
Suatu hari, seorang Kiai ingin sholat maghrib
di shaff pertama di Masjid Nabawi. Kalau toh tidak bisa di shaff pertama, paling
tidak bisa di shaff kedua atau ketiga. Dia sudah datang lebih awal. Namun saya
melihatnya tetap berada di Pintu Masjid. Saya memperhatikanya. Saya juga
melihat para jamaah yang sudah penuh menunggu datangnya sholat magrib. Sudah penuh.
Mereka sudah duduk, ada yang selonjor, ada yang asyik membaca Al-Qur’an, dan bahkan
ada juga seorang jamaah yang sibuk membagikan air zam-zam, kurma dan kueh
kasar.
Kiai tadi masih berdiri di depan pintu. Mungkin
segan jika dia harus melangkah pundak para jamaah yang sudah duduk dan membentuk
barisan. Mungkin dia ingat hadist nabi tentang larangan melangkah kaki nya
ketika sudah penuh. Lalu saya menemuinya dan bertanya, “ Kiai, ingin sholat di
shaff depan, ayo ikut saya”. Dia tidak menjawab, tapi karena tangan nya saya
pegang, dia pun ikut saya. Kami pelan-pelan jalan nya, agar tidak sampai
menginjak bagian tubuh mereka. kadang berhenti sebentar dengan wajah “tengak-tengok”
ke kanan-kiri sambil melihat “mana tahu” ada “sedikit celah jalan” untuk bisa
dimasukinya. Akhirnya saya tahu cara untuk bisa berjalan dan mendapatkan
barisan. Saya pegang pundak nya, mereka pun menoleh. Dengan memakai isyarat,
kedua tangan saya diangkat sebagai tanda ingin sholat sunnah, maka mereka pun
memberikan ruang untuk sholat sunnah. Kami pun sholat sunnah dan selesai sholat
sunnah kami pun tetap duduk di tempat tersebut. Akhirnya, saya dapat di shaff
kedua, dan teman saya di shaff ketiga. Ini sebuah perjuangan yang belum pernah
terjadi. Ini merupakan pengalaman hidup saya bertemu para jamaah yang tidak
mempunyai dendam akibat dilangkahi pundaknya, atau kadang kesenggol agak keras.
Semua saling pengertian dan meminta maaf, dan semua nya tersenyum, wajah
berseri-seri menunjukan kedalaman rasa sayang terhadap sesama muslim.
Saya duduk model tahiyat awal, kalau letih
ganti tahiyat akhir. Tidak bisa bersila. Jamaah di Masjid Nabawi sangat padat. Namun
beberapa waktu berjalan, tiba-tiba ada orang tua berbaju putih marah-marah
kepada anak muda yang menaruh al-Qur’an di lantai, sehingga al-Qur’an tersebut
sering dilangkahi kaki setiap orang yang lewat di depanya. Kegaduhan terjadi. Pemuda
tadi kena marah atas ketidaksopanan meletakan wahyu Allah di lantai. Namun pemuda
tadi tidak terima. Akhirnya adu mulut. Suasana tenang pun menjadi terganggu. Namun
tidak ada satu orang pun yang berani mendamaikan. Beberapa saat jamaah dari
afganistan yang tinggi besar dan jenggotnya sudah putih, tapi badan masih segar
dan kuat datang menghampiri bapak tua yang marah-marah tadi. Dia pun langsung
memeluknya orang tua tadi dan mengatakan begini:
“Saudaraku, ini Masjid Rasulullah. Di dekat kita ada Raudhah. Rasulullah
tersenyum melihat sangat bahagia karena kita berkumpul di pertamanan surga. Rasulullah
tersenyum karena kita telah disatukan oleh kalimat suci dan semua kita adalah
muslim. apakah anda mengakui sebagai seorang muslim”.
Orang tua tadi pun menjawab, “Iya Saya
Muslim”.
Jamaah dari Afganistan pun melanjutkan
bicara dan pelukan pun sedikit di lepaskan,” Kita sesama muslim adalah saudara.
Tidak pantas apabila di rumah yang agung ada caci-maki. Kita malu di hadapan Rasulullah
ketika kita membawa kebencian di hati kepada sesama muslim. Sebab ahli surga adalah
hati nya yang tidak ada kebencian terhadap sesama mahluk nya Allah. Semua penghuni
Surga selalu memancarkan kasih-sayang dan kedamaian”.
Akhirnya keributan pun reda. Orang tua tadi pun pergi entah kemana,
hilang ditelan oleh ribuan jamaah yang berbaju putih-putih. Suasana kembali
normal. Jamaah dari Afganistan pun duduk kembali. Saya melihatnya, dan dia
melihatku dengan pandangan kasih sayang. Lalu dengan senyuman penuh kewibawaan,
dia memberikan segelas plastik air teh hangat kepadaku. Saya pun meminum nya. rasanya
persis seperti gambir. namun kedamaian wajahnya telah merubah air teh hangat
rasa gambir menjadi Teh Gopek rasa Yogyakarta; manis dan mampu menghangatkan
badan yang saat itu sedang memasuki musim dingin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879