
Meminjam guyonan Cak Lontong, bahwa
NU [saya menggunakan istilah “U” besar untuk singkatan Nahdlatul Ulama] lebih
hebat dari Nations United [ saya menggunakan istilah “u” kecil]. Sebab jika Nu
nya Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya mengurus Dunia saja, sedangkan NU nya Mbah
Kiai Hasyim mengurus Dunia dan Akherat. Maka dia dengan bangga merasa senang
terhadap organisasi NU, karena dia merasa diurusi oleh NU. Seperti biasa, guyonan
Cak Lontong memang lucu. Bahasanya bersanyap. Bagi warga NU sebagai Jam’iyah
dan Jamaah merupakan kehormatan karena menjadi Pengurus dan menjadi jama’ah
[yang diurusi]. sedangkan bagi Cak Lontong, makna diurusi baginya karena dia diundang untuk mengisi acara
tersebut. Tentu dia berbicara pada tataran prestasi dan prestise sebagai
seorang pelawak yang saat ini bisa menembus pangsa pasar kalangan elit di Indonesia.
Pengertian judul ‘Meng-NU-kan Dunia dan
Mengduniakan NU tidak sama sebagaimana guyonan Cak Lontong. Ini tidak
sama makna dengan Dunia yang berasal dari bahasa Arab ‘dana’ yang
mempunyai arti dekat. Lawanya adalah Akhirat yang artinya waktu tak terbatas. Menduniakan
NU tentu saja bukan berarti menjadikan NU sebagai cara untuk mendapatkan
sesuatu yang bersifat sementara atau ‘dana’ yang kemudian dalam bentuk masdar
nya Dunia. Sebab jika NU untuk kepentingan Dunia, maka statusnya menjadi saeculum
yang bermakna ‘masa kini’ dan ‘dunia’. Antara masa kini dan dunia adalah sebuah
filosofis kehidupan yang sebentar dan tidak kekal. Mengejarnya berarti telah
mencari sesuatu yang sebentar yang kemudian lahir menjadi kata sekulerisme,
paham keduniaa atau kebendaan. Karena itu ketika sudah waktu berlalu, keduanya
menjadi kenangan. Disini sebenarnya keterbatasan makna dunia sesungguhnya, akan
rusak dan sirna.
Penulis artikel ini membayangkan bahwa NU
di masa depan saat memasuki usia satu abad dan berarti memulai perjalanan abad
kedua bisa menjadi ‘Think globaly dengan tetap act localy atau think localy
act globaly”. Jika istilah Kh.Yahya Cholil Staquf [Gus Yahya] bahwa visi NU
kedepan ‘Merawat Jagat Membangun Peradaban’, maka NU menurut Penulis Artikel
ini seharusnya tidak melupakan cara berfikir lokal dan sekaligus global. Berfikir
lokal berarti menata organisasi jam’iyah dan jamaah nya dengan menyiapkan Sumber
Daya Manusia [SDM] nya dan juga kemampuan mereka mengelola Sumber Daya Alam [SDA]
sebagai kekuatan real dalam menghadapi situasi yang sulit diprediksi [ terutama
berkaitan dengan ekonomi]. Benar NU saat ini sudah memiliki universita, rumah
sakit dan para intelektual serta basis-basis kekuatan ekonomi, namun belum
sebanding dengan jumlah jama’ahnya yang puluhan juta orang[ konon survey terakhir
100 juta warga kultural dan structural NU]. Bahkan jika mau jujur, kualitas nya
masih kalah dengan Muhamadiyah sebagai saudara tuanya. Melihat potensi besar tersebut
dan memperbaiki kedua sumber yang juga sangat ‘mblarah’ tadi adalah
pekerjaan rumah yang harus segera dieksekusi dengan lebih agresif lagi oleh NU.
Ini kerja kolektif dan terus-menerus.
Disisi lain, persoalan-persoalan soliditas
organisasi baik mulai dari Pusat sampai pada Ranting dan efektifitas kerjanya merupakan
suatu persoalan yang maha penting saat memasuki abad ke dua nanti. Ada maqolah
atau kata bijak mengatakan bahwa ‘Kelompok kecil tapi terorganisir dengan
baik mampu mengalahkan organisasi besar tapi tidak terorganisir dengan baik’.
Apalagi di era saat sekarang ini, menentukan suatu identitas sangat sulit mudah
tertipu oleh suatu penampilan yang terlihat menyakinkan terhadap organisasi NU,
namun sebenarnya hanya menggunakan NU untuk sebuah kepentingan sesaat
sebagaimana penulis katakan di atas. Semua orang bisa beli atribut dan
menggunakan nya untuk kepentingan mereka, dan disebarluaskan untuk propaganda
dan menyudutkan NU dengan tanpa merasa bersalah. Fenomena ini akan terus
terjadi di masa-masa mendatang. Maka pendidikan keorganisasian, kaderisasi
berjenjang dan pemahaman nilai-nilai ajaran ke-NU-an di era saat ini menjadi
sesuatu yang penting dan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Terlepas dari persoalan-persoalan internal tersebut,
NU tidak boleh lupa mempunyai tanggung-jawab dalam menyebarkan ajaran Islam sebagai
Rahmat Semesta Alam. Konsep “act globaly” bukan sebatas kewajiban tapi
sebuah kebutuhan. NU lahir bukan sebatas untuk memperkenalkan kekhasan
nilai-nilai Islam kenusantaraan yang terkenal dengan kemampuan beradaptasi
dengan keberagaman agama, suku, budaya dan etnis saja. Tapi ada pesan yang
sangat mendalam dari Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari melalui simbol Dunia, yaitu :
Bahwa NU di masa yang akan datang harus bisa mewarnai nilai-nilai kebaikan
ajaran Islam terhadap penganut agama Islam itu sendiri maupun terhadap
masyarakat Dunia yang heterogen. Sehingga NU yang Nahdlatul Ulama benar-benar
mampu mewujudkan kedamaian bagi Nu-nya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Inilah sebagian
makna ajaran Islam sebagai Rahmat bagi Semesta Alam.
Saya kira penulis sudah melihat tanda-tanda
tersebut pada visi-misi pengurus PBNU sekarang. Tentu, ini juga bagian dari ‘luberan’
berkah para pengurus PBNU sebelumnya. Semoga visi-misi NU dalam merawat jagat
dan membangun peradaban terwujud. Sebagai penutup tulisan ini saya mengucapkan “Selamat
Hari Ulang Tahun NU yang Ke-100.”
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884