
Turun dari pesawat batik air sekitar jam
14.00 di Bandara Soekarno-hatta. Sahabat ku Dr. Romadhon paling sibuk kirim
pesan melalui WA. Ia memang sangat perhatian. Ma’lum ia termasuk muridnya
Prof.Dr.H. Nasaruddin Umar yang sekarang menjadi Menteri Agama terpilih. Ia “ketetesan”
ilmu tasawufnya Prof Nasarudin. Tawadhu. Ia juga mendapat warisan “ilmu sufi” dariku, “suka selfi”.
“Gus, nanti kalau ke Bogor naik Damri saja” salah satu isi WA yang masuk di HP Android
ku (tadinya saya ingin beli Iphone, gara-gara ada Tik-Tok cowok dibentak gara-gara pakai Android, saya
jadi trauma tidak jadi beli Iphone)”.
“Insya Allah” jawab ku singkat.
Saya ingin ke rumah nya di Jakarta Timur.
Tapi hari sudah siang menuju sore. Khawatir terlambat. Lagian, ia sibuk. Buka
warung kecil-kecilan. Doktor Ilmu Al-Qur’an yang tidak mau menjadi pegawai
negara. Ia benar-benar ta’dzim terhadap dawuh kyai nya, Abah Habib
Saggaf, Pengasuh Pesantren Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor. Ia selalu ingat
dan berpegang teguh pesan gurunya: “Alumni nurul iman harus menjadi
pengusaha”.
Saya memutuskan naik Grab. Tidak jadi Damri.
Informasi lebih murah. Tapi nanti pun harus turun dan nyambung lagi naik Grab.
Terasa ribet,langsung saja cari Grab dari Soeta-Bogor.
Seorang wanita cantik datang menemuiku (Jakarta
memang isinya wanita-wanita cantik; ada Sandra Dewi ada juga Dewi Sandra dan
lain-lain yang muncul di Media Cetak atau Media Elektronika. Untuk dua artis
tersebut, Saya kadang bingung membedakan nama keduanya). Tapi saya tidak
menatap matanya. Anda harus tahu sebab saya tidak suka menatap mata wanita di Bandara
saat ini, bukan karena tidak suka keindahan dunia, tapi karena mata ku sedang “beleken”
atau sakit mata. Sudah hampir setengah bulan mata sebelah kanan merah.
Entah kenapa wanita cantik tadi salah
tingkah melihatku. Saat menyebut harga grab pun salah-salah. Sampai-sampai ia
malu sendiri di depan ku. Padahal belum saya tatap wajahnya. Apalagi sampai
saya tatap, bisa-bisa “klepek-klepek”. Agar tidak terlalu malu atas
keanehan tingkahnya, saya bergaya pura-pura tidak tahu seperti kisah ulama sufi Khatim Al-Asham, yang
senantiasa mengagungkan kanjeng nabi Muhammad, yang bibirnya senantiasa
menyebut kekasih teragung Nabi Muhammad saw.
Grab datang. Supirnya masih muda. Agak
kasar saat di bandara Soeta. Tapi lama-lama dia pun melembut dan sangat lembut suaranya ketika sudah
memasuki Bogor. Saya mikir apakah memang suasana Jakarta terasa panas? Apakah kondisi psikologi masyarakat Jakarta demikian juga? wallahu a'lam. Supir grab saat masuk Bogor langsung sumringah. Udara segar, dan terasa sejuk. Apalgi
sore itu hujan turun. Memang Bogor sering disebut kota hujan, juga kota kenangan. Suasana transisi dari panas menuju hujan grimis-grimis perlu wait and see. jalan agak licin terkena air hujan. Hidup selalu silih berganti seperti bergantinya siang dan malam.
Di Grab saya ngisi pengajian kultum.
Meskipun ngobrolnya lebih satu jam. Tapi saya perlu menyampaikan pesan-pesan
moral kepada mas Hendra supir Grab dan tentu saja untuk diri sendiri:
“Mas Hendra, manusia itu sebenarnya sama.
Ia adalah Kumpulan makhluk paling lucu di dunia. Mulai dari supir Grab sampai
ke pejabat paling tinggi sekalipun adalah makhluk terlucu di dunia. Semua kerja,
butuh makan, tapi lupa berdoa saat makan”.
Dia tertawa mendengar kultum ku. Entah
kenapa, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang ahli filsafat kehidupan. ia
mencoba menafsiri apa yang saya katakan, ia pun kemudian berkata:
“Benar pak, saya jarang berdoa saat makan.
Kadang saya berfikir juga, makan saja
lupa sama allah. Padahal rezeki dari Allah. Padahal hal tersebut terlihat
sepele. Apakah orang-orang di luar sana sudah lupa sama Allah? Apakah orang-orang yang punya kemampuan makan
tidak habis-habis untuk tujuh turunan masih ingat Tuhan atau malah hanya ingat manusia dan harta benda?".
Saya kaget, jangan-jangan supir grab masih
keturunan Aristoteles atau Jalaluddin Rumi, saya tidak tahu. Tapi kalau dilihat
dari wajah dan postur tubuhnya sama seperti ku. Berarti ia produk asli
Indonesia. bukan naturalisasi. Saya jadi ingat iklan peralatan rumah tangga
dulu; “cintailah produk-produk Indonesia”.
Jam 16.00 saya sudah sampai di Hotel Royal
Pajajaran. Panitia tanya ini-itu, apa sudah pesan kamar atau belum. Saya tidak
mudeng. Bingung. Biasa tidur di mushola, ini tidur di hotel. Suruh booking
dulu. Dunia memang semakin administratif. Hanya ingin tidur dan kencing saja
pun harus booking dulu. Untung panitianya sabar menghadapi ku. Untung panitia
memahami ketradisional ku saat kamar hotel sudah penuh dan saya minta tidur di
mushola hotel, ia pun kasihan kepada ku. Lalu ia mencarikan kamar Hotel Di
Royal Pajajaran. Akhirnya mendapat satu kamar.
Segera masuk kamar sebentar dan kemudian
jalan-jalan. Bogor terlihat sangat dingin dan tenang. Tapi saya malah jadi
lesu. Untung banyak wanita-wanita cantik-cantik dan tidak memakai jilbab. Saya
ngobrol dengan mereka. Sangat sopan. Entah kenapa wanita-wanita yang saya temui
sangat sopan-sopan.
Mereka dialog dengan ku, ngobrol
ngalor-ngidul tentang keindonesiaan dan kemanusiaan. Setelah panjang lebar
ngobrol, saya baru tahu kalau mereka berasal dari kementrian agama untuk umat
beragama kristiani dan agama lain. Saya melihat mereka sangat guyub. Ketemu
teman kerja yang berbeda baju, satu rambut terurai satu lagi berjilbaban saling
peluk-pelukan. Makan bareng. Ngobrol sangat natural. Saya benar-benar menemukan
Indonesia yang beragam, harmonis, dan senantiasa guyub rukun. Saya benar-benar
melihat ajaran kemanusiaan Gus Dur telah tumbuh bersemi; persaudaraan tanpa melihat
latarbelakang suku,etnis, budaya dan agama. Semua saudara kemanusiaan dan
saudara satu bangsa yang sama-sama sedang merawat keberagaman dan kebersamaan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875