Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membaca Pikiran Orang Besar dan Orang Kecil



Minggu , 20 April 2025



Telah dibaca :  477

Saat sekarang ini rakyat biasa yang jualan bakso, pecel lele, nasi goreng, tukang sapu di jalanan dan buruh-buruh bangunan sudah tidak bisa lagi disebut sebagai orang-orang yang tidak berpengetahuan. Mereka mempunyai pengetahuan yang luas. Belajar melalui internet, video, dan artikel-artikel melalui Android atau Iphone. Tentu saja, ada keistimewaan dan kekurangan. Mereka dapat informasi semua nya. Tapi tidak utuh. Sebab ia hanya penerima, bukan pelaku. Akhirnya, muncul diskusi-diskusi yang sering meresahkan, menyesatkan bahkan terkadang menimbulkan permusuhan-permusuhan.

Persoalan-persoalan  tersebut kini sudah terjadi. Keluarga yang dulunya rukun, tiba-tiba berubah bermusuhan. Teman yang dulu makan satu piring, berubah menjadi musuh utama. Musuh bebuyutan yang dulu paling dibenci, sekarang luntang-luntung bareng bahkan menjadi teman sejati, bekerjasama dan berharap saling menguntungkan, baik dalam dunia bisnis, ekonomi, kekuasaan dan politik.

Persoalan kehidupan apakah dalam wilayah paling kecil seperti keluarga atau wilayah yang sangat luas seperti kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya mempunyai tujuan sama yaitu menuruti naluri individual maupun kolektif berupa kebahagiaan, kesejahteraan dan kemulyaan. Karena manusia mempunyai pandangan yang berbeda tentang cara mencapai tujuan tersebut, maka ada yang melakukan dengan jalan pintas, yaitu melakukan pengrusakan di muka bumi dengan memberikan informasi yang menyesatkan dan tidak benar, melanggar perjanjian dan memutuskan silaturahim.

Dalam kontek arus informasi kekinian, mari kita merenungi Q.S. Al-Baqarah ayat 27 sebagai berikut:

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ۝٢٧

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Jika merujuk pada pendekatan tafsir klasik, mempunyai beragam pendapat. Pertama, perjanjian Allah kepada bani adam ketika ia mengeluarkan dari sulbi nabi adam. Kedua, wasiat Allah yang berisi perintah-perintah dan larang-larangan kepada makhluk-Nya. Pelanggaran mereka yaitu tidak mengamalkan perintah-Nya. Ketiga, berkaitan dengan dalil-dalil keesaan-Nya di langit dan di bumi.  Perjanjian dan pelanggaran mereka karena tidak merenungi dalil-dalil-Nya. Keempat, janji yang diambil Allah dari orang-orang ahli kitab bahwa mereka akan menjelaskan kenabian Nabi Muhammad SAW dan tidak menyembunyikan tentangnya. Kelima, Allah mengambil janji seperti seperti janji yang telah diambil dari para nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, bahwa mereka tidak akan inkar kepada Nabi SAW (Qurthubi, 2015). Dari pendapat-pendapat tersebut salah satu yang bisa dipahami yaitu ketidakpatuhan manusia terhadap perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya.

Makna [ يَنْقُضُوْنَ ] mempunyai arti mengurai atau melepaskan tali. Pemaknaan majaz dikaitkan dengan pelepasan terhadap janji yang telah disepakati. Orang-orang yang tidak mempercayai terhadap janji Allah bahwa manusia telah dipersiapkan rezeki oleh nya juga bagian dari orang-orang yang melepaskan potensi-potensi yang ada pada dirinya (Az-Zuhaili, 2013). Ia tidak mau bekerja dan berusaha, bagian dari sifat dan sikap melanggar janji-janji yang diberikan Allah kepada manusia. begitu juga orang-orang yang telah membuat kerusakan di dunia juga termasuk orang-orang yang melanggar janji-Nya.

Kenapa saat sekarang dunia seperti nya sedang tidak baik-baik saja. Semua penuh dengan ketegangan. Dalam kontek makro ada bisa melihat kehidupan manusia di seluruh permukaan bumi dengan kelucuan dan kebejatannya.

Kisah Palestina nampaknya akan terus menjadi konsumsi politik nasional dan internasional. Ia benar-benar menjadi ikon bisnis internasional. Ada yang memberi bantuan agar bisa bertahan hidup, dikasih obat, makanan dan minuman. Setelah itu, lalu datang lagi tentara Israel menghajarnya. Perang. Luka-luka, mati dan terus dibombardir. Lalu satu atau dua hari genjatan senjata. Akur. Hari berikutnya, buat gara-gara lagi. Perang lagi. Begitu seterusnya.

Kisah Indonesia bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) Pada 6 Januari 2025. AS santai saja sambil “nginceng” lewat Jendela Gedung Putih. Bagi Indonesia tujuannya baik. Ingin menerapkan hadist Nabi bahwa “Silaturahim memperpanjang umur dan memperluas rezeki”. Tapi persoalannya, konsep “silaturahmi” nya Donald Trump punya kamus tersendiri. Ia punya prinsip”keluar sekecil-kecilnya, keuntungan sebesar-besarnya”. “Anda boleh datang ke rumah ku, tapi eluuu harus tunduk terhadap aturanku. Anda boleh demo-demo benci terhadap produku dan sahabat karib ku, tapi ingat, masyarakat eluu akan klepek-klepek tidak bernafas”.

Indonesia memang negara besar, bahkan sangat bongsor. Ini jika dilihat dari pertumbuhan SDM nya. Anggota BRICS bongsor-bongsor juga seperti India dan China. Tapi kedua negara tersebut mempunyai menu khas untuk generasi-generasi emas “mulai dari buaian sampai ke liang lahat”, yaitu menu matematika. Hingga India sampai punya tanggal matematika nasional sebagai bagian hari nasional. Saking pentingnya matematika bagi kehidupan bangsa mereka. Begitu juga China. Sama menunya. Selain matematika, juga ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. jadi, memang mereka sudah siap-siap bersaing dalam perekonomian global.

Namanya juga persaingan, anda jangan menilai sebagai hal-hal yang lurus-lurus saja. Rumus utama persaingan adalah kepentingan. Sepanjang kepentingan itu menguntungkan, maka sah-sah saja untuk melakukan negosiasi baru, bahkan meninggalkan perjanjian untuk mendapatkan perjanjian baru. Saling sapa dan saling cekal dalam dunia persaingan merupakan kamus yang sangat wajar.

Tentu saja semua persoalan bangsa Indonesia sudah ditangani orang-orang hebat yang ada di puncak sana. Mereka yang punya segala senjata untuk memperbaiki masyarakat Indonesia yang saat sekarang ini, sebagian dari mereka sedang “semput”, karena masih memikirkan kebutuhan hidup yang tidak kunjung baik. Orang-orang hebat di sana adalah Kumpulan orang-orang hebat yang pandangannya pastinya sangat mukasafah tentang persoalan bangsa dan negara.

Saya dan anda mungkin sebatas orang biasa saja yang hari-hari sarapannya cukup nasi goreng,dan siang nya sayur bening. Apapun makanannya, kita tetap bangsa dan negara Indonesia. Masyarakat seperti saya dan anda mungkin harus mulai mengurangi banyak mikir masalah hiruk pikuk dunia. Semakin dipikir, malahan semakin ruwet dan mumet. Masyarakat seperti saya dan anda harus mulai memikirkan ibadah dan bekerja sesuai dengan standar kehidupan kita. Buka lapak usaha kecil-kecilan: jualan es dawet, nasi rawon, lontong pecel atau nasi uduk pecel lele. Itu lebih realistis hasilnya daripada berfikir bombastis, tapi tidak realistis hasilnya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872