
Malam lembur menyelesaikan tugas hingga tengah malam. Pagi terasa
ngantuk. Setelah sholat subuh, langsung mengikuti zoom dengan Menteri
Agama dalam tema “Reformasi Birokrasi Melalui Manajemen Talenta”. Mulai zoom
jam 06.00. Para Petinggi Kementrian Agama dari Indonesia timur jam 6 sudah
siang. Sudah selesai sarapan. Wilayah Aceh masih subuh. Masih pegang tasbih. Belum sarapan. Yang pas
itu di Riau. Tidak siang tidak juga subuh. Jadi pas zoom sambil sarapan dan
ngopi. Ingin merokok. Takut asapnya sampai di Kementrian Agama Pusat.
Prof Nasarudin Umar menyampaikan paparan sangat bagus. Saya memberi
istilah “manajemen sufistik”. Itu istilah ku. Jika toh salah, tidak
apa-apa. Sebab kata pak menteri, kita harus berani ber-ijtihad untuk kebaikan institusi
yang terkadang terjebak dengan angka-angka dan istilah-istilah, juga harus bisa
menjadi rahmat lil alamin. Jadi melakukan reformasi tidak sebatas pada tataran
intelektual, tapi juga harus merambah pada tataran spiritual
Mengapa saya menyebutnya sebagai seorang menteri dengan pendekatan
demikian? Karena tugas nya. Bayangkan saja, tugas dari kementrian bukan hanya
ngurus akreditasi institusi dan prodi, juga harus bisa melahirkan akreditasi
bumi pertiwi menuju grade unggul. Itu ada pada kementrian agama. Jika kementrian
pendidikan tetangga, kelihatannya hanya sebatas melahirkan produk dasarnya
skill dan ilmu pengetahuan serta bersifat duniawiyah. Perguruan tinggi dan
kementrian agama dari atas sampai bawah harus bisa memproduk masyarakat yang
berakhlakul karimah, berkarakter baik dan mempunyai etos kerja yang tinggi.
Anda tentu tahu yang di maksud masyarakat. Lihat saja sekeliling
anda, saat anda naik mobil, angkot atau bus damri. Anda akan melihat ada orang
berdasi yang rambut nya licin ganteng, ibu-ibu penjual koran, bapak-bapak
membersihkan kaca mobil, dan para pengamen yang suara nya sangat memekikan
telinga mengalahkan suara Rocker Bon
Jovi.
Penulis kadang berfikir kementrian agama itu seperti seorang kyai
atau ustadz. Saya sendiri kadang dipanggil buya, kyai, ulama,ustadz gara-gara “pernah
ngisi kultum ibu-ibu” atau jadi khatib di salah satu masjid. Kebetulan juga
saya pernah menjadi pengasuh pesantren, ketua MUI dan ormas agama. Klop. Orang melihatku
sholeh. Manusia setengah dewa. Berkahnya, orang datang ke rumah; ada anak nya
rewel nangis terus minta air putih biar sembuh. Ada orang tua datang karena
anaknya mau nikah agar tidak hujan dan acara bisa berjalan dengan baik. Walhasil,
saya sudah benar-benar manusia “serba guna” di atas sedikit dari “Barisan Ansor
Serba Guna” atau Banser. Kalau banser ngawal kyai dan bencana alam, serta harus
berdiri tegak kalau ada acara pengajian ataupun sejenisnya. Saya lebih besar
lagi, bencana orang mau melahirkan dan “tidak keluar-keluar” dari rahim pun
datang kepada ku. Minta air putih agar segera keluar. Ironisnya, setelah
dikasih air putih dan diminum oleh ibu tadi, bayi pun keluar dari rahim dengan
selamat. Kadang saya berfikir dan ingin tertawa. Dalam hati berkata: Saya kok
hidup seperti Abu Nawas. Jangan-jangan saya juga keturunan “peang penjol”
atau “si ramli”.
Saya harus menjadi manusia sempurna model mereka bukan model saya. Sulit.
Itu sebabnya, saya ingat dawuh K.H. Kholil Bisri (Pengasuh Pesantren
Raudhatutholibin Rembang) saat ia masih sugeng. Ketika ngisi pengajian ia
pernah dawuh sambil guyonan, begini: “Susah menjadi kyai,ingin pergi ke Pasar
jualan kelapa, tiba-tiba ada orang bilang begini: kyai kok jualan kelapa,
memangnya tidak ada jadwal ngaji?”. Ketika ingin makan di warung seperti
kebanyakan orang, ada komentar “Kyai kok makan di warung, seperti tidak membaca
hadist nabi”. Ingin makan di rumah: “Kyai kok tidak bermasyarakat, padahal masyarakat
butuh sentuhannya”. Lalu kyai berkumpul dengan masyarakat dan duduk dengan para
pemain lacak, ada komentar lagi: “Kyai kok tidak menjaga diri sebagai seorang
ulama, malah merendah kan diri duduk-duduk dengan orang yang tidak jelas”. Bayangkan
anda dan kita sebagai kyai, bisa “bludreg”. Semua serba salah. Ini baru
komentar dari masyarakat, belum dibentak istri dan anak-anak minta duit jajan.
Sebagai seorang sufistik, kyai menteri agama ini memang ingin
melihat dunia ini baik-baik saja. Kementrian agama sebagai penyangga kehidupan
beragama di Indonesia harus bisa memberikan sumbangsih nilai-nilai kebaikan dan
harapannya bisa “merembes” serta membasaih hati-hati orang di luar
kementrian agama. Cita-cita yang sangat luhur. Dan tentu banyak tantangan,
terutama dalam kontek manajemen qalbu model AA Gym, setiap personal di
instansi kementrian agama mampu mengamalkan lagu “Jagalah Hati” milik Pengasuh
Pesantren Darut Tauhid. Dan anda sudah tahu, orang yang paling hebat menjaga
hati, adalah AA Gym. Tapi hanya melakukan poligami saja, dikira tidak bisa
menjaga hati. Padahal sesuai dengan syariat Islam. Dan anda sudah tahu akibat nya
khan?
Kita di kementrian agama “ngantuk” sedikit saja akan terkena
sanksi sosial yang jauh lebih besar dari orang-orang di luar sana yang “teler”
dipinggir jalan. Dari sini kita semakin memahami bahwa kadang antara “keinginan
kementrian agama” dan “harapan dari masyarakat di luar sana” tidak serta-merta
berbanding lurus dengan realita yang ada. Masyarakat terkadang tidak menyadari
bahwa manusia di kementrian agama juga “basyarun mislukum”, kadang
tidur, marah, emosi, ada rasa cinta, bukan malaikat, ada dosa dan sejenisnya. Mereka
terkadang tidak menerima itu. Tutup Mata. Mereka ingin orang-orang kementrian menjadi
orang suci “versi mereka” bukan versi sebagai manusia yang ada kelebihan dan kelemahan.
Dari sini, beban psikologis jelas menjadi sangat berat bagi kementrian agama
untuk bisa menerapkan diri sebagai kelompok penyebar risalah di tengah-tengah masyarakat.
Meminjam istilah Menteri sebagai bagian dari tugas “dakwah”.
Meskipun demikian, apa yang disampaikan oleh kyai menteri agama di
pertemuan zoom pagi ini harus tetap dilihat sebagai evaluasi diri untuk semakin
memperbaiki masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan. Reformasi formatif
dan bersifat syariat dalam tataran administrasi memang sangat di butuhkan dalam
rangka bisa melakukan akselerasi kementrian sebagai “ya’ulu wala yu’la
‘alaihi” di kancah global. Salah satu modal yang harus dipersiapkan yaitu
memperkuat kualitas spiritual diri untuk mengenal secara tepat arah kehidupan
kita dan kerja kita hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah. Karena melalui
proses ini sebenarnya proses menuju apa yang disebut olah Al-Farabi Sebagai
Al-Madinah Al-Fadilah
Apa tujuannya? Kata pak menteri agar kita bisa menciptakan sejarah atau
membuat sejarah. Penulis artikel ini sangat setuju. Apa artinya kita hidup dan
bekerja jika tidak mampu meninggalkan karya yang bisa memberi manfaat kepada
orang banyak. Orang-orang besar yang hebat-hebat lahir dari perjuangan yang
sangat hebat. Meeka sukses bukan karena lengkap fasilitas hidup dan penuh
dengan gemerlap dunia. Tidak. Tidak sama sekali. Para nabi, agamawan, dan
pemimpin besar lahir dari kemiskinan dan penderitaan. Tuhan memang sengaja
menciptakan mereka dengan segala keterbatasan hidup dan tangisan penderitaan
yang mendalam. Sebab Tuhan ingin mengatahui sejauh mana mereka bisa melihat
penderitaan sebagai “anugerah” bukan sebagai penderitaan. Tuhan ingin melihat
hamba-hamba-Nya saat mendapatkan penderitaan dan rintangan mereka berkata: “Duhai
Tuhan ku, terima kasih atas segala penderitaan dan rintangan ini. Semoga kami
mampu mempersembahkan karya terbaik di hadapan-Mu. Semoga kami kuat untuk
melakukan tugas besar yang diamanatkan oleh MU kepada ku”.
Saya kira dari cara pandang seperti ini, para nabi dan pemimpin
lahir dan menjadi pengubah peradaban dunia. Dan kita dalam segala keterbatasan
bisa melakukan perubahan yang bisa menghasilkan karya positif. Bukankah karya
sastra lahir mempunyai nilai tertinggi berasal dari tumpukan penderitaan yang
berkepanjangan bukan? Dan kita bisa berprestasi lebih baik lagi pada bidang masing-masing.
Terima kasih pak menteri atas ilmu dan wejangannya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872