Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membuka Pintu Gerbang Ramadhan



Kamis , 07 Maret 2024



Telah dibaca :  696

Dinamika politik pada pesta demokrasi 2024 masih terus berlangsung. Media sosial masih sangat intens membahasnya dengan segala aspek. Energi telah dihabiskan terlalu banyak untuk membicarakan, menganalisis, menggosip dan menyebarkan berbagai berita yang secara subtansi hanya sebatas sampah belaka. Ironisnya, model persoalan yang membahas hal-hal tersebut terkadang menjadi trending topic di segala lapisan masyarakat.

Padahal sebentar lagi umat Islam akan kedatangan tamu sangat agung yang dirindukan oleh para kekasih Allah, yaitu bulan ramadhan. Kanjeng Nabi Muhamad saw bersabda, Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad)”.  Hadist nabi, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim). Hadist nabi saw, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat”. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari” Al-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat” (HR Ahmad).

Kenikmatan yang agung tersebut terkadang kurang menarik minat sebagian orang untuk mengejar dan menggapai derajat yang agung. Hiasan dunia yang telah terasa nikmat terkadang hati tertambat untuk senantiasa mengejar tersebut. Ia akan berpengaruh pada kenikmatan yang bersifat spiritual terasa kurang greget dan kehilangan ruh kekuatan mendapatkan kenikmatan tersebut. Semakin tinggi keinginan dunia, terkadang semakin down cita-cita untuk mendapatkan titel mutaqin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 183 sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Puasa menjadi ritual dhohir yang berharap memberi pengaruh kepada perilaku batin. Ibadah ini tidak hanya berhenti pada kemampuan menahan makan dan minum serta hal hal yang membatalkan puasa secara fisik. Namun lebih jauh lagi, puasa mempunyai visi misi yang lebih agung yaitu terlahirnya komunitas mutaqin di tengah tengah masyarakat. Sebab kanjeng nabi Muhammad telah mengingatkan tentang persoalan tersebut bahwa banyak kegagalan umat Islam menjalankan puasa karena tidak kuat menahan lapar dan dahaga, tapi ketika ia tidak mampu menahan nafsunya dari perbuatan perbuatan tercela.

Barometer suatu keberhasilan puasa seorang muslim mencapai derajat muttaqin ketika memunyai indikator sebagai berikut pertama, beriman terhadap hal ghoib termasuk beriman kepada Allah swt. Indikator pertama merupakan unsur yang mempunyai hubungan sangat penting tentang unsur manusia dengan Tuhan. Meskipun Allah telah membuat aturan syariat sebagai jalan perjumpaan dengan-Nya, tetapi syariat membutuhkan hakikat. Pembahasan tersebut bisa dilihat dari firman-firman Allah yang telah membuat regulasi agar adanya keselarasan keduanya dalam perilaku dan ibadah. Jika Allah hanya melihat manusia dari segi syariat semata dengan beragam gerak ibadah, maka manusia ahli ibadah bisa lulus dengan baik. Ironisnya tidak demikian. Allah tidak menganggap sholat dan sejenisnya, bahkan lebih parah lagi dianggap sebagai “pendusta agama” ketika tidak peduli terhadap kehidupan orang lain dan sombong atas kelebihan yang ada pada diri sendiri. Dimensi-dimensi ini sebenarnya pembahasan aspek spiritual yang membuktikan bahwa antara ibadah dhohir yang sangat rajin bisa terpisah dengan hati. Dhohir sangat trengginas, sedangkan hati telah lupa terhadap esensi ibadah. Kedua bisa bertolak belakang pada diri manusia. Ia terjadi pada terjadi pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Kedua, mendirikan sholat sebagai realisasi penghambaan yang tulus kepada-Nya. Sholat dijadikan indikator oleh Allah terhadap ketulusan penghambaan, karena ibadah ini menunjukan pengakuan diri seseorang atas keagungan Allah dan kelemahan manusia dihadapan-Nya. Pengakuan yang tulus ini diungkapkan dalam kalimat, "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Tuhan Semesta Alam”.  Kalimat tersebut adalah bentuk kepasrahan dhohir dan batin, jiwa dan raga. Orang yang ahli sholat adalah orang yang melahirkan nilai-nilai sholat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: disiplin dalam menjalan kehidupan, mengerjakan secara tuntas mulai dari awal sampai akhir, dan orientasi segala pekerjaan dan ibadah sebatas mencari ridha Allah SWT. Nilai-nilai dimensi tersebut akan melahirkan manusia yang rendah hati dan mampu menghargai nya serta memperlakukannya dengan benar. Ketiga, realisasi dengan dimensi rendah hati dan mampu memperlakukan manusia dengan benar yaitu adanya kepedulian terhadap sesama manusia dengan memberikan sebagian rizki yang telah Allah berikan kepadanya. Manusia ahli sholat tidak hanya sebatas menghargai manusia secara wajar, tapi mampu memperlakukan nya secara benar. Ketika ia mempunyai kelebihan maka secara otomatis pada dirinya tumbuh empati untuk berbuat baik kepada orang lain. Tentu saja, kebaikan tidak harus dalam wujud-wujud materi. Bisa juga dalam bentuk pemikiran, tenaga, nasehat atau pun wujud-wujud tulisan yang memberikan semangat progresifitas untuk melakukan suatu perubahan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Keempat, menyakini akan kebenaran ajaran agama sebelum datang al-qur’an seperti zabur, taurat, dan injil. Kitab-kitab tersebut sebenarnya tangga mengenal Allah yang telah dilakukan oleh-Nya secara turun-temurun melalui lintas generasi. Ketika setiap generasi tetap berpegang teguh atas setiap ajaran yang ada, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat. Tapi jika sudah melenceng dari perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, maka manusia akan mendapatkan bencana di hari kemudian (akherat) meskipun bisa jadi, di dunia mendapatkan kejayaan. Jadi hikmah mempelajari kitab-kitab pada masa lalu adalah mempelajari perjalanan sejarah tentang orang-orang yang mendapatkan kemuliaan dan kehinaan di akhir kehidupan.

Alhasil dari pembahasan panjang lebar tersebut, penulis semakin menyadari bahwa puasa romadhan adalah persoalan serius bagi diri sendiri dalam rangka melakukan suatu perubahan kebaikan. Romadhan sebagai ibadah puasa tahunan, menjadi bahan evaluasi seberapa sukses hidup dan seberapa program yang masih terbengkalai dan perlu ada perbaikan-perbaikan. Maka, muhasabah menjelang bulan ramadhan merupakan wujud tirakat spiritual yang sangat agung. Tanpa adanya muhasabah, bisa jadi puasa akan berlalu dan tidak bernilai perubahan hidup sama sekali. Jika demikian, maka puasa tahun ini bisa saja dilalui dengan ibadah yang hanya sebatas “ampas” yang sudah kehilangan “madu-nya”. Na’udzubillah mindalik. Semoga tidak terjadi hal demikian. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876