Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melihat Gus Dur di Hotel Royal Pajajaran



Kamis , 24 Oktober 2024



Telah dibaca :  474

Turun dari pesawat batik air sekitar jam 14.00 di Bandara Soekarno-hatta. Sahabat ku Dr. Romadhon paling sibuk kirim pesan melalui WA. Ia memang sangat perhatian. Ma’lum ia termasuk muridnya Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar yang sekarang menjadi Menteri Agama terpilih. Ia “ketetesan” ilmu tasawufnya Prof Nasarudin. Tawadhu. Ia juga mendapat warisan  “ilmu sufi” dariku, “suka selfi”.

“Gus, nanti kalau ke Bogor naik Damri saja” salah satu isi WA yang masuk di HP Android ku (tadinya saya ingin beli Iphone, gara-gara ada Tik-Tok  cowok dibentak gara-gara pakai Android, saya jadi trauma tidak jadi beli Iphone)”.

“Insya Allah” jawab ku singkat.

Saya ingin ke rumah nya di Jakarta Timur. Tapi hari sudah siang menuju sore. Khawatir terlambat. Lagian, ia sibuk. Buka warung kecil-kecilan. Doktor Ilmu Al-Qur’an yang tidak mau menjadi pegawai negara. Ia benar-benar ta’dzim terhadap dawuh kyai nya, Abah Habib Saggaf, Pengasuh Pesantren Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor. Ia selalu ingat dan berpegang teguh pesan gurunya: “Alumni nurul iman harus menjadi pengusaha”.

Saya memutuskan naik Grab. Tidak jadi Damri. Informasi lebih murah. Tapi nanti pun harus turun dan nyambung lagi naik Grab. Terasa ribet,langsung saja cari Grab dari Soeta-Bogor.

Seorang wanita cantik datang menemuiku (Jakarta memang isinya wanita-wanita cantik; ada Sandra Dewi ada juga Dewi Sandra dan lain-lain yang muncul di Media Cetak atau Media Elektronika. Untuk dua artis tersebut, Saya kadang bingung membedakan nama keduanya). Tapi saya tidak menatap matanya. Anda harus tahu sebab saya tidak suka menatap mata wanita di Bandara saat ini, bukan karena tidak suka keindahan dunia, tapi karena mata ku sedang “beleken” atau sakit mata. Sudah hampir setengah bulan mata sebelah kanan merah.

Entah kenapa wanita cantik tadi salah tingkah melihatku. Saat menyebut harga grab pun salah-salah. Sampai-sampai ia malu sendiri di depan ku. Padahal belum saya tatap wajahnya. Apalagi sampai saya tatap, bisa-bisa “klepek-klepek”. Agar tidak terlalu malu atas keanehan tingkahnya, saya bergaya pura-pura tidak tahu seperti kisah ulama sufi Khatim Al-Asham, yang senantiasa mengagungkan kanjeng nabi Muhammad, yang bibirnya senantiasa menyebut kekasih teragung Nabi Muhammad saw.

Grab datang. Supirnya masih muda. Agak kasar saat di bandara Soeta. Tapi lama-lama dia pun melembut dan sangat lembut suaranya ketika sudah memasuki Bogor. Saya mikir apakah memang suasana Jakarta terasa panas? Apakah kondisi psikologi masyarakat Jakarta demikian juga? wallahu a'lam.  Supir grab saat masuk  Bogor langsung sumringah. Udara segar, dan terasa sejuk. Apalgi sore itu hujan turun. Memang Bogor sering disebut kota hujan, juga kota kenangan. Suasana transisi dari panas menuju hujan grimis-grimis perlu  wait and see. jalan agak licin terkena air hujan. Hidup  selalu silih berganti seperti bergantinya siang dan malam.

Di Grab saya ngisi pengajian kultum. Meskipun ngobrolnya lebih satu jam. Tapi saya perlu menyampaikan pesan-pesan moral kepada mas Hendra supir Grab dan tentu saja untuk diri sendiri:

“Mas Hendra, manusia itu sebenarnya sama. Ia adalah Kumpulan makhluk paling lucu di dunia. Mulai dari supir Grab sampai ke pejabat paling tinggi sekalipun adalah makhluk terlucu di dunia. Semua kerja, butuh makan, tapi lupa berdoa saat makan”.

Dia tertawa mendengar kultum ku. Entah kenapa, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang ahli filsafat kehidupan. ia mencoba menafsiri apa yang saya katakan, ia pun kemudian berkata:

“Benar pak, saya jarang berdoa saat makan. Kadang saya berfikir juga, makan  saja lupa sama allah. Padahal rezeki dari Allah. Padahal hal tersebut terlihat sepele. Apakah orang-orang di luar sana sudah lupa sama Allah? Apakah orang-orang yang punya kemampuan makan tidak habis-habis untuk tujuh turunan masih ingat Tuhan atau malah hanya ingat manusia dan harta benda?".

Saya kaget, jangan-jangan supir grab masih keturunan Aristoteles atau Jalaluddin Rumi, saya tidak tahu. Tapi kalau dilihat dari wajah dan postur tubuhnya sama seperti ku. Berarti ia produk asli Indonesia. bukan naturalisasi. Saya jadi ingat iklan peralatan rumah tangga dulu; “cintailah produk-produk Indonesia”.

Jam 16.00 saya sudah sampai di Hotel Royal Pajajaran. Panitia tanya ini-itu, apa sudah pesan kamar atau belum. Saya tidak mudeng. Bingung. Biasa tidur di mushola, ini tidur di hotel. Suruh booking dulu. Dunia memang semakin administratif. Hanya ingin tidur dan kencing saja pun harus booking dulu. Untung panitianya sabar menghadapi ku. Untung panitia memahami ketradisional ku saat kamar hotel sudah penuh dan saya minta tidur di mushola hotel, ia pun kasihan kepada ku. Lalu ia mencarikan kamar Hotel Di Royal Pajajaran. Akhirnya mendapat satu kamar.

Segera masuk kamar sebentar dan kemudian jalan-jalan. Bogor terlihat sangat dingin dan tenang. Tapi saya malah jadi lesu. Untung banyak wanita-wanita cantik-cantik dan tidak memakai jilbab. Saya ngobrol dengan mereka. Sangat sopan. Entah kenapa wanita-wanita yang saya temui sangat sopan-sopan.

Mereka dialog dengan ku, ngobrol ngalor-ngidul tentang keindonesiaan dan kemanusiaan. Setelah panjang lebar ngobrol, saya baru tahu kalau mereka berasal dari kementrian agama untuk umat beragama kristiani dan agama lain. Saya melihat mereka sangat guyub. Ketemu teman kerja yang berbeda baju, satu rambut terurai satu lagi berjilbaban saling peluk-pelukan. Makan bareng. Ngobrol sangat natural. Saya benar-benar menemukan Indonesia yang beragam, harmonis, dan senantiasa guyub rukun. Saya benar-benar melihat ajaran kemanusiaan Gus Dur telah tumbuh bersemi; persaudaraan tanpa melihat latarbelakang suku,etnis, budaya dan agama. Semua saudara kemanusiaan dan saudara satu bangsa yang sama-sama sedang merawat keberagaman dan kebersamaan. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875