
Definisi kemerdekaan dibenak sebagian
masyarakat Indonesia sering mempunyai arti bangsa yang telah lepas dari
penjajahan penjajah dengan ditandai adanya proklamasi kemerdekaan pada tanggal
17 Agustus 1945. Tidak salah. Itu tanda caatatan sejarah yang tidak bisa
dihilangkan. tanggal tersebut sebagai catatan penting bahwa Indonesia pernah
lahir para pemimpin, suhada, mujahid dan para pejuang dan pembentukan negara
yang diberi nama Indonesia.
Penjajahan selalu saja melahirkan presepsi
sebagai suasana dhohir dan bathin yang menyedihkan bagi kaum terjajah. Para
pegiat media sosial telah menampilkan gambar-gambar masa lalu pada masa kolonialism. Menyedihkan
dan menyakitkan hati. Menyedihkan karena gambar-gambar tersebut menampilkan foto
bangsa Belanda kulit putih dengan memakai baju yang sangat indah di kelilingi
oleh ibu-ibu pribumi yang bawahannya memakai jarit, dan atas hanya memakai
kemben atau “kain kotang panjang” yang hanya menutupi bagian
tertentu saja. foto-foto tersebut semakin menyedihkan karena gambar tersebut
bukan sebatas foto biasa, tapi sekumpulan ibu-ibu bersama anak-anak nya yang
masih kecil dan laki-laki hanya memakai celana kasar dan rambutnya plontos
dengan sedikit rambut di bagian depan. Model potongan rambut kuncung, yang
menjadi ciri khas anak-anak kecil saat itu yang belum baligh atau belum sunnat.
Kisah penderitaan melalui gambar tersebut
di atas dan kisah-kisah nenek moyang kita yang sering ceritakan para tetua atau
kakek-nenek kita kepada anak-anak dan cucu-cucunya dengan penuh penghayatan. Itu
kisah riil. Jika ada kakek cerita tidak pernah makan nasi, itu adalah fakta,
bukan sintetron di TV Indosiar yang setelah didzalimi langsung jadi orang kaya.
Ada seorang kakek tua menceritakan
sehari-hari makan “bonggol pisang” (bagian dalam pohon pisang muda), yang kata
nya juga menyebabkan penyakit beri-beri dan busung lapar menjadi trend saat
itu. Apakah ada hubungan makan bonggol pisang dengan penyakit beri-beri dan
busung lapar kurang begitu memahaminya. itu adalah fakta kisah yang sering
diterima dari pelaku sejarah masa lalu.
Para pelaku sejarah, orang tua kita
sebagian telah meninggal dunia. cerita heroik para pejuang sudah mulai hilang,
dan kisah mereka tentang makan “bonggol pisang”, “oyek”, “gaplek”, “nasi ngi”
( sisa nasi yang dikeringkan, kemudian dimasak lagi untuk makan) dan sejenisnya
sudah tidak lagi terdengar. Para pendahulu telah meninggal dunia. Generasi
selanjutnya sudah mulai kehilangan jejak-jejak perjuangan para pahlawan. Kalimat
heroic perjuangan “tetesan darah dan air mata” sudah mulai luntur dari hati nurani
nya. Generasi kekinian telah mendapatkan kemerdekaan formalitas, tapi ironis
terpenjara dalam kemerdekaan subtansionalitas. Bahagia dalam penderitaan
laksana kehidupan dalam Sangkar Emas.
Jika kemerdekaan terbebas dari penjajahan
klasik, memang sudah betul. tapi penjajahan yang tidak kalah mengerikan adalah
penjajahan pola pikir yang dihembuskan oleh para negara adikuasa dan kaum intelektual
negara tersebut. mereka menyerang dengan sangat masif sehingga sebagian masyarakat
Indonesia merasa dirinya inferior ketika berhadapan dengan orang-orang dari
negara atau bangsa lain. Saat melihat orang bule, pikiran kita langsung terprogram
bahwa mereka orang hebat, kaya dan bermarbat. Bahkan realita saat sekarang ini,
mereka adalah manusia modern yang mudah sekali bar-bar dalam perilaku. Terkena
isu rasis me, dengan mudah mereka tersulut kerusuhan di seluruh ibukota sebagaimana
terjadi di Prancis dan Inggris. ketika melihat orang Arab Timur Tengah, benak
kita sering berimajinasi kota Mekah dan petrodollar yang tidak pernah habis dan
tidak ada kemiskinan di negeri tersebut. Bahkan kadang tidak heran, saking
inferiornya bangsa ini, sebagian ustadz selalu mengagungkan Timur Tengah akibat
berkah beribadah kepada Allah. Seolah-olah bangsa Indonesia kurang sholeh, dan
kesholehannya di bawah standar orang arab. Padahal, di negara petrodollar juga
banyak orang-orang yang melakukan maksiat sebagaimana di Indonesia. Ketika
melihat orang-orang bermata sipit, langsung dalam benak kita adalah para pelaku
ekonomi dan semua adalah orang-orang kaya dan cerdas. Padahal, mereka juga ada
masalah yang sangat mengerikan yaitu semakin tinggi angka pengagguran dan
semakin stress akibat warganya banyak terkena penyakit health mental.
Kondisi tersebut di atas adalah penjajahan
di era modern. Usia kemerdekaan fisik sudah berjalan 79 tahun, dan kini terperangkap
secara pelan-pelan pada penjajahan intelektual menyerang sebagian generasi
muda. Mereka sudah kurang bangga dengan diri sendiri sebagai bangsa Indonesia yang
besar dan hebat. Ironis lagi, mereka bangga dengan bangsa lain yang dipresepsikan
sebagai bangsa beradab, modern dan perlu menjadi percontohan.
Padahal, suatu bangsa merdeka sebenarnya
ketika masyarakatnya mampu membebaskan diri dari bayang-bayang orang lain atau
bangsa lain. Prinsip tersebut adalah prinsip yang digunakan oleh bangsa-bangsa
yang saat sekarang ini dianggap oleh generasi muda kita sebagai bangsa yang
hebat seperti AS,Cina dan Arab Saudi. Maka salah satu cara agar bangs aini bisa
Merdeka secara subtansional adalah membebaskan diri dari bayang-bayang
kehebatan bangsa lain. Tanamkan secara mendalam akan kepercayaan diri yang kuat
dan keimanan kepada Allah secara istiqomah. Dua modal ini sangat penting untuk
membebaskan diri dari segala bentuk penjajah dan menjadi diri manusia merdeka.
Penulis : Imam Ghozali
Top
Terbaik
Saifunnajar
Semoga tulisan ini terus dapat diwariskan dan dibaca oleh generasi penerus, untuk menyadarkan betapa berat perjuangan menuju pintu gerbang kemerdekaan RI.
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876