
Era Media Sosial merupakan era presepsi. Siapa
yang mampu menguasai presepsi, ia yang akan menjadi juara. Kebenaran dalam
dunia digital berupa presepsi, bukan fakta. Ada sejuta fakta bisa dilumatkan
oleh presepsi yang dibangun secara berulang-ulang dan terus-menerus menjadi suatu
kebenaran dan lebih benar dari fakta.
Anda mempunyai Tik-Tok, IG, dan FB pro
merupakan perkumpulan presepsi. Apa yang anda share dalam bentuk video bukan hakikat
anda sebenarnya. Semua yang kita share bagian dari strategi untuk mendapatkan
pengakuan luas dari masyarakat. Lalu mereka mempresepsikan kita seperti apa
yang ada dalam video tersebut. Anda sedang berjalan pada dua sisi kehidupan
yang beriringan dan bisa juga bertolak belakang. Anda telah menciptakan diri
anda sendiri pada dua cermin: diri sendiri sebagai fakta dan diri sendiri
sebagai presepsi.
Kenapa ada manusia menderita padahal ia seorang youtuber atau raja medsos yang mempunyai jutaan pengikut. Ia menderita akibat ada salah satu berita menyerangnya secara sistemik. Dari berita tersebut mengarah kepada ketidakpercayaan publik. Ia dianggap sebagai seseorang yang tidak pantas menjadi panutan atau apapun namanya[ustadz, artis, pejabat, pengusaha, dan lain-lain]. Kerajaan bisnis yang dibangun hancur. Relasi terputus. Karirnya game over. Ia besar karena presepsi, dan hancur karena presepsi.
Hal ini terjadi bukan fakta dirinya yang
rusak, tapi dirinya sendiri pada wilayah presepsi yang rusak. Namun karena
presepsi terus dibangun dengan sangat sistematis, reputasi nya hancur, nama
baiknya hancur. Ia hancur bukan karena fakta, tapi karena presepsi yang
dianggap sebagai fakta. Itulah kebenaran di era media sosial.
Di dunia medsos seorang ulama bisa hancur
bukan karena perilakunya, tapi karena permainan robot-robot tersistemik
menyerang dirinya. Ada seorang yang baru belajar agama bisa tampil laksana Sang
Pencerah yang platform media sosial nya menguasai jagat dunia maya. Semua orang
menyanjungnya. Jauh melebihi para ulama, para guru ngaji di kampung-kampung
yang telah menyelamatkan jutaan anak-anak dari buta huruf hijaiyah.
Orang yang baru belajar agama dan kini
telah menjadi Sang Pencerah tersebut naik daun. Bicara nya tersusun rapi,
logis, sistematis, dan menarik pada netizen. Sebab isu-isu yang dipilih merupakan
isu yang sedang menjadi santapan masyarakat luas seperti:kemiskinan,
ketimpangan, keadilan, kemanusiaan dan politik. Masyarakat kini telah berkiblat
kepada sang pencerah.
Lagi-lagi Sang Pencerah pun tiba-tiba mulai
meredup sinarnya. Itu karena ia tampil di medsos bukan jati dirinya, tapi presepsi
akan dirinya. Sang pencerah yang belum matang secara keilmuan, akal pikiran dan
keteguhan hati serta moralitas tiba-tiba muncul di depan publik atau
diforum-forum publik yang berisi persoalan-persoalan subtansi. Dan anda tahu,
semua kameramen sangat semangat mengabadikan pertemuan tersebut.
Saat ia menyampaikan segala pemikiran-pemikirannya, semua orang kaget. Ia benar-benar tidak menguasai sama sekali tentang isu-isu besar yang selalu muncul di video-video yang sering muncul di media sosial. Video pertemuan tersebut menyebar. Ada yang dipotong-potong ada yang utuh. Dua versi video pun naik di dunia maya. netizen terbelah. Ada yang pro dan kontra. Lagi-lagi, pada akhirnya Sang Pencerah berakhir dengan menyedihkan.
Hari ini kita melihat video, film, foto
atau apapun yang di media sosial. Semua itu bisa jadi mendatangkan keberkahan
bagi kita dengan mendapatkan kenalan atau income yang menggiurkan. Pada sisi
lain, kita bisa juga hancur dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali fitnah
terus-menerus dari media sosial.
Sebab video kita sebenarnya bukan hakikat
kita yang asli. Ada beberapa ramuan teknologi yang membuat kita bisa terlihat
sempurna dan sebaliknya. Kita sebagai fakta sedang dijadikan bahan presepsi
oleh media sosial. Sekali lagi, hanya orang-orang yang kuat yang selalu bisa
eksis tampil dan berjaya. Meskipun harus dengan sejuta kepalsuan.
Pada saat kepalsuan-kepalsuan itu telah
menjadi trend di media sosial saat ini, orang tua kita dulu dan para
ulama-ulama dulu selalu mengajarkan tentang apa yang disebut ‘arafa rabbahu,
yaitu jalan tempuh mengenal Allah SWT. dunia medsos mungkin sebatas mampu
mempertajam kecerdasan pikiran dan emosional semata akibat semrawutnya berita
yang ditampilkannya.
Maka kita tidak boleh melepaskan metodologi
untuk mengenal diri sendiri melalui guru-guru kampung. Kita perlu melakukan
perjalanan spiritual mengunjungi mereka. Bisa jadi kita menemukan setetes Mutiara
Nasehat yang bisa menjadi semakin mengenal diri sendiri.
Selain itu kita juga mulai menghidupkan
budaya-budaya ulama dulu melalui tradisi membuka dan mempelajari manuskrip-manuskrip ilmu
pengetahuan. Membaca dan menghayati isinya, agar
dada kita basah oleh hikmah petunjuk yang dihadirkan melalui karya-karya ulama
yang ikhlas dan dekat hubungan dengan Sang Pencipta.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875