Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengatasi Mental Health Generasi Z Model Pesantren Tradisional



Senin , 25 September 2023



Telah dibaca :  1239

Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Indonesia pada tahun 2045 akan mencapai masa keemasan. Dia menekankan pentingnya perlindungan dan menyiapkan generasi meneruskan Tongkat Estafet kepemimpinan di masa datang. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu yang terpenting yaitu memilih pemimpin yang mampu menjawab tantangan tersebut.

Media ternama London, The Economist mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik tercepat kelima di antara 30 negara dengan perekonomian terbesar sejak ia menjabat tahun 2014. Angka kesukaan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf sebesar 80% sebagai prestasi kesukaan tertinggi di Dunia. Namun Media tersebut memberi warning  bahwa keberhasilan pemerintah Jokowi bisa berhenti jika pemerintah penggantinya tidak bisa meneruskan visi-misinya menjadi lebih baik. 

Persoalan suksesi kepemimpinan di masa depan menjadi perhatian sangat serius. Namun masa depan generasi muda jauh lebih penting untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju. Ironisnya, Indonesia dengan diberkahi bonus demografi yang melimpah (sebesar 60%) ada ancaman yang tidak bisa dianggap ringan yaitu penderitaan mental generasi muda. Kemajuan ekonomi menjadi kurang berarti manakala generasi muda telah mengalami kehancuran mental dan spiritualnya. Jiwa merupakan pondasi utama dalam membangun masyarakat Indonesia seutuhnya.

Berkaitan dengan ancaman penderitaan mental generasi muda, World Health Organization (WHO) merilis jumlah orang yang mendapat gangguan kecemasan dan depresi. Tahun 2019 1 dari 8 orang atau 970 juta orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan mental. Pada tahun 2020 meningkat sebesar 26% dan 28%. 58 juta adalah anak-anak dan remaja (08/06/2022). Kementrian ESDM RI telah mencatat perkembangan nya di Indonesia. Ada peningkatan gangguan emosional pada penduduk usia 15 tahun ke atas, meningkat dari 6% di tahun 2013 menjadi 9,8% di tahun 2018 (23/06/2023). Artikel ini juga menjelaskan akibat hal tersebut menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar 1 trilyun USD setiap tahunnya akibat hilangya produktivitas Sumber Daya Manusia.

Tradisi Pola Hidup Sumeleh di Pesantren Tradisional

Kata sumeleh semakin terasa asing terdengar di telinga kita. Masyarakat Jawa pada masa dulu selalu menggunakan kata tersebut untuk mengajarkan kepada anak-anaknya agar hidup penuh kesederhanaan, meskipun keluarganya mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup mapan. Orang tua selalu menekankan hidup berdikari (berdiri dikaki sendiri) tanpa perlu membanggakan kehebatan orang tuanya. Bahkan terkadang, orang tua nya benar-benar mendidik cara hidup sederhana dengan memberi fasilitas ala kadarnya. Sehingga nyaris saat itu, sering kesulitan untuk membedekan anak dari keluarga berada maupun keluarga miskin. Dari pola pendidikan seperti ini, terbentuk ada jiwa toleransi dan mempunyai etos kerja tinggi untuk menjadi diri sendiri tanpa bayang-bayang kehebatan orang tua.

Praktek sumeleh semakin terasa sekali saat anak-anak memasuki kehidupan di Pesantren. Semua santri besar-kecil mendapat sebutan sama, yaitu “Kang” atau “Mas”. Makna nya, santri senior memanggil “Kang” atau “Mas” ke santri yunior atau lebih muda sebagai bentuk penghormatan status sebagai santri, sedangkan “Kang” atau “Mas” untuk senior sebagai penghormatan untuk memulyakan kepada yang lebih tua.

Selain itu, kata “Kang” atau “Mas” panggilan kepada seluruh santri sebagai bentuk pendidikan kesamaan derajat. Walaupun ada anak dari para pejabat, menteri, konglomerat atau rakyat jelata, semua dipanggil sama dengan sebutan "Kang" “atau “Mas”. Hanya ada beberapa santri yang kadang dipanggil “Gus” disebabkan karena orang tua nya sudah mashur di pondok tersebut sebagai ulama besar. Itupun oleh para Pengurus pesantren tetap dipanggil dengan sebutan “Kang” atau “Mas”.

Pola kesamaan status panggilan telah melahirkan kesadaran mereka bahwa tidak ada yang bisa dihargai pada dirinya kecuali dirinya sendiri yang bisa membangun kemulyaan. Kesadaran ini membuat mereka membangun kualitas baik jasmaniah maupun ruhaniah dengan belajar, mengabdi kepada pesantren, bekerja, melatih berbagai keahlian atau skill, puasa sunnah, tahajud, dhuha dan amalan-amalan lain dalam rangka membersihkan hati agar pada dirinya bersarang ilmu-ilmu laduni atau terbukanya cahaya hati. Pola hidup yang demikian yang kemudian membentuk karakter sebagai seorang santri yang menyandarkan hidup nya hanya berharap kepada Allah SWT atau sumeleh kepada-Nya.

Kata sumeleh berasal dari bahasa Jawa, artinya menyerahkan diri. Makna sumeleh secara umum adalah suatu sikap seseorang yang membebaskan diri dari egoisme dari mengunggulkan diri atas segala apa yang dilakukan sehari-hari berdasarkan pada asa kemanfaatan dan hanya berharap mencari kemuliaan dari sang pencipta. Perilaku ini merupakan suasana hati yang tidak terpengaruh oleh sanjungan atau cacian. Ini merupakan suasana hati yang teang sebagai kesmpurnaan kondisi mental dan emosional seseorang. Suasan sumeleh pada seseorang adalah “ramai ing gawe sepi ing pamrih”, berbuat dan berkarya dalam rangka untuk kepuasaan hati sebagai wujud keakuan diri yang sering menjebak egoisme yang sering muncul akibat dari pertimbangan rasional atas segala yang diusahakan.

Pesantren telah berhasil membentuk sikap dan perilaku sumeleh. Istilah Islam lebih tepatnya disebut dengan ikhlas. Beberapa komponen dari sikap dan perilaku tersebut yang telah diterapkan dipesantren, yaitu: pertama, melakukan pekerjaan berdasarkan dengan cinta. Kaum sufi menyebutnya mahabbah yang mempunyai arti mencintai secara mendalam yang lahir dari dalam hati dan kecintaan tersebut melebihi cinta pada dirinya, jiwa dan raga.

Para ulama menanamkan kesadaran diri arti penting sebuah cinta. Kesulitan yang menempa pada diri santri adalah cermin dari perjuangan para ulama. Mereka siap menerima resiko dan menghadapinya dengan rasa bahagia. Bahkan demi untuk mencapai apa yang diinginkan, mereka akan melakukan berbagai oleh batin dan melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan jalur benar dan tepat.

Contoh kecil mereka santri tradisional pada era 80-an dan 90-an. Di pagi hari, mereka pergi di pinggir sungai menghapalkan Al-Qur’an atau kitab-kitab Tatabahasa Arab seperti Nadzam Alfiyah Ibnu Malik. tidak ada paksaan atau perintah. Mereka mempunyai ide sendiri dan mencari tempat yang bisa menimbulkan suasana menyenangkan, damai, hening dan cepat hapal. Pola belajar dengan dorongan cinta, telah melahirkan para santri mampu menghapalkan kitab suci atau tatabahasa Arab dengan waktu yang relatif cepat.

Kedua, progresivitas dalam melakukan aktivitas. Orang-orang yang masuk pada maqam sumeleh mempunyai energi besar untuk melakukan berbagai kegiatan yang sangat komplek. Mereka tidak mempunyai rasa lelah. Jika melihat jam kegiatan di pesantren, setelah subuh sampai jam 23.30 baru berhenti kegiatan secara formal. Bagi sebagian santri, mereka tidak langsung tidur. Ada yang tidur jam 01.00 dinihari dan bangun jam 03.00 dinihari. Setelah sholat tahajud, biasanya melanjutkan dengan kegiatan belajar mandiri seperti mutholaah kitab-kitab klasik. Ada juga sebagian ngopi bareng di teras Asrama dan tangan nya masih memegang buku pelajaran. Mereka tidak tidur dan menunggu datangnya sholat subuh.

Progresivitas melahirkan kreativitas yang luarbiasa. Di Pesantren tradisional santri mempunyai kesempatan untuk menyalurkan bakat yang ada pada dirinya. Mereka tidak melulu belajar agama. Mereka bisa belajar apa saja dengan leluasa; seni suara, sastra, drama, lukis, perbengkelan, pertanian, perdagangan dan lain-lain. maka jangan heran, jika pesantren melahirkan berbagai penulis dan sastrawan yang handal. Dari Pesantren juga lahir santri-santri jiwa entreprenuer. Sehingga setelah selesai menimba ilmu di Pesantren, mereka sudah siap pakai di masyarakat membimbing keagamaan dan siap bekerja di segala sektor ekonomi, terutama pada bidang pertanian dan bisnis. Mereka siap menghadapi hidup dengan penuh persaingan dengan lapang dada. Bagi mereka, keahlian yang telah didapat di pesantren dan keyakinan akan rezki dari Allah telah membentuk jiwa sumeleh yang progresif.

Ketiga adanya kesadaran total terhadap ketentuan Allah SWT. Pendidikan sumeleh telah melahirkan adanya kesadaran para santri bahwa tugas manusia adalah melakukan suatu perubahan-perubahan dalam berbagai aspek baik berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan maupun jodoh. Kesadaran yang bersifat dinamis, yaitu keyakinan bahwa Allah telah menentukan segala hidup, tetapi pikiran dan tenaga terus berusaha untuk melakukan perubahan. Sedangkan hasil semua dipasrahkan kepada Allah SWT.

Menciptakan Pendidikan Berbasis Sumeleh

Maraknya persoalan kesehatan mental yang menjadi ancaman serius generasi muda telah membuktikan bahwa kecerdasan akal dan keahlian yang mereka punyai belum cukup untuk menjadi diri mereka menjadi generasi siap pakai untuk meneruskan tongkat estafet para pendahulu. Apalagi persaingan yang sangat tinggi dalam dunia kerja tinggi telah memperbesar kasus-kasus di tersebut di atas. Maka perlu ada pendidikan spiritual dalam rangka membangun kesehatan mental agar bisa hidup dengan wajar dan bisa menerima segala perubahan zaman.

Pendidikan berbasis sumeleh yang sebenarnya telah diajarkan oleh para ulama dalam wujud kajian-kajian tasawuf, tauhid dan akhlak mengajarkan tentang pentingnya membangun kesehatan jasmani dan ruhani secara seimbang. Ironisnya, kajian ini semakin dipinggirkan. Bahkan ironisnya, ada sebagian umat Islam yang justru menjauhi dari kajian-kajian tersebut karena dianggap bertentangan dengan ajaran islam (akibat keterbatasan literasi). Akibatnya muncul generasi ahli syariat, yang rajin beribadah, tapi hilang jiwa sosial dan gersang jiwa ruhaniah. Akibat nya lahir kesolehan-kesolehan individual dan tergerus kesolehan sosial dan spiritual. maka, kajian-kajian tersebut perlu dihidupkan lagi dan dikembangkan di pendidikan umum tentu dengan format yang lebih menarik dengan materi yang sederhana dan mudah dicerna oleh para kalangan generasi muda. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Rozzmila Ananda Muhammad daud

Karna kebanyakan generasi muda Masi di tahap berkembang yang dimana perasaan mereka belum menentu dan Ter arah, dalam Islam kalangan generasi muda harus ditekuni dan di bina akhlaknya supaya mereka bisa berdiri sendiri dengan ikatan agama yang erat di dada nya

Avatar

Aria Okta yudansyah abi(1 C )

Agar tidak terjadinya terjangkitnya health mental kita semua dapat mengatasi hal ini dengan cara 1.tidak ada saling ejek mengejek 2.dan jangan smaali terjadi pembulliying 3.dan jangan pernah menghina fisik sesama manusia Terdapat 3 gambaran di atas agar tidak terjadinya health mental yaitu kita harus saling menjaga sesama manusia apabila ia agak kurang maka kita duduk lah dia dengan baik dgn kita mengajak kejalan yang benar contohnya: kita ajak sholat,kita ajak dia mengaji ,kita ajak ke tempat menonton ceramah dll.

Avatar

Intan ziadatus salamah_5404230031_ABI 1A

Karena di sebab kan Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental pada generasi muda adalah : 1. Pola asuh otoriter 2. pola asuh permisif dan pengaruh teman sebaya dapat memicu terjadinya masalahnya kesehatan mental pada remaja. 3. Jauh atau tidak mendekatkan dari kepada Allah 4. Tidak ada Kesadaran total terhadap ketentuan Allah SWT. 5. Cenderung menikuti tren yang tidak baik. Solusinya adalah : Menciptakan Pendidikan Berbasis Sumeleh. Pendidikan berbasis sumeleh yang sebenarnya telah diajarkan oleh para ulama dalam wujud kajian-kajian tasawuf, tauhid dan akhlak mengajarkan tentang pentingnya membangun kesehatan jasmani dan ruhani secara seimbang. Akibatnya muncul generasi ahli syariat, yang rajin beribadah. maka, kajian-kajian tersebut perlu dihidupkan lagi dan dikembangkan di pendidikan umum tentu dengan format yang lebih menarik dengan materi yang sederhana dan mudah dicerna oleh para kalangan generasi muda.

Avatar

RHAUDATUL JANAH ABI 1 C

Cara mengatasi healt mental jika terjadi ke saya 1.mengurangi stress dengan cara healing dalam bentuk jalan jalan, game ataupun melakukan hobby yang saya senangi 2.mengatur pola pertemanan yang sehat dan positif 3.mengaturr pola makan

Avatar

Diana 1C

1.Terapi Psikologis Terapi psikologis merupakan langkah efektif untuk mengatasi masalah kesehatan mental 2. Meditasi Meditasi bisa membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi yang merupakan bagian dari masalah kesehatan mental. 3. Olahraga Olahraga bisa menghasilkan endorfin, yakni senyawa kimia dalam otak yang dapat meningkatkan mood dan mengurangi stres 4. Mengatur Pola Makan Mengonsumsi makanan bergizi, seperti buah, sayuran, ikan, dan biji-bijian akan memberikan nutrisi yang diperlukan untuk fungsi otak yang optimal.

Avatar

Okta Fitria Romadhana

Kata sumeleh berasal dari bahasa Jawa, artinya menyerahkan diri. Makna sumeleh secara umum adalah suatu sikap seseorang yang membebaskan diri dari egoisme dari mengunggulkan diri atas segala apa yang dilakukan sehari-hari berdasarkan pada asa kemanfaatan dan hanya berharap mencari kemuliaan dari sang pencipta. Perilaku ini merupakan suasana hati yang tidak terpengaruh oleh sanjungan atau cacian. Ini merupakan suasana hati yang teang sebagai kesmpurnaan kondisi mental dan emosional seseorang. Suasan sumeleh pada seseorang adalah “ramai ing gawe sepi ing pamrih”, berbuat dan berkarya dalam rangka untuk kepuasaan hati sebagai wujud keakuan diri yang sering menjebak egoisme yang sering muncul akibat dari pertimbangan rasional atas segala yang diusahakan. Pesantren telah berhasil membentuk sikap dan perilaku sumeleh. Istilah Islam lebih tepatnya disebut dengan ikhlas. Beberapa komponen dari sikap dan perilaku tersebut yang telah diterapkan dipesantren, yaitu: pertama, melakukan pekerjaan berdasarkan dengan cinta. Kaum sufi menyebutnya mahabbah yang mempunyai arti mencintai secara mendalam yang lahir dari dalam hati dan kecintaan tersebut melebihi cinta pada dirinya, jiwa dan raga. Para ulama menanamkan kesadaran diri arti penting sebuah cinta. Kesulitan yang menempa pada diri santri adalah cermin dari perjuangan para ulama. Mereka siap menerima resiko dan menghadapinya dengan rasa bahagia. Bahkan demi untuk mencapai apa yang diinginkan, mereka akan melakukan berbagai oleh batin dan melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan jalur benar dan tepat. adanya kesadaran total terhadap ketentuan Allah SWT. Pendidikan sumeleh telah melahirkan adanya kesadaran para santri bahwa tugas manusia adalah melakukan suatu perubahan-perubahan dalam berbagai aspek baik berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan maupun jodoh. Kesadaran yang bersifat dinamis, yaitu keyakinan bahwa Allah telah menentukan segala hidup, tetapi pikiran dan tenaga terus berusaha untuk melakukan perubahan. Sedangkan hasil semua dipasrahkan kepada Allah SWT. Nafs al-Amarah disebutkan dalam surat Yusuf ayat 53: ۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Tuhan Sejatiku Maha Pengampun, Maha Penyayang” Nafs al-Lawwamah, merupakan nafsu yang telah memperoleh pemahaman dengan cahaya hati. Ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangan. Ia mencela perbuatan tercela dan bertaubat memohon ampunan Allah. Hal ini dapat kita lihat dalam surat al-Qiyamah ayat 2, yaitu: وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ “dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” Nafs Muthmainnah, merupakan jiwa yang tenang karena ia mantap dan kuat. Nafsu yang telah diberikan penyunaran nur qalbu sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat mazmumah dan menumbuhkan akhlakul mahmudah. Pembinaan Jiwa dan Pendidikan Akhlak berdasar Alquran dan Hadis. Memahami dan mengamalkan isi Al-qur'an. Pendidikan dan pengajaran sesuai tingkatannya.

Avatar

Indriani Salsa Billa 1c

1. Terapi Psikologis 2. meditasi 3. olahraga 4. mengatur pola makan 5. menghindari kebiasaan buruk 6. memperkuat iman 7. memperkuat dukungan sosial 8. menjaga kesehatan fisik 9. tidur yang cukup 10. mengurangi stres

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878