Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Media Sosial: Mengurangi Fitnah dan Menjemput Berkah



Minggu , 15 Juni 2025



Telah dibaca :  390

Era Media Sosial merupakan era presepsi. Siapa yang mampu menguasai presepsi, ia yang akan menjadi juara. Kebenaran dalam dunia digital berupa presepsi, bukan fakta. Ada sejuta fakta bisa dilumatkan oleh presepsi yang dibangun secara berulang-ulang dan terus-menerus menjadi suatu kebenaran dan lebih benar dari fakta.

Anda mempunyai Tik-Tok, IG, dan FB pro merupakan perkumpulan presepsi. Apa yang anda share dalam bentuk video bukan hakikat anda sebenarnya. Semua yang kita share bagian dari strategi untuk mendapatkan pengakuan luas dari masyarakat. Lalu mereka mempresepsikan kita seperti apa yang ada dalam video tersebut. Anda sedang berjalan pada dua sisi kehidupan yang beriringan dan bisa juga bertolak belakang. Anda telah menciptakan diri anda sendiri pada dua cermin: diri sendiri sebagai fakta dan diri sendiri sebagai presepsi.

Kenapa ada manusia menderita padahal ia seorang youtuber atau raja medsos yang mempunyai  jutaan pengikut. Ia menderita akibat ada salah satu berita menyerangnya secara sistemik. Dari berita tersebut mengarah kepada ketidakpercayaan publik. Ia dianggap sebagai seseorang yang tidak pantas menjadi panutan atau apapun namanya[ustadz, artis, pejabat, pengusaha, dan lain-lain]. Kerajaan bisnis yang dibangun hancur. Relasi terputus. Karirnya game over. Ia besar karena presepsi, dan hancur karena presepsi.

Hal ini terjadi bukan fakta dirinya yang rusak, tapi dirinya sendiri pada wilayah presepsi yang rusak. Namun karena presepsi terus dibangun dengan sangat sistematis, reputasi nya hancur, nama baiknya hancur. Ia hancur bukan karena fakta, tapi karena presepsi yang dianggap sebagai fakta. Itulah kebenaran di era media sosial.

Di dunia medsos seorang ulama bisa hancur bukan karena perilakunya, tapi karena permainan robot-robot tersistemik menyerang dirinya. Ada seorang yang baru belajar agama bisa tampil laksana Sang Pencerah yang platform media sosial nya menguasai jagat dunia maya. Semua orang menyanjungnya. Jauh melebihi para ulama, para guru ngaji di kampung-kampung yang telah menyelamatkan jutaan anak-anak dari buta huruf hijaiyah.

Orang yang baru belajar agama dan kini telah menjadi Sang Pencerah tersebut naik daun. Bicara nya tersusun rapi, logis, sistematis, dan menarik pada netizen. Sebab isu-isu yang dipilih merupakan isu yang sedang menjadi santapan masyarakat luas seperti:kemiskinan, ketimpangan, keadilan, kemanusiaan dan politik. Masyarakat kini telah berkiblat kepada sang pencerah.

Lagi-lagi Sang Pencerah pun tiba-tiba mulai meredup sinarnya. Itu karena ia tampil di medsos bukan jati dirinya, tapi presepsi akan dirinya. Sang pencerah yang belum matang secara keilmuan, akal pikiran dan keteguhan hati serta moralitas tiba-tiba muncul di depan publik atau diforum-forum publik yang berisi persoalan-persoalan subtansi. Dan anda tahu, semua kameramen sangat semangat mengabadikan pertemuan tersebut.

Saat ia menyampaikan segala pemikiran-pemikirannya, semua orang kaget. Ia benar-benar tidak menguasai sama sekali tentang isu-isu besar yang selalu muncul di video-video yang sering muncul di media sosial. Video pertemuan tersebut menyebar. Ada yang dipotong-potong ada yang utuh. Dua versi video pun naik di dunia maya. netizen terbelah. Ada yang pro dan kontra. Lagi-lagi, pada akhirnya Sang Pencerah berakhir dengan menyedihkan. 

Hari ini kita melihat video, film, foto atau apapun yang di media sosial. Semua itu bisa jadi mendatangkan keberkahan bagi kita dengan mendapatkan kenalan atau income yang menggiurkan. Pada sisi lain, kita bisa juga hancur dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali fitnah terus-menerus dari media sosial.

Sebab video kita sebenarnya bukan hakikat kita yang asli. Ada beberapa ramuan teknologi yang membuat kita bisa terlihat sempurna dan sebaliknya. Kita sebagai fakta sedang dijadikan bahan presepsi oleh media sosial. Sekali lagi, hanya orang-orang yang kuat yang selalu bisa eksis tampil dan berjaya. Meskipun harus dengan sejuta kepalsuan.

Pada saat kepalsuan-kepalsuan itu telah menjadi trend di media sosial saat ini, orang tua kita dulu dan para ulama-ulama dulu selalu mengajarkan tentang apa yang disebut ‘arafa rabbahu, yaitu jalan tempuh mengenal Allah SWT. dunia medsos mungkin sebatas mampu mempertajam kecerdasan pikiran dan emosional semata akibat semrawutnya berita yang ditampilkannya.

Maka kita tidak boleh melepaskan metodologi untuk mengenal diri sendiri melalui guru-guru kampung. Kita perlu melakukan perjalanan spiritual mengunjungi mereka. Bisa jadi kita menemukan setetes Mutiara Nasehat yang bisa menjadi semakin mengenal diri sendiri.

Selain itu kita juga mulai menghidupkan budaya-budaya ulama dulu melalui tradisi membuka dan mempelajari manuskrip-manuskrip ilmu pengetahuan. Membaca dan menghayati isinya, agar dada kita basah oleh hikmah petunjuk yang dihadirkan melalui karya-karya ulama yang ikhlas dan dekat hubungan dengan Sang Pencipta.

Walhasil, saat dunia terlihat sesak dan gadung oleh berita media sosial, kiranya kita sedikit uzlah untuk merekatkan persaudaraan, silaturohim dengan para ulama, dan membuka lagi ajaran-ajaran para ilmuwan yang bersanad. Itulah jalan sunyi menutup pintu maksiat dan membuka pintu berkah di dunia digital.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875