Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Memberi Segelas Kopi, Dibalas Satu Kilo Ikan Terubuk



Sabtu , 14 Juni 2025



Telah dibaca :  748

Tadi siang Mas Yoga dari Kantor Bea Cukai Bengkalis mengirim pesan lewat WA. Isinya, Pak Agus Kepala Bea Cukai ingin ngopi bareng sambil bakaran ikan laut. Saya menyanggupinya. Mas Yoga yang alumni UPN Yogyakarta telah mengatur waktunya. Jam 20.00. Tujuannya agar leluasa bakaran dan ngobrol nya.

Saya ngajak mas chanif. Ma’lum sejak tadi pagi selalu di kampus. Ngancani “konco-konco” dosen yang prodinya sedang AL, dan prodi lain persiapan AL. Hitung-hitung refresing supaya tidak “suntuk” di Kantor, saya ajak ketemu dengan Pak Agus dan pasukannya di Rumah Dinas Bea Cukai Jl. Pembangunan Kelapapati.

Sudah lama sebenarnya ingin ngopi bareng. Malam ini baru kesampaian niatnya. Pertemuan malam ini tentu bukan pada persoalan makan bersama yang sudah dipersiapkan beragam lauk-ikan laut ada senangin, gerut dan terubuk dan entah entah apa lagi, saya tidak tahu nama-nama ikan. Tapi ada persoalan yang lebih penting sebenarnya yaitu seduluran[persaudaraan]. Seduluran biasanya lahir karena mempunyai watak “semedulur”, yaitu watak melihat siapapun menjadi saudara tanpa memandang status sosial, pangkat dan jabatan.

Sambil makan saya dan Pak Agus ngobrol. Isinya ngaji kehidupan. Itu sangat penting. Pengalaman hidup adalah ilmu yang tidak ada dalam buku. Pengalaman hidup adalah bagian dari ilmu laduni yang membuat seseorang semakin bijak dan “tenggar atine” melihat fenomena kehidupan yang dalam pewayang disebut dengan era”goro-goro”.  Pada wilayah ini berdiskusi menjadi sangat menarik. Apalagi di depanya juga ada secangkir kopi: menarik tema diskusinya, lezat kopinya.

Sebagai seorang Kepala Bea Cukai yang mempunyai wilayah kerja sekitar 3 kabupaten (kalau tidak salah Bengkalis, Meranti dan Siak) harus bekerja bersama dengan teamwork yang kuat dan professional. Menurutnya bekerja di Bea Cukai banyak tantangan. Namun ia mempunyai prinsip andalan yaitu: “Bekerja dengan niat baik karena Allah”.

Prinsip bekerja terlihat klasik dan kurang keren [mungkin juga jarang dibahas dalam manajemen modern]. Namun justru yang terlihat kolot akan membuka jalan-jalan kebaikan dari hal-hal yang tidak disangka-sangka. Bagi orang yang terlalu berfikir rasional mungkin hanya sebatas menggunakan rumus matematik. Satu tambah satu dua, dua tambah dua empat dan sejenisnya.

Dalam ilmu kebaikan berlaku ilmu sebab akibat. Allah telah berfirman:”Barangsiapa yang beramal kebaikan maka ia akan mendapatkan kebaikan. Barangsiapa yang berbuat kejelekan, maka akan mendapatkan kejelekan”. Semua akan terjadi pada saat yang tepat. Dan manusia hanya sebatas menunggu dan membuktikan kebenaran tersebut.

Jamuan malam ini bagi sebagian orang sangat istimewa. Saya tidak kaget. Sebab tadi pagi saya telah melakukan kebaikan kecil membahagiakan beberapa orang meskipun dengan beberapa cangkir kopi. Saya menyakini, Tuhan akan membalas kebaikan berlipat-lipat. Itu suatu keyakinan yang tidak perlu diharapkan lagi. Sudah pasti akan mendapatkan kebaikan.. Ketika Pak Agus menjamu diriku dengan beragam ikan yang belum pernah saya merasakan selama hidup [terutama ikan terubuk], sebenarnya sedang membuka tabir kebenaran tentang balasan kebaikan itu pasti ada dan nyata.

Membahagiakan orang lain memang suatu perbuatan yang unik- Apakah pelaku nya Ikhlas atau tidak Ikhlas- pelaku kebaikan selalu mendapatkan balasan kebaikan. Perbuatan baik jika tidak ikhlas akan kembali kepada dirinya. Tapi orang yang dibantu akan selalu mengenang kebaikan orang tersebut. Itu sebabnya, pelaku kebaikan tersebut akan mendapatkan efek kebaikan meskipun pada dirinya ada unsur ketidak ikhlasan.

Kadang pelaku kebaikan mendapatkan kebalikanya. Sudah berkali-kali berbuat kebaikan, tapi kadang selalu saja balasannya menyesakan dada. Kisah-kisah sejenis ini sering terdengar dalam kehidupan. Bukan hanya dalam cerita di Drama Indosiar, tapi dalam dunia nyata. Sehingga ada sebagian orang putus asa dan menutup dengan kalimat begini: “Buat apa berbuat baik jika orang yang kita bantu tidak pengertian”.

Tuhan memang selalu menghadirkan orang-orang jenis seperti itu. Kita tidak perlu merasa bersalah atas kebaikan kita dan tidak perlu merasa menyesal telah berbuat baik di hadapan Tuhan. Percayalah, Tuhan “mboten sare”. Suatu kebaikan akan hadir menjadi pemenang dengan beragam jalan yang tidak disangka-sangka.

Kebaikan dalam alam semesta seperti sinar kosmik. Ia akan menghubungkan diri dan menyatu sehingga memancar cahaya kebaikan meskipun di tempat yang sangat terpencil dan gelap. Ia akan ketemu dan menyatu. Tidak peduli seberapa lama dan seberapa besar penghalang di jagat raya ini, sinar kebaikan akan terus menerjang penghalang dan terus menerobos hingga sampai pada kita, atau anak kita atau baru sampai pada cucu-cucu kita.

Para pelaku kebaikan mungkin merasa belum mendapatkan balasan kebaikan berupa finansial atau jabatan. Bisa jadi Tuhan membalas kebaikan dalam wujud kesehatan, kebahagiaan hati, anak-anak yang sholeh, cerdas-cerdas dan keluarga yang sakinah mawadah warrahmah. Kenikmatan tersebut jauh lebih besar ketimbang balasan berupa harta.

Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia yaitu mempunyai umur yang panjang dan mempunyai karya yang baik dan memberi kemanfaatan bagi orang lain”. Dalam Kitab Duratunashihin ada sebuah hadist: “Orang yang dermawan, dekat dengan Allah, dengan Malaikat, Surga dan jauh dari Api Neraka”.

Setelah cukup diskusi terasa cukup dan perut pun sudah terasa kenyang, kami pun permisi kembali ke kampus. Saya lihat Pak Agus dan para pembesar bea cukai berdiri memberi penghormatan yang tulus kepada kami. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kebaikan kepada Pak Agus, keluarga, teman-teman dan kepada kita semua. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875