Vujicik saja yang tidak punya tangan dan kaki bisa bangkit dan kemudian menerima kenyataan, lalu mengubah diri terus belajar dan terus belajar. Sehingga Tuhan mengangkat derajatnya sebagai seorang pembicara internasional di depan  puluhan ribu orang-orang yang mempunyai tangan dan kaki.

Kita memang perlu menjauhkan diri dari angan-angan kosong agar bisa kaya seperti kisah Penjual Es Teh yang mendadak menjadi jutawan. Kita juga menjauhkan diri dari orang-orang yang memasang lotere dengan sedikit uang dan mendapatkan ratusan juta rupiah atau bahkan milyaran rupiah. Angan-angan yang membuat mu terlena dan mengendurkan semangat untuk bangkit segera berantas dari lintasan pikiran kita.

Kita memang harus merefresh pikiran kita agar jernih tentang siapa kita dan akan kemana hidup kita sesungguhnya. Kita harus melihat secara jernih tentang hakikat orang-orang mulia dalam pandangan Tuhan. Mungkin kita terlalu “ngoyo” tidak bisa membedakan siang dan malam dan dihabiskan untuk mencari penghidupan. Kita mungkin terlalu bersemangat sehingga sangat sulit lagi membedakan tujuan hidup apakah untuk mengumpulkan kekayaan dunia, atau menjadikan kemulyaan di akherat. Kebingungan menentukan prinsip hidup sering terjadi dalam pikiran dan hati kita. Padahal sudah berkali-kali telah membaca Al-Qur’an tentang kisah-kisah manusia yang agung. Padahal kita sudah membaca kisah manusia yang sangat mulia Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra. Baju Sayidina Fatimah banyak “tempelan” karena sudah aus atau rusak. Telapak tangan nya kasar karena sering menimba air dari sumur. Sering tidak ada makanan. Sehingga ia memerintah suaminya mengahadap Nabi Muhammad. Mana tahu ia merasa “trenyuh”, lalu memberi beberapa uang dirham atau seorang atau beberapa orang pembantu agar bisa membantu pekerjaan rumah. Namun bukan dirham atau pembantu yang didapat, tapi bacaan tasbih, tahlil, dan tahmid masing-masing sebanyak 33 kali ketika akan tidur.

Apakah kita lebih mulia dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahro? Tidak. Tidak sama sekali. Kita bukan siapa-siapa. Kita bukan darah biru, kita bukan keturunan nabi. Kita mertua dari manusia biasa saja. Bahkan kadang sangat biasa. Kita dari keluarga yang sebenarnya lahir dari serba kesusahan. Tapi terkadang kita seolah-olah merasa “aneh” dari penderitaan yang ada pada diri kita. Padahal, orang yang sangat mulia seperti Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah harus menahan lapar begitu sering. Bukan hanya sehari. Tapi sangat sering. Hingga suatu saat mereka tidak mempunyai makanana apa-apa. Saat Nabi Muhamad sudah meninggal dunia, mereka berdua menemui Abu Bakar minta bagian khumus. Sayangnya, Abu Bakar tidak memberinya. Mereka berdua pun pulang dengan tangan hampa.

Apakah dengan kekurangan harta keduanya hina dalam pandangan manusia? Tidak. Bahkan Allah semakin mengangkat derajatnya. Tuhan telah memberi anugerah sangat mulia. Dari keturunannya, cahaya Islam terus bersinar sampai sekarang.

Pada masa kemulyaan islam ada sahabat seperti Bilal bin Rabah yang hanya bisa beli Baju seharga Rp. 50.000,00 ada sahabat Utsman yang baju istrinya saja satu helai bisa seharga Rp. 5.000.000,00. Kedua orang ini pekerja keras. Bilal bin Rabah pekerja keras sebagai seorang buruh dan saat waktu sholat sebagai muadzin. Utsman sebagai seorang milyader. Dua biasa duduk bersama. Sangat egaliter. Tidak ada jarak dan tidak ada superior dan inferior. Jabatan dan kekayaan tidak menyebabkan perbedaan status di hadapan nabi. Semua sama dan mendapat fasilitas sama saat mereka berada di masjid dan majelis ilmu.

Rasa-rasanya memang kita hidup sudah mulai terkena virus hubd dunya di alam pikiran kita. Sistem kehidupan benar-benar dibuat secara kapitalisasi. Alam pikiran kita mudah sekali membenarkan bahwa kalau tidak mempunyai kekayaan, uang dan sejenisnya maka tidak bisa berbuat apa-apa. Kita merasa sangat miskin. Sehingga mental pun menjadi mental miskin. Selalu berharap bantuan yang tidak seberapa. Tenaga, pikiran dan cara pandang kita telah dilemahkan secara sistematis oleh paham keduniaan. Hati kita dan pasangan kita telah kehilangan bayang-bayang kisah para nabi seperti Nabi Ayub, Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Bilal, Uwais Al-Qarni dan orang-orang mulia disisi Allah SWT. Seolah-oleh itu hanya sebatas dongeng dan sudah tidak relevan lagi dalam kehidupan saat sekarang ini.

Mari kita belajar untuk melihat para kekasih Allah sebagai matahari kehidupan. Percayalah saat anda memasuki hutan penderitaan di malam hari, semakin gelap semakin besar potensi menemukan cahaya. Sebab perjalan waktu tidak selalu malam, ia akan terus menuju pagi dan kita akan menemukan indah nya sinar matahari dan terasa segar udara di pagi hari. Semoga Allah memberi kekuatan kita untuk bisa bangkit di tahun 2025.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam hakim

Mengingatkan dan Menguatkan.... sungguh kita mesti senantiasa mnjd hamba yg bersyukur..syukron Yai..

Avatar

Muhammad Afdal

Tulisan bapak sangat inspiratif untuk dibaca pak, sehat dan sukses selalu pak waket, Jazakallah Khairun

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872