
Saat dunia semakin terang terkadang membuat
pikiran dan hati semakin gelap. Benarkah demikian. Apa karena ada hukum sebab
akibat. Apa karena pandangan mata dhohir terlalu banyak melihat seluruh
kejadian di depan mata baik mata telanjang atau mata dunia maya. Terlalu numpuk
informasi. Pikiran menjadi tidak berfungsi, dan hati semakin gelap. Emosi lalu
meledak dalam ucapan, tulisan dan reaksi-reaksi perbuatan yang sudah tidak
terkendali lagi. Benarkah demikian. Saya kurang tahu.
Semakin banyak informasi kadang malah manusia
semakin menderita. Masalah di luar sana seolah-olah bagian dari masalah nya. Anggota
dewan yang joget-joget, kita merasa seolah-olah merasa yang tersindir. Sensitifitas
manusia di era informasi sangat tinggi. Kita saat sekarang ini mudah menabung
masalah ketimbang mengurai masalah. Itu sebabnya era informasi di medsos
benar-benar telah menabung derita. Semua merasa menderita, bukan hanya rakyat
biasa, para pejabat yang sudah mendapatkan kenikmatan pun masih merasa
menderita.
Jutaan masalah ada dimana-mana. Mobil,
ojol, dan demontrasi seolah-olah telah mewakili kompleksitas yang tidak jelas
ujung pangkalnya. Seperti melihat gambar titik api (hostpot) di musim
panas. Semua permukaan wilayah seolah-olah berubah berwarna merah. TV dan media
sosial yang terlihat wajah kemarahan, ketegangan, kebencian, kesedihan yang
mendalam. Apalagi ada aplikasi AI yang mampu membuat hati berdebar kencang
ketakutan atas suatu peristiwa.
Alam semesta seolah-olah sedang berduka.
Hari ini sudah tidak ada gurauan atau canda tawa. Jika tidak tepat tertawa atau
bercanda, bisa-bisa menjadi masalah. Hari ini tidak ada lagi senyuman.
Penampilan, foto, kartun atau apa saja seolah-olah hanya satu jenis: kesedihan
dan penderitaan. Sungguh ini benar-benar ‘amul huzni, hari penuh duka
cita.
Kenapa ini terjadi. Kenapa semua ini
ditanpakan di hadapan kita semua, dihadapan orang-orang yang tidak tahu menahu
persoalan lalu tiba-tiba jadi sok tahu segala persoalan. Kenapa juga yang tahu,
seolah-olah tidak mau tahu segala persoalan yang ada sekarang ini. Kenapa yang
diatas bicara tentang kebenaran, di bawah bicara kebenaran. Lalu dimana letak
kesalahan nya?. Kenapa bangsa ini rebutan merasa benar, dan tidak ada yang
merasa salah. Kenapa juga ketika mengakui salah ditertawakan seolah-olah hanya
sebatas pengakuan drama semata.
Kenapa ini terjadi. semua ada hikmah nya.
Tuhan tidak menurunkan keruwetan persoalan manusia tiada lain ia memberi
solusi terbaiknya. Seperti kisah fitnatul akbar pada masa Ali bin Abi Thalib.
Mereka saling caci. Pemimpin dicaci maki oleh teman-teman nya sendiri.
Sama-sama sahabat Nabi. Lalu jadi opoisi. Rakyat biasa tidak tedeng aling-aling
menghina Ali bin Abi Thalib di depan umum. Dan terus disebarkan keliling
kampung. Kerusuhan dan distabilitas pemerintahan. Negara benar-benar chaos.
Allah menurunkan hikmah. Para sahabat
banyak yang hijrah. Ia ingin menghindari pertumpahan darah. Di tempat baru,
mereka menyebarkan agama Islam. Hingga akhirnya, Islam berkembang dimana-mana.
Hari ini Tuhan sebenarnya sedang
memperingatkan kepada bangsa Indonesia tentang mutiara yang telah hilang pada
bangsa ini yaitu hilangnya rasa kasih sayang sesama manusia. Hari ini Tuhan
sedang menunjukan dampak dari hilangnya rasa kasih sayang berupa kerusakan,
kebrutalan, dan kehancuran alam semesta.
Tuhan juga akan menunjukan bahwa emosi kita
yang diluapkan berlebih-lebihan akan melemahkan tenaga dan memperpendek
kecerdasan kita. Pada suatu waktu kita akan menjadi bangsa yang lemah tidak
berdaya, bangsa yang sudah tidak produktif lagi cara berfikir menyelesaikan
masalah. Ketika ini terjadi, maka yang sangat bahaya adalah musuh-musuh bangsa
berdatangan. Musuh-musuh ini menawarkan susu, keju dan kenikmatan dunia.
padahal semua dibalik itu sudah dikasih ganja, morfin,dan heroin. Saat kita
makan dan minum, saat itulah kita berdansa kegirangan tapi tidak lama kemudian,
kita ambruk seperti bayi tanpa tenaga.
Tuhan sedang mengajarkan kepada kita untuk
terus memupuk rasa cinta kepada sesama saudara satu bangsa dan satu tanah air
Indonesia. para buruh, mahasiswa dan ojol bukan manusia berdiri sendiri.
diantara mereka ada saudaranya pejabat, dan anak-anak TNI dan Polisi. Semua
sedang menjalankan kehidupan sendiri-sendiri.
Saat masyarakat demonstrasi sebenarnya
sedang menghembuskan cinta dan kasih sayang. Hal yang sama saat tni dan polisi
menjalankan tugasnya, juga sedang berdiri gagah penuh rasa cinta dan kasih
sayang.
Tuhan sedang menghadirkan hembusan kasih
sayang kepada para pejabat dan wakil rakyat. Tuhan sedang mengajarkan kepada
mereka bahwa hakikat manusia bukan pada jabatannya, tapi pada perasaannya.
Jabatan adalah penyambung rasa mereka untuk masyarakatnya.
Tuhan juga sedang mengajarkan semilir angin
kasih sayang dan cinta kepada manusia pada beban hidup yang ada dipundak
mereka. Kedatangan mereka untuk mempererat persaudaraan dengan para pejabat.
Harapannya bisa duduk bareng, guyon sambil mengurai benang-benar persoalan
dengan riang gembira.
Hari-hari ini dan masa mendatang Tuhan
terus mengajarkan kepada manusia untuk kembali lagi menemukan mutiara yang
hilang yaitu cinta. Percayalah, jika ini sudah ketemu semua akan menjadi indah.
Makna baldatun toyibatun warabbul ghofur, bukan karena terpenuhi seluruh
kebutuhan hidup. Tidak dan bukan itu. Konsep itu adalah konsep kehidupan sosial
yang pada dirinya ada rasa cinta yang mendalam karena Allah, sehingga semua
kehidupan sosial dijalankan dengan sama-sama saling pengertian. Karena adanya
saling pengertian ini, maka Allah menurunkan rahmah dan ampunan kepada warga
negara nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875