
Dinamika politik pada pesta demokrasi 2024
masih terus berlangsung. Media sosial masih sangat intens membahasnya dengan
segala aspek. Energi telah dihabiskan terlalu banyak untuk membicarakan,
menganalisis, menggosip dan menyebarkan berbagai berita yang secara subtansi
hanya sebatas sampah belaka. Ironisnya, model persoalan yang membahas hal-hal
tersebut terkadang menjadi trending topic di segala lapisan masyarakat.
Padahal sebentar lagi umat Islam akan
kedatangan tamu sangat agung yang dirindukan oleh para kekasih Allah, yaitu
bulan ramadhan. Kanjeng Nabi Muhamad saw bersabda, “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah
mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga
dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula
terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad)”. Hadist nabi, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan
karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim). Hadist nabi saw, “Puasa dan
Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat”. Puasa
berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari” Al-Qur’
an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon
syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat”
(HR Ahmad).
Kenikmatan yang agung tersebut
terkadang kurang menarik minat sebagian orang untuk mengejar dan menggapai
derajat yang agung. Hiasan dunia yang telah terasa nikmat terkadang hati
tertambat untuk senantiasa mengejar tersebut. Ia akan berpengaruh pada kenikmatan
yang bersifat spiritual terasa kurang greget dan kehilangan ruh kekuatan
mendapatkan kenikmatan tersebut. Semakin tinggi keinginan dunia, terkadang
semakin down cita-cita untuk mendapatkan titel mutaqin sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 183 sebagai
berikut: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Puasa menjadi ritual dhohir yang berharap memberi pengaruh kepada perilaku batin. Ibadah ini tidak hanya berhenti pada
kemampuan menahan makan dan minum serta hal hal yang membatalkan puasa secara
fisik. Namun lebih jauh lagi, puasa mempunyai visi misi yang lebih agung yaitu
terlahirnya komunitas mutaqin di tengah tengah masyarakat. Sebab kanjeng nabi
Muhammad telah mengingatkan tentang persoalan tersebut bahwa banyak kegagalan
umat Islam menjalankan puasa karena tidak kuat menahan lapar dan dahaga, tapi
ketika ia tidak mampu menahan nafsunya dari perbuatan perbuatan tercela.
Barometer suatu keberhasilan puasa seorang
muslim mencapai derajat muttaqin ketika memunyai indikator sebagai berikut
pertama, beriman terhadap hal ghoib termasuk beriman kepada Allah swt.
Indikator pertama merupakan unsur yang mempunyai hubungan sangat penting tentang
unsur manusia dengan Tuhan. Meskipun Allah telah membuat aturan syariat sebagai
jalan perjumpaan dengan-Nya, tetapi syariat membutuhkan hakikat. Pembahasan
tersebut bisa dilihat dari firman-firman Allah yang telah membuat regulasi agar
adanya keselarasan keduanya dalam perilaku dan ibadah. Jika Allah hanya melihat
manusia dari segi syariat semata dengan beragam gerak ibadah, maka manusia ahli
ibadah bisa lulus dengan baik. Ironisnya tidak demikian. Allah tidak menganggap
sholat dan sejenisnya, bahkan lebih parah lagi dianggap sebagai “pendusta
agama” ketika tidak peduli terhadap kehidupan orang lain dan sombong atas
kelebihan yang ada pada diri sendiri. Dimensi-dimensi ini sebenarnya pembahasan
aspek spiritual yang membuktikan bahwa antara ibadah dhohir yang sangat rajin
bisa terpisah dengan hati. Dhohir sangat trengginas, sedangkan hati
telah lupa terhadap esensi ibadah. Kedua bisa bertolak belakang pada diri
manusia. Ia terjadi pada terjadi pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan
datang. Kedua, mendirikan sholat sebagai realisasi penghambaan yang tulus
kepada-Nya. Sholat dijadikan indikator oleh Allah terhadap ketulusan
penghambaan, karena ibadah ini menunjukan pengakuan diri seseorang atas
keagungan Allah dan kelemahan manusia dihadapan-Nya. Pengakuan yang tulus ini
diungkapkan dalam kalimat, "Sesungguhnya
sholatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Tuhan Semesta Alam”. Kalimat tersebut adalah bentuk
kepasrahan dhohir dan batin, jiwa dan raga. Orang yang ahli sholat adalah orang
yang melahirkan nilai-nilai sholat dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: disiplin
dalam menjalan kehidupan, mengerjakan secara tuntas mulai dari awal sampai
akhir, dan orientasi segala pekerjaan dan ibadah sebatas mencari ridha Allah SWT.
Nilai-nilai dimensi tersebut akan melahirkan manusia yang rendah hati dan mampu
menghargai nya serta memperlakukannya dengan benar. Ketiga, realisasi dengan
dimensi rendah hati dan mampu memperlakukan manusia dengan benar yaitu adanya
kepedulian terhadap sesama manusia dengan memberikan sebagian rizki yang telah
Allah berikan kepadanya. Manusia ahli sholat tidak hanya sebatas menghargai
manusia secara wajar, tapi mampu memperlakukan nya secara benar. Ketika ia
mempunyai kelebihan maka secara otomatis pada dirinya tumbuh empati untuk berbuat
baik kepada orang lain. Tentu saja, kebaikan tidak harus dalam wujud-wujud
materi. Bisa juga dalam bentuk pemikiran, tenaga, nasehat atau pun wujud-wujud tulisan
yang memberikan semangat progresifitas untuk melakukan suatu perubahan
kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Keempat, menyakini akan kebenaran
ajaran agama sebelum datang al-qur’an seperti zabur, taurat, dan injil.
Kitab-kitab tersebut sebenarnya tangga mengenal Allah yang telah dilakukan
oleh-Nya secara turun-temurun melalui lintas generasi. Ketika setiap generasi
tetap berpegang teguh atas setiap ajaran yang ada, maka ia akan mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan akherat. Tapi jika sudah melenceng dari perintah-perintah
dan larangan-larangan-Nya, maka manusia akan mendapatkan bencana di hari
kemudian (akherat) meskipun bisa jadi, di dunia mendapatkan kejayaan. Jadi
hikmah mempelajari kitab-kitab pada masa lalu adalah mempelajari perjalanan sejarah
tentang orang-orang yang mendapatkan kemuliaan dan kehinaan di akhir kehidupan.
Alhasil dari pembahasan panjang
lebar tersebut, penulis semakin menyadari bahwa puasa romadhan adalah persoalan
serius bagi diri sendiri dalam rangka melakukan suatu perubahan kebaikan.
Romadhan sebagai ibadah puasa tahunan, menjadi bahan evaluasi seberapa sukses
hidup dan seberapa program yang masih terbengkalai dan perlu ada
perbaikan-perbaikan. Maka, muhasabah menjelang bulan ramadhan merupakan wujud tirakat
spiritual yang sangat agung. Tanpa adanya muhasabah, bisa jadi puasa
akan berlalu dan tidak bernilai perubahan hidup sama sekali. Jika demikian,
maka puasa tahun ini bisa saja dilalui dengan ibadah yang hanya sebatas “ampas”
yang sudah kehilangan “madu-nya”. Na’udzubillah mindalik. Semoga tidak
terjadi hal demikian.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876