Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melihat dengan Cahaya Kasih Sayang



Selasa , 20 Juni 2023



Telah dibaca :  327

Suatu hari, seorang Kiai ingin sholat maghrib di shaff pertama di Masjid Nabawi. Kalau toh tidak bisa di shaff pertama, paling tidak bisa di shaff kedua atau ketiga. Dia sudah datang lebih awal. Namun saya melihatnya tetap berada di Pintu Masjid. Saya memperhatikanya. Saya juga melihat para jamaah yang sudah penuh menunggu datangnya sholat magrib. Sudah penuh. Mereka sudah duduk, ada yang selonjor, ada yang asyik membaca Al-Qur’an, dan bahkan ada juga seorang jamaah yang sibuk membagikan air zam-zam, kurma dan kueh kasar.

Kiai tadi masih berdiri di depan pintu. Mungkin segan jika dia harus melangkah pundak para jamaah yang sudah duduk dan membentuk barisan. Mungkin dia ingat hadist nabi tentang larangan melangkah kaki nya ketika sudah penuh. Lalu saya menemuinya dan bertanya, “ Kiai, ingin sholat di shaff depan, ayo ikut saya”. Dia tidak menjawab, tapi karena tangan nya saya pegang, dia pun ikut saya. Kami pelan-pelan jalan nya, agar tidak sampai menginjak bagian tubuh mereka. kadang berhenti sebentar dengan wajah “tengak-tengok” ke kanan-kiri sambil melihat “mana tahu” ada “sedikit celah jalan” untuk bisa dimasukinya. Akhirnya saya tahu cara untuk bisa berjalan dan mendapatkan barisan. Saya pegang pundak nya, mereka pun menoleh. Dengan memakai isyarat, kedua tangan saya diangkat sebagai tanda ingin sholat sunnah, maka mereka pun memberikan ruang untuk sholat sunnah. Kami pun sholat sunnah dan selesai sholat sunnah kami pun tetap duduk di tempat tersebut. Akhirnya, saya dapat di shaff kedua, dan teman saya di shaff ketiga. Ini sebuah perjuangan yang belum pernah terjadi. Ini merupakan pengalaman hidup saya bertemu para jamaah yang tidak mempunyai dendam akibat dilangkahi pundaknya, atau kadang kesenggol agak keras. Semua saling pengertian dan meminta maaf, dan semua nya tersenyum, wajah berseri-seri menunjukan kedalaman rasa sayang terhadap sesama muslim.

Saya duduk model tahiyat awal, kalau letih ganti tahiyat akhir. Tidak bisa bersila. Jamaah di Masjid Nabawi sangat padat. Namun beberapa waktu berjalan, tiba-tiba ada orang tua berbaju putih marah-marah kepada anak muda yang menaruh al-Qur’an di lantai, sehingga al-Qur’an tersebut sering dilangkahi kaki setiap orang yang lewat di depanya. Kegaduhan terjadi. Pemuda tadi kena marah atas ketidaksopanan meletakan wahyu Allah di lantai. Namun pemuda tadi tidak terima. Akhirnya adu mulut. Suasana tenang pun menjadi terganggu. Namun tidak ada satu orang pun yang berani mendamaikan. Beberapa saat jamaah dari afganistan yang tinggi besar dan jenggotnya sudah putih, tapi badan masih segar dan kuat datang menghampiri bapak tua yang marah-marah tadi. Dia pun langsung memeluknya orang tua tadi dan mengatakan begini:

“Saudaraku, ini Masjid Rasulullah. Di dekat kita ada Raudhah. Rasulullah tersenyum melihat sangat bahagia karena kita berkumpul di pertamanan surga. Rasulullah tersenyum karena kita telah disatukan oleh kalimat suci dan semua kita adalah muslim. apakah anda mengakui sebagai seorang muslim”.

Orang tua tadi pun menjawab, “Iya Saya Muslim”.

Jamaah dari Afganistan pun melanjutkan bicara dan pelukan pun sedikit di lepaskan,” Kita sesama muslim adalah saudara. Tidak pantas apabila di rumah yang agung ada caci-maki. Kita malu di hadapan Rasulullah ketika kita membawa kebencian di hati kepada sesama muslim. Sebab ahli surga adalah hati nya yang tidak ada kebencian terhadap sesama mahluk nya Allah. Semua penghuni Surga selalu memancarkan kasih-sayang dan kedamaian”.

Akhirnya keributan pun reda. Orang tua tadi pun pergi entah kemana, hilang ditelan oleh ribuan jamaah yang berbaju putih-putih. Suasana kembali normal. Jamaah dari Afganistan pun duduk kembali. Saya melihatnya, dan dia melihatku dengan pandangan kasih sayang. Lalu dengan senyuman penuh kewibawaan, dia memberikan segelas plastik air teh hangat kepadaku. Saya pun meminum nya. rasanya persis seperti gambir. namun kedamaian wajahnya telah merubah air teh hangat rasa gambir menjadi Teh Gopek rasa Yogyakarta; manis dan mampu menghangatkan badan yang saat itu sedang memasuki musim dingin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879