
Tadi siang Mas Yoga dari Kantor Bea Cukai
Bengkalis mengirim pesan lewat WA. Isinya, Pak Agus Kepala Bea Cukai ingin
ngopi bareng sambil bakaran ikan laut. Saya menyanggupinya. Mas Yoga yang
alumni UPN Yogyakarta telah mengatur waktunya. Jam 20.00. Tujuannya agar
leluasa bakaran dan ngobrol nya.
Saya ngajak mas chanif. Ma’lum sejak tadi
pagi selalu di kampus. Ngancani “konco-konco” dosen yang prodinya sedang
AL, dan prodi lain persiapan AL. Hitung-hitung refresing supaya tidak “suntuk”
di Kantor, saya ajak ketemu dengan Pak Agus dan pasukannya di Rumah Dinas Bea
Cukai Jl. Pembangunan Kelapapati.
Sudah lama sebenarnya ingin ngopi bareng. Malam
ini baru kesampaian niatnya. Pertemuan malam ini tentu bukan pada persoalan
makan bersama yang sudah dipersiapkan beragam lauk-ikan laut ada senangin,
gerut dan terubuk dan entah entah apa lagi, saya tidak tahu nama-nama ikan. Tapi
ada persoalan yang lebih penting sebenarnya yaitu seduluran[persaudaraan].
Seduluran biasanya lahir karena mempunyai watak “semedulur”,
yaitu watak melihat siapapun menjadi saudara tanpa memandang status sosial,
pangkat dan jabatan.
Sambil makan saya dan Pak Agus ngobrol. Isinya
ngaji kehidupan. Itu sangat penting. Pengalaman hidup adalah ilmu yang tidak
ada dalam buku. Pengalaman hidup adalah bagian dari ilmu laduni yang
membuat seseorang semakin bijak dan “tenggar atine” melihat fenomena
kehidupan yang dalam pewayang disebut dengan era”goro-goro”. Pada wilayah ini berdiskusi menjadi sangat menarik.
Apalagi di depanya juga ada secangkir kopi: menarik tema diskusinya, lezat
kopinya.
Sebagai seorang Kepala Bea Cukai yang
mempunyai wilayah kerja sekitar 3 kabupaten (kalau tidak salah Bengkalis,
Meranti dan Siak) harus bekerja bersama dengan teamwork yang kuat dan professional.
Menurutnya bekerja di Bea Cukai banyak tantangan. Namun ia mempunyai prinsip andalan
yaitu: “Bekerja dengan niat baik karena Allah”.
Prinsip bekerja terlihat klasik dan kurang
keren [mungkin juga jarang dibahas dalam manajemen modern]. Namun justru yang
terlihat kolot akan membuka jalan-jalan kebaikan dari hal-hal yang tidak
disangka-sangka. Bagi orang yang terlalu berfikir rasional mungkin hanya
sebatas menggunakan rumus matematik. Satu tambah satu dua, dua tambah dua empat
dan sejenisnya.
Dalam ilmu kebaikan berlaku ilmu sebab
akibat. Allah telah berfirman:”Barangsiapa yang beramal kebaikan maka ia
akan mendapatkan kebaikan. Barangsiapa yang berbuat kejelekan, maka akan
mendapatkan kejelekan”. Semua akan terjadi pada saat yang tepat. Dan
manusia hanya sebatas menunggu dan membuktikan kebenaran tersebut.
Jamuan malam ini bagi sebagian orang sangat
istimewa. Saya tidak kaget. Sebab tadi pagi saya telah melakukan kebaikan kecil
membahagiakan beberapa orang meskipun dengan beberapa cangkir kopi. Saya menyakini,
Tuhan akan membalas kebaikan berlipat-lipat. Itu suatu keyakinan yang tidak
perlu diharapkan lagi. Sudah pasti akan mendapatkan kebaikan.. Ketika Pak Agus menjamu
diriku dengan beragam ikan yang belum pernah saya merasakan selama hidup
[terutama ikan terubuk], sebenarnya sedang membuka tabir kebenaran tentang
balasan kebaikan itu pasti ada dan nyata.
Membahagiakan orang lain memang suatu
perbuatan yang unik- Apakah pelaku nya Ikhlas atau tidak Ikhlas- pelaku
kebaikan selalu mendapatkan balasan kebaikan. Perbuatan baik jika tidak ikhlas akan
kembali kepada dirinya. Tapi orang yang dibantu akan selalu mengenang kebaikan
orang tersebut. Itu sebabnya, pelaku kebaikan tersebut akan mendapatkan efek
kebaikan meskipun pada dirinya ada unsur ketidak ikhlasan.
Kadang pelaku kebaikan mendapatkan
kebalikanya. Sudah berkali-kali berbuat kebaikan, tapi kadang selalu saja balasannya
menyesakan dada. Kisah-kisah sejenis ini sering terdengar dalam kehidupan. Bukan
hanya dalam cerita di Drama Indosiar, tapi dalam dunia nyata. Sehingga ada
sebagian orang putus asa dan menutup dengan kalimat begini: “Buat apa
berbuat baik jika orang yang kita bantu tidak pengertian”.
Tuhan memang selalu menghadirkan
orang-orang jenis seperti itu. Kita tidak perlu merasa bersalah atas kebaikan
kita dan tidak perlu merasa menyesal telah berbuat baik di hadapan Tuhan. Percayalah,
Tuhan “mboten sare”. Suatu kebaikan akan hadir menjadi pemenang dengan
beragam jalan yang tidak disangka-sangka.
Kebaikan dalam alam semesta seperti sinar
kosmik. Ia akan menghubungkan diri dan menyatu sehingga memancar cahaya kebaikan
meskipun di tempat yang sangat terpencil dan gelap. Ia akan ketemu dan menyatu.
Tidak peduli seberapa lama dan seberapa besar penghalang di jagat raya ini,
sinar kebaikan akan terus menerjang penghalang dan terus menerobos hingga
sampai pada kita, atau anak kita atau baru sampai pada cucu-cucu kita.
Para pelaku kebaikan mungkin merasa belum
mendapatkan balasan kebaikan berupa finansial atau jabatan. Bisa jadi Tuhan
membalas kebaikan dalam wujud kesehatan, kebahagiaan hati, anak-anak yang sholeh,
cerdas-cerdas dan keluarga yang sakinah mawadah warrahmah. Kenikmatan tersebut
jauh lebih besar ketimbang balasan berupa harta.
Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia
yaitu mempunyai umur yang panjang dan mempunyai karya yang baik dan memberi kemanfaatan
bagi orang lain”. Dalam Kitab Duratunashihin ada sebuah hadist: “Orang
yang dermawan, dekat dengan Allah, dengan Malaikat, Surga dan jauh dari Api
Neraka”.
Setelah cukup diskusi terasa cukup dan
perut pun sudah terasa kenyang, kami pun permisi kembali ke kampus. Saya lihat Pak
Agus dan para pembesar bea cukai berdiri memberi penghormatan yang tulus kepada
kami. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kebaikan kepada Pak Agus, keluarga, teman-teman
dan kepada kita semua. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875