Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mbah Kholil Bisri dan Prof Nasarudin Umar; Membuat Sejarah



Selasa , 17 Desember 2024



Telah dibaca :  671

Malam lembur menyelesaikan tugas hingga tengah malam. Pagi terasa ngantuk. Setelah sholat subuh, langsung mengikuti zoom dengan Menteri Agama dalam tema “Reformasi Birokrasi Melalui Manajemen Talenta”. Mulai zoom jam 06.00. Para Petinggi Kementrian Agama dari Indonesia timur jam 6 sudah siang. Sudah selesai sarapan.  Wilayah  Aceh masih subuh.  Masih pegang tasbih. Belum sarapan. Yang pas itu di Riau. Tidak siang tidak juga subuh. Jadi pas zoom sambil sarapan dan ngopi. Ingin merokok. Takut asapnya sampai di Kementrian Agama Pusat.

Prof Nasarudin Umar menyampaikan paparan sangat bagus. Saya memberi istilah “manajemen sufistik”. Itu istilah ku. Jika toh salah, tidak apa-apa. Sebab kata pak menteri, kita harus berani ber-ijtihad untuk kebaikan institusi yang terkadang terjebak dengan angka-angka dan istilah-istilah, juga harus bisa menjadi rahmat lil alamin. Jadi melakukan reformasi tidak sebatas pada tataran intelektual, tapi juga harus merambah pada tataran spiritual (An-Naisabury, 1997).

Mengapa saya menyebutnya sebagai seorang menteri dengan pendekatan demikian? Karena tugas nya. Bayangkan saja, tugas dari kementrian bukan hanya ngurus akreditasi institusi dan prodi, juga harus bisa melahirkan akreditasi bumi pertiwi menuju grade unggul. Itu ada pada kementrian agama. Jika kementrian pendidikan tetangga, kelihatannya hanya sebatas melahirkan produk dasarnya skill dan ilmu pengetahuan serta bersifat duniawiyah. Perguruan tinggi dan kementrian agama dari atas sampai bawah harus bisa memproduk masyarakat yang berakhlakul karimah, berkarakter baik dan mempunyai etos kerja yang tinggi.

Anda tentu tahu yang di maksud masyarakat. Lihat saja sekeliling anda, saat anda naik mobil, angkot atau bus damri. Anda akan melihat ada orang berdasi yang rambut nya licin ganteng, ibu-ibu penjual koran, bapak-bapak membersihkan kaca mobil, dan para pengamen yang suara nya sangat memekikan telinga mengalahkan suara Rocker  Bon Jovi.

Penulis kadang berfikir kementrian agama itu seperti seorang kyai atau ustadz. Saya sendiri kadang dipanggil buya, kyai, ulama,ustadz gara-gara “pernah ngisi kultum ibu-ibu” atau jadi khatib di salah satu masjid. Kebetulan juga saya pernah menjadi pengasuh pesantren, ketua MUI dan ormas agama. Klop. Orang melihatku sholeh. Manusia setengah dewa. Berkahnya, orang datang ke rumah; ada anak nya rewel nangis terus minta air putih biar sembuh. Ada orang tua datang karena anaknya mau nikah agar tidak hujan dan acara bisa berjalan dengan baik. Walhasil, saya sudah benar-benar manusia “serba guna” di atas sedikit dari “Barisan Ansor Serba Guna” atau Banser. Kalau banser ngawal kyai dan bencana alam, serta harus berdiri tegak kalau ada acara pengajian ataupun sejenisnya. Saya lebih besar lagi, bencana orang mau melahirkan dan “tidak keluar-keluar” dari rahim pun datang kepada ku. Minta air putih agar segera keluar. Ironisnya, setelah dikasih air putih dan diminum oleh ibu tadi, bayi pun keluar dari rahim dengan selamat. Kadang saya berfikir dan ingin tertawa. Dalam hati berkata: Saya kok hidup seperti Abu Nawas. Jangan-jangan saya juga keturunan “peang penjol” atau “si ramli”.

Saya harus menjadi manusia sempurna model mereka bukan model saya. Sulit. Itu sebabnya, saya ingat dawuh K.H. Kholil Bisri (Pengasuh Pesantren Raudhatutholibin Rembang) saat ia masih sugeng. Ketika ngisi pengajian ia pernah dawuh sambil guyonan, begini: “Susah menjadi kyai,ingin pergi ke Pasar jualan kelapa, tiba-tiba ada orang bilang begini: kyai kok jualan kelapa, memangnya tidak ada jadwal ngaji?”. Ketika ingin makan di warung seperti kebanyakan orang, ada komentar “Kyai kok makan di warung, seperti tidak membaca hadist nabi”. Ingin makan di rumah: “Kyai kok tidak bermasyarakat, padahal masyarakat butuh sentuhannya”. Lalu kyai berkumpul dengan masyarakat dan duduk dengan para pemain lacak, ada komentar lagi: “Kyai kok tidak menjaga diri sebagai seorang ulama, malah merendah kan diri duduk-duduk dengan orang yang tidak jelas”. Bayangkan anda dan kita sebagai kyai, bisa “bludreg”. Semua serba salah. Ini baru komentar dari masyarakat, belum dibentak istri dan anak-anak minta duit jajan.

Sebagai seorang sufistik, kyai menteri agama ini memang ingin melihat dunia ini baik-baik saja. Kementrian agama sebagai penyangga kehidupan beragama di Indonesia harus bisa memberikan sumbangsih nilai-nilai kebaikan dan harapannya bisa “merembes” serta membasaih hati-hati orang di luar kementrian agama. Cita-cita yang sangat luhur. Dan tentu banyak tantangan, terutama dalam kontek manajemen qalbu model AA Gym, setiap personal di instansi kementrian agama mampu mengamalkan lagu “Jagalah Hati” milik Pengasuh Pesantren Darut Tauhid. Dan anda sudah tahu, orang yang paling hebat menjaga hati, adalah AA Gym. Tapi hanya melakukan poligami saja, dikira tidak bisa menjaga hati. Padahal sesuai dengan syariat Islam. Dan anda sudah tahu akibat nya khan?

Kita di kementrian agama “ngantuk” sedikit saja akan terkena sanksi sosial yang jauh lebih besar dari orang-orang di luar sana yang “teler” dipinggir jalan. Dari sini kita semakin memahami bahwa kadang antara “keinginan kementrian agama” dan “harapan dari masyarakat di luar sana” tidak serta-merta berbanding lurus dengan realita yang ada. Masyarakat terkadang tidak menyadari bahwa manusia di kementrian agama juga “basyarun mislukum”, kadang tidur, marah, emosi, ada rasa cinta, bukan malaikat, ada dosa dan sejenisnya. Mereka terkadang tidak menerima itu. Tutup Mata. Mereka ingin orang-orang kementrian menjadi orang suci “versi mereka” bukan versi sebagai manusia yang ada kelebihan dan kelemahan. Dari sini, beban psikologis jelas menjadi sangat berat bagi kementrian agama untuk bisa menerapkan diri sebagai kelompok penyebar risalah di tengah-tengah masyarakat. Meminjam istilah Menteri sebagai bagian dari  tugas “dakwah”.

Meskipun demikian, apa yang disampaikan oleh kyai menteri agama di pertemuan zoom pagi ini harus tetap dilihat sebagai evaluasi diri untuk semakin memperbaiki masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan. Reformasi formatif dan bersifat syariat dalam tataran administrasi memang sangat di butuhkan dalam rangka bisa melakukan akselerasi kementrian sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi” di kancah global. Salah satu modal yang harus dipersiapkan yaitu memperkuat kualitas spiritual diri untuk mengenal secara tepat arah kehidupan kita dan kerja kita hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah. Karena melalui proses ini sebenarnya proses menuju apa yang disebut olah Al-Farabi Sebagai Al-Madinah Al-Fadilah (Af-Farabi, t.t) bisa terwujud. Dan Langkah itu dimulai dari kementrian agama. Sebab modal konsep tata pemerintahan seperti itu ada pada kementrian agama, tidak pada kementrian lainnya.

Apa tujuannya? Kata pak menteri agar kita bisa menciptakan sejarah atau membuat sejarah. Penulis artikel ini sangat setuju. Apa artinya kita hidup dan bekerja jika tidak mampu meninggalkan karya yang bisa memberi manfaat kepada orang banyak. Orang-orang besar yang hebat-hebat lahir dari perjuangan yang sangat hebat. Meeka sukses bukan karena lengkap fasilitas hidup dan penuh dengan gemerlap dunia. Tidak. Tidak sama sekali. Para nabi, agamawan, dan pemimpin besar lahir dari kemiskinan dan penderitaan. Tuhan memang sengaja menciptakan mereka dengan segala keterbatasan hidup dan tangisan penderitaan yang mendalam. Sebab Tuhan ingin mengatahui sejauh mana mereka bisa melihat penderitaan sebagai “anugerah” bukan sebagai penderitaan. Tuhan ingin melihat hamba-hamba-Nya saat mendapatkan penderitaan dan rintangan mereka berkata: “Duhai Tuhan ku, terima kasih atas segala penderitaan dan rintangan ini. Semoga kami mampu mempersembahkan karya terbaik di hadapan-Mu. Semoga kami kuat untuk melakukan tugas besar yang diamanatkan oleh MU kepada ku”.

Saya kira dari cara pandang seperti ini, para nabi dan pemimpin lahir dan menjadi pengubah peradaban dunia. Dan kita dalam segala keterbatasan bisa melakukan perubahan yang bisa menghasilkan karya positif. Bukankah karya sastra lahir mempunyai nilai tertinggi berasal dari tumpukan penderitaan yang berkepanjangan bukan? Dan kita bisa berprestasi lebih baik lagi pada bidang masing-masing.

Terima kasih pak menteri atas ilmu dan wejangannya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872