
Watak manusia adalah hidup
berpasang-pasangan. Ia merupakan naluri dasar yang tidak bisa dihapus dari
dirinya. Ketika nabi adam berada di surge dan mendapatkan kenikmatan tanpa
batas, ternyata lama kelamaan terasa jenuh. Ia merasa ada yang kurang. Naluri
sebagai manusia berupa dorongan rasa sayang dan luapan cinta tumbuh secara
alamiah. Tuhan menghadirkan dengan menciptakan pasangnya, yaitu Hawa. Q.S.
Al-Baqarah[2]: 35 berbunyi: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh
kamu dan isterimu Surga ini, dan makanlah makanan makanannya yang banyak lagi
baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang
dzalim.”
Saat manusia telah menyatakan diri
menjadi satu rasa, pada saat itu mereka saling pengertian, maka mereka siap
menerima resiko atas apa yang telah dilakukan sebagaimana yang telah dilakukan
oleh Nabi Adam dan Hawa. Q.S. Al-Baqarah[2] :36 berbunyi;''Turunlah kamu!
Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal
dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan”. Q.S. Al-Baqarah [2]:
38 berbunyi: ''Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar
datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada
rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.''
Tuhan telah memberikan taubat keada
nabi adam. Lalu berkembang keturunannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Mereka
disebut dengan anak keturunan nabi adam atau bani adam. Beragam. Mereka berkelompok
dan saling membutuhkan satu sama lain
Manusia berbeda dengan makhluk lain.
Dia mempunyai natiq atau akal pikiran yang bisa membedakan mana yang
baik dan buruk. Melalui ini, mereka bisa menciptakan beragam budaya dan
peradaban yang bisa dilihat saat sekarang ini. Setiap suku dan bangsa mempunyai
keunikan dan kekhasan satu dari yang lainnya. Kadang kecerdasan ini digunakan
untuk kebaikan bersama dan sebagian orang dan/atau kelompok digunakan untuk
merusak diri dan alam semesta, bahkan untuk saling bermusuhan satu sama
lainnya. Mereka melakukan demikian dalam rangka mempertahankan diri untuk tetap
eksis, dan melakukan segala politik untuk mempertahankan nya. Melalui kekuatan
akal ini manusia bisa mendapatkan kebahagiaan
Mengapa manusia sering disebut sebagai
homo homoni lupus, padahal sama-sama satu keturunan keluarga besar bani
adam? Sebab pada manusia mempunyai naluri ingin mempertahankan diri, ingin
mendapatkan keturunan, perlindungan, makan, dan agama. Semua itu bisa dikemas
menjadi dua; naluri beragama dan memenuhi kemulyaan hidup di dunia. Naluri beragama
adalah naluri dasar manusia yang senantiasa tunduk kepada allah. Melalui perjalanan
sejarah, manusia merealisasikan keyakinan dalam beragam bentuk keyakinan dan
agama. Dari sini lahir nilai-nilai ilahiyah yang dikembangkan dalam bentuk
norma-norma dan nilai kebajikan seperti nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Itu
sebabnya, siapapun kelompok dan agamanya, senantiasa mengajarkan kasih sayang
dan saling menghasihi kepada sesama manusia.
Sedangkan naluri ingin mendapatkan
kemulyaan hidup di dunia ini, manusia melakukan beragam cara. Ini yang kemudian
disebut politik. Secara lebih khusus, manusia ingin mencapai kekuasaan dan
kemulyaan. Namun ironisnya, dorongan ini jauh lebih kuat daripada dorongan naluri
agama yang mengajarkan kemanusiaan. Manusia sering melupakan satu sisi sebagai
hamba Allah yang senantiasa tunduk kepada-Nya, tapi disisi lain terkadang tidak
segan-segan menyakiti hamba-hamba-Nya dengan menghilangkan nilai-nilai
kemanusiaan.
Manusia telah membelah diri dalam
beragam kelompok. Ada kelompok Capres dan kelompok pendukung. Mereka telah
mendapatkan kesesuaian dan keselarasan berdasarkan atas pertimbangan rasa,
persamaan tujuan, dan cinta. Semua ini telah membuat manusia laksana minyak dan
air. Bahkan makna ashobiyah yang lahir atas nama suku atau bangsa
Apakah pilpres ini akan menjadi
orang-orang yang muflis, yaitu orang-orang yang bangkrut, rugi dan
melarat? Apakah kita tidak menyadari bahwa politik bukan sebatas persoalan
menang dan kalah, tapi persoalan menjaga martabat manusia?. Allah telah
menciptakan manusia sebagai pelaku politik yang sering disebut khalifah. Khalifah
adalah membawa misi kenabiaan dan kemuliaan manusia di dunia. Pantaskah
menempatkan diri sebagai khalifah dan membawa diri sebagai pemimpin masih
kental atas egoisme dan beragam perilaku yang jutru akan menjadikan muflis
di masa depan saat berjumpa dengan Sang Pencipta.
Pilpres sebagai realita perjalanan
politik memang harus dilakukan. Ada yang tidak boleh dilupakan Siapapun kita
dan diposisi manapun kita, bahwa untuk mendapatkan kemulyaan di dunia jangan
sampai dengan cara menghinakan diri dihadapan Allah swt. Kita adalah saudara
yang berbeda pilihan. Kita adalah saudara yang berbeda warna kulit, etnis, suku
dan keyakinan. Saat pesta telah usai, hiruk pikuk akan reda atau berakhir. Tapi
luka, kebencian, dan fitnah telah kita lepaskan bagai Anak Panah lepas dari Busurnya.
Kita tidak bisa menarik kembali, kecuali kita meminta maaf kepada orang yang
difitnah, dicaci maki dan dihinakan dengan sangat vulgar.
Islam mengajarkan “ummatan
wahidah”, umat yang satu, “kal jasad al-wahid”, seperti satu tubuh. Kita
tidak mungkin mempunyai pilihan sama satu bangsa dan satu Negara. Demokrasi lahir
karena adanya perbedaan. Dan demokrasi yang baik hadir menyadari perbedaan
dengan riang gembira, saling menghormati dan tetap membangun rasa cinta yang
tulus di dalam hati. Saat proses demokrasi seperti saat sekarang ini, kita
tetap menggunakan prinsip persaudaraan. Cara seperti ini, demokrasi menjadi
terlihat indah. Semua bisa duduk dan berdiskusi tanpa perlu mencaci maki. Itulah
yang penulis sebut pilpres dengan pendekatan kacamata kemanusiaan.
Af-Farabi. (t.t). Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah.
Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut:
Al-Resalah .
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf .
Surabaya : Risalah Gusti .
Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa
Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.
Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.
Soehino. (2001). Ilmu Negara, Cet. 4. Yogyakarta : Liberty.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876