
Pada saat moment tertentu, anda mungkin pernah mengalami titik
jenuh terhadap segala yang ada di sekitar anda. Jenuh dengan pekerjaan yang
belum juga membawa hasil memuaskan. Sudah banyak buku tentang motivasi hidup
bahkan juga sudah membaca buku berjudul “Sukses Mulai Dari Nol”, tetap juga
masih zonk. Para motivator mulai nasional sampai internasional sudah
dipelajari. Sudah banyak buku lemari berjejer seperti buku yang ditulis oleh Mario
Teguh, Nick Vujicic, Norman Peale, Anthony Robbins dan masih banyak lagi. Mereka
telah menawarkan resep agar terlepas dari himpitan kehidupan. Saya juga pernah
menulis buku berjudul “Kunci Sukses Di Lumpur Penderitaan”. Tapi sampai hari
ini juga terkadang masih terasa di lembah lumpur penderitaan.
Padahal saya dan anda sudah membaca banyak buku. Tapi kenapa persoalan
keluarga, anak, pekerjaan, karir politik, dan aktivitas lainnya terasa sangat
semrawut. Kadang seperti kata pepatah “sudah jatuh ketimpa tangga”. Ada saja
persoalan hidup. Kadang dalam hati berfikir, kenapa semua ini terjadi pada
diriku?
Jika anda pernah membaca tentang kisah nick Vujicic, mungkin akan
meneteskan air mata. Ia benar-benar kisah kehidupan nyata. Seorang anak yang
terlahir tidak mempunyai tangan dan kaki. Ia mulai sadar saat mulai masuk
sekolah dasar. Teman-temanya memandang dengan pandangan sinis. Saat usia
bertambah remaja, ia mulai menyadari bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang
sangat tidak berguna. Saat orang lain bisa berlari dan berenang serta mempunyai
kekasih. Ia harus duduk dan selalu diantar dan taruh di kursi. Ia ingin sekali
bunuh diri. Hidup sangat tidak berguna sama sekali.
Jika kita seorang Nick Vujicic mungkin sudah stress tidak
sembuh-sembuh, menyendiri, mengurung di kamar dengan segala pikiran negatif. Kita
visualisakan saja, seorang Nick Vujicic tidak punya tangan dan kaki. Jika ini
terjadi pada diri kita, apa yang akan dilakukan? Apakah kita mempunyai jiwa
lemah atau kuat untuk menghadapi realita yang terkadang terasa tidak berpihak
pada kita?.
Kita kadang selalu memberi suatu alasan pembelaan dengan kalimat
begini: “Anda tidak merasakan betapa menderita diriku”. Banyak kalimat sejenis
ini untuk melakukan pembelaan atas kelemahan diri sendiri. Padahal hidup bukan
hanya anda yang bermasalah. Kita, mereka dan semua di dunia ini banyak masalah.
Bahkan jauh lebih besar masalah. Tapi kenapa mereka bisa tangguh dalam
menghadapi persoalan hidup yang super berat?. Kenapa mereka bisa menyikapi
super berat dengan sikap biasa-biasa saja. Kalau toh memang berat, tetapi mereka
tangguh menyelesaikan? Padahal postur tubuh dan seluruh komponen tidak jauh-jauh
beda. Makanan, minuman juga sama, nasi, sayuran, daging, ikan laut dan terkadang
seluruh makanan yang ada di nusantara.sama.
Mungkin anda seolah-olah tidak merasakan perubahan meskipun anda
banyak membaca buku. Pandangan tersebut tidaklah selalu benar. Buku kisah-kisah
kehidupan itu sangat penting saat anda dalam masalah. Saat seorang diri, anda
bisa membuka tentang kisah orang-orang yang terpuruk dalam kehidupan dan bisa
bangkit lagi. Cari kisah hidup yang jauh lebih menderita dari anda. Sehingga anda
akan menemukan komperasi, bahwa di lorong dunia yang gelap ini ada manusia jauh
lebih menderita daripada kita. Mereka bisa bangkit, kenapa kita tidak bisa?. Nick
Vujicik saja yang tidak punya tangan dan kaki bisa bangkit dan kemudian
menerima kenyataan, lalu mengubah diri terus belajar dan terus belajar. Sehingga
Tuhan mengangkat derajatnya sebagai seorang pembicara internasional di depan puluhan ribu orang-orang yang mempunyai tangan
dan kaki.
Kita memang perlu menjauhkan diri dari angan-angan kosong agar bisa
kaya seperti kisah Penjual Es Teh yang mendadak menjadi jutawan. Kita juga
menjauhkan diri dari orang-orang yang memasang lotere dengan sedikit uang dan
mendapatkan ratusan juta rupiah atau bahkan milyaran rupiah. Angan-angan yang
membuat mu terlena dan mengendurkan semangat untuk bangkit segera berantas dari
lintasan pikiran kita.
Kita memang harus merefresh pikiran kita agar jernih tentang siapa kita
dan akan kemana hidup kita sesungguhnya. Kita harus melihat secara jernih
tentang hakikat orang-orang mulia dalam pandangan Tuhan. Mungkin kita terlalu “ngoyo”
tidak bisa membedakan siang dan malam dan dihabiskan untuk mencari penghidupan.
Kita mungkin terlalu bersemangat sehingga sangat sulit lagi membedakan tujuan
hidup apakah untuk mengumpulkan kekayaan dunia, atau menjadikan kemulyaan di
akherat. Kebingungan menentukan prinsip hidup sering terjadi dalam pikiran dan
hati kita. Padahal sudah berkali-kali telah membaca Al-Qur’an tentang
kisah-kisah manusia yang agung. Padahal kita sudah membaca kisah manusia yang sangat
mulia Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahra. Baju Sayidina Fatimah banyak
“tempelan” karena sudah aus atau rusak. Telapak tangan nya kasar karena
sering menimba air dari sumur. Sering tidak ada makanan. Sehingga ia memerintah
suaminya mengahadap Nabi Muhammad. Mana tahu ia merasa “trenyuh”, lalu
memberi beberapa uang dirham atau seorang atau beberapa orang pembantu agar
bisa membantu pekerjaan rumah. Namun bukan dirham atau pembantu yang didapat,
tapi bacaan tasbih, tahlil, dan tahmid masing-masing sebanyak 33 kali ketika akan
tidur.
Apakah kita lebih mulia dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Zahro? Tidak.
Tidak sama sekali. Kita bukan siapa-siapa. Kita bukan darah biru, kita bukan
keturunan nabi. Kita mertua dari manusia biasa saja. Bahkan kadang sangat
biasa. Kita dari keluarga yang sebenarnya lahir dari serba kesusahan. Tapi terkadang
kita seolah-olah merasa “aneh” dari penderitaan yang ada pada diri kita.
Padahal, orang yang sangat mulia seperti Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah harus
menahan lapar begitu sering. Bukan hanya sehari. Tapi sangat sering. Hingga suatu
saat mereka tidak mempunyai makanana apa-apa. Saat Nabi Muhamad sudah meninggal
dunia, mereka berdua menemui Abu Bakar minta bagian khumus. Sayangnya, Abu
Bakar tidak memberinya. Mereka berdua pun pulang dengan tangan hampa.
Apakah dengan kekurangan harta keduanya hina dalam pandangan
manusia? Tidak. Bahkan Allah semakin mengangkat derajatnya. Tuhan telah memberi
anugerah sangat mulia. Dari keturunannya, cahaya Islam terus bersinar sampai
sekarang.
Pada masa kemulyaan islam ada sahabat seperti Bilal bin Rabah yang
hanya bisa beli Baju seharga Rp. 50.000,00 ada sahabat Utsman yang baju
istrinya saja satu helai bisa seharga Rp. 5.000.000,00. Kedua orang ini pekerja
keras. Bilal bin Rabah pekerja keras sebagai seorang buruh dan saat waktu
sholat sebagai muadzin. Utsman sebagai seorang milyader. Dua
biasa duduk bersama. Sangat egaliter. Tidak ada jarak dan tidak ada superior
dan inferior. Jabatan dan kekayaan tidak menyebabkan perbedaan status di
hadapan nabi. Semua sama dan mendapat fasilitas sama saat mereka berada di
masjid dan majelis ilmu.
Rasa-rasanya memang kita hidup sudah mulai terkena virus hubd dunya
di alam pikiran kita. Sistem kehidupan benar-benar dibuat secara kapitalisasi. Alam
pikiran kita mudah sekali membenarkan bahwa kalau tidak mempunyai kekayaan,
uang dan sejenisnya maka tidak bisa berbuat apa-apa. Kita merasa sangat miskin.
Sehingga mental pun menjadi mental miskin. Selalu berharap bantuan yang tidak
seberapa. Tenaga, pikiran dan cara pandang kita telah dilemahkan secara
sistematis oleh paham keduniaan. Hati kita dan pasangan kita telah kehilangan
bayang-bayang kisah para nabi seperti Nabi Ayub, Nabi Muhammad, Ali bin Abi
Thalib, Bilal, Uwais Al-Qarni dan orang-orang mulia disisi Allah SWT. Seolah-oleh
itu hanya sebatas dongeng dan sudah tidak relevan lagi dalam kehidupan saat
sekarang ini.
Mari kita belajar untuk melihat para kekasih Allah sebagai matahari
kehidupan. Percayalah saat anda memasuki hutan penderitaan di malam hari,
semakin gelap semakin besar potensi menemukan cahaya. Sebab perjalan waktu
tidak selalu malam, ia akan terus menuju pagi dan kita akan menemukan indah nya
sinar matahari dan terasa segar udara di pagi hari. Semoga Allah memberi
kekuatan kita untuk bisa bangkit di tahun 2025.
Penulis : Imam Ghozali
Imam hakim
Mengingatkan dan Menguatkan.... sungguh kita mesti senantiasa mnjd hamba yg bersyukur..syukron Yai..
Muhammad Afdal
Tulisan bapak sangat inspiratif untuk dibaca pak, sehat dan sukses selalu pak waket, Jazakallah Khairun
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872