Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Memulai Hidup Baru dengan Senjata Baru



Selasa , 07 Januari 2025



Telah dibaca :  487

Setelah memasuki tahun baru, apa yang akan kita buat? Apa yang kita Kerjakan? Dan apa yang akan kita tulis sebagai bagian dari harapan-harapan besar yang diimpikan pada akhir 2024?. Kita berharap ada suatu perubahan-perubahan dari kebijakan pemerintah, perusahaan, usaha kecil-kecilan, pekerjaan, jodoh dan sejenisnya agar berpihak pada kita. Namun secercah sinar harapan belum terlihat jelas. Suasana batin bangsa ini masih seperti suasana di sore hari, mendung dan tidak segera turun hujan. Efeknya terasa lesu dan udara terasa panas. Seolah-olah ada kelesuan untuk melakukan aktivitas. Mungkin kita merasa hanya sebatas rutinitas seolah-olah menjadi beban. Itu-itu terus. Terasa sangat membosankan.

Penulis mencoba mengusir bisikan-bisikan yang membuat terjebak pada pengulangan kesalahan masa lalu. Harus memulai hidup baru. Proses hidup baru tidak harus “nlungsumi” seperti Ular dengan kulit baru. Saya dan anda sudah tidak bisa. Evolusi perubahan kulit tidak bisa ditutupi. Jeritan hati ingin muda lagi dan kulit tetap kencang tidak bisa. Kita tidak bisa menolak tua. Biarkan angan-angan panjang para artis seperti artis Wulan Guritno agar selalu terlihat seksi seperti ABG.  Bisa dipastikan, ia akan keriput, mengering seperti bergugur daun-daun di musim kemarau.

Kita bisa melakukan operasi. Hidung pesek menjadi mancung melalui operasi, atau jika ingin murah tanpa modal cukup “dijepit” dengan “penjepit” rambut ibu-ibu saat menggulung rambut yang panjang. Apapun hasilnya, ia sudah tidak asli lagi. Imitasi. Lebih baik hidung pesek asli daripada mancung imitasi. Terasa lebih nikmat yang pesek tapi asli.

Umar bin Khatab memulai hidup baru pada umur 27 tahun. Ia dulunya kafir, kemudian muslim. Hamzah bin Abdul Muthalib lebih tua lebih. Usianya unda-undi dengan baginda Rasulullah SAW. Keduanya contoh bahwa Keputusan itu sangat penting untuk melakukan memulai hidup baru dengan lebih bermakna.

Anda mungkin pernah mendengar seorang perempuan yang hampir bunuh diri karena disiksa oleh suaminya. Perempuan tersebut bernama J.K. Rowling. Ia akhirnya bercerai. Ia terus mengasah bakat menulisnya. Usia tidak muda lagi. Terus berusaha melakukan perubahan hidup. Berhasil. Dari perempuan yang teraniaya, berubah menjadi perempuan terkaya di Inggris (Wangi, 2023). Masih banyak lagi kisah seperti itu.

Perjalanan waktu terasa cepat. Bulan Januari terus-menerus berganti hari dan tanggal. Penulis seolah terasa kewalahan untuk mengisi setiap saat menjadi sesuatu yang bermakna. Bukan karena banyaknya agenda hidup, tapi karena masih bingung menentukan sesuatu yang bermakna. Penulis berfikir, “Mungkin salah satu jalan yaitu memperbaiki yang ada semakin bermakna”. Itu kelihatannya keputusan yang bisa diambil saat waktu terus berjalan tanpa ampun.

Belajar memulai hidup baru, Penulis membuka wejangan para ulama. Pagi ini saya membuka Tafsir Ibriz karya allahuyarham KH. Kholil Bisri. Saya melihat permulaan kitab tafsir tersebut dengan lafadz “بسم الله الرحمن الرحيم” dengan menggunakan makna Jawa sebagai berikut: “Kelawan kaluhurane ne Gusti Allah Yang Maha Welas Lan Maha Asih (Mustofa, t.t). Ada empat kata kunci yaitu:”Kaluhurane”, “Asma Allah”,Maha Welas”, dan “Maha Asih”. Apa maknanya? Tafsir Ibriz mengajarkan kepada kita bahwa dalam melakukan perubahan hidup yang lebih bermakna tidak boleh meninggalkan asma Allah. Ia harus menjadi password setiap kegiatan. Tafsir Misbah menjelaskan bahwa Asma tersebut merupakan al-awwal wa al-akhir wa az-zahir wa al-bathin, dia yang pertama, dia yang terakhir, dia yang terang dan dia yang tersembunyi (Sihab, 2005).

Makna “welas” dan “asih” dalam kontek makna terkesan lebih mendalam dari kata “kasih” dan “sayang”. Ketika Allah mempunyai makna “Maha Pengasih” sering yang terdengar yaitu siapapun mendapatkan kenikmatan dunia dari Allah SWT. Siapapun yang berusaha maka ia akan mendapatkan. Ketika Allah Maha Penyayang sebagai perwujudan kenikmatan yang diberikan kepada seseorang di dunia dan di akherat yaitu orang-orang beriman kepada-Nya.

Sedangkan Tafsir Ibriz menggunakan kata “welas” dan “asih” yang menggambarkan tentang kasih sayang Allah dilimpahkan kepada seluruh manusia di dunia dengan penuh cinta, kerukunan dan empati sangat tinggi. Kata “welas” wujud dari curahan jiwa yang ingin menolong siapapun dengan setulus hati secara totalitas. Itu sebabnya, kemarahan  dan kebencian yang dilakukan sebenarnya wujud dari kasih-sayang Allah sebagaimana marah orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi kadang manusia tidak memahaminya. Hingga akhirnya, Allah pun memberi “asih” kepada orang-orang yang mendapatkan “welas” dan mengerti keinginan-nya.

Memulai hidup baru di tahun 2025 sebenarnya meneruskan sisa-sisa umur agar semakin berkualitas dalam setiap aspek kita masing-masing. Jika tahun sebelumnya kita mungkin terlalu “galau” akan segala persoalan hidup, maka lafadz “bismillahirrahmanirrahim” telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyertakan-Nya dalam setiap saat dan aktivitas. Ketika kita sudah “bismillah” berarti kita sudah “bisa milah” (mampu memilah-milah), lalu “bisa milih” (berani mengambil keputusan untuk memilih), dan tidak lupa juga “bisa molah-malih” (bisa melakukan tinjau ulang, crosscek hal-hal yang kurang tepat karena ada kesalahan masa lalu), serta yang terpenting “bisa mulih” (artinya semua apa yang kita lakukan sebenarnya untuk menghadap kepada Allah SWT) (Fikriono, 2020).

Walhasil kita tidak mengetahui masa depan kita masing-masing. Kita saat ini mungkin sama-sama pusing pada level yang berbeda-beda. Melimpah pekerjaan dan semakin besar kebutuhan hidup. Itu alamiah hidup di dunia. Namun ada milik kita yang sangat berharga yaitu “kekuatan hati”. Perbedaan kekuatan hati yang membedakan rutinitas menjadi bermakna atau tidak. Tergantung kepada kita masing-masing. Sadar tidak sadar, rutinitas kita sebenarnya jalan menuju perjumpaan dengan Allah. Kita membutuhkan rutinitas atau seandainya suatu perubahan kita membutuhkan perubahan yang berkualitas yaitu perubahan yang selalu bersandar kepada Allah dan selalu menyakini bahwa Allah sangat sayang kepada kita dalam keadaan apapun. Itulah makna bismilah pemahaman penulis yang dhaif ini.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872