Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membimbing Skripsi Mahasiswa Penganut aliran Bon Jovi



Kamis , 24 April 2025



Telah dibaca :  760

Dari sekian puluh mahasiswa yang mendapatkan bimbingan Skripsi selalu saja setiap angkatan ada satu atau dua orang mahasiswa yang berwajah polos seperti tidak punya dosa. Ia benar-benar polos. Lugu. Kadang penampilannya agak metal, tapi sopan. Tentu sopan ukuran anak-anak sekarang. Berbeda pada era dulu saat saya masih kuliah, rasa-rasanya sopan terhadap dosen harus lebih tinggi dari ilmu. Kurang ajar sedikit langsung kena blacklist.

Pada saat waktu luang, saya mendekati mahasiswa yang baju dan celannya nya agak mirip-mirip model-model penyanyi rock zaman jadul: Bon Jovi atau grup band lawas terkenal sekali New Kids On The Block atau gaya Sheilla On Sevent asal dari kota pelajar Yogyakarta yang kelihatannya di Media Sosial telah reborn. Vokalisnya, Mas Duta sekarang sudah mendapat panggilan Pak Duta. Tapi tetap gaya dan penampilannya masih seperti dulu: menggemaskan, menggoda, dan membuat cewek-cewek ABG menjerit histeris saat melihat penampilannya.

Saya kumpulkan mereka tentang apa yang menyebabkan kesulitan pada penulisan skripsi. Rata-rata menjawab pada persoalan judul, atau tema apa yang akan diangkat menjadi judul skripsi.


Ternyata persoalan tersebut sama saat saya kuliah Es Satu dulu. Rata-rata teman satu lokal kebingungan pada persoalan tersebut. Hingga akhirnya banyak teman-teman ku harus pergi ke konsultan liar untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namanya juga konsultan liar, tentu saja penyelesainnya di Kedai Kopi.

Ketika kuliah, saya sudah bingung mulai semester satu. Bingung sekali mikir biaya kuliah. Tidak sempat mikir mata kuliah. Karena dari awal sudah bingung, masuk semester enam bingungnnya sudah kurang. Saat membuat judul, menulis skripsi pun tidak bingung. Yang penting nulis. Ikut buku panduan. Mengumpulkan data, tulis, analisis. Selesai. Sampai-sampai pembimbingku kaget melihat skripsiku. Ia memujiku terlalu tinggi: “Ini bukan skripsi, tapi disertasi”. Saat itu saya belum begitu paham makna disertasi. Baru tahu istilah tersebut setelah masuk program doktor.

Saya katakan kepada teman-teman mahasiswa, bahwa membuat skripsi jangan terlalu berfikir “ngawang-ngawang” di angkasa raya. Seandainya toh ingin membahas, tentu harus disesuaikan antara badan dan bajunya. Saya sering menyarankan untuk meneliti hal-hal yang terlihat sepele. Umpamanya saja meneliti tentang nama-nama jalan, nama-nama para ulama atau pahlawan daerah yang saya lihat banyak sekali pemakaman-pemakaman pahlawan yang bisa dijadikan bahan penulisan skripsi. Kalau perlu meneliti gaya berpakaian dosen dengan model mengajarnya. Atau gaya mengajar dosen, menarik atau tidak. Itu penting. Sebab dulu saya pernah menghitung kata “ITU” pada salah satu dosen. Ternyata setiap proses perkuliahan dosen tersebut telah mampu memproduksi kata “ITU” sebanyak 50 kali. Sedangkan teman ku menghitung huruf “EEE” pada salah satu dosen. Sebelum bicara, selalu saja di awali dengan huruf “EEE”, baru bicara. Gara-gara itu, saya jadi tidak ngantuk. Sebab semua mahasiswa jadi fokus ngitung huruf tersebut.


Kelihatannya itu sepele dan tidak berguna. Padahal para guru besar dan dosen-dosen dari luar bengkalis sangat tertarik meneliti hal-hal yang sepele tersebut. Sebab setiap nama jalan atau nama orang yang diabadikan menyimpan filosofis, historis dan nilai-nilai kehidupan pada masa lalu dan akan membuka suatu fakta baru yang bisa menjadi modal untuk membangun daerah tersebut sesuai dengan falsafah para leluhurnya. Bisa jadi, pembangunan saat sekarang berjalan ditempat gara-gara melupakan sejarah yang sangat luhur di kampung kita. Tapi kita tidak menyadarinya. Justru orang lain yang lebih mengetahui budaya kita dari pada diri kita sendiri.

Apalagi daerah kita sering disebut sebagai daerah melayu. Jargon yang digunakan sangat luarbiasa: “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah”. Artinya setiap bagian dari adat-istiadat, baik nama orang, nama baju, warna kain, perilaku sehari-hari, dan adat-istiadat yang ada bisa dipastikan mengandung nilai-nilai Islami. Jika ini diteliti, maka akan ditemukan keutuhan ajaran Islam di tanah melayu yang sudah menyatu dengan sangat baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab jika tidak diteliti, bisa jadi suatu saat generasi dari masyarakat melayu sendiri akan meninggalkan budaya-budayanya karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Hal ini disebabkan karena malas melakukan kajian dan hanya belajar agama secara formalistik dan instan, lalu menjustifikasi bahwa “Budaya melayu bertentangan dengan syariat Islam”. Sungguh miris bukan?.

Saya terkadang sedih melihat semua itu. Apalagi melihat wajah-wajah mahasiswa yang merasa kesulitan ingin menulis karya ilmiah berupa skripsi tadi. Saya mencoba mendekati mereka, dan memberi keyakinan bahwa membuat skripsi itu mudah. Bahkan jika tidak ada waktu untuk bertemu dengan ku karena ada suatu kegiatan, saya sarankan untuk mengirim melalui email. Saya pastikan tidak lebih dari satu jam, email saya respon dan saya koreksi. Tentu saja sekali lagi, jika saya tidak ada kegiatan.

Alhamdulillah, ada beberapa dari mereka sudah melakukan bimbingan melalui email. Ada catatan-catatan yang saya buat. Mereka kelihatannya paham. Tentu saja pemahaman mereka tidak sama dengan dosen. Itu sebabnya, menuntut mahasiswa punya kemampuan sekelas dosen itu hal yang tidak mungkin. Sangat sulit. Meskipun ada yang mempunyai kemampaun, mungkin jumlahnya sedikit, tapi itu sulit. Biarkan saja mahasiswa berfikir dengan kapasitasnya. Suatu saat pasti akan berkembang pemikirannya dengan lebih baik lagi di kemudian hari, bahkan bisa lebih baik dari dosennya.

Yang terpenting, bimbing mereka sampai selesai Skripsi. Seperti apapun tulisan mereka, tetap diterima. Jelek tidak apa-apa yang penting karya sendiri. Daripada bagus tapi karya orang lain. buatlah mereka bangga dengan karya sendiri. sebab kita terlalu jauh dari jati diri sendiri, yaitu suka membanggakan kehebatan orang lain daripada diri sendiri. Masa sih kalah dengan jargon Perusahaan Maspion: “Cintailah produk-produk Indonesia!”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872