Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mbah Parmin dan Harlah NU



Selasa , 07 Februari 2023



Telah dibaca :  409

Saat saya datang ke rumah mbah parmin, dia sedang duduk di Kursi Kayu Panjang [Jawa : Risban]. Dia mempersilahkan aku duduk disampingnya. Saya melihat dia memegang bendera NU yang sudah lusuh. Warna pun sudah mulai memudar.  Entah sudah berapa tahun usianya. Mungkin unda-undi dengan mbah parmin yang sudah memasuki usia 78. Namun demikian, pendengaran nya termasuk normal. Mata sudah sedikit kabur. Ucapannya masih jelas, walaupun tidak seperti saat masih muda.

“Nak Ahmad, ini harta yang tersisa saya, dan kenangan yang tidak bisa dilupakan saat saya ikut Mukhamar NU di Yogyakarta” kata Mbah Parmin membuka pembicaraan pagi itu.

Dia melanjutkan pembicaraanya:

“Waktu itu saya Banser. Setelah bekerja satu bulan, akhirnya mbah bisa beli baju banser. Lalu saya dan kawan-kawan mendapatkan tugas untuk menjaga di area sekitar Muktamar saya terasa bangga sekali bisa menjaga dan mengamankan acara Muktamar di Pesantren Krapyak.

“Mbah parmin waktu itu umur berapa?” Tanya ku

“Sekitat 44 tahun. Anak sudah tiga” jawabnya singkat.

Mbah Parmin mengambil Tembakau. Diusia hampir satu abad, masih juga melakukan kebiasaan lama, yaitu nglinting tembakau campur klembak dan kemenyan.  Saat saya suguhi poster gambar tentang bahaya rokok yang tertulis kalimat “ merokok membunuh mu!!”, dengan enteng dia menjawab: “ora opo-opo membunuh mu, sing penting orang mateni aku” katanya bergurau.

Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta menjadi catatan penting tentang hubungan NU dan pemerintah yang kurang harmonis. Soeharto melakukan fusi partai politik. Partai nu melebur ke Partai PPP. Akhirnya Gus Dur melakukan langkah politik, yaitu mengembalikan NU ke Khittah 1926.

 “Bagaimana situasi Muktamar waktu itu mbah” tanyaku.

“Menegangkan. Mbah Dur [Gus Dur-pen] ora akur karo Pak Harto. Tapi Banser dan para kiai solid di bawah kepemimpinan mbah dur nak. Itu yang menyebabkan saya dan kawan-kawan bangga menjadi Banser. Mati-urip nderek NU” jawab Mbah Parmin dengan nada semangat.

Wajahnya ceria, mulutnya tersenyum. ada kenangan indah yang yang tidak disebutkan. Rokok lintingan yang terus mengepul asapnya. Kadang diselilingi kopi pekat tanpa gula. Entah apakah nikmat rasanya. Namun saya melihat Mbah Parmin diusia senja ini masih merasakan bahagia dan bangga saat bercerita tentang perjuangan dia dan kawan-kawanya serta generasi sebelumnya saat menumpas gerakan G30S/PKI.

Saya tidak berani bertanya. Saya tidak ingin mengganggu khayalan indah yang membahagiakan dirinya. Namun tanpa kuduga, dia pun bertanya kepadaku:

“Nak Ahmad Tidak Ke Sidoarjo?”

“Acara apa Mbah?” tanyaku balik pura-pura tidak mengetahui tentang harlah NU ke-100.

“lhoo, besok khan harlah NU ke-100” jawabnya.

“Tidak punya duit mbah. Ingin sih saya pergi kesana. Tapi gimana mbah, tugas banyak duit cupet. Dan anak-anak pun sudah minta kiriman. Ada yang sudah kuliah, mondok, dan masih SD” jawabkau menjelaskan secara panjang lebar.

Tiba-tiba muka Mbah Parmin berubah. Terlihat sedih. Tidak ada kalimat yang keluar. Dia mengambil gelas kopi, lalu meminumnya wedang kopi yang tinggal sisa-sisa ampasnya.

Mbah parmin berkata:

“Nak Ahmad, sepirit perjuangan itu bermacam-macam bentuknya. Bersyukur mereka yang bisa hadir. Kita yang tidak hadir tetap tabarukan dengan cara kita masing-masing. Semoga bisa menata niatnya sesuai dengan pesan para muasisnya yaitu menghidupkan NU, ngurip-ngurip NU, bukan  mencari penghidupan di NU” kata Mbah Parmin.

“Maksudnya gimana Mbah?” Tanya ku kurang paham.

Melu NU berat. Berbakti ngurip-ngurip NU seperti bagian dari pasukan Thalut saat melawan Jalut. Tahukah kamu, dulu pasukan Thalut sangat banyak. Hampir sebanding dengan pasukan Jalut. Namun saat latihan perang di Gurun Pasir yang panas dan menyengat, pasukan Thalut kehausan. Thalut berpesan bahwa saat melintasi lautan tidak boleh minum, basuh muka dan mandi boleh. Akhirnya sebagian besar tidak memperdulikan intruksi pimpinan. Mereka pun langsung ‘nyemplung’ mandi, dan minum sepuas-puasnya. Akibatnya, saat mereka keluar dari sungai, mayoritas pasukan Thalut lemas, tidak bertanaga dan sakit hingga meninggal dunia. akhirnya hanya puluhan orang saja yang masih hidup, sehat dan disiplin mengikuti perintah Thalut.” Kata Mbah Parmin menjelaskan panjang lebar.

Saya diam mendengarkan sambil manggut-manggut kepala. Saya ingin bertanya kepadanya, namun sudah kedahuluan mbah parmin ngomong lagi:

“Jadilah kader yang militan, disiplin sebagaimana pesan Muassis NU. Untuk menunjukan cinta kepada NU tidak harus pergi ke harlah di Sidoarjo.  Kecintaan kepada NU disini [menunjuk ke dada] dan diaplikasikan dalam gerakan jamaah dan jam’iyah sehari-hari. Apapun kedudukanmu, semua sama. Sebab kekuatan sebuah perjuangan adalah ketika ia lahir dari kecintaan yang paling mendalam. Semoga Nak Ahmad termasuk kader yang demikian” kata Mbah Parmin.

Saya pun mengamini doa yang diberikan oleh Mbah Parmin.

Dari jauh terdengar sayup-sayup anak-anak menyanyikan lagu yalal wathan, Sholawat Nahdiyah dan Mars Harlah NU. Entah kenapa, setelah mendengar kisah tentang NU dari Mbah Parmin, mendengar lagu-lagu tadi menyebabkan saya larut dalam tangisan yang mendalam ingin mengabdi kepada NU. Mungkin karena sebelumnya masih kurang benar niatnya. Kini setelah mendengar Mbah Parmin seorang tua renta dan kerja setiap hari hanya buruh lepas yang sudah pensiun bisa mencintai ulama sedalam itu. Sedangkan saya adalah orang-orang yang terdidik, namun justru belum memamahi dan menikmati ladzatnya mencintai para muassis dan ajaranya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884