Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengetuk Pintu Langit Model Penjual Putu



Sabtu , 16 September 2023



Telah dibaca :  304

Di bawah Pohon Trembesi di pinggir Jalan Raya, sebut saja nama nya Pak Zaid sangat sibuk melayani Pembeli. Meskipun terlihat gelap, atas bantuan lampu LED bulat yang ditaruh kayu kecil dia sudah bisa melayani para pembeli putu yang sudah antri.

Saya mendekat. Sudah ada lima orang yang sudah antri. Di belakang saya ada tiga orang; satu orang wanita berkulit putih. Jika dari logatnya suku Batak. Belakangnya dua pasang laki-laki dan perempuan berjilbab. Depan saya sepasang pemuda etnis Tionghoa. tak lama kemudian, teman saya yang istri nya kerja di BPKAD provinsi datang dan langsung mengambil Putu yang telah dibungkus. Setelah itu, orang-orang pun terus berdatangan “ngantri” untuk beli Putu.

“Asli mana mas?” tanya ku

“Brebes” jawab nya singkat.

“Sudah lama di sini?” tanya ku

“Sejak anak saya masih bayi. Sekarang anak saya berumur 17 tahun” katanya.

“Berarti sudah 17 tahun pak” kata ku tertawa.

Dia tersenyum ketika mengingat jawabanya. Kesibukan melayani pembeli tidak sempat untuk berfikir serius. Kadang asal jawab. Meskipun demikian, ada juga sedikit keseriuasan ketika bertanya beberapa persoalan berikut ini:

“Berapa banyak jualan putu tiap hari?” tanya ku

“Sekitar 5 kg. Alhamdulillah habis terus” jawab pak zaid

“Berapa bumbung habis?” tanya ku

“Lumayan mas. Yang penting bisa untuk makan istri dan anak” katanya.

Jika saya buat estimasi, 1 kg bisa menjadi 100 bumbung kecil ( panjang sekitar 4 cm dan berdiameter 2 cm). Jika satu putu seharga Rp.1000,00, maka satu hari mendapatkan uang sebanyak Rp.500.000,00. Bersih keuntungan sekitar Rp. 200.000,00/hari. Jika dikalikan satu bulan bersih keuntungan sekitar Rp. 6000.000,00.

Temannya sama-sama dari brebes, sebut saja namanya Paijo. Dia jualan somay. Setiap hari habis 1000 pentol. Dulu satu pentol harganya Rp.1000,00. Jadi setiap hari mampu mengumpulkan duit sebanyak Rp.1000.000,00. Bersih tiap hari katanya dibuat rata-rata Rp. 500.000,00. Jika dikali dalam satu bulan berarti pendapatanya sekitar Rp. 15.000.000,00.

Ketika ada waktu senggang saya mencoba bertanya lebih dalam tentang kerja jualan makanan yang disukai lintas status sosial dan umur, Jawabnya pun simpel: Alhamdulillah bisa membuat rumah untuk orang tua di Jawa. Bisa menyekolahkan anak-anak ke jenjang lebih tinggi”.

Saya tidak perlu iri atas kemampuannya mengumpulkan harta lumayan banyak dalam hitungan bulan. Semua sudah ada jatah rezki sesuai dengan ukuran masing-masing. Saya iri kepada mereka tentang filsafat hidup yang penuh kesederhanaan. Bisa jadi jiwa kesederhanaan karena ditempa oleh keadaan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Orang-orang seperti pak Zaid dan pak Paijo mungkin merasa sebagai orang-orang pinggiran; tidak berpendidikan, tidak dari golongan orang-orang keturunan papan atas, tidak juga orang yang dipandang para pembesar negara. Bahkan dalam riwayat hidup masa lalunya bagian dari orang-orang yang penuh penderitaan, sehingga harus berkelana dan mencari penghidupan di negeri orang. Ketika dia merasakan rasa susah yang mengharu biru di perantauan dan kemudian mulai merasa ada hasilnya, maka tumbuh rasa "welas-asih” terhadap orang tua dan saudara-saudaranya yang hidupnya masih dalam kesusahan yang tidak berkesudahan.

Jika benar demikian, saya kira sifat tersebut sangat mulia dan perlu ditiru. Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal di muka bumi, tapi dikenal di penduduk langit karena sikap tawadhu dan kesibukanya membahagiakan orang tua nya dan membantu saudara-saudaranya.

Saya jadi teringat dawuh para ahli sufi. Abdullah Ar-Razy berkata, “Tawadhu’ adalah tidak membedakan dalam memberikan pelayanan”. Sufyan Ats-Tsaury berkata, “Ada lima macam manusia termulia di dunia ini. ulama yang zuhud, seorang faqih yang sufi, seorang kaya yang rendah hati, seorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti sunnah”.

Penulis tentu tidak mengatakan bahwa orang-orang seperti pak zaid dan pak paijo adalah penganut sufi. Saya memahami pola hidup yang menerima ketentuan allah dan terus berusaha memperbaiki hidup dengan segala keterbatasan telah membentuk diri sebagai manusia yang “sumeleh” dan tidak “neko-neko” dalam bekerja. Baginya hidup bekerja untuk istri, anak dan membahagiakan orang tua.

Bisa jadi, orang-orang seperti mereka jumlah sangat banyak di bumi nusantara. Jangan-jangan doa-doa mereka dan cara kerja mereka ini yang menyebabkan bumi Indonesia senantiasa mendapatkan keberkahan. Saya menyakini, mereka bagian dari orang-orang yang mendatangkan keberkahan. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879