
Saat saya datang ke rumah mbah parmin, dia
sedang duduk di Kursi Kayu Panjang [Jawa : Risban]. Dia mempersilahkan aku
duduk disampingnya. Saya melihat dia memegang bendera NU yang sudah lusuh. Warna
pun sudah mulai memudar. Entah sudah berapa
tahun usianya. Mungkin unda-undi dengan mbah parmin yang sudah memasuki usia 78.
Namun demikian, pendengaran nya termasuk normal. Mata sudah sedikit kabur. Ucapannya
masih jelas, walaupun tidak seperti saat masih muda.
“Nak Ahmad, ini harta yang tersisa saya,
dan kenangan yang tidak bisa dilupakan saat saya ikut Mukhamar NU di
Yogyakarta” kata Mbah Parmin membuka pembicaraan pagi itu.
Dia melanjutkan pembicaraanya:
“Waktu itu saya Banser. Setelah bekerja
satu bulan, akhirnya mbah bisa beli baju banser. Lalu saya dan kawan-kawan
mendapatkan tugas untuk menjaga di area sekitar Muktamar saya terasa bangga
sekali bisa menjaga dan mengamankan acara Muktamar di Pesantren Krapyak.
“Mbah parmin waktu itu umur berapa?” Tanya
ku
“Sekitat 44 tahun. Anak sudah tiga” jawabnya
singkat.
Mbah Parmin mengambil Tembakau. Diusia hampir
satu abad, masih juga melakukan kebiasaan lama, yaitu nglinting tembakau
campur klembak dan kemenyan. Saat saya suguhi poster gambar tentang bahaya
rokok yang tertulis kalimat “ merokok membunuh mu!!”, dengan enteng dia
menjawab: “ora opo-opo membunuh mu, sing penting orang mateni aku”
katanya bergurau.
Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta menjadi catatan
penting tentang hubungan NU dan pemerintah yang kurang harmonis. Soeharto melakukan
fusi partai politik. Partai nu melebur ke Partai PPP. Akhirnya Gus Dur
melakukan langkah politik, yaitu mengembalikan NU ke Khittah 1926.
“Bagaimana
situasi Muktamar waktu itu mbah” tanyaku.
“Menegangkan. Mbah Dur [Gus Dur-pen] ora
akur karo Pak Harto. Tapi Banser dan para kiai solid di bawah kepemimpinan mbah
dur nak. Itu yang menyebabkan saya dan kawan-kawan bangga menjadi Banser. Mati-urip
nderek NU” jawab Mbah Parmin dengan nada semangat.
Wajahnya ceria, mulutnya tersenyum. ada
kenangan indah yang yang tidak disebutkan. Rokok lintingan yang terus mengepul
asapnya. Kadang diselilingi kopi pekat tanpa gula. Entah apakah nikmat rasanya.
Namun saya melihat Mbah Parmin diusia senja ini masih merasakan bahagia dan
bangga saat bercerita tentang perjuangan dia dan kawan-kawanya serta generasi
sebelumnya saat menumpas gerakan G30S/PKI.
Saya tidak berani bertanya. Saya tidak
ingin mengganggu khayalan indah yang membahagiakan dirinya. Namun tanpa kuduga,
dia pun bertanya kepadaku:
“Nak Ahmad Tidak Ke Sidoarjo?”
“Acara apa Mbah?” tanyaku balik pura-pura
tidak mengetahui tentang harlah NU ke-100.
“lhoo, besok khan harlah NU ke-100”
jawabnya.
“Tidak punya duit mbah. Ingin sih saya
pergi kesana. Tapi gimana mbah, tugas banyak duit cupet. Dan anak-anak pun
sudah minta kiriman. Ada yang sudah kuliah, mondok, dan masih SD” jawabkau
menjelaskan secara panjang lebar.
Tiba-tiba muka Mbah Parmin berubah.
Terlihat sedih. Tidak ada kalimat yang keluar. Dia mengambil gelas kopi, lalu
meminumnya wedang kopi yang tinggal sisa-sisa ampasnya.
Mbah parmin berkata:
“Nak Ahmad, sepirit perjuangan itu bermacam-macam
bentuknya. Bersyukur mereka yang bisa hadir. Kita yang tidak hadir tetap tabarukan
dengan cara kita masing-masing. Semoga bisa menata niatnya sesuai dengan pesan
para muasisnya yaitu menghidupkan NU, ngurip-ngurip NU, bukan mencari
penghidupan di NU” kata Mbah Parmin.
“Maksudnya gimana Mbah?” Tanya ku kurang
paham.
“Melu NU berat. Berbakti ngurip-ngurip
NU seperti bagian dari pasukan Thalut saat melawan Jalut. Tahukah kamu, dulu
pasukan Thalut sangat banyak. Hampir sebanding dengan pasukan Jalut. Namun saat
latihan perang di Gurun Pasir yang panas dan menyengat, pasukan Thalut
kehausan. Thalut berpesan bahwa saat melintasi lautan tidak boleh minum, basuh
muka dan mandi boleh. Akhirnya sebagian besar tidak memperdulikan intruksi
pimpinan. Mereka pun langsung ‘nyemplung’ mandi, dan minum
sepuas-puasnya. Akibatnya, saat mereka keluar dari sungai, mayoritas pasukan Thalut
lemas, tidak bertanaga dan sakit hingga meninggal dunia. akhirnya hanya puluhan
orang saja yang masih hidup, sehat dan disiplin mengikuti perintah Thalut.”
Kata Mbah Parmin menjelaskan panjang lebar.
Saya diam mendengarkan sambil manggut-manggut
kepala. Saya ingin bertanya kepadanya, namun sudah kedahuluan mbah parmin
ngomong lagi:
“Jadilah kader yang militan, disiplin
sebagaimana pesan Muassis NU. Untuk menunjukan cinta kepada NU tidak harus pergi
ke harlah di Sidoarjo. Kecintaan kepada
NU disini [menunjuk ke dada] dan diaplikasikan dalam gerakan jamaah dan
jam’iyah sehari-hari. Apapun kedudukanmu, semua sama. Sebab kekuatan sebuah
perjuangan adalah ketika ia lahir dari kecintaan yang paling mendalam. Semoga Nak
Ahmad termasuk kader yang demikian” kata Mbah Parmin.
Saya pun mengamini doa yang diberikan oleh
Mbah Parmin.
Dari jauh terdengar sayup-sayup anak-anak
menyanyikan lagu yalal wathan, Sholawat Nahdiyah dan Mars Harlah NU.
Entah kenapa, setelah mendengar kisah tentang NU dari Mbah Parmin, mendengar
lagu-lagu tadi menyebabkan saya larut dalam tangisan yang mendalam ingin
mengabdi kepada NU. Mungkin karena sebelumnya masih kurang benar niatnya. Kini
setelah mendengar Mbah Parmin seorang tua renta dan kerja setiap hari hanya
buruh lepas yang sudah pensiun bisa mencintai ulama sedalam itu. Sedangkan saya
adalah orang-orang yang terdidik, namun justru belum memamahi dan menikmati
ladzatnya mencintai para muassis dan ajaranya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884