
Malam ini saya terlambat menemui dua
asesor: Dr. Rahmat dan Dr. Suhendra. Ada dua hal yang harus dikerjakan lebih
dahulu, yaitu: pertama, mengantar nasi untuk sahabat-sahabat sekuriti. Tadi
sore Mas Edi Purnomo ngasih nasi lauk sangat banyak, jadi tidak sempat saya
makan. Akhirnya diberikan ke sekuriti. Kedua, membuat obat demam untuk Mas
Jarir. Kepala pusing, perut sakit. mungkin karena capai bolak-balik Bengkalis-Pekanbaru. Insentitas minggu ini memang sangat padat. Mengingat akreditasi
prodi “nyruduk-nyruduk”. Selesai satu lagi, mulai satu lagi. Ini yang
membuat Mas Jarir drop.
Saya membuatkan dulu wedang jahe tanpa
gula[sengaja saya menyiapkan jahe dan kunyit di lemariku]. Mas Chanif tukang
urut. Seluruh badan Mas Jarit diurut. Dari kepala sampai kaki[bagian tengah
biar Mas Jarir ngurut sendiri].
Selesai ngrumat Mas Jarir, saya dan Mas Chanif pergi ke Rumah Makan New Normal. HP terus berdering. Syeikh Rino Riyaldi terus menelpon. Kami pun segera meluncur ke tempat tersebut.
Saya duduk sebelah Pak Suhendra. Mas Chanif
dekat Pak Rahmat. Sambil menunggu pesanan lele goreng dan wedang jeruk, kami
berdua ngobrol tentang kehidupan. saya sengaja membahas yang ringan-ringan
saja. Tidak membahas akreditasi kampus. Tapi akreditasi kehidupan. sangat asik.
Ternyata pak suhendra mempunyai kisah kehidupan yang sangat indah, yaitu
tentang lorong-lorong kebaikan di alam spiritual.
Sesi pertama, ia membahas tentang “min
khaisu laa yahtasib” rezeki yang tidak disangka-sangka. Sebagai seorang
dosen yang hidup di kota besar[Rumah nya dengan Kantor PP Muslimat NU di
Jakarta], dia menceritakan saat mencari rumah untuk tempat tinggal.
Bayang-bayang “bisa membeli” rumah masih samar-samar. Belum ada gambaran duit
untuk membelinya.
Namun ia mempunyai keyakinan bahwa ia suatu
saat bisa mempunyai rumah di Jakarta. Tapi kapan waktu dan dari mana duitnya
masih ghaib. Ia belum bisa menemukan tanda-tanda keinginan tersebut dalam waktu
dekat bisa terealisasi.
Kenapa ia mempunyai keyakinan tinggi bahwa
cita-cita tersebut akan berhasil. Bisa beli rumah sebagai tempat tinggal dan
beli mobil untuk bekerja. Saya kira pak Suhendra berpegang pada firman Allah
SWT :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya:
Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi
keperluannnya (Q.S.At-Thalaq([65:3])
Kami dalam diskusi sepakat bahwa mempertahankan konsistensi (istiqomah)
sandaran kepada Allah sangat berat. saya dan pak suhendra menyadari bahwa hati
manusia selalu “wolak-walik”, atau mengalami perubahan secara dinamis. Situasi
psikologis dalam menghadapi seluruh fenomena kehidupan membuat
perubahan-perubahan itu terjadi. Setiap manusia mempunyai kemampuan keberagaman
untuk meresponnya. Ada yang mempunyai kekuatan untuk senantiasa menghadapi
berbagai persoalan dan ada juga yang selalu terbawa arus oleh keadaan.
Sesi kedua, kami membahas tentang prasangka baik kepada sesama manusia. Pak
Suhendra menjelaskan bahwa dalam menjalankan proses kehidupan bermasyarakat
mempunyai peluang adanya penilaian negatif kepada orang lain. Keberagaman
manusia dan kompoleksitas mereka serta intensitas pertemuan tersebut tidak bisa
menghindari fakta-fakta pada hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenang. Beragam
ini yang memungkinkan manusia mempunyai prasangka kepada orang lain dengan pandangan
yang tidak menyenangkan.
Dalam hal tersebut. Q.S. Al-Hujurat ayat 12 menjelaskan sebagai berikut:
“Wahai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari kamu prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan dosa,”.
Al-Qurtubhi berpendapat bahwa ayat tersebut memberi pengertian ada dzan
yang diperbolehkan oleh manusia yaitu dzan yang positif. Sedangkan yang negatif
dilarang dalam Islam.
Persoalan yang sering muncul yaitu mengelola hati untuk selalu
berhusnudzon kepada manusia itu susah. Lebih mudah ber-su’udhan. Bukan
hanya kepada manusia, tapi juga ber-su’udzan kepada Sang Pencipta.
Manusia ber-su’udhan kepada Tuhan karena ia sering berfikir pendek bahwa apa yang diinginkan bisa direalisasikan dalam hidup sehari-hari ketika memohon kepada-Nya. Realita hidup tidak demikian. Persoalan yang menimpa dan harapan terbebas dari semua itu belum terwujud. Terkadang manusia mengambil jalan pintas dengan ber-su’udzhan kepada-Nya. Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat beragama saat sekarang ini.
Hal seperti itu yang membuat Pak Suhendra waspada. Ia sangat menjaga hati agar jangan sampai mengarah hal-hal yang bersifat negatif. Ia selalu berusaha untuk selalu ber-husnudzan
kepada siapapun termasuk kepada Sang Pencipta.
Malam terus berjalan. Ingin terus berdiskusi. Namun pak suhendra dan pak
rahmat masih ada tugas yang harus diselesaikan beberapa hari ini, saya pun
menutup diskusi yang sangat mengasikan ini.
Malam itu gerimis pelan. Semoga itu pertanda rahmat Allah turun dan
memberi anugerah terbaik kepada kita semua. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875