Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menemukan Cinta Yang Hilang



Sabtu , 30 Agustus 2025



Telah dibaca :  476

Saat dunia semakin terang terkadang membuat pikiran dan hati semakin gelap. Benarkah demikian. Apa karena ada hukum sebab akibat. Apa karena pandangan mata dhohir terlalu banyak melihat seluruh kejadian di depan mata baik mata telanjang atau mata dunia maya. Terlalu numpuk informasi. Pikiran menjadi tidak berfungsi, dan hati semakin gelap. Emosi lalu meledak dalam ucapan, tulisan dan reaksi-reaksi perbuatan yang sudah tidak terkendali lagi. Benarkah demikian. Saya kurang tahu.

Semakin banyak informasi kadang malah manusia semakin menderita. Masalah di luar sana seolah-olah bagian dari masalah nya. Anggota dewan yang joget-joget, kita merasa seolah-olah merasa yang tersindir. Sensitifitas manusia di era informasi sangat tinggi. Kita saat sekarang ini mudah menabung masalah ketimbang mengurai masalah. Itu sebabnya era informasi di medsos benar-benar telah menabung derita. Semua merasa menderita, bukan hanya rakyat biasa, para pejabat yang sudah mendapatkan kenikmatan pun masih merasa menderita.

Jutaan masalah ada dimana-mana. Mobil, ojol, dan demontrasi seolah-olah telah mewakili kompleksitas yang tidak jelas ujung pangkalnya. Seperti melihat gambar titik api (hostpot) di musim panas. Semua permukaan wilayah seolah-olah berubah berwarna merah. TV dan media sosial yang terlihat wajah kemarahan, ketegangan, kebencian, kesedihan yang mendalam. Apalagi ada aplikasi AI yang mampu membuat hati berdebar kencang ketakutan atas suatu peristiwa.

Alam semesta seolah-olah sedang berduka. Hari ini sudah tidak ada gurauan atau canda tawa. Jika tidak tepat tertawa atau bercanda, bisa-bisa menjadi masalah. Hari ini tidak ada lagi senyuman. Penampilan, foto, kartun atau apa saja seolah-olah hanya satu jenis: kesedihan dan penderitaan. Sungguh ini benar-benar ‘amul huzni, hari penuh duka cita.

Kenapa ini terjadi. Kenapa semua ini ditanpakan di hadapan kita semua, dihadapan orang-orang yang tidak tahu menahu persoalan lalu tiba-tiba jadi sok tahu segala persoalan. Kenapa juga yang tahu, seolah-olah tidak mau tahu segala persoalan yang ada sekarang ini. Kenapa yang diatas bicara tentang kebenaran, di bawah bicara kebenaran. Lalu dimana letak kesalahan nya?. Kenapa bangsa ini rebutan merasa benar, dan tidak ada yang merasa salah. Kenapa juga ketika mengakui salah ditertawakan seolah-olah hanya sebatas pengakuan drama semata.

Kenapa ini terjadi. semua ada hikmah nya. Tuhan tidak menurunkan keruwetan persoalan manusia tiada lain ia memberi solusi terbaiknya. Seperti kisah fitnatul akbar pada masa Ali bin Abi Thalib. Mereka saling caci. Pemimpin dicaci maki oleh teman-teman nya sendiri. Sama-sama sahabat Nabi. Lalu jadi opoisi. Rakyat biasa tidak tedeng aling-aling menghina Ali bin Abi Thalib di depan umum. Dan terus disebarkan keliling kampung. Kerusuhan dan distabilitas pemerintahan. Negara benar-benar chaos.

Allah menurunkan hikmah. Para sahabat banyak yang hijrah. Ia ingin menghindari pertumpahan darah. Di tempat baru, mereka menyebarkan agama Islam. Hingga akhirnya, Islam berkembang dimana-mana.

Hari ini Tuhan sebenarnya sedang memperingatkan kepada bangsa Indonesia tentang mutiara yang telah hilang pada bangsa ini yaitu hilangnya rasa kasih sayang sesama manusia. Hari ini Tuhan sedang menunjukan dampak dari hilangnya rasa kasih sayang berupa kerusakan, kebrutalan, dan kehancuran alam semesta.

Tuhan juga akan menunjukan bahwa emosi kita yang diluapkan berlebih-lebihan akan melemahkan tenaga dan memperpendek kecerdasan kita. Pada suatu waktu kita akan menjadi bangsa yang lemah tidak berdaya, bangsa yang sudah tidak produktif lagi cara berfikir menyelesaikan masalah. Ketika ini terjadi, maka yang sangat bahaya adalah musuh-musuh bangsa berdatangan. Musuh-musuh ini menawarkan susu, keju dan kenikmatan dunia. padahal semua dibalik itu sudah dikasih ganja, morfin,dan heroin. Saat kita makan dan minum, saat itulah kita berdansa kegirangan tapi tidak lama kemudian, kita ambruk seperti bayi tanpa tenaga.

Tuhan sedang mengajarkan kepada kita untuk terus memupuk rasa cinta kepada sesama saudara satu bangsa dan satu tanah air Indonesia. para buruh, mahasiswa dan ojol bukan manusia berdiri sendiri. diantara mereka ada saudaranya pejabat, dan anak-anak TNI dan Polisi. Semua sedang menjalankan kehidupan sendiri-sendiri.

Saat masyarakat demonstrasi sebenarnya sedang menghembuskan cinta dan kasih sayang. Hal yang sama saat tni dan polisi menjalankan tugasnya, juga sedang berdiri gagah penuh rasa cinta dan kasih sayang.

Tuhan sedang menghadirkan hembusan kasih sayang kepada para pejabat dan wakil rakyat. Tuhan sedang mengajarkan kepada mereka bahwa hakikat manusia bukan pada jabatannya, tapi pada perasaannya. Jabatan adalah penyambung rasa mereka untuk masyarakatnya.

Tuhan juga sedang mengajarkan semilir angin kasih sayang dan cinta kepada manusia pada beban hidup yang ada dipundak mereka. Kedatangan mereka untuk mempererat persaudaraan dengan para pejabat. Harapannya bisa duduk bareng, guyon sambil mengurai benang-benar persoalan dengan riang gembira.

Hari-hari ini dan masa mendatang Tuhan terus mengajarkan kepada manusia untuk kembali lagi menemukan mutiara yang hilang yaitu cinta. Percayalah, jika ini sudah ketemu semua akan menjadi indah. Makna baldatun toyibatun warabbul ghofur, bukan karena terpenuhi seluruh kebutuhan hidup. Tidak dan bukan itu. Konsep itu adalah konsep kehidupan sosial yang pada dirinya ada rasa cinta yang mendalam karena Allah, sehingga semua kehidupan sosial dijalankan dengan sama-sama saling pengertian. Karena adanya saling pengertian ini, maka Allah menurunkan rahmah dan ampunan kepada warga negara nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875