Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melihat Pilpres dari Kacamata Kemanusiaan



Selasa , 30 Januari 2024



Telah dibaca :  435

Watak manusia adalah hidup berpasang-pasangan. Ia merupakan naluri dasar yang tidak bisa dihapus dari dirinya. Ketika nabi adam berada di surge dan mendapatkan kenikmatan tanpa batas, ternyata lama kelamaan terasa jenuh. Ia merasa ada yang kurang. Naluri sebagai manusia berupa dorongan rasa sayang dan luapan cinta tumbuh secara alamiah. Tuhan menghadirkan dengan menciptakan pasangnya, yaitu Hawa. Q.S. Al-Baqarah[2]: 35 berbunyi: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu Surga ini, dan makanlah makanan makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang  dzalim.”

Saat manusia telah menyatakan diri menjadi satu rasa, pada saat itu mereka saling pengertian, maka mereka siap menerima resiko atas apa yang telah dilakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Adam dan Hawa. Q.S. Al-Baqarah[2] :36 berbunyi;''Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan”. Q.S. Al-Baqarah [2]: 38 berbunyi: ''Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.''

Tuhan telah memberikan taubat keada nabi adam. Lalu berkembang keturunannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Mereka disebut dengan anak keturunan nabi adam atau bani adam. Beragam. Mereka berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain (Soehino, 2001). Lalu membuat kelompok dan menyerang kelompok lainya. Homo homoni lupus. Sudah tidak mengenal lagi apa istilah satu keturunan. Bahkan Al-Quran telah menggambarkan,” sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain”.

Manusia berbeda dengan makhluk lain. Dia mempunyai natiq atau akal pikiran yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Melalui ini, mereka bisa menciptakan beragam budaya dan peradaban yang bisa dilihat saat sekarang ini. Setiap suku dan bangsa mempunyai keunikan dan kekhasan satu dari yang lainnya. Kadang kecerdasan ini digunakan untuk kebaikan bersama dan sebagian orang dan/atau kelompok digunakan untuk merusak diri dan alam semesta, bahkan untuk saling bermusuhan satu sama lainnya. Mereka melakukan demikian dalam rangka mempertahankan diri untuk tetap eksis, dan melakukan segala politik untuk mempertahankan nya. Melalui kekuatan akal ini manusia bisa mendapatkan kebahagiaan (Af-Farabi, t.t).

Mengapa manusia sering disebut sebagai homo homoni lupus, padahal sama-sama satu keturunan keluarga besar bani adam? Sebab pada manusia mempunyai naluri ingin mempertahankan diri, ingin mendapatkan keturunan, perlindungan, makan, dan agama. Semua itu bisa dikemas menjadi dua; naluri beragama dan memenuhi kemulyaan hidup di dunia. Naluri beragama adalah naluri dasar manusia yang senantiasa tunduk kepada allah. Melalui perjalanan sejarah, manusia merealisasikan keyakinan dalam beragam bentuk keyakinan dan agama. Dari sini lahir nilai-nilai ilahiyah yang dikembangkan dalam bentuk norma-norma dan nilai kebajikan seperti nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Itu sebabnya, siapapun kelompok dan agamanya, senantiasa mengajarkan kasih sayang dan saling menghasihi kepada sesama manusia.

Sedangkan naluri ingin mendapatkan kemulyaan hidup di dunia ini, manusia melakukan beragam cara. Ini yang kemudian disebut politik. Secara lebih khusus, manusia ingin mencapai kekuasaan dan kemulyaan. Namun ironisnya, dorongan ini jauh lebih kuat daripada dorongan naluri agama yang mengajarkan kemanusiaan. Manusia sering melupakan satu sisi sebagai hamba Allah yang senantiasa tunduk kepada-Nya, tapi disisi lain terkadang tidak segan-segan menyakiti hamba-hamba-Nya dengan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Manusia telah membelah diri dalam beragam kelompok. Ada kelompok Capres dan kelompok pendukung. Mereka telah mendapatkan kesesuaian dan keselarasan berdasarkan atas pertimbangan rasa, persamaan tujuan, dan cinta. Semua ini telah membuat manusia laksana minyak dan air. Bahkan makna ashobiyah yang lahir atas nama suku atau bangsa (Khaldun, 1951). Kini lahir watak-watak ashobiyah atas dasar kepentingan bersama. Satu kelompok menyakiti dan menghina kelompok lain. Seolah-olah mereka hidup  sudah lupa kepada sang pencipta. Padahal semua apa yang dilakukan,dikatakan dan diucapkan serta ditulis tidak lepas dari pengawasan Allah Yang Maha Agung.?

Apakah pilpres ini akan menjadi orang-orang yang muflis, yaitu orang-orang yang bangkrut, rugi dan melarat? Apakah kita tidak menyadari bahwa politik bukan sebatas persoalan menang dan kalah, tapi persoalan menjaga martabat manusia?. Allah telah menciptakan manusia sebagai pelaku politik yang sering disebut khalifah. Khalifah adalah membawa misi kenabiaan dan kemuliaan manusia di dunia. Pantaskah menempatkan diri sebagai khalifah dan membawa diri sebagai pemimpin masih kental atas egoisme dan beragam perilaku yang jutru akan menjadikan muflis di masa depan saat berjumpa dengan Sang Pencipta.

Pilpres sebagai realita perjalanan politik memang harus dilakukan. Ada yang tidak boleh dilupakan Siapapun kita dan diposisi manapun kita, bahwa untuk mendapatkan kemulyaan di dunia jangan sampai dengan cara menghinakan diri dihadapan Allah swt. Kita adalah saudara yang berbeda pilihan. Kita adalah saudara yang berbeda warna kulit, etnis, suku dan keyakinan. Saat pesta telah usai, hiruk pikuk akan reda atau berakhir. Tapi luka, kebencian, dan fitnah telah kita lepaskan bagai Anak Panah lepas dari Busurnya. Kita tidak bisa menarik kembali, kecuali kita meminta maaf kepada orang yang difitnah, dicaci maki dan dihinakan dengan sangat vulgar.

Islam mengajarkan “ummatan wahidah”, umat yang satu, “kal jasad al-wahid”, seperti satu tubuh. Kita tidak mungkin mempunyai pilihan sama satu bangsa dan satu Negara. Demokrasi lahir karena adanya perbedaan. Dan demokrasi yang baik hadir menyadari perbedaan dengan riang gembira, saling menghormati dan tetap membangun rasa cinta yang tulus di dalam hati. Saat proses demokrasi seperti saat sekarang ini, kita tetap menggunakan prinsip persaudaraan. Cara seperti ini, demokrasi menjadi terlihat indah. Semua bisa duduk dan berdiskusi tanpa perlu mencaci maki. Itulah yang penulis sebut pilpres dengan pendekatan kacamata kemanusiaan.

References

Af-Farabi. (t.t). Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah. Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.

Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.

Soehino. (2001). Ilmu Negara, Cet. 4. Yogyakarta : Liberty.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876