
Di pinggir kota ada seorang ibu yang
sedang merawat anak perempuannya. Ketika masih bayi, anak tersebut terlihat
sangat cantik. Hidung mancung, periang, kulit putih dan sangat menggemaskan. Ia
permata hati dan penghibur saat sang ibu sedang sedih atau mengalami kejenuhan
saat melaksanakan tugas sehari-hari.
Sejalan perjalanan waktu-tepatnya
ketika anak perempuan tersebut berumur 3 tahun-, mengalami sakit panas. Tidak sembuh-sembuh.
Ternyata penyakit panas ini merembet kepada penyakit lainnya. penyakit panas
ini juga menyerang otak nya sehingga menyebabkan tidak bisa berfikir sesuai
dengan perkembangan umur nya. semakin bertambah umur, anak perempuan tersebut perilaku
nya masih seperti anak-anak: menangis saat ingin makan, saat ingin ganti baju
dan saat akan mandi.
Anak kecil yang dulu sangat cantik
dan periang justru tumbuh dengan beragam penyakit dan kekurangan dari segi
psikologis, mental dan akal. Pendek kata, anak kecil yang telah tumbuh remaja
tidak mungkin masuk ke lembaga pendidikan, tidak bisa guru-gurunya mengajar dan
mendidiknya, tidak ada yang bisa merawat hidupnya. Kecuali orang tua nya
sendiri.
Beruntung anak perempuan mempunyai
seorang ibu yang hebat. saat sebagian orang melihat kepada anak tersebut penuh
dengan kekurangan, sang ibu justru melihat dari sudut kesempurnaan. Dengan
senyum yang sangat Ikhlas, sang ibu berkata demikian:
“Saya sangat senang mempunyai anak
dalam kondisi demikian. Ia mungkin tidak akan sembuh sepanjang hidupnya. Tidak apa-apa.
Semua sudah diatur oleh Allah. Usaha pengobatan untuknya sudah, Tuhan belum
mentaqdirkan ia sembuh. Tidak mengapa jika memang tidak sembuh, saya sebagai
ibu nya dengan senang hati akan merawat dengan sebaik-baiknya. Semoga saya bisa
menjadi seorang ibu yang mempunyai sifat syukur dan sabar atas segala ketentuan
yang diberikan allah kepada diriku dan anaku”.
Manusia memang sering selalu melihat
segala sesuatu dengan kesempurnaan, dan sangat sulit menerima segala sesuatu
yang serba kekurangan. Saya-mungkin juga anda-sangat senang mempunyai anak yang
berprestasi dengan sederet piala dan penghargaan. Saya-mungkin anda- sangat iri
ketika melihat orang-orang disana mempunyai karir moncer, karya yang berlian
dan bisnis yang menanjak serta jabatan sampai puncak.
Saat pada kondisi sukses seperti diatas,
saya-mungkin juga anda-akan mudah menceritakan kesuksesan kita kepada orang
lain. Bahkan dengan tidak segan-segan akan bertindak laksana seorang motivator bagi
orang-orang yang hidupnya dianggap gagal atau belum beruntung.
Ini berbeda saat ada sisi negatif
pada diri kita. Mulut seolah-olah diam terkunci. Ketika berkumpul dengan
teman-teman kita, maka kita dengan mudah menceritakan anak-anaknya yang sukses,
sedangkan anak-anak kita yang mempunyai segala kekurangan tidak disebut sama
sekali. ada rasa malu, minder dan takut orang lain mengetahui segala kekurangan
pada diri kita atau keluarga kita. seolah-olah jika mereka tahu, kita akan
jatuh derajatnya dan akan menjadi bahan tertawaan orang lain.
Kita mungkin sudah terbiasa melihat
kemuliaan pada sudut pandang kesuksesan duniawi. Kita akan tertawa gembira,
bahkan merayakan kegembiraan tersebut bersama keluarga, saudara atau kawan sejawat.
Kita tidak segan-segan juga mem-posting kesuksesan tersebut di laman-laman
media online maupun media sosial.
Ini tidak salah sebagai wujud
syukur. Namun kenapa kita tidak bisa menetralisir atau melatih hati kita bahwa
semua yang diberikan Allah kepada kita adalah suatu kenikmatan yang harus
disyukuri? Kenapa kita sering bertindak tidak adil saat Allah menghadirkan
sesuatu yang dianggap sebagai “kekurangan” dan seolah-olah kita tidak bisa
menerima kenyataan tersebut.
Sebenarnya apa yang “dianggap sukses”
dan apa yang “dianggap gagal” sebenarnya permainan presepsi dangkal manusia
semata. Tuhan sudah dengan jelas mengatakan bahwa “tidak ada yang batil
ciptaannya”.
Jika anda menjadi pejabat itu bukan
sesuatu yang batil, itu adalah kebaikan agar kita bisa belajar dan melatih
berbuat kebaikan melalui jabatan tersebut sesuai dengan kapasitas dan kemampuan
anda. Saat anda gagal menjadi pejabat yang baik, juga bukan suatu kebatilan
karena di dalam nya ada “ruang kosong” bagi anda untuk interopeksi diri dan
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan-jangan saat mendapatkan jabatan ada
rasa “gumede” sehingga lupa diri atas segala apa yang dilakukannya.
Kesuksesan bukan sesuatu yang harus
dipuji-puji setinggi langit. Kegagalan atau keterpurukan bukan sesuatu yang
harus dicaci maki serendah dasar bumi. Dua-dua nya-kesuksesan dan
kegagalan-adalah dua kata agar kita bisa lebih mengenal Allah dengan jalan yang
berbeda berbeda. Jika demikian, tidak pantas kita melihat keduanya dengan
kacamata nafsu syahwat semata. Lihatlah keduanya dengan kacamata kecintaan
kepada-Nya. Dengan cara kita bisa belajar obyektif melihat segala persoalan
yang terjadi saat sekarang ini. Sebab hakikat manusia tidak ada yang sempurna.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872