
Dunia maya semakin hari semakin membuat
manusia mengalami kebingungan, kebimbangan, ketakutan dan kekhawatiran
tiba-tiba bisa berubah menjadi kegairahan, optimisme dan muncul vitalitas hidup
yang terkadang menggelora. Namun siklus demikian tidak seperti musim di
Indonesia pada masa dulu. Jika waktu kecil, penulis bisa mendeteksi kapan hujan
dan kapan kemarau. Sehingga orang tua pada masa dulu selalu menyiapkan segala
sesuatu untuk menghadapi perubahan musim.
Musim pada masa dulu, seperti kisah Nabi
Yusuf. Melalui mimpi suci, Nabi Yusuf mengetahui kapan waktu panen dan datang
waktu pacelik dengan periode waktu nya sekaligus. pemerintah waktu itu pun
menyiasatinya untuk menghadapi masa pacelik yang panjang.
Saat anda yang lahir pada tahun 1970-an,1980-an,
sampai pada 1990-an, masih bisa melihat siapa orang yang kaya dan orang yang
terpandang di kampungmu. Mereka adalah golongan orang-orang yang status
geneologis nya bisa ditelusuri sebagai bagian orang-orang yang nenek moyangnya
terpandang pada masa lalu. Hal yang sama saat orang-orang dari golongan biasa
di kampung tersebut, akan selamanya menjadi orang biasa kecuali jika ia
melakukan perubahan dengan merantau ke tempat-tempat yang memungkinkan mampu
melakukan perubahan hidup.
Kini musim sudah tidak mengenal periode
waktu. kapan mau hujan dan kapan mau kemarau semakin sulit untuk dideteksi.
para nelayan sudah mulai kesulitan untuk menentukan tanda-tanda alam kapan
harus berangkat dan kapan musim ikan-ikan mengumpul seperti kisah kaum Ailah
pada masa Nabi Dawud as yang bisa mendeteksi datang dan pergi nya ikan-ikan di
laut.
Semua mulai mengalami perubahan begitu
cepat. Kesakralan identitas mulai mencair. Jika guru pada masa dulu adalah
sosok yang sangat dihormati dan penuh dengan kewibawaan, sehingga saat kita
bertemu dengannya dengan spontanitas bersikap hormat kepadanya. Dulu saat kita
mengenal habib atau sayid, maka secara taken off granted menerima dan
menghormatinya sebagai keturunan orang mulia. Sikap kita dulu ada alasan, yaitu
mereka mencerminkan moralitas yang agung dan pantas menjadi suri tauladan dalam
kehidupan sehari-hari.
Kini anda bisa melihat dengan mata telanjang
dan pertunjukan di media sosial orang-orang suci atau terhormat mengeluarkan
kata-kata kotor dan merendahkan kelompok manusia lain. Mereka mencoba melakukan
imperialisme dan kolonialisme pemikiran kelompok lain (dianggap mempunyai kasta
rendahan) agar mengikuti dan menyakini kebenaran dan kemulyaan mereka. Tidak
peduli apapun yang diomongkan sekotor apapun ucapan yang keluar dari mulutnya
merupakan legitimasi kemulyaan keturunan dan dianggap sesuatu yang mulia dan
harus diyakini kebenaranya. Jika tidak mau tunduk, maka dianggap sebagai
orang-orang (mohon maaf) bodoh dan sesat.
Semua itu mulai berubah laksana gunung es
di kutub utara dan selatan mulai mencair. kondisi alam tersebut telah mengubah
iklim, peradaban, cara berfikir dan berperilaku manusia tidak lagi sebagaimana
pakem-pakem yang dilakukan pada masa dulu. perubahan yang sangat cepat tidak
lagi memberi ruang kesempatan untuk mempertahankan hal-hal yang dianggap sakral
dan suci. Persaingan hidup di era sekarang ini telah membuat manusia untuk
berusaha sekuat tenaga dengan jalan apapun, hingga keluarlah kalimat
seolah-olah menjadi benar dan jadi pembenar,”yang haram saja susah, apalagi
yang halal”. maka lahirlah usaha-usaha sebagian manusia yang sudah tidak lagi
mematuhi etika dan moralitas. Anda bisa melihat manusia di dunia Tik-Tok, IG,
FB dan Youtube. mereka adalah bagian dari fakta-fakta tersebut.
Apakah saat kutub utara dan selatan mencair
dan merubah iklim, perubahan perilaku manusia dan peradabannya pada sebagian
manusia, juga harus merubah nilai-nilai kebenaran yang diajarkan dalam Islam
dan kearifan-kearifan orang tua yang telah melahiran kita?. tidak, tidak sama
sekali. Dunia boleh berubah, musim boleh tidak lagi menggunakan pakem-pakem
masa lalu, tapi pikiran dan hati tetap konsisten sebagai bekal untuk menghadapi
perubahan yang sangat dinamis.
Jika perubahan dunia berlangsung secara
dinamis, maka pikiran dan hati kita tetap konsisten dengan desain-desain
kebaruan dalam merealisasikan nilai-nilai kebaikan sebagai bagian dari
keindahan bunga-bunga yang menghiasi ruang media sosial dan publik.
Penulis menyakini, saat dunia semakin kacau
saat itu bunga-bunga kebenaran dan kearifan sangat dibutuhkan sebagai terapi
untuk menyegarkan pernafasan dan menetralisir udara menjadi terasa harum dan
menjadikan hati bertambah tenang dan nyaman. Sebab tugas ajaran Islam dan
kebenaran-kebenaran kearifan lokal yang diajarkan oleh orang tua kita adalah
ajaran yang kekal dan terus hidup dalam segala musim kehidupan saat sekarang
ini.
Keindahan taman-taman bunga peradaban hanya
bisa terwujud saat kita konsisten melakukan perubahan secara kolektif maupun
sendiri-sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876