Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membedakan Manusia Merdeka dan Terjajah



Rabu , 14 Agustus 2024



Telah dibaca :  831

Definisi kemerdekaan dibenak sebagian masyarakat Indonesia sering mempunyai arti bangsa yang telah lepas dari penjajahan penjajah dengan ditandai adanya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak salah. Itu tanda caatatan sejarah yang tidak bisa dihilangkan. tanggal tersebut sebagai catatan penting bahwa Indonesia pernah lahir para pemimpin, suhada, mujahid dan para pejuang dan pembentukan negara yang diberi nama Indonesia.

Penjajahan selalu saja melahirkan presepsi sebagai suasana dhohir dan bathin yang menyedihkan bagi kaum terjajah. Para pegiat media sosial telah menampilkan gambar-gambar  masa lalu pada masa kolonialism. Menyedihkan dan menyakitkan hati. Menyedihkan karena gambar-gambar tersebut menampilkan foto bangsa Belanda kulit putih dengan memakai baju yang sangat indah di kelilingi oleh ibu-ibu pribumi yang bawahannya memakai jarit, dan atas hanya memakai kemben atau “kain kotang panjang” yang hanya menutupi bagian tertentu saja. foto-foto tersebut semakin menyedihkan karena gambar tersebut bukan sebatas foto biasa, tapi sekumpulan ibu-ibu bersama anak-anak nya yang masih kecil dan laki-laki hanya memakai celana kasar dan rambutnya plontos dengan sedikit rambut di bagian depan. Model potongan rambut kuncung, yang menjadi ciri khas anak-anak kecil saat itu yang belum baligh atau belum sunnat.

Kisah penderitaan melalui gambar tersebut di atas dan kisah-kisah nenek moyang kita yang sering ceritakan para tetua atau kakek-nenek kita kepada anak-anak dan cucu-cucunya dengan penuh penghayatan. Itu kisah riil. Jika ada kakek cerita tidak pernah makan nasi, itu adalah fakta, bukan sintetron di TV Indosiar yang setelah didzalimi langsung jadi orang kaya.

Ada seorang kakek tua menceritakan sehari-hari makan “bonggol pisang” (bagian dalam pohon pisang muda), yang kata nya juga menyebabkan penyakit beri-beri dan busung lapar menjadi trend saat itu. Apakah ada hubungan makan bonggol pisang dengan penyakit beri-beri dan busung lapar kurang begitu memahaminya. itu adalah fakta kisah yang sering diterima dari pelaku sejarah masa lalu.

Para pelaku sejarah, orang tua kita sebagian telah meninggal dunia. cerita heroik para pejuang sudah mulai hilang, dan kisah mereka tentang makan “bonggol pisang”, “oyek”, “gaplek”, “nasi ngi” ( sisa nasi yang dikeringkan, kemudian dimasak lagi untuk makan) dan sejenisnya sudah tidak lagi terdengar. Para pendahulu telah meninggal dunia. Generasi selanjutnya sudah mulai kehilangan jejak-jejak perjuangan para pahlawan. Kalimat heroic perjuangan “tetesan darah dan air mata” sudah mulai luntur dari hati nurani nya. Generasi kekinian telah mendapatkan kemerdekaan formalitas, tapi ironis terpenjara dalam kemerdekaan subtansionalitas. Bahagia dalam penderitaan laksana kehidupan dalam Sangkar Emas.

Jika kemerdekaan terbebas dari penjajahan klasik, memang sudah betul. tapi penjajahan yang tidak kalah mengerikan adalah penjajahan pola pikir yang dihembuskan oleh para negara adikuasa dan kaum intelektual negara tersebut. mereka menyerang dengan sangat masif sehingga sebagian masyarakat Indonesia merasa dirinya inferior ketika berhadapan dengan orang-orang dari negara atau bangsa lain. Saat melihat orang bule, pikiran kita langsung terprogram bahwa mereka orang hebat, kaya dan bermarbat. Bahkan realita saat sekarang ini, mereka adalah manusia modern yang mudah sekali bar-bar dalam perilaku. Terkena isu rasis me, dengan mudah mereka tersulut kerusuhan di seluruh ibukota sebagaimana terjadi di Prancis dan Inggris. ketika melihat orang Arab Timur Tengah, benak kita sering berimajinasi kota Mekah dan petrodollar yang tidak pernah habis dan tidak ada kemiskinan di negeri tersebut. Bahkan kadang tidak heran, saking inferiornya bangsa ini, sebagian ustadz selalu mengagungkan Timur Tengah akibat berkah beribadah kepada Allah. Seolah-olah bangsa Indonesia kurang sholeh, dan kesholehannya di bawah standar orang arab. Padahal, di negara petrodollar juga banyak orang-orang yang melakukan maksiat sebagaimana di Indonesia. Ketika melihat orang-orang bermata sipit, langsung dalam benak kita adalah para pelaku ekonomi dan semua adalah orang-orang kaya dan cerdas. Padahal, mereka juga ada masalah yang sangat mengerikan yaitu semakin tinggi angka pengagguran dan semakin stress akibat warganya banyak terkena penyakit health mental.

Kondisi tersebut di atas adalah penjajahan di era modern. Usia kemerdekaan fisik sudah berjalan 79 tahun, dan kini terperangkap secara pelan-pelan pada penjajahan intelektual menyerang sebagian generasi muda. Mereka sudah kurang bangga dengan diri sendiri sebagai bangsa Indonesia yang besar dan hebat. Ironis lagi, mereka bangga dengan bangsa lain yang dipresepsikan sebagai bangsa beradab, modern dan perlu menjadi percontohan.

Padahal, suatu bangsa merdeka sebenarnya ketika masyarakatnya mampu membebaskan diri dari bayang-bayang orang lain atau bangsa lain. Prinsip tersebut adalah prinsip yang digunakan oleh bangsa-bangsa yang saat sekarang ini dianggap oleh generasi muda kita sebagai bangsa yang hebat seperti AS,Cina dan Arab Saudi. Maka salah satu cara agar bangs aini bisa Merdeka secara subtansional adalah membebaskan diri dari bayang-bayang kehebatan bangsa lain. Tanamkan secara mendalam akan kepercayaan diri yang kuat dan keimanan kepada Allah secara istiqomah. Dua modal ini sangat penting untuk membebaskan diri dari segala bentuk penjajah dan menjadi diri manusia merdeka.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Top

Terbaik

Avatar

Saifunnajar

Semoga tulisan ini terus dapat diwariskan dan dibaca oleh generasi penerus, untuk menyadarkan betapa berat perjuangan menuju pintu gerbang kemerdekaan RI.

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876