
Entah siapa yang salah, apakah badan ku
yang terlalu pendek atau Dr. Rahmat Febrianto terlalu tinggi. Saat saya memasangkan
Tanjak, pak Rahmat memang harus menderita. Ia harus menyesuaikan dengan ketinggian
badanku. Semoga saya dan Pak Rahmat sama-sama diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
Alinea pertama ini memang perlu dijadikan
pembuka tulisan ini. Dalam mau’idzatul hasanah dari Dr. Suhendra, ia
menekankan arti penting membumikan visi-misi dalam Perguruan Tinggi. Tanjak hanya
sebagian kecil simbol dari realisasi visi-misi STAIN Bengkalis yang telah
bertransformasi menjadi IAIN Datuk Laksemana sebagai pusat kajian kemelayuan
dan keislaman. Masih ada beberapa capaian. Tentu saja, ketika telah
bertransformasi menjadi IAIN, maka membumikan visi-misi jelas sangat perlu
sekali dipertajam. Sehingga perguruan ini benar-benar bisa menjadi uswatun
khasanah-rujukan-bagi lembaga-lembaga pendidikan lain dan para peneliti
yang ingin mengetahui secara umum (al-‘ilm) dan meneliti lebih mendalam
(al-ma’rifat) tentang esensi dari visi-misi lembaga yang baru lahir
tersebut.
Perguruan Tinggi jangan sampai sebatas “menara
gading” yang hanya terlihat indah di pandang mata, tapi tidak membumi dalam
alam nyata. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis dengan beragam
persoalannya membutuhkan peran perguruan tinggi yang mampu sebagai bagian
penyelesai masalah, bukan membawa masalah baru. Maka menterjemahkan visi-misi
yang membumi dengan denyut nadi masyarakat sangat diperlukan sekali.
Denyut nadi masyarakat adalah nafas
kehidupannya. Ia lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari nilai-nilai keagungan
dan kemulyaan yang bersumber dari ajaran Islam dan nilai-nilai moral yang hidup
di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai sebuah lembaga pendidikan,
perguruan tinggi tidak sebatas pada tataran ilmu tapi juga amal sholeh. Tataran
ilmu sangat jelas yaitu sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran. Sebagai amal
sholeh ada dua yaitu penelitian dan pengabdian. Jika pendidikan dianggap
sebagai nurul yaqin, maka penelitian dan pengabdian sebagai bagian dari ainul
yaqin dan haqul yaqin.
Dalam kontek IAIN, konsep ketiga ilmu itu
tidak boleh lepas pada kata “islam” baik islam dengan huruf kecil “i” dan Islam
dengan huruf besar”I”. pada islam dengan huruf kecil mempunyai makna bahwa ada
unsur-unsur kalimatun sawa yang tumbuh hidup di tengah-tengah
masyarakat. Nilai-nilai kebaikan yang tumbuh sejak dulu seperti keadilan,
kejujuran, gotong royong dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang sudah ada
sejak belum datangnya agama-agama samawi di Indonesia. Nilai-nilai tersebut
yang telah membentuk karakteristik masyarakat Indonesia saat sekarang ini.
Pada tataran Islam dengan huruf besar, IAIN
dituntut bisa menjadi penebar rahmatal lil ‘alamin kepada masyarakat
yang sangat beragam. Kajian-kajian ilmu pengetahuan yang adaptatif dan inklusif
sangat diperlukan dengan segera sebagaimana yang telah dipraktekan pada masa
permulaan Islam yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW. Firman Tuhan “lakum dienukum wali yadien”
tidak menjadikan superioritas mayoritas dan tidak menjadi inferioritas
minoritas. Semua agama dan keyakinan bisa tumbuh dan berkembang secara alamiah
dan hidup saling menghargai dengan natural.
Tentu saja menerapkan pengetahuan pada
pengertian adaptatif dan inklusif pada ilmu pengetahuan selalu saja
punya keberagaman tafsir. Hal ini berangkat dari Al-Qur’an itu sendiri yang
mempunyai fleksibilitas sudut pandang dari beragam sudut. Tentu tidak
menjadi persoalan. Dan seharusnya sudut pandang yang beragam tersebut sebagai
sumber inspirasi untuk menyatukan sebagai satu kekuatan.
Ilmu pengetahuan sebagai inspirasi tersebut
harus diaktualisasikan dalam aspirasi. Nilai-nilai yang agung sebagai jalan
membangun peradaban harus diwujudkan dalam tataran perilaku sehari-hari. Makna di
sini tidak sebatas pada perilaku hablu min an-nas, tapi juga mampu
membangun kesadaran totalitas pelakunya kesediaan untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT. Jadi inspirasi berbuat baik dan berkarya lahir dari kecintaan
kepada Allah. Semakin mencintai-Nya, maka semakin berkualitas manusia dalam
bermuamalah.
Saya kira apa yang disampaikan oleh saudara
ku-Dr. Suhendra dan Dr. Rahmat-adalah pada tataran wilayah tersebut. Pada ilmu
dan amal menjadi satu kesatuan terigrasikan sebagai ajaran Islam itu sendiri
yang tidak membedakan aktivitas manusia. sepanjang semua ada dasar ilmu dan ada
dasar keyakinan kepada Allah, semua bernilai baik sekali dalam pandangan
manusia, apalagi dalam pandangan Allah SWT. ini yang saya maksud tataran ilmu kategori
haqul yaqin.
Sebagai penutup, saya hanya bisa mengirim
doa semoga Pak Suhendra dan Pak Rahmat selamat dalam perjalanan dan selalu
dalam lindungan Allah SWT. amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875