Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menakar Makna Sang Kekasih pada Hari Ibu



Minggu , 22 Desember 2024



Telah dibaca :  532

Tulisan ini untuk memperingati Hari Ibu. Tidak secara langsung membahas nya. Meskipun demikian, kita bisa meraba bersama-sama jasa orang tua kita masing-masing. Sangat sulit dilupakan jasanya, meskipun terkadang dilupakan dalam catatan sejarah manusia. Dari sini bermula arti seorang kekasih dan orang yang dikasihinya. Ada sudut pandang yang berbeda.

Menjadi seorang kekasih bagi kelompok awam dan amatir hanya melihat sisi keindahan. Seperti sepasang kekasih ABG yang sedang berjalan-jalan di pinggir Pantai. mereka bisa menikmati dengan luapan asmara semata. Terlihat indah sekali. Dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak. 

Lebih dalam lagi, ada mengartikan kekasih dalam bentuk pengorbanan. Seperti seorang suami bekerja siang dan malam untuk istri dan anak-anaknya. ia tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. Ia hanya ingin bahagia orang-orang yang dicintainya. Pada level ini juga sama, ada pola yang benar dan pola yang kurang tepat dalam merealisasikan menjadi seorang kekasih. 

Lebih dalam lagi, mengartikan kekasih sebagai bentuk penyatuan. Seperti makna sebuah atom harus ada proton dan netron. Definisi bisa berbeda, tapi sebenarnya tidak ada perbedaan. Karena ada penyatuan dan persenyawaan, seolah-olah hanya tunggal. Meskipun sebenarnya terpisah. Seperti iklan Sampo, "two in one". Atau seperti air, gula dan kopi. Anda akan menyebutnya "minuman kopi".

Kekasih level pertama sering berhenti pada level fisik. Melihat kekasihnya pada kesempurnaan fisik. Seperti cinta sepasang kekasih pada film the Titanic. Bintang utama nya Jack Dan Rose (Leonardo DiCaprio dan kate Winslet). Pandangan pertama telah melupakan tunangannya, Cal (Caledon Nathan Hockley). Kalimat yang sangat terkenal "nothing on earth could come between them" ( tiada sesuatu pun di bumi yang sanggup memisahkan mereka). Bayangkan saja, ia harus merelakan semua kemulyaan dan keagungan dengan hasrat cintanya (https://id.wikipedia.org, n.d.). Meminjam istilah Jamal Mirdad: “gula jawa rasa coklat”.  Itu lebih bermartabat dari pada “tai kucing rasa coklat”. Berikut penggalan lagu di Film Titanic (https://jogja.tribunnews.com, 2023):

And my heart will go on and on

Dan hatiku akan terus bertahan

Love can touch us one time

cinta bisa menyentuh kita sekali 

And lasft for a lifetime

Dan bertahan seumur hidup

And never let go til we’re gone

Dan tidak pernah hilang sampai kita mati

Allah swt menggambarkan kekasih yang hanya mementingkan kebahagaan sesaat seperti Q.S. Al-Hijr([15]:3) sebagai berikut:”Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya)”. Dalam kontek dipersempit, ada pola model kekasih yang hanya sebatas melampiaskan hawa nafsu dan menghindar dari tanggungjawab. Pola pertama terlihat semakin marak. Semakin tinggi syahwat terhadap dunia semakin besar potensi-potensi untuk menuruti keinginan-keinginan yang bersifat sementara dan tidak memperdulikan akibat lebih besar dari perbuatan tersebut.

Pada level kedua seorang kekasihnya yang siap memberi pengorbanan untuk orang yang dicintainya. Ia memaknai hidup sebagai jalan untuk memberi manfaat. Seperti seorang orang tua yang mengorbankan waktu dan tenaga untuk kesuksesan anak-anaknya. Seperti kisah pak Wagiman seorang Tukang Becak bisa mengarkan anak laki-lakinya Sudarmono kuliah di UGM. Meskipun ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, dan istrinya hanya tamat SD, tapi ia berjuang sungguh-sungguh agar akan-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik (https://www.liputan6.com, 2015).

Dunia ini cukup banyak contoh kehebatan orang tua berkorban untuk kebahagiaan anak-anaknya. Mereka bahagia saat anak-anak nya bahagia. Mereka siap mengorbankan apa pun demi kebahagian buah hatinya.

Level selanjutnya ada kekasih yang melihat segala sesuatu karena kecintaan sangat tinggi kepada Sang Kekasih teragung yaitu Allah swt. Ia sudah tidak lagi melihat pada level fisik atau level seberapa yang ia korbankan. Ia sudah mencapai level “kemesraan tanpa batas”.  Sudah tidak ada serat-serat penderitaan dan tidak ada lipstikk-lipstik keindahan sang kekasih dan segala problematika. Semua sirna dan hanya pancaran-pancaran mahabah dari setiap pori-pori di tubuh nya dan akal pikirannya.  Dunia benar-benar lebur. Hanya bayangan cinta mendalam terhadap keindahan dan keagungan-Nya.

Al-Qur’an menjelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:164) sebagai berikut:

“Di antara manusia yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekirannya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”.

Ayat tersebut sangat jelas sekali bahwa ada orang-orang yang menjadikan kekasih pada orientasi yang berbeda-beda. Itu hak masing-masing orang. Pengorbanan para kekasih untuk orang-orang yang dikasihi merupakan persoalan “rasa” memiliki yang ada pada dirinya. Mereka mencoba mempersembahkan hal-hal terbaik pada dirinya.

Persoalan yang terjadi adalah saat kita mempersembahkan totalitas kepada kekasih dan kenyataannya ia menghianati nya, ada perasaan sedih di dalam hati. Kita siap-siap saja menderita karena orang yang dicintai memberikan hal-hal yang tidak sesuai harapan. Orang-orang yang paling baik kadang menghianati. Terasa sangat menyakitkan. Dunia terasa sempit.

Sangat berbeda ketika sang kekasih adalah orang yang telah menaruh cinta sucinya untuk sang kekasih teragung yaitu Allah swt. Semua serba indah. Sebab balasan dari orang di sekitarnya bukan sebuah orientasi. Hatinya yang terlalu asyik melihat keindahan Tuhan seolah-olah melihat semua yang ada di dunia adalah bayang-bayang keagungan Tuhan. Seperti saat anda sedang berjalan di depan rumah kekasihnya, ada rasa seolah-olah rumah, pelataran dan seluruh pot-pot bunga terasa melihat bayangan Sang Kekasih.

Semoga kita bisa memulyakan orang tua, terutama ibu kita. Mereka adalah sepasang kekasih yang dihadirkan oleh Sang Kekasih Yang Agung, yaitu Allah swt. Melalui mereka kita belajar menjadi seorang kekasih yang benar. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872