Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Meng-NU-kan Dunia dan Menduniakan NU



Rabu , 01 Februari 2023



Telah dibaca :  296

Meminjam guyonan Cak Lontong, bahwa NU [saya menggunakan istilah “U” besar untuk singkatan Nahdlatul Ulama] lebih hebat dari Nations United [ saya menggunakan istilah “u” kecil]. Sebab jika Nu nya Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya mengurus Dunia saja, sedangkan NU nya Mbah Kiai Hasyim mengurus Dunia dan Akherat. Maka dia dengan bangga merasa senang terhadap organisasi NU, karena dia merasa diurusi oleh NU. Seperti biasa, guyonan Cak Lontong memang lucu. Bahasanya bersanyap. Bagi warga NU sebagai Jam’iyah dan Jamaah merupakan kehormatan karena menjadi Pengurus dan menjadi jama’ah [yang diurusi]. sedangkan bagi Cak Lontong, makna diurusi baginya  karena dia diundang untuk mengisi acara tersebut. Tentu dia berbicara pada tataran prestasi dan prestise sebagai seorang pelawak yang saat ini bisa menembus pangsa pasar  kalangan elit di Indonesia.

Pengertian judul ‘Meng-NU-kan Dunia dan Mengduniakan NU tidak sama sebagaimana guyonan Cak Lontong. Ini tidak sama makna dengan Dunia yang berasal dari bahasa Arab ‘dana’ yang mempunyai arti dekat. Lawanya adalah Akhirat yang artinya waktu tak terbatas. Menduniakan NU tentu saja bukan berarti menjadikan NU sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat sementara atau ‘dana’ yang kemudian dalam bentuk masdar nya Dunia. Sebab jika NU untuk kepentingan Dunia, maka statusnya menjadi saeculum yang bermakna ‘masa kini’ dan ‘dunia’. Antara masa kini dan dunia adalah sebuah filosofis kehidupan yang sebentar dan tidak kekal. Mengejarnya berarti telah mencari sesuatu yang sebentar yang kemudian lahir menjadi kata sekulerisme, paham keduniaa atau kebendaan. Karena itu ketika sudah waktu berlalu, keduanya menjadi kenangan. Disini sebenarnya keterbatasan makna dunia sesungguhnya, akan rusak dan sirna.

Penulis artikel ini membayangkan bahwa NU di masa depan saat memasuki usia satu abad dan berarti memulai perjalanan abad kedua bisa menjadi ‘Think globaly dengan tetap act localy atau think localy act globaly”. Jika istilah Kh.Yahya Cholil Staquf [Gus Yahya] bahwa visi NU kedepan ‘Merawat Jagat Membangun Peradaban’, maka NU menurut Penulis Artikel ini seharusnya tidak melupakan cara berfikir lokal dan sekaligus global. Berfikir lokal berarti menata organisasi jam’iyah dan jamaah nya dengan menyiapkan Sumber Daya Manusia [SDM] nya dan juga kemampuan mereka mengelola Sumber Daya Alam [SDA] sebagai kekuatan real dalam menghadapi situasi yang sulit diprediksi [ terutama berkaitan dengan ekonomi]. Benar NU saat ini sudah memiliki universita, rumah sakit dan para intelektual serta basis-basis kekuatan ekonomi, namun belum sebanding dengan jumlah jama’ahnya yang puluhan juta orang[ konon survey terakhir 100 juta warga kultural dan structural NU]. Bahkan jika mau jujur, kualitas nya masih kalah dengan Muhamadiyah sebagai saudara tuanya. Melihat potensi besar tersebut dan memperbaiki kedua sumber yang juga sangat ‘mblarah’ tadi adalah pekerjaan rumah yang harus segera dieksekusi dengan lebih agresif lagi oleh NU. Ini kerja kolektif dan terus-menerus.

Disisi lain, persoalan-persoalan soliditas organisasi baik mulai dari Pusat sampai pada Ranting dan efektifitas kerjanya merupakan suatu persoalan yang maha penting saat memasuki abad ke dua nanti. Ada maqolah atau kata bijak mengatakan bahwa ‘Kelompok kecil tapi terorganisir dengan baik mampu mengalahkan organisasi besar tapi tidak terorganisir dengan baik’. Apalagi di era saat sekarang ini, menentukan suatu identitas sangat sulit mudah tertipu oleh suatu penampilan yang terlihat menyakinkan terhadap organisasi NU, namun sebenarnya hanya menggunakan NU untuk sebuah kepentingan sesaat sebagaimana penulis katakan di atas. Semua orang bisa beli atribut dan menggunakan nya untuk kepentingan mereka, dan disebarluaskan untuk propaganda dan menyudutkan NU dengan tanpa merasa bersalah. Fenomena ini akan terus terjadi di masa-masa mendatang. Maka pendidikan keorganisasian, kaderisasi berjenjang dan pemahaman nilai-nilai ajaran ke-NU-an di era saat ini menjadi sesuatu yang penting dan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Terlepas dari persoalan-persoalan internal tersebut, NU tidak boleh lupa mempunyai tanggung-jawab dalam menyebarkan ajaran Islam sebagai Rahmat Semesta Alam. Konsep “act globaly” bukan sebatas kewajiban tapi sebuah kebutuhan. NU lahir bukan sebatas untuk memperkenalkan kekhasan nilai-nilai Islam kenusantaraan yang terkenal dengan kemampuan beradaptasi dengan keberagaman agama, suku, budaya dan etnis saja. Tapi ada pesan yang sangat mendalam dari Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari melalui simbol Dunia, yaitu : Bahwa NU di masa yang akan datang harus bisa mewarnai nilai-nilai kebaikan ajaran Islam terhadap penganut agama Islam itu sendiri maupun terhadap masyarakat Dunia yang heterogen. Sehingga NU yang Nahdlatul Ulama benar-benar mampu mewujudkan kedamaian bagi Nu-nya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Inilah sebagian makna ajaran Islam sebagai Rahmat bagi Semesta Alam.

Saya kira penulis sudah melihat tanda-tanda tersebut pada visi-misi pengurus PBNU sekarang. Tentu, ini juga bagian dari ‘luberan’ berkah para pengurus PBNU sebelumnya. Semoga visi-misi NU dalam merawat jagat dan membangun peradaban terwujud. Sebagai penutup tulisan ini saya mengucapkan “Selamat Hari Ulang Tahun NU yang Ke-100.”



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884