Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menelurusi Lorong-Lorong Kebaikan



Selasa , 17 Juni 2025



Telah dibaca :  430

Malam ini saya terlambat menemui dua asesor: Dr. Rahmat dan Dr. Suhendra. Ada dua hal yang harus dikerjakan lebih dahulu, yaitu: pertama, mengantar nasi untuk sahabat-sahabat sekuriti. Tadi sore Mas Edi Purnomo ngasih nasi lauk sangat banyak, jadi tidak sempat saya makan. Akhirnya diberikan ke sekuriti. Kedua, membuat obat demam untuk Mas Jarir. Kepala pusing, perut sakit. mungkin karena capai bolak-balik Bengkalis-Pekanbaru. Insentitas minggu ini memang sangat padat. Mengingat akreditasi prodi “nyruduk-nyruduk”. Selesai satu lagi, mulai satu lagi. Ini yang membuat Mas Jarir drop.

Saya membuatkan dulu wedang jahe tanpa gula[sengaja saya menyiapkan jahe dan kunyit di lemariku]. Mas Chanif tukang urut. Seluruh badan Mas Jarit diurut. Dari kepala sampai kaki[bagian tengah biar Mas Jarir ngurut sendiri].

Selesai ngrumat Mas Jarir, saya dan Mas Chanif pergi ke Rumah Makan New Normal. HP terus berdering. Syeikh Rino Riyaldi terus menelpon. Kami pun segera meluncur ke tempat tersebut.

Saya duduk sebelah Pak Suhendra. Mas Chanif dekat Pak Rahmat. Sambil menunggu pesanan lele goreng dan wedang jeruk, kami berdua ngobrol tentang kehidupan. saya sengaja membahas yang ringan-ringan saja. Tidak membahas akreditasi kampus. Tapi akreditasi kehidupan. sangat asik. Ternyata pak suhendra mempunyai kisah kehidupan yang sangat indah, yaitu tentang lorong-lorong kebaikan di alam spiritual.

Sesi pertama, ia membahas tentang “min khaisu laa yahtasib” rezeki yang tidak disangka-sangka. Sebagai seorang dosen yang hidup di kota besar[Rumah nya dengan Kantor PP Muslimat NU di Jakarta], dia menceritakan saat mencari rumah untuk tempat tinggal. Bayang-bayang “bisa membeli” rumah masih samar-samar. Belum ada gambaran duit untuk membelinya.

Namun ia mempunyai keyakinan bahwa ia suatu saat bisa mempunyai rumah di Jakarta. Tapi kapan waktu dan dari mana duitnya masih ghaib. Ia belum bisa menemukan tanda-tanda keinginan tersebut dalam waktu dekat bisa terealisasi.

Kenapa ia mempunyai keyakinan tinggi bahwa cita-cita tersebut akan berhasil. Bisa beli rumah sebagai tempat tinggal dan beli mobil untuk bekerja. Saya kira pak Suhendra berpegang pada firman Allah SWT :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya:

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi keperluannnya (Q.S.At-Thalaq([65:3])

Kami dalam diskusi sepakat bahwa mempertahankan konsistensi (istiqomah) sandaran kepada Allah sangat berat. saya dan pak suhendra menyadari bahwa hati manusia selalu “wolak-walik”, atau mengalami perubahan secara dinamis. Situasi psikologis dalam menghadapi seluruh fenomena kehidupan membuat perubahan-perubahan itu terjadi. Setiap manusia mempunyai kemampuan keberagaman untuk meresponnya. Ada yang mempunyai kekuatan untuk senantiasa menghadapi berbagai persoalan dan ada juga yang selalu terbawa arus oleh keadaan.

Sesi kedua, kami membahas tentang prasangka baik kepada sesama manusia. Pak Suhendra menjelaskan bahwa dalam menjalankan proses kehidupan bermasyarakat mempunyai peluang adanya penilaian negatif kepada orang lain. Keberagaman manusia dan kompoleksitas mereka serta intensitas pertemuan tersebut tidak bisa menghindari fakta-fakta pada hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenang. Beragam ini yang memungkinkan manusia mempunyai prasangka kepada orang lain dengan pandangan yang tidak menyenangkan.

Dalam hal tersebut. Q.S. Al-Hujurat ayat 12 menjelaskan sebagai berikut: “Wahai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari kamu prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan dosa,”.

Al-Qurtubhi berpendapat bahwa ayat tersebut memberi pengertian ada dzan yang diperbolehkan oleh manusia yaitu dzan yang positif. Sedangkan yang negatif dilarang dalam Islam.

Persoalan yang sering muncul yaitu mengelola hati untuk selalu berhusnudzon kepada manusia itu susah. Lebih mudah ber-su’udhan. Bukan hanya kepada manusia, tapi juga ber-su’udzan kepada Sang Pencipta.

Manusia ber-su’udhan kepada Tuhan karena ia sering berfikir pendek bahwa apa yang diinginkan bisa direalisasikan dalam hidup sehari-hari ketika memohon kepada-Nya. Realita hidup tidak demikian. Persoalan yang menimpa dan harapan terbebas dari semua itu belum terwujud. Terkadang manusia mengambil jalan pintas dengan ber-su’udzhan kepada-Nya.  Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat beragama saat sekarang ini.

Hal seperti itu yang membuat Pak Suhendra  waspada.  Ia sangat menjaga hati agar jangan sampai mengarah hal-hal yang bersifat negatif. Ia selalu berusaha untuk selalu ber-husnudzan kepada siapapun termasuk kepada Sang Pencipta.

Malam terus berjalan. Ingin terus berdiskusi. Namun pak suhendra dan pak rahmat masih ada tugas yang harus diselesaikan beberapa hari ini, saya pun menutup diskusi yang sangat mengasikan ini.

Malam itu gerimis pelan. Semoga itu pertanda rahmat Allah turun dan memberi anugerah terbaik kepada kita semua. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875