Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membumikan Karya, Melangitkan Doa



Rabu , 18 Juni 2025



Telah dibaca :  499

Entah siapa yang salah, apakah badan ku yang terlalu pendek atau Dr. Rahmat Febrianto terlalu tinggi. Saat saya memasangkan Tanjak, pak Rahmat memang harus menderita. Ia harus menyesuaikan dengan ketinggian badanku. Semoga saya dan Pak Rahmat sama-sama diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.

Alinea pertama ini memang perlu dijadikan pembuka tulisan ini. Dalam mau’idzatul hasanah dari Dr. Suhendra, ia menekankan arti penting membumikan visi-misi dalam Perguruan Tinggi. Tanjak hanya sebagian kecil simbol dari realisasi visi-misi STAIN Bengkalis yang telah bertransformasi menjadi IAIN Datuk Laksemana sebagai pusat kajian kemelayuan dan keislaman. Masih ada beberapa capaian. Tentu saja, ketika telah bertransformasi menjadi IAIN, maka membumikan visi-misi jelas sangat perlu sekali dipertajam. Sehingga perguruan ini benar-benar bisa menjadi uswatun khasanah-rujukan-bagi lembaga-lembaga pendidikan lain dan para peneliti yang ingin mengetahui secara umum (al-‘ilm) dan meneliti lebih mendalam (al-ma’rifat) tentang esensi dari visi-misi lembaga yang baru lahir tersebut.

Perguruan Tinggi jangan sampai sebatas “menara gading” yang hanya terlihat indah di pandang mata, tapi tidak membumi dalam alam nyata. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis dengan beragam persoalannya membutuhkan peran perguruan tinggi yang mampu sebagai bagian penyelesai masalah, bukan membawa masalah baru. Maka menterjemahkan visi-misi yang membumi dengan denyut nadi masyarakat sangat diperlukan sekali.

Denyut nadi masyarakat adalah nafas kehidupannya. Ia lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari nilai-nilai keagungan dan kemulyaan yang bersumber dari ajaran Islam dan nilai-nilai moral yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, perguruan tinggi tidak sebatas pada tataran ilmu tapi juga amal sholeh. Tataran ilmu sangat jelas yaitu sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran. Sebagai amal sholeh ada dua yaitu penelitian dan pengabdian. Jika pendidikan dianggap sebagai nurul yaqin, maka penelitian dan pengabdian sebagai bagian dari ainul yaqin dan haqul yaqin.

Dalam kontek IAIN, konsep ketiga ilmu itu tidak boleh lepas pada kata “islam” baik islam dengan huruf kecil “i” dan Islam dengan huruf besar”I”. pada islam dengan huruf kecil mempunyai makna bahwa ada unsur-unsur kalimatun sawa yang tumbuh hidup di tengah-tengah masyarakat. Nilai-nilai kebaikan yang tumbuh sejak dulu seperti keadilan, kejujuran, gotong royong dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang sudah ada sejak belum datangnya agama-agama samawi di Indonesia. Nilai-nilai tersebut yang telah membentuk karakteristik masyarakat Indonesia saat sekarang ini.

Pada tataran Islam dengan huruf besar, IAIN dituntut bisa menjadi penebar rahmatal lil ‘alamin kepada masyarakat yang sangat beragam. Kajian-kajian ilmu pengetahuan yang adaptatif dan inklusif sangat diperlukan dengan segera sebagaimana yang telah dipraktekan pada masa permulaan Islam yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW.  Firman Tuhan “lakum dienukum wali yadien” tidak menjadikan superioritas mayoritas dan tidak menjadi inferioritas minoritas. Semua agama dan keyakinan bisa tumbuh dan berkembang secara alamiah dan hidup saling menghargai dengan natural.

Tentu saja menerapkan pengetahuan pada pengertian adaptatif dan inklusif pada ilmu pengetahuan selalu saja punya keberagaman tafsir. Hal ini berangkat dari Al-Qur’an itu sendiri yang mempunyai fleksibilitas sudut pandang dari beragam sudut. Tentu tidak menjadi persoalan. Dan seharusnya sudut pandang yang beragam tersebut sebagai sumber inspirasi untuk menyatukan sebagai satu kekuatan.

Ilmu pengetahuan sebagai inspirasi tersebut harus diaktualisasikan dalam aspirasi. Nilai-nilai yang agung sebagai jalan membangun peradaban harus diwujudkan dalam tataran perilaku sehari-hari. Makna di sini tidak sebatas pada perilaku hablu min an-nas, tapi juga mampu membangun kesadaran totalitas pelakunya kesediaan untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Jadi inspirasi berbuat baik dan berkarya lahir dari kecintaan kepada Allah. Semakin mencintai-Nya, maka semakin berkualitas manusia dalam bermuamalah.

Saya kira apa yang disampaikan oleh saudara ku-Dr. Suhendra dan Dr. Rahmat-adalah pada tataran wilayah tersebut. Pada ilmu dan amal menjadi satu kesatuan terigrasikan sebagai ajaran Islam itu sendiri yang tidak membedakan aktivitas manusia. sepanjang semua ada dasar ilmu dan ada dasar keyakinan kepada Allah, semua bernilai baik sekali dalam pandangan manusia, apalagi dalam pandangan Allah SWT. ini yang saya maksud tataran ilmu kategori haqul yaqin.

Sebagai penutup, saya hanya bisa mengirim doa semoga Pak Suhendra dan Pak Rahmat selamat dalam perjalanan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875