Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menebarkan Kedamaian Lahir Batin



Selasa , 03 Desember 2024



Telah dibaca :  826

Setelah membuka pelatihan fotografer pada ormawa PETIK, segera saya “lari-lari kecil” dari Gedung Dakwah menuju Gedung SBSN lantai tiga. Sama, yaitu membuka acara di prodi ekonomi syariah tentang UMKM. Selesai membuka acara, saya segera ke ruangan dan mengirim naskah buku ke penerbit. Jadi, sudah ada dua naskah dikirim ke penerbit, bulan november satu, awal desember satu. Insya Allah bulan januari mengirim naskah buku ke penerbit lagi. Saya tidak peduli apakah tulisan saya dibaca atau diabaikan. Saya hanya sedang melatih diri agar jari-jari ku bisa menulis beragam kenikmatan yang Allah titipkan kepadaku dan kepada keluarga, masyarakat dan alam semesta. Saat saya membayangkan tentang tentang kasih sayang Allah, hati terasa damai, betapa indah nya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Kehidupan dengan beragam peristiwa dan seambreg persoalan memang sering membuat hati kita bingung, galau, emosi, marah dan kadang juga senang bahkan ada yang bahagia luarbiasa. jika diperkecil beragam peristiwa sering hadir dalam kehidupan berupa kebahagiaan dan kesedihan. Ada bahagia karena mendapat pangkat, jabatan, selesai wisuda, dapat menantu baru, pasangan baru, dipromosi menjadi manager dan lain-lain. Ada kesedihan menyapa karena belum beruntung pada kontestasi politik, terkena kasus OTT, diputus pacar, berkelahi dengan mertua, tidak bisa membayar SPP kuliah, tidak bisa membelikan baju untuk anak-anak, tidak bisa kuliah di perguruan tinggi yang dicita-citakan. Ada banyak hal yang bisa membuat bahagia dan juga sebaliknya. Semua melahirkan ekspresi yang berbeda-beda dalam menyikapi semua kejadian tersebut.

Ketika kita mendapatkan kenikmatan sudah sewajarnya bisa tersenyum dan bersyukur kepada Allah. Saat mendapatkan ujian sewajarnya kita bersabar atas Keputusan yang diberikan Allah kepada kita. Nabi, para sahabat, para kekasih Allah dan hamba-hamba yang telah mencapai maqomah mahmudah pun mengalami kedua hal tersebut. bahkan kadang kita membayangkan ujian para kekasih Allah, sangat berat.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Allah memerintah Nabi Ibrahim untuk membunuh anak nya Ismail. Padahal, saat kita melihat anak tergeletak karena demam, atau sakit yang harus dibawa ke Rumah Sakit, kita pun terasa ikut sakit. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Pikiran kacau, hati gundah tidak menentu. Saat menatap kondisinya, kita kadang meneteskan air mata dan memohon kepada Allah agar menyembuhkan penyakit yang diderita oleh anak-anak kita. Bahkan kita kadang tidak memperdulikan pekerjaan dan asset kita. Anak telah menjadi asset terbesar bagi orang tua. Semua rela habis dengan harapan anak bisa sembuh, tersenyum dan bisa bermain sebagaimana biasanya.

Apa ujian kita? Ada, mungkin tidak sehebat dan seberat ujian para ulul azmi dan para kekasih Allah. Kita mungkin ujiannya jauh di bawah standar mereka. Tapi kadang kita melihat nya terkadang terlalu dramatis. Seolah-olah sangat berat.sehingga penyelesaiannya harus melupakan Allah, harus melupakan persaudaraan, keluarga, organisasi, dan bahkan harga diri. Kita sering terlalu fokus pada “satu titik” dan energi dihabiskan pada titik tersebut. Ketika kita mengingingkan suatu untuk menjadi seorang pemimpin kepala daerah, ketua organisasi, perusahaan, kita sering menghabiskan energi pada titik “kekuasaan”, dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Lalu muncul fitnah dengan membangun narasi “suudzon” tanpa melakukan meneliti fakta yang sebenarnya. Jika ini terjadi, maka bisa dipastikan fitnah akan terjadi dimana-mana dan kedamaian akan tercerabut di hati manusia.

Setiap manusia memang punya masalah yang sangat komplek. Semua bukan Allah sedang menurunkan bala bencana kepada kita. Tuhan terlalu sayang. Semua masalah yang diberikan Allah kepada kita agar kita bisa menjadi manusia yang kuat dan unggul. Salah satu ciri manusia unggul selalu berprasangka baik kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya. Jika ini sudah ada pada diri kita, maka kita telah menemukan kedamaian sebenarnya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872