Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Media Sosial dan Gambaran Jiwa Gelisah



Jumat , 09 Agustus 2024



Telah dibaca :  440

Dunia maya semakin hari semakin membuat manusia mengalami kebingungan, kebimbangan, ketakutan dan kekhawatiran tiba-tiba bisa berubah menjadi kegairahan, optimisme dan muncul vitalitas hidup yang terkadang menggelora. Namun siklus demikian tidak seperti musim di Indonesia pada masa dulu. Jika waktu kecil, penulis bisa mendeteksi kapan hujan dan kapan kemarau. Sehingga orang tua pada masa dulu selalu menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi perubahan musim.

Musim pada masa dulu, seperti kisah Nabi Yusuf. Melalui mimpi suci, Nabi Yusuf mengetahui kapan waktu panen dan datang waktu pacelik dengan periode waktu nya sekaligus. pemerintah waktu itu pun menyiasatinya untuk menghadapi masa pacelik yang panjang.

Saat anda yang lahir pada tahun 1970-an,1980-an, sampai pada 1990-an, masih bisa melihat siapa orang yang kaya dan orang yang terpandang di kampungmu. Mereka adalah golongan orang-orang yang status geneologis nya bisa ditelusuri sebagai bagian orang-orang yang nenek moyangnya terpandang pada masa lalu. Hal yang sama saat orang-orang dari golongan biasa di kampung tersebut, akan selamanya menjadi orang biasa kecuali jika ia melakukan perubahan dengan merantau ke tempat-tempat yang memungkinkan mampu melakukan perubahan hidup.

Kini musim sudah tidak mengenal periode waktu. kapan mau hujan dan kapan mau kemarau semakin sulit untuk dideteksi. para nelayan sudah mulai kesulitan untuk menentukan tanda-tanda alam kapan harus berangkat dan kapan musim ikan-ikan mengumpul seperti kisah kaum Ailah pada masa Nabi Dawud as yang bisa mendeteksi datang dan pergi nya ikan-ikan di laut.

Semua mulai mengalami perubahan begitu cepat. Kesakralan identitas mulai mencair. Jika guru pada masa dulu adalah sosok yang sangat dihormati dan penuh dengan kewibawaan, sehingga saat kita bertemu dengannya dengan spontanitas bersikap hormat kepadanya. Dulu saat kita mengenal habib atau sayid, maka secara taken off granted menerima dan menghormatinya sebagai keturunan orang mulia. Sikap kita dulu ada alasan, yaitu mereka mencerminkan moralitas yang agung dan pantas menjadi suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari.

Kini anda bisa melihat dengan mata telanjang dan pertunjukan di media sosial orang-orang suci atau terhormat mengeluarkan kata-kata kotor dan merendahkan kelompok manusia lain. Mereka mencoba melakukan imperialisme dan kolonialisme pemikiran kelompok lain (dianggap mempunyai kasta rendahan) agar mengikuti dan menyakini kebenaran dan kemulyaan mereka. Tidak peduli apapun yang diomongkan sekotor apapun ucapan yang keluar dari mulutnya merupakan legitimasi kemulyaan keturunan dan dianggap sesuatu yang mulia dan harus diyakini kebenaranya. Jika tidak mau tunduk, maka dianggap sebagai orang-orang (mohon maaf) bodoh dan sesat.

Semua itu mulai berubah laksana gunung es di kutub utara dan selatan mulai mencair. kondisi alam tersebut telah mengubah iklim, peradaban, cara berfikir dan berperilaku manusia tidak lagi sebagaimana pakem-pakem yang dilakukan pada masa dulu. perubahan yang sangat cepat tidak lagi memberi ruang kesempatan untuk mempertahankan hal-hal yang dianggap sakral dan suci. Persaingan hidup di era sekarang ini telah membuat manusia untuk berusaha sekuat tenaga dengan jalan apapun, hingga keluarlah kalimat seolah-olah menjadi benar dan jadi pembenar,”yang haram saja susah, apalagi yang halal”. maka lahirlah usaha-usaha sebagian manusia yang sudah tidak lagi mematuhi etika dan moralitas. Anda bisa melihat manusia di dunia Tik-Tok, IG, FB dan Youtube. mereka adalah bagian dari fakta-fakta tersebut.

Apakah saat kutub utara dan selatan mencair dan merubah iklim, perubahan perilaku manusia dan peradabannya pada sebagian manusia, juga harus merubah nilai-nilai kebenaran yang diajarkan dalam Islam dan kearifan-kearifan orang tua yang telah melahiran kita?. tidak, tidak sama sekali. Dunia boleh berubah, musim boleh tidak lagi menggunakan pakem-pakem masa lalu, tapi pikiran dan hati tetap konsisten sebagai bekal untuk menghadapi perubahan yang sangat dinamis.

Jika perubahan dunia berlangsung secara dinamis, maka pikiran dan hati kita tetap konsisten dengan desain-desain kebaruan dalam merealisasikan nilai-nilai kebaikan sebagai bagian dari keindahan bunga-bunga yang menghiasi ruang media sosial dan publik.

Penulis menyakini, saat dunia semakin kacau saat itu bunga-bunga kebenaran dan kearifan sangat dibutuhkan sebagai terapi untuk menyegarkan pernafasan dan menetralisir udara menjadi terasa harum dan menjadikan hati bertambah tenang dan nyaman. Sebab tugas ajaran Islam dan kebenaran-kebenaran kearifan lokal yang diajarkan oleh orang tua kita adalah ajaran yang kekal dan terus hidup dalam segala musim kehidupan saat sekarang ini.

Keindahan taman-taman bunga peradaban hanya bisa terwujud saat kita konsisten melakukan perubahan secara kolektif maupun sendiri-sendiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876