
Saat sekarang ini rakyat biasa yang jualan
bakso, pecel lele, nasi goreng, tukang sapu di jalanan dan buruh-buruh bangunan
sudah tidak bisa lagi disebut sebagai orang-orang yang tidak berpengetahuan.
Mereka mempunyai pengetahuan yang luas. Belajar melalui internet, video, dan
artikel-artikel melalui Android atau Iphone. Tentu saja, ada keistimewaan dan kekurangan. Mereka dapat
informasi semua nya. Tapi tidak utuh. Sebab ia hanya penerima, bukan pelaku. Akhirnya,
muncul diskusi-diskusi yang sering meresahkan, menyesatkan bahkan terkadang
menimbulkan permusuhan-permusuhan.
Persoalan-persoalan tersebut kini sudah
terjadi. Keluarga yang dulunya rukun, tiba-tiba berubah bermusuhan. Teman yang
dulu makan satu piring, berubah menjadi musuh utama. Musuh bebuyutan yang dulu
paling dibenci, sekarang luntang-luntung bareng bahkan menjadi teman
sejati, bekerjasama dan berharap saling menguntungkan, baik dalam dunia bisnis,
ekonomi, kekuasaan dan politik.
Persoalan kehidupan apakah dalam wilayah
paling kecil seperti keluarga atau wilayah yang sangat luas seperti kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebenarnya mempunyai tujuan sama yaitu
menuruti naluri individual maupun kolektif berupa kebahagiaan, kesejahteraan
dan kemulyaan. Karena manusia mempunyai pandangan yang berbeda tentang cara
mencapai tujuan tersebut, maka ada yang melakukan dengan jalan pintas, yaitu melakukan
pengrusakan di muka bumi dengan memberikan informasi yang menyesatkan dan tidak
benar, melanggar perjanjian dan memutuskan silaturahim.
Dalam kontek arus informasi kekinian, mari
kita merenungi Q.S. Al-Baqarah ayat 27 sebagai berikut:
الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ
بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ
وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٢٧
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian)
itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan
(silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang
rugi.
Jika merujuk pada pendekatan tafsir klasik, mempunyai beragam pendapat.
Pertama, perjanjian Allah kepada bani adam ketika ia mengeluarkan dari sulbi
nabi adam. Kedua, wasiat Allah yang berisi perintah-perintah dan
larang-larangan kepada makhluk-Nya. Pelanggaran mereka yaitu tidak mengamalkan
perintah-Nya. Ketiga, berkaitan dengan dalil-dalil keesaan-Nya di langit dan di
bumi. Perjanjian dan pelanggaran mereka
karena tidak merenungi dalil-dalil-Nya. Keempat, janji yang diambil Allah dari
orang-orang ahli kitab bahwa mereka akan menjelaskan kenabian Nabi Muhammad SAW
dan tidak menyembunyikan tentangnya. Kelima, Allah mengambil janji seperti
seperti janji yang telah diambil dari para nabi dan orang-orang yang mengikuti
mereka, bahwa mereka tidak akan inkar kepada Nabi SAW
Makna [ يَنْقُضُوْنَ ] mempunyai arti
mengurai atau melepaskan tali. Pemaknaan majaz dikaitkan dengan pelepasan
terhadap janji yang telah disepakati. Orang-orang yang tidak mempercayai
terhadap janji Allah bahwa manusia telah dipersiapkan rezeki oleh nya juga
bagian dari orang-orang yang melepaskan potensi-potensi yang ada pada dirinya
Kenapa saat sekarang dunia seperti nya sedang tidak baik-baik saja. Semua
penuh dengan ketegangan. Dalam kontek makro ada bisa melihat kehidupan manusia
di seluruh permukaan bumi dengan kelucuan dan kebejatannya.
Kisah Palestina nampaknya akan terus menjadi konsumsi politik nasional
dan internasional. Ia benar-benar menjadi ikon bisnis internasional. Ada yang
memberi bantuan agar bisa bertahan hidup, dikasih obat, makanan dan minuman. Setelah
itu, lalu datang lagi tentara Israel menghajarnya. Perang. Luka-luka, mati dan
terus dibombardir. Lalu satu atau dua hari genjatan senjata. Akur. Hari berikutnya,
buat gara-gara lagi. Perang lagi. Begitu seterusnya.
Kisah Indonesia bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China dan Afrika
Selatan) Pada 6 Januari 2025. AS santai saja sambil “nginceng” lewat Jendela
Gedung Putih. Bagi Indonesia tujuannya baik. Ingin menerapkan hadist Nabi bahwa
“Silaturahim memperpanjang umur dan memperluas rezeki”. Tapi persoalannya,
konsep “silaturahmi” nya Donald Trump punya kamus tersendiri. Ia punya
prinsip”keluar sekecil-kecilnya, keuntungan sebesar-besarnya”. “Anda boleh
datang ke rumah ku, tapi eluuu harus tunduk terhadap aturanku. Anda boleh
demo-demo benci terhadap produku dan sahabat karib ku, tapi ingat, masyarakat eluu
akan klepek-klepek tidak bernafas”.
Indonesia memang negara besar, bahkan sangat bongsor. Ini jika
dilihat dari pertumbuhan SDM nya. Anggota BRICS bongsor-bongsor juga seperti India
dan China. Tapi kedua negara tersebut mempunyai menu khas untuk
generasi-generasi emas “mulai dari buaian sampai ke liang lahat”, yaitu menu
matematika. Hingga India sampai punya tanggal matematika nasional sebagai
bagian hari nasional. Saking pentingnya matematika bagi kehidupan bangsa
mereka. Begitu juga China. Sama menunya. Selain matematika, juga ilmu-ilmu pengetahuan
lainnya. jadi, memang mereka sudah siap-siap bersaing dalam perekonomian
global.
Namanya juga persaingan, anda jangan menilai sebagai hal-hal yang
lurus-lurus saja. Rumus utama persaingan adalah kepentingan. Sepanjang kepentingan
itu menguntungkan, maka sah-sah saja untuk melakukan negosiasi baru, bahkan
meninggalkan perjanjian untuk mendapatkan perjanjian baru. Saling sapa dan
saling cekal dalam dunia persaingan merupakan kamus yang sangat wajar.
Tentu saja semua persoalan bangsa Indonesia sudah ditangani orang-orang
hebat yang ada di puncak sana. Mereka yang punya segala senjata untuk
memperbaiki masyarakat Indonesia yang saat sekarang ini, sebagian dari mereka
sedang “semput”, karena masih memikirkan kebutuhan hidup yang tidak kunjung
baik. Orang-orang hebat di sana adalah Kumpulan orang-orang hebat yang
pandangannya pastinya sangat mukasafah tentang persoalan bangsa dan
negara.
Saya dan anda mungkin sebatas orang biasa saja yang hari-hari sarapannya
cukup nasi goreng,dan siang nya sayur bening. Apapun makanannya, kita tetap
bangsa dan negara Indonesia. Masyarakat seperti saya dan anda mungkin harus
mulai mengurangi banyak mikir masalah hiruk pikuk dunia. Semakin dipikir, malahan semakin
ruwet dan mumet. Masyarakat seperti saya dan anda harus mulai memikirkan ibadah
dan bekerja sesuai dengan standar kehidupan kita. Buka lapak usaha kecil-kecilan:
jualan es dawet, nasi rawon, lontong pecel atau nasi uduk pecel lele. Itu lebih
realistis hasilnya daripada berfikir bombastis, tapi tidak realistis hasilnya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872