Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mencintai Nabi Model Kaum Pinggiran



Jumat , 22 September 2023



Telah dibaca :  708

Di musim politik, dunia terlihat seperti Pasar Sandang-Pangan. Para Pedagang menawarkan segala barang dagangannya. Semua mengatakan bagus, baik dan berkualitas. Tidak ada satupun pedagang yang mengatakan apa adanya. Tidak peduli, apakah para pedagang menggunakan pakaian model agamis maupun yang pakai celana levis. Apakah berjilbab, berjenggot, berkumis sampai yang wajah nya “mlipis” bersih karena baru pulang dari Barbershop. Semua bilang; kami yang terbaik. Tidak semua. Tapi realita kadang lebih jelas dari pada kata-kata.

Siang menuju sore itu, langit terlihat mendung. Petir menggelegar sangat kencang. Orang tua dulu mengatakan,”Itu Pecut dari Neraka Jahanam”. Entah saya tidak tahu. yang jelas, sore itu paijo (nama samaran) terpaksa keluar rumah. Dia mencari buah durian. Ma’lum, istrinya sedang “ngidam” buah durian. Dengan bermodal Honda supra lama dan baju hujan yang sudah banyak berlobang, dia menyusuri pinggir jalan kota “X” yang terkenal banyak buah Durian. Walaupun pakai Jas Hujan, tetap juga basah. Hujan sangat lebat.

Alhasil bertemu dengan seorang Penjual. Mereka sudah saling mengenal. Sahabat lama. Proses jual beli Durian pun cepat. Alhasil Paijo segera pulang ke rumah. Dalam hatinya, istrinya pasti senang keinginan makan durian terpenuhi. Itulah watak suami. Dia rela tidak makan durian hanya untuk membahagiakan istrinya.

Ternyata di luar dugaan. Istrinya marah-marah. Durian yang dia beli masih mentah. Sehingga tidak bisa dimakan. Perasaan Paijo tidak karuan. Hati dongkol dan Marah tidak tentu arah. Suara petir dari luar yang sangat keras laksana “Pecut Api Neraka Jahanam” tidak ada apa-apa dibandingkan panasnya api di dalam hati akibat kena tipu temanya dan kena marah istrinya. Ini benar-benar sudah di Neraka Jahanam. Sungguh sangat terlalu!!.

Sore berganti malam. Malam pun berganti pagi. Hujan telah berhenti. Matahari pagi terlihat terang. Diufuk timur terlihat mendung tipir berwana putih mengitari matahari. Daun-daun pohon trembesi di pinggir jalan masih basah. Suara burung masih terdengar merdu, menyanyi keagungan Tuhan Yang Maha Indah. Laksana para malaikat turun dan memberkahi para pencari rizki yang bertebaran di muka bumi.

Paijo menghidupkan kendaraan supra antiknya. Dia pergi lagi ke pasar mencari Durian. Kemarahan istri semalam tidak membuat kapok. Baginya, membahagiakan istri adalah kewajiban dan kemarahan istrinya laksana jamu kehidupan. Semakin pahit maka semakin sehat jiwa dan ruhnya. Bukankah itu watak seorang perempuan yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki? Tidak bisa diluruskan, tapi hanya bisa dirawat, dijaga, dihiasi dan diterima dengan lapang dada.

“Pak, berapa harga Durian ini?” Tanya Paijo kepada Penjual.

Penjual Durian tersenyum. Senyumnya seperti tabung kaca. Luar dalam kelihatan. Senyum yang tulus sampai ke kalbu. Tangannya sambil memilih Durian dan mulutnya kadang terdengar lantunan sholawat memuji Nabi Muhammad S.A.W. setelah selesai, dia menemui Paijo dan memberinya beberapa durian pilihan.

“Ini baik, isinya juga manis” kata Penjual Durian sambil menyerahkan empat buah durian yang sudah diikat dengan Tali Rafia.

“Berapa harganya?” tanya paijo

“Hari ini untuk mu gratis” jawab penjual durian.

Paijo terdiam. Bengong. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Ingin mengucapkan terima kasih tapi Sang Penjual Durian sudah pergi dan sibuk melayani beberapa penjual yang sudah antri. Dia pun menunggu selesai melayani penjual.

Paijo melihat cara berdagang nya. Bicaranya lugas, tidak penuh retorika. Tidak mbulet. Das-des. Jika baik ngomong baik, jika kurang baik juga bicara kurang baik. Para pembeli pun puas atas pelayanan.

Dua Penjual Duren di atas adalah cermin dari watak manusia secara umum. Semua umat Rasulullah SAW. Mereka juga menginginkan syafaat nya. Penulis hanya membayangkan betapa sedih Sang Rasul melihat tingkah laku umatnya yang kadang aneh-aneh dan menyebalkan. Disisi lain dia tersenyum melihat umatnya yang selalu menyebutnya dan berusaha mengikuti cara hidup dan sesuai dengan ajaranya. Meskipun demikian, nabi tidak egois. Semua umatnya selalu mendapatkan limpahan syafaatnya dan kasih sayang nya. Sampai-sampai saat dirinya sakit keras dan ajal akan datang, dia masih mengucapkan “umati, umati”.

Sungguh terlalu luas cinta Rasul kepada umatnya. Tapi kita selalu berfikir sempit dengan segala ucapan dan perilaku kita sendiri. Ya Rasulullah, di bulan hari kelahiranmu, kami belajar mencintaimu. Harapan semoga kami senantiasa mendapatkan syafaat dan bagian dari orang-orang yang sukses karena doa mu. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878