Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melihat Kejadian dengan Kacamata Iman



Selasa , 04 November 2025



Telah dibaca :  308

Di pinggir kota ada seorang ibu yang sedang merawat anak perempuannya. Ketika masih bayi, anak tersebut terlihat sangat cantik. Hidung mancung, periang, kulit putih dan sangat menggemaskan. Ia permata hati dan penghibur saat sang ibu sedang sedih atau mengalami kejenuhan saat melaksanakan tugas sehari-hari.

Sejalan perjalanan waktu-tepatnya ketika anak perempuan tersebut berumur 3 tahun-, mengalami sakit panas. Tidak sembuh-sembuh. Ternyata penyakit panas ini merembet kepada penyakit lainnya. penyakit panas ini juga menyerang otak nya sehingga menyebabkan tidak bisa berfikir sesuai dengan perkembangan umur nya. semakin bertambah umur, anak perempuan tersebut perilaku nya masih seperti anak-anak: menangis saat ingin makan, saat ingin ganti baju dan saat akan mandi.

Anak kecil yang dulu sangat cantik dan periang justru tumbuh dengan beragam penyakit dan kekurangan dari segi psikologis, mental dan akal. Pendek kata, anak kecil yang telah tumbuh remaja tidak mungkin masuk ke lembaga pendidikan, tidak bisa guru-gurunya mengajar dan mendidiknya, tidak ada yang bisa merawat hidupnya. Kecuali orang tua nya sendiri.

Beruntung anak perempuan mempunyai seorang ibu yang hebat. saat sebagian orang melihat kepada anak tersebut penuh dengan kekurangan, sang ibu justru melihat dari sudut kesempurnaan. Dengan senyum yang sangat Ikhlas, sang ibu berkata demikian:

“Saya sangat senang mempunyai anak dalam kondisi demikian. Ia mungkin tidak akan sembuh sepanjang hidupnya. Tidak apa-apa. Semua sudah diatur oleh Allah. Usaha pengobatan untuknya sudah, Tuhan belum mentaqdirkan ia sembuh. Tidak mengapa jika memang tidak sembuh, saya sebagai ibu nya dengan senang hati akan merawat dengan sebaik-baiknya. Semoga saya bisa menjadi seorang ibu yang mempunyai sifat syukur dan sabar atas segala ketentuan yang diberikan allah kepada diriku dan anaku”.

Manusia memang sering selalu melihat segala sesuatu dengan kesempurnaan, dan sangat sulit menerima segala sesuatu yang serba kekurangan. Saya-mungkin juga anda-sangat senang mempunyai anak yang berprestasi dengan sederet piala dan penghargaan. Saya-mungkin anda- sangat iri ketika melihat orang-orang disana mempunyai karir moncer, karya yang berlian dan bisnis yang menanjak serta jabatan sampai puncak.

Saat pada kondisi sukses seperti diatas, saya-mungkin juga anda-akan mudah menceritakan kesuksesan kita kepada orang lain. Bahkan dengan tidak segan-segan akan bertindak laksana seorang motivator bagi orang-orang yang hidupnya dianggap gagal atau belum beruntung.

Ini berbeda saat ada sisi negatif pada diri kita. Mulut seolah-olah diam terkunci. Ketika berkumpul dengan teman-teman kita, maka kita dengan mudah menceritakan anak-anaknya yang sukses, sedangkan anak-anak kita yang mempunyai segala kekurangan tidak disebut sama sekali. ada rasa malu, minder dan takut orang lain mengetahui segala kekurangan pada diri kita atau keluarga kita. seolah-olah jika mereka tahu, kita akan jatuh derajatnya dan akan menjadi bahan tertawaan orang lain.

Kita mungkin sudah terbiasa melihat kemuliaan pada sudut pandang kesuksesan duniawi. Kita akan tertawa gembira, bahkan merayakan kegembiraan tersebut bersama keluarga, saudara atau kawan sejawat. Kita tidak segan-segan juga mem-posting kesuksesan tersebut di laman-laman media online maupun media sosial.

Ini tidak salah sebagai wujud syukur. Namun kenapa kita tidak bisa menetralisir atau melatih hati kita bahwa semua yang diberikan Allah kepada kita adalah suatu kenikmatan yang harus disyukuri? Kenapa kita sering bertindak tidak adil saat Allah menghadirkan sesuatu yang dianggap sebagai “kekurangan” dan seolah-olah kita tidak bisa menerima kenyataan tersebut.

Sebenarnya apa yang “dianggap sukses” dan apa yang “dianggap gagal” sebenarnya permainan presepsi dangkal manusia semata. Tuhan sudah dengan jelas mengatakan bahwa “tidak ada yang batil ciptaannya”.

Jika anda menjadi pejabat itu bukan sesuatu yang batil, itu adalah kebaikan agar kita bisa belajar dan melatih berbuat kebaikan melalui jabatan tersebut sesuai dengan kapasitas dan kemampuan anda. Saat anda gagal menjadi pejabat yang baik, juga bukan suatu kebatilan karena di dalam nya ada “ruang kosong” bagi anda untuk interopeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan-jangan saat mendapatkan jabatan ada rasa “gumede” sehingga lupa diri atas segala apa yang dilakukannya.

Kesuksesan bukan sesuatu yang harus dipuji-puji setinggi langit. Kegagalan atau keterpurukan bukan sesuatu yang harus dicaci maki serendah dasar bumi. Dua-dua nya-kesuksesan dan kegagalan-adalah dua kata agar kita bisa lebih mengenal Allah dengan jalan yang berbeda berbeda. Jika demikian, tidak pantas kita melihat keduanya dengan kacamata nafsu syahwat semata. Lihatlah keduanya dengan kacamata kecintaan kepada-Nya. Dengan cara kita bisa belajar obyektif melihat segala persoalan yang terjadi saat sekarang ini. Sebab hakikat manusia tidak ada yang sempurna.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872