
Dari sekian puluh mahasiswa yang
mendapatkan bimbingan Skripsi selalu saja setiap angkatan ada satu atau dua
orang mahasiswa yang berwajah polos seperti tidak punya dosa. Ia benar-benar
polos. Lugu. Kadang penampilannya agak metal, tapi sopan. Tentu sopan ukuran
anak-anak sekarang. Berbeda pada era dulu saat saya masih kuliah, rasa-rasanya
sopan terhadap dosen harus lebih tinggi dari ilmu. Kurang ajar sedikit langsung
kena blacklist.
Pada saat waktu luang, saya mendekati
mahasiswa yang baju dan celannya nya agak mirip-mirip model-model penyanyi rock
zaman jadul: Bon Jovi atau grup band lawas terkenal sekali New Kids On The
Block atau gaya Sheilla On Sevent asal dari kota pelajar Yogyakarta
yang kelihatannya di Media Sosial telah reborn. Vokalisnya, Mas Duta
sekarang sudah mendapat panggilan Pak Duta. Tapi tetap gaya dan penampilannya
masih seperti dulu: menggemaskan, menggoda, dan membuat cewek-cewek ABG
menjerit histeris saat melihat penampilannya.
Saya kumpulkan mereka tentang apa yang menyebabkan kesulitan pada penulisan skripsi. Rata-rata menjawab pada persoalan judul, atau tema apa yang akan diangkat menjadi judul skripsi.

Ternyata persoalan tersebut sama saat saya
kuliah Es Satu dulu. Rata-rata teman satu lokal kebingungan pada persoalan
tersebut. Hingga akhirnya banyak teman-teman ku harus pergi ke konsultan liar
untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namanya juga konsultan liar, tentu saja
penyelesainnya di Kedai Kopi.
Ketika kuliah, saya sudah bingung mulai semester
satu. Bingung sekali mikir biaya kuliah. Tidak sempat mikir mata kuliah. Karena
dari awal sudah bingung, masuk semester enam bingungnnya sudah kurang. Saat
membuat judul, menulis skripsi pun tidak bingung. Yang penting nulis. Ikut buku
panduan. Mengumpulkan data, tulis, analisis. Selesai. Sampai-sampai
pembimbingku kaget melihat skripsiku. Ia memujiku terlalu tinggi: “Ini bukan
skripsi, tapi disertasi”. Saat itu saya belum begitu paham makna disertasi.
Baru tahu istilah tersebut setelah masuk program doktor.
Saya katakan kepada teman-teman mahasiswa, bahwa membuat skripsi jangan terlalu berfikir “ngawang-ngawang” di angkasa raya. Seandainya toh ingin membahas, tentu harus disesuaikan antara badan dan bajunya. Saya sering menyarankan untuk meneliti hal-hal yang terlihat sepele. Umpamanya saja meneliti tentang nama-nama jalan, nama-nama para ulama atau pahlawan daerah yang saya lihat banyak sekali pemakaman-pemakaman pahlawan yang bisa dijadikan bahan penulisan skripsi. Kalau perlu meneliti gaya berpakaian dosen dengan model mengajarnya. Atau gaya mengajar dosen, menarik atau tidak. Itu penting. Sebab dulu saya pernah menghitung kata “ITU” pada salah satu dosen. Ternyata setiap proses perkuliahan dosen tersebut telah mampu memproduksi kata “ITU” sebanyak 50 kali. Sedangkan teman ku menghitung huruf “EEE” pada salah satu dosen. Sebelum bicara, selalu saja di awali dengan huruf “EEE”, baru bicara. Gara-gara itu, saya jadi tidak ngantuk. Sebab semua mahasiswa jadi fokus ngitung huruf tersebut.

Kelihatannya itu sepele dan tidak berguna.
Padahal para guru besar dan dosen-dosen dari luar bengkalis sangat tertarik
meneliti hal-hal yang sepele tersebut. Sebab setiap nama jalan atau nama orang
yang diabadikan menyimpan filosofis, historis dan nilai-nilai kehidupan pada
masa lalu dan akan membuka suatu fakta baru yang bisa menjadi modal untuk
membangun daerah tersebut sesuai dengan falsafah para leluhurnya. Bisa jadi, pembangunan
saat sekarang berjalan ditempat gara-gara melupakan sejarah yang sangat luhur
di kampung kita. Tapi kita tidak menyadarinya. Justru orang lain yang lebih
mengetahui budaya kita dari pada diri kita sendiri.
Apalagi daerah kita sering disebut sebagai
daerah melayu. Jargon yang digunakan sangat luarbiasa: “adat bersendi syara’,
syara’ bersendi kitabullah”. Artinya setiap bagian dari adat-istiadat, baik
nama orang, nama baju, warna kain, perilaku sehari-hari, dan adat-istiadat yang
ada bisa dipastikan mengandung nilai-nilai Islami. Jika ini diteliti, maka akan
ditemukan keutuhan ajaran Islam di tanah melayu yang sudah menyatu dengan
sangat baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab jika tidak diteliti, bisa jadi
suatu saat generasi dari masyarakat melayu sendiri akan meninggalkan
budaya-budayanya karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Hal ini
disebabkan karena malas melakukan kajian dan hanya belajar agama secara
formalistik dan instan, lalu menjustifikasi bahwa “Budaya melayu bertentangan
dengan syariat Islam”. Sungguh miris bukan?.
Saya terkadang sedih melihat semua itu.
Apalagi melihat wajah-wajah mahasiswa yang merasa kesulitan ingin menulis karya
ilmiah berupa skripsi tadi. Saya mencoba mendekati mereka, dan memberi
keyakinan bahwa membuat skripsi itu mudah. Bahkan jika tidak ada waktu untuk
bertemu dengan ku karena ada suatu kegiatan, saya sarankan untuk mengirim
melalui email. Saya pastikan tidak lebih dari satu jam, email saya respon dan
saya koreksi. Tentu saja sekali lagi, jika saya tidak ada kegiatan.
Alhamdulillah, ada beberapa dari mereka
sudah melakukan bimbingan melalui email. Ada catatan-catatan yang saya buat.
Mereka kelihatannya paham. Tentu saja pemahaman mereka tidak sama dengan dosen.
Itu sebabnya, menuntut mahasiswa punya kemampuan sekelas dosen itu hal yang
tidak mungkin. Sangat sulit. Meskipun ada yang mempunyai kemampaun, mungkin
jumlahnya sedikit, tapi itu sulit. Biarkan saja mahasiswa berfikir dengan
kapasitasnya. Suatu saat pasti akan berkembang pemikirannya dengan lebih baik
lagi di kemudian hari, bahkan bisa lebih baik dari dosennya.
Yang terpenting, bimbing mereka sampai
selesai Skripsi. Seperti apapun tulisan mereka, tetap diterima. Jelek tidak
apa-apa yang penting karya sendiri. Daripada bagus tapi karya orang lain.
buatlah mereka bangga dengan karya sendiri. sebab kita terlalu jauh dari jati
diri sendiri, yaitu suka membanggakan kehebatan orang lain daripada diri
sendiri. Masa sih kalah dengan jargon Perusahaan Maspion: “Cintailah
produk-produk Indonesia!”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872