
Di musim politik, dunia terlihat seperti Pasar Sandang-Pangan. Para Pedagang menawarkan segala barang
dagangannya. Semua mengatakan bagus, baik dan berkualitas. Tidak ada satupun
pedagang yang mengatakan apa adanya. Tidak peduli, apakah para pedagang
menggunakan pakaian model agamis maupun yang pakai celana levis. Apakah berjilbab,
berjenggot, berkumis sampai yang wajah nya “mlipis” bersih karena baru
pulang dari Barbershop. Semua bilang; kami yang terbaik. Tidak semua. Tapi realita
kadang lebih jelas dari pada kata-kata.
Siang menuju sore itu, langit terlihat
mendung. Petir menggelegar sangat kencang. Orang tua dulu mengatakan,”Itu Pecut
dari Neraka Jahanam”. Entah saya tidak tahu. yang jelas, sore itu paijo (nama samaran)
terpaksa keluar rumah. Dia mencari buah durian. Ma’lum, istrinya sedang “ngidam”
buah durian. Dengan bermodal Honda supra lama dan baju hujan yang sudah banyak
berlobang, dia menyusuri pinggir jalan kota “X” yang terkenal banyak buah Durian.
Walaupun pakai Jas Hujan, tetap juga basah. Hujan sangat lebat.
Alhasil bertemu dengan seorang Penjual. Mereka
sudah saling mengenal. Sahabat lama. Proses jual beli Durian pun cepat. Alhasil
Paijo segera pulang ke rumah. Dalam hatinya, istrinya pasti senang keinginan
makan durian terpenuhi. Itulah watak suami. Dia rela tidak makan durian hanya
untuk membahagiakan istrinya.
Ternyata di luar dugaan. Istrinya marah-marah.
Durian yang dia beli masih mentah. Sehingga tidak bisa dimakan. Perasaan Paijo
tidak karuan. Hati dongkol dan Marah tidak tentu arah. Suara petir dari luar
yang sangat keras laksana “Pecut Api Neraka Jahanam” tidak ada apa-apa
dibandingkan panasnya api di dalam hati akibat kena tipu temanya dan kena marah
istrinya. Ini benar-benar sudah di Neraka Jahanam. Sungguh sangat terlalu!!.
Sore berganti malam. Malam pun berganti
pagi. Hujan telah berhenti. Matahari pagi terlihat terang. Diufuk timur
terlihat mendung tipir berwana putih mengitari matahari. Daun-daun pohon
trembesi di pinggir jalan masih basah. Suara burung masih terdengar merdu,
menyanyi keagungan Tuhan Yang Maha Indah. Laksana para malaikat turun dan
memberkahi para pencari rizki yang bertebaran di muka bumi.
Paijo menghidupkan kendaraan supra
antiknya. Dia pergi lagi ke pasar mencari Durian. Kemarahan istri semalam tidak
membuat kapok. Baginya, membahagiakan istri adalah kewajiban dan
kemarahan istrinya laksana jamu kehidupan. Semakin pahit maka semakin sehat
jiwa dan ruhnya. Bukankah itu watak seorang perempuan yang tercipta dari tulang
rusuk laki-laki? Tidak bisa diluruskan, tapi hanya bisa dirawat, dijaga,
dihiasi dan diterima dengan lapang dada.
“Pak, berapa harga Durian ini?” Tanya Paijo
kepada Penjual.
Penjual Durian tersenyum. Senyumnya seperti
tabung kaca. Luar dalam kelihatan. Senyum yang tulus sampai ke kalbu. Tangannya
sambil memilih Durian dan mulutnya kadang terdengar lantunan sholawat memuji Nabi
Muhammad S.A.W. setelah selesai, dia menemui Paijo dan memberinya beberapa
durian pilihan.
“Ini baik, isinya juga manis” kata Penjual
Durian sambil menyerahkan empat buah durian yang sudah diikat dengan Tali
Rafia.
“Berapa harganya?” tanya paijo
“Hari ini untuk mu gratis” jawab penjual
durian.
Paijo terdiam. Bengong. Dia tidak bisa
berkata apa-apa. Ingin mengucapkan terima kasih tapi Sang Penjual Durian sudah
pergi dan sibuk melayani beberapa penjual yang sudah antri. Dia pun menunggu
selesai melayani penjual.
Paijo melihat cara berdagang nya. Bicaranya
lugas, tidak penuh retorika. Tidak mbulet. Das-des. Jika baik ngomong
baik, jika kurang baik juga bicara kurang baik. Para pembeli pun puas atas
pelayanan.
Dua Penjual Duren di atas adalah cermin
dari watak manusia secara umum. Semua umat Rasulullah SAW. Mereka juga
menginginkan syafaat nya. Penulis hanya membayangkan betapa sedih Sang Rasul melihat
tingkah laku umatnya yang kadang aneh-aneh dan menyebalkan. Disisi lain dia
tersenyum melihat umatnya yang selalu menyebutnya dan berusaha mengikuti cara
hidup dan sesuai dengan ajaranya. Meskipun demikian, nabi tidak egois. Semua umatnya
selalu mendapatkan limpahan syafaatnya dan kasih sayang nya. Sampai-sampai saat
dirinya sakit keras dan ajal akan datang, dia masih mengucapkan “umati,
umati”.
Sungguh terlalu luas cinta Rasul kepada
umatnya. Tapi kita selalu berfikir sempit dengan segala ucapan dan perilaku
kita sendiri. Ya Rasulullah, di bulan hari kelahiranmu, kami belajar
mencintaimu. Harapan semoga kami senantiasa mendapatkan syafaat dan bagian dari
orang-orang yang sukses karena doa mu. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2973
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878