
Pagi ini mata masih terasa ngantuk. Ingin
sekali tidur. Tapi ada tugas dari tim para calon doktor dan magister untuk
menulis biografi guru-guru ngaji, saya pun (agak sedikit dipaksa, dan memang
harusnya begitu) mengambil Laptop dan menulis. Setelah menyelesaikan tulisan
satu halaman berukuran satu spasi, saya pun mengambil handuk dan segera mandi
model mahasiswa pemalas (maksudku malas mandi; muka dan rambut yang penting
basah), pakai baju dan segera ke kantor. Sekitar jam 06.55 WIB sudah sampai
kantor, cepat berangkat mumpung polisi Satlantas masih sarapan.
Rencana pagi ini sebenarnya sarapan pagi di
warung dekat kampus, namun Dr. Saifunnajar lebih dulu beramal sholeh memberiku
satu bungkus Sate Ayam. Rasa nya segan juga menerimanya, tapi tidak pantas juga
kalau menolak rezeki. Semoga Allah senantiasa melancarkan rezekinya, amin.
Pagi ini saya mendapatkan pelajaran yang
rasanya harus ditulis agar para pembaca bisa mengambil inspirasi dari tulisan
ini. Meskipun persoalan “inspirasi” menjadi persoalan pribadi yang tidak lepas
dari suasana kecocokan batin dari seseorang, sehingga tidak semua tulisan mampu
menginspirasi. Ada yang sesuai dan tidak
sesuai. Semua ini tergantung kepada karakter suasana batin dari para pembaca. Bagi
sebagian orang menilai tulisan sangat menginspirasi, tapi sebagian orang justru
sebaliknya. Setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk mengambil hikmah dari
setiap tulisan.
Ini juga yang terjadi pada tokoh yang saya
tulis dalam cerita ini yaitu Ray Bradbury, seorang penulis best seller pada
bidang novel yang lebih dari 600 tulisan dalam bentuk naskah dan buku telah
diterbitkan. Siapa sangka, sang penulis ini ternyata hanya tamat SLTA (Indonesia
SMA atau Madrasah Aliyah). Permulaan dia menjadi penulis sebenarnya terinspirasi
ingin kuliah agar menjadi orang yang bermanfaat. Namun apa daya, perekonomian
orang tua tidak mendukung cita-cita tersebut. Sehingga ia menghabiskan waktunya
( Jawa-ndekem, sebenarnya kata itu untuk orang yang malas keluar rumah, tapi disini menjadi arti positif hampir sama dengan kata “ngeremi” ayam betina pada
proses penantian telor-telor nya menetas ) di Perpustakaan untuk selalu membaca,
mencatat dan menuangkan ide-idenya dalam bentuk naskah film, buku dan novel. Sehingga
ia mendapatkan penghargaan gelar doktor. Tulisan menjadi jalan kemulyaan bagi
para penulisnya dan memperkuat tenunan peradaban manusia.
Tradisi sebagaimana yang dialami oleh Ray Bradbury
sebenarnya sudah lama dipraktekan dalam dunia Islam. Tapi kenapa obor tradisi
intelektual ini justru berpindah ke barat. Orang-orang yang drop out
dari sekolah bisa menjadi penulis, ada seorang istri ditinggal suaminya karena
persoalan ekonomi bisa menulis buku berjilid-jilid dengan judul Harry Potter. Dari
buku tersebut, sang Perempuan tadi berubah menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.
Saya dan anda pada saat tertentu mungkin
berfikir, “untuk apa sih menulis”, “apa ada yang membaca tulisanku”, “ah
malu, nanti ditertawakan, masa tulisan seorang guru atau dosen sejelek itu”, “ah,
saya tidak paham grammar dan miskin perbendaharaan kata”, “ah untuk apa
menulis, sudah ada tuh ribuan buku setiap bulan terbit, manusia seperti ini-ini
juga, yang brengsek tetap brengsek, baik tetap baik”, “tidak punya waktu, aku
sibuk”, dan masih banyak lagi deretan alasan sebagai pembenar untuk
menutupi segala kelemahan yang ada. Seandainya setiap alasan ditulis dan dijadikan
buku, mungkin bisa menjadi enskilopedi kalimat pemalas berjilid-jilid.
Penulis tentu saja tidak merasa sebagai
seorang penulis hebat, tidak sama sekali. Justru menulis seperti ini karena
keterlambatan ku bisa menulis menjadi pendorong untuk senantiasa belajar dan
terus belajar menulis. Anda sebagai orang yang normal sejak kecil bisa menulis
adalah sebuah anugerah. Tapi saya harus menanggung malu untuk bisa membaca, “ini
ibu budi” di SD, dan “Pelajaran Pancasila” di MTs harus dihapalkan, dan berhenti
membaca Ketika guru meneruskan bacaan selain kalimat tersebut. Ketika tidak
bisa, maka guru menyuruhku berdiri di depan kelas dan ditertawakan oleh teman-teman
satu kelas.
Sebagian orang beranggapan bahwa menjadi
penulis merupakan bakat. Ia benar dan bakat itu adalah bakat yang ada pada diri
manusia. Setiap manusia mempunyai peluang sama untuk bisa menulis sesuai yang ia
inginkan. Lihatlah, mulai dari ujung barat sampai ke ujung timur dan
perhatikanlah betapa hebatnya orang-orang yang sedang marah. Lihatlah mereka,
mulai pagi sampai sore tidak pernah berhenti-henti marah-marah dan selalu saja
ada ide yang keluar untuk melampiaskan marahnya semakin berkwalitas dan mengena
kepada orang yang kena marah. Saya menilai itu bakat alami. Tapi kenapa bakat
alami hanya ditransfer dalam wujud kemarahan semata dan tidak diwujudkan dalam
hal-hal yang lebih bermanfaat?.
Penulis, lihatlah facebook, twitter dan
medsos lainnya. Mereka bisa merangkai kata-kata, kalimat berseri untuk
mengkritik pemerintah, memuji pemerintah, memberi nasehat dan merangkai kalimat
tabu atau jorok, mereka sangat lincah. Tapi kenapa semua ini berhenti ketika kita
bertemu dengan Laptop dan seolah-olah seluruh tubuh terkunci dengan gembok yang
sangat kuat. Kita laksana Patung dihadapan Laptop, laksana seorang pencuri
ditanya oleh polisi, dan laksana seorang suami pendiam di bentak oleh seorang
istri pemarah. Mati kutu.
Saya dan anda mungkin tidak bisa menjadi
penulis sekelas Gus Dur, Cak Nun, Cak Nur, Habiburrahman, Andrea Hirata, dan
Tere Liye. Saya dan anda sebagai seorang pendidik mungkin juga tidak bisa
sehebat tulisan para penulis seperti Arikunto, Ari Kuncoro, Jawahir Thontowi, Mahfud,
MD dan lain-lain. Tuhan telah memberi kita anugerah laksana air dengan beragam
wadah, ada timba besar, sedang, kecil dan ada cangkir. Anggap saja, saya dan
anda bukan level penulis dengan timba besar, tapi hanya cangkir kecil, tidak
menjadi persoalan sama sekali. Sebab subtansi dari kemanfaatan bukan pada
ukuran wadahnya, tapi pada isinya. Siapapun orang yang saat ia haus, maka segelas
air putih di cangkir menjadi sangat berharga sekali. Bahkan orang-orang yang
pergi ke kantin atau kedai, mereka berbincang-bincang sambil merokok hanya
membutuhkan satu cangkir wedang kopi, dan bukan satu timba wedang kopi.
Anggap saja kita hanya ukuran satu gelas
dan kita merasa tulisan kita lucu dan bahkan tertawa saat membaca tulisan kita
sendiri. Bagi saya itu bukan persoalan serius. Sebab Allah menciptakan karakter
manusia beragam dan pada saat tertentu mempunyai kesamaan. Bagi sebagian orang
mengatakan tulisan Nurcholish Madjid atau Cak Nur tidak baik dan terlalu jlimet,
tapi tulisan Cak Nun enak dibaca dan anda sangat menikmati. Dari sini, anda
telah menemukan frekuensi selera dengan penulis tertentu dan tidak ada konektif
dengan penulis lainnya.
Hal sama ketika anda menulis, percayalah
meskipun tulisan anda ditertawakan, tapi di sebelah dunia sana ada orang yang
mempunyai karakter sama dengan anda dan akan siap membaca tulisan anda dengan sangat
baik. Jika toh yang menjadi pembaca tulisan anda tidak sampai jutaan atau
ribuan, atau bahkan ratusan bisa dipastikan ada puluhan yang setia membaca
tulisan anda. Sungguh sangat beruntung saat anda menulis dan merasa tidak
bermanfaat, tapi berkat tulisan anda ada di antara puluhan pembaca setia
mengalami perubahan gaya hidup semakin baik dan taat kepada Allah dan menjadi
jalan sukses hidupnya, maka saat itulah anda juga akan menjadi kaya pahala dan
amal sholeh besok di hadapan Allah swt.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3600
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3047
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900