
Di bawah Pohon Trembesi di pinggir Jalan
Raya, sebut saja nama nya Pak Zaid sangat sibuk melayani Pembeli. Meskipun terlihat
gelap, atas bantuan lampu LED bulat yang ditaruh kayu kecil dia sudah bisa
melayani para pembeli putu yang sudah antri.
Saya mendekat. Sudah ada lima orang yang
sudah antri. Di belakang saya ada tiga orang; satu orang wanita berkulit putih.
Jika dari logatnya suku Batak. Belakangnya dua pasang laki-laki dan perempuan
berjilbab. Depan saya sepasang pemuda etnis Tionghoa. tak lama kemudian, teman
saya yang istri nya kerja di BPKAD provinsi datang dan langsung mengambil Putu
yang telah dibungkus. Setelah itu, orang-orang pun terus berdatangan “ngantri”
untuk beli Putu.
“Asli mana mas?” tanya ku
“Brebes” jawab nya singkat.
“Sudah lama di sini?” tanya ku
“Sejak anak saya masih bayi. Sekarang anak
saya berumur 17 tahun” katanya.
“Berarti sudah 17 tahun pak” kata ku
tertawa.
Dia tersenyum ketika mengingat jawabanya. Kesibukan
melayani pembeli tidak sempat untuk berfikir serius. Kadang asal jawab. Meskipun
demikian, ada juga sedikit keseriuasan ketika bertanya beberapa persoalan
berikut ini:
“Berapa banyak jualan putu tiap hari?”
tanya ku
“Sekitar 5 kg. Alhamdulillah habis terus” jawab
pak zaid
“Berapa bumbung habis?” tanya ku
“Lumayan mas. Yang penting bisa untuk makan
istri dan anak” katanya.
Jika saya buat estimasi, 1 kg bisa menjadi
100 bumbung kecil ( panjang sekitar 4 cm dan berdiameter 2 cm). Jika satu putu
seharga Rp.1000,00, maka satu hari mendapatkan uang sebanyak Rp.500.000,00. Bersih
keuntungan sekitar Rp. 200.000,00/hari. Jika dikalikan satu bulan bersih
keuntungan sekitar Rp. 6000.000,00.
Temannya sama-sama dari brebes, sebut saja
namanya Paijo. Dia jualan somay. Setiap hari habis 1000 pentol. Dulu satu
pentol harganya Rp.1000,00. Jadi setiap hari mampu mengumpulkan duit sebanyak
Rp.1000.000,00. Bersih tiap hari katanya dibuat rata-rata Rp. 500.000,00. Jika dikali
dalam satu bulan berarti pendapatanya sekitar Rp. 15.000.000,00.
Ketika ada waktu senggang saya mencoba
bertanya lebih dalam tentang kerja jualan makanan yang disukai lintas status
sosial dan umur, Jawabnya pun simpel: Alhamdulillah bisa membuat rumah untuk
orang tua di Jawa. Bisa menyekolahkan anak-anak ke jenjang lebih tinggi”.
Saya tidak perlu iri atas kemampuannya
mengumpulkan harta lumayan banyak dalam hitungan bulan. Semua sudah ada jatah
rezki sesuai dengan ukuran masing-masing. Saya iri kepada mereka tentang filsafat
hidup yang penuh kesederhanaan. Bisa jadi jiwa kesederhanaan karena ditempa
oleh keadaan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Orang-orang seperti
pak Zaid dan pak Paijo mungkin merasa sebagai orang-orang pinggiran; tidak
berpendidikan, tidak dari golongan orang-orang keturunan papan atas, tidak juga
orang yang dipandang para pembesar negara. Bahkan dalam riwayat hidup masa
lalunya bagian dari orang-orang yang penuh penderitaan, sehingga harus
berkelana dan mencari penghidupan di negeri orang. Ketika dia merasakan rasa
susah yang mengharu biru di perantauan dan kemudian mulai merasa ada hasilnya,
maka tumbuh rasa "welas-asih” terhadap orang tua dan saudara-saudaranya
yang hidupnya masih dalam kesusahan yang tidak berkesudahan.
Jika benar demikian, saya kira sifat
tersebut sangat mulia dan perlu ditiru. Mereka adalah orang-orang yang tidak
dikenal di muka bumi, tapi dikenal di penduduk langit karena sikap tawadhu dan
kesibukanya membahagiakan orang tua nya dan membantu saudara-saudaranya.
Saya jadi teringat dawuh para ahli sufi. Abdullah
Ar-Razy berkata, “Tawadhu’ adalah tidak membedakan dalam memberikan pelayanan”.
Sufyan Ats-Tsaury berkata, “Ada lima macam manusia termulia di dunia ini. ulama
yang zuhud, seorang faqih yang sufi, seorang kaya yang rendah hati, seorang
fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti sunnah”.
Penulis tentu tidak mengatakan bahwa orang-orang
seperti pak zaid dan pak paijo adalah penganut sufi. Saya memahami pola hidup
yang menerima ketentuan allah dan terus berusaha memperbaiki hidup dengan
segala keterbatasan telah membentuk diri sebagai manusia yang “sumeleh” dan
tidak “neko-neko” dalam bekerja. Baginya hidup bekerja untuk istri, anak dan
membahagiakan orang tua.
Bisa jadi, orang-orang seperti mereka
jumlah sangat banyak di bumi nusantara. Jangan-jangan doa-doa mereka dan cara
kerja mereka ini yang menyebabkan bumi Indonesia senantiasa mendapatkan
keberkahan. Saya menyakini, mereka bagian dari orang-orang yang mendatangkan
keberkahan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879