Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Memperkenalkan Ekoteologi Kepada Ormawa



Jumat , 26 September 2025



Telah dibaca :  492

Entah karena kebetulan-tapi bagi Allah tidak ada yang kebetulan-ada surat edaran dari Rektor IAIN Datuk Laksemana Bengkalis nomor :B-615/In.17/KP.01.2/09/2025 tertanggal 25 September 2026 tentang kegiatan World Clean Up Day (WCD) hari bersih-bersih dunia. Ini merupakan kampanye tentang penting lingkungan yang bersih. Disebut kebetulan, karena pada tanggal 23 September 2025, saat pelantikan pengurus ormawa di lingkungan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, saya mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk sama-sama menjaga lantai III Gedung SBSN agar tetap bersih sebelum dan sesudah acara pelantikan. Caranya sederhana, setiap mahasiswa pulang dari kegiatan dengan membawa kotak kueh dan membuang di tempat sampah. Insya Allah akan selalu dikampanyekan. Kebetulan juga kegiatan ormawa berfokus pada bulan Oktober dan November. Pas sekali untuk melaksanakan program WCD.

Mulai hari ini saya sudah mengajak kepada seluruh ormawa untuk membuat flyer tentang pentingnya lingkungan bersih. Terserah mau membuat model seperti apa. Yang penting kalimatnya baik dan sopan. Ketua DEMA -Safuan Tri Cahmawawi sudah membuat flyer. Kalimat cukup sederhana: “Kampusku Bersih, Ruanganku Bersih”. Pola sederhana, yaitu mengajak untuk sama-sama menjaga dan merawat ruangan dan fasilitas kampus yang ada. Membiasakan merawat itu penting dan berat. Saya kira merawat jauh lebih berat membeli. Seperti membeli honda,bisa kredit. Tapi setelah dibeli, lupa dirawat. Baru beli dua tahun, honda sudah ambrol. Karena lupa ganti oli. Membiasakan merawat yang ada. Termasuk merawat kesehatan diri sendiri. Ini juga susah. Apalagi pas lagi banyak undangan kenduri. Kata dokter tidak boleh makan ini-itu, tapi tetap juga makan. Saat sakit datang, baru terasa arti penting menjaga pola makan. Memang penyesalan selalu berada di belakang agar setiap orang bisa mengambil pelajaran.

Saya mengajak kepada mahasiswa, karena saya pun masih seperti mahasiswa. Kadang membuang sampah sembarangan di area kampus. Saya mencoba mengajak yang kecil-kecil saja. Seperti saat mereka mengadakan kegiatan ormawa, saya akan kampanye kepada mahasiswa agar hadist nabi satu ini bisa diterapkan: “Kebersihan Sebagian dari Iman”. Tentu tidak secara totalital. Pelan-pelan dulu. Tidak perlu “grusa-grusu”, “ora perlu “kesusu” apalagi “ke susu”. Ma’lum lah, saya sendiri belum bisa benar-benar bersih “lahir dan batin”. Masih banyak juga kotoran. Apalagi ruanganku yang menjadi persinggahan teman-teman mahasiswa dengan beragam warna. Tentu saja menerapkan hadist Nabi tersebut masih belum kaffah. Tidak apa-apa sudah ada niat baik. Alon-alon asal kelakon.

Pola yang saya terapkan pun sederhana. Teman-teman mahasiswa jika sudah selesai makan atau minum harus dimasukan ke dalam plastik, jika tempat sampah jauh dari nya. Meskipun dalam masyarakat global sudah mengkampanyekan pengurangan plastik untuk kebutuhan hidup, tapi saya kira untuk pembuangan sampah di lingkungan kampus masih sangat membantu. Apalagi di ruangan-ruangan kelas yang terkadang mereka ada yang minum atau makan beragam jenis. Saling menjaga semaksimal mungkin diri sendiri, maka semakin berkurang kotoran dan sampah di sekitar kita.

Saya mengajak kepada mahasiswa. Tujuannya agar saya bisa belajar bersama-sama mereka arti penting kebersihan. Mana tahu, dari lingkungan yang bersih melahirkan inspirasi yang konstruktif dan inovatif.

Ajakan ini tentu saja melihat realita bahwa sampah merupakan persoalan serius. Saya melihat di berbagai kota, persoalan sampah sering menjadi konsumsi politik. Kota nya bersih persepsinya baik, kota kotor persepsinya juga kurang baik. Ma’lum, sampah kalau sudah menumpuk menghasilkan bau yang sangat menyengat, kerumunan lalat banyak, maka peluang besar menyebarkan penyakit.

Saya ingat dulu saat di Yogyakarta, anak-anak sekolah atau mahasiswa saat duduk-duduk diskusi di bawah pohon atau di pinggir jalan, mereka tidak lupa membuang sampah di tempat sampah yang tersedia di sekitarnya. Tidak ada yang perintah. Ada kesadaran yang telah terbangun cukup baik pada diri mereka. Dan sekali lagi, kesadaran butuh proses agar bisa menjadi karakter yang baik. Semua lahir dari keinginan masing-masing untuk melakukan hal-hal kecil, tapi memberi manfaat yang cukup positif. Bisakah kita melakukan?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874