Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menjadi doktor berbekal “ndekem” di Perpustakaan



Selasa , 23 Juli 2024



Telah dibaca :  1030

Pagi ini mata masih terasa ngantuk. Ingin sekali tidur. Tapi ada tugas dari tim para calon doktor dan magister untuk menulis biografi guru-guru ngaji, saya pun (agak sedikit dipaksa, dan memang harusnya begitu) mengambil Laptop dan menulis. Setelah menyelesaikan tulisan satu halaman berukuran satu spasi, saya pun mengambil handuk dan segera mandi model mahasiswa pemalas (maksudku malas mandi; muka dan rambut yang penting basah), pakai baju dan segera ke kantor. Sekitar jam 06.55 WIB sudah sampai kantor, cepat berangkat mumpung polisi Satlantas masih sarapan.

Rencana pagi ini sebenarnya sarapan pagi di warung dekat kampus, namun Dr. Saifunnajar lebih dulu beramal sholeh memberiku satu bungkus Sate Ayam. Rasa nya segan juga menerimanya, tapi tidak pantas juga kalau menolak rezeki. Semoga Allah senantiasa melancarkan rezekinya, amin.

Pagi ini saya mendapatkan pelajaran yang rasanya harus ditulis agar para pembaca bisa mengambil inspirasi dari tulisan ini. Meskipun persoalan “inspirasi” menjadi persoalan pribadi yang tidak lepas dari suasana kecocokan batin dari seseorang, sehingga tidak semua tulisan mampu  menginspirasi. Ada yang sesuai dan tidak sesuai. Semua ini tergantung kepada karakter suasana batin dari para pembaca. Bagi sebagian orang menilai tulisan sangat menginspirasi, tapi sebagian orang justru sebaliknya. Setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk mengambil hikmah dari setiap tulisan.

Ini juga yang terjadi pada tokoh yang saya tulis dalam cerita ini yaitu Ray Bradbury, seorang penulis best seller pada bidang novel yang lebih dari 600 tulisan dalam bentuk naskah dan buku telah diterbitkan. Siapa sangka, sang penulis ini ternyata hanya tamat SLTA (Indonesia SMA atau Madrasah Aliyah). Permulaan dia menjadi penulis sebenarnya terinspirasi ingin kuliah agar menjadi orang yang bermanfaat. Namun apa daya, perekonomian orang tua tidak mendukung cita-cita tersebut. Sehingga ia menghabiskan waktunya ( Jawa-ndekem, sebenarnya kata itu untuk orang yang malas keluar rumah, tapi disini menjadi arti positif hampir sama dengan kata “ngeremi” ayam betina pada proses penantian telor-telor nya menetas ) di Perpustakaan untuk selalu membaca, mencatat dan menuangkan ide-idenya dalam bentuk naskah film, buku dan novel. Sehingga ia mendapatkan penghargaan gelar doktor. Tulisan menjadi jalan kemulyaan bagi para penulisnya dan memperkuat tenunan peradaban manusia.

Tradisi sebagaimana yang dialami oleh Ray Bradbury sebenarnya sudah lama dipraktekan dalam dunia Islam. Tapi kenapa obor tradisi intelektual ini justru berpindah ke barat. Orang-orang yang drop out dari sekolah bisa menjadi penulis, ada seorang istri ditinggal suaminya karena persoalan ekonomi bisa menulis buku berjilid-jilid dengan judul Harry Potter. Dari buku tersebut, sang Perempuan tadi berubah menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Saya dan anda pada saat tertentu mungkin berfikir, “untuk apa sih menulis”, “apa ada yang membaca tulisanku”, “ah malu, nanti ditertawakan, masa tulisan seorang guru atau dosen sejelek itu”, “ah, saya tidak paham grammar dan miskin perbendaharaan kata”, “ah untuk apa menulis, sudah ada tuh ribuan buku setiap bulan terbit, manusia seperti ini-ini juga, yang brengsek tetap brengsek, baik tetap baik”, “tidak punya waktu, aku sibuk”, dan masih banyak lagi deretan alasan sebagai pembenar untuk menutupi segala kelemahan yang ada. Seandainya setiap alasan ditulis dan dijadikan buku, mungkin bisa menjadi enskilopedi kalimat pemalas berjilid-jilid.

Penulis tentu saja tidak merasa sebagai seorang penulis hebat, tidak sama sekali. Justru menulis seperti ini karena keterlambatan ku bisa menulis menjadi pendorong untuk senantiasa belajar dan terus belajar menulis. Anda sebagai orang yang normal sejak kecil bisa menulis adalah sebuah anugerah. Tapi saya harus menanggung malu untuk bisa membaca, “ini ibu budi” di SD, dan “Pelajaran Pancasila” di MTs harus dihapalkan, dan berhenti membaca Ketika guru meneruskan bacaan selain kalimat tersebut. Ketika tidak bisa, maka guru menyuruhku berdiri di depan kelas dan ditertawakan oleh teman-teman satu kelas.

Sebagian orang beranggapan bahwa menjadi penulis merupakan bakat. Ia benar dan bakat itu adalah bakat yang ada pada diri manusia. Setiap manusia mempunyai peluang sama untuk bisa menulis sesuai yang ia inginkan. Lihatlah, mulai dari ujung barat sampai ke ujung timur dan perhatikanlah betapa hebatnya orang-orang yang sedang marah. Lihatlah mereka, mulai pagi sampai sore tidak pernah berhenti-henti marah-marah dan selalu saja ada ide yang keluar untuk melampiaskan marahnya semakin berkwalitas dan mengena kepada orang yang kena marah. Saya menilai itu bakat alami. Tapi kenapa bakat alami hanya ditransfer dalam wujud kemarahan semata dan tidak diwujudkan dalam hal-hal yang lebih bermanfaat?.

Penulis, lihatlah facebook, twitter dan medsos lainnya. Mereka bisa merangkai kata-kata, kalimat berseri untuk mengkritik pemerintah, memuji pemerintah, memberi nasehat dan merangkai kalimat tabu atau jorok, mereka sangat lincah. Tapi kenapa semua ini berhenti ketika kita bertemu dengan Laptop dan seolah-olah seluruh tubuh terkunci dengan gembok yang sangat kuat. Kita laksana Patung dihadapan Laptop, laksana seorang pencuri ditanya oleh polisi, dan laksana seorang suami pendiam di bentak oleh seorang istri pemarah. Mati kutu.

Saya dan anda mungkin tidak bisa menjadi penulis sekelas Gus Dur, Cak Nun, Cak Nur, Habiburrahman, Andrea Hirata, dan Tere Liye. Saya dan anda sebagai seorang pendidik mungkin juga tidak bisa sehebat tulisan para penulis seperti Arikunto, Ari Kuncoro, Jawahir Thontowi, Mahfud, MD dan lain-lain. Tuhan telah memberi kita anugerah laksana air dengan beragam wadah, ada timba besar, sedang, kecil dan ada cangkir. Anggap saja, saya dan anda bukan level penulis dengan timba besar, tapi hanya cangkir kecil, tidak menjadi persoalan sama sekali. Sebab subtansi dari kemanfaatan bukan pada ukuran wadahnya, tapi pada isinya. Siapapun orang yang saat ia haus, maka segelas air putih di cangkir menjadi sangat berharga sekali. Bahkan orang-orang yang pergi ke kantin atau kedai, mereka berbincang-bincang sambil merokok hanya membutuhkan satu cangkir wedang kopi, dan  bukan  satu timba wedang kopi.

Anggap saja kita hanya ukuran satu gelas dan kita merasa tulisan kita lucu dan bahkan tertawa saat membaca tulisan kita sendiri. Bagi saya itu bukan persoalan serius. Sebab Allah menciptakan karakter manusia beragam dan pada saat tertentu mempunyai kesamaan. Bagi sebagian orang mengatakan tulisan Nurcholish Madjid atau Cak Nur tidak baik dan terlalu jlimet, tapi tulisan Cak Nun enak dibaca dan anda sangat menikmati. Dari sini, anda telah menemukan frekuensi selera dengan penulis tertentu dan tidak ada konektif dengan penulis lainnya.

Hal sama ketika anda menulis, percayalah meskipun tulisan anda ditertawakan, tapi di sebelah dunia sana ada orang yang mempunyai karakter sama dengan anda dan akan siap membaca tulisan anda dengan sangat baik. Jika toh yang menjadi pembaca tulisan anda tidak sampai jutaan atau ribuan, atau bahkan ratusan bisa dipastikan ada puluhan yang setia membaca tulisan anda. Sungguh sangat beruntung saat anda menulis dan merasa tidak bermanfaat, tapi berkat tulisan anda ada di antara puluhan pembaca setia mengalami perubahan gaya hidup semakin baik dan taat kepada Allah dan menjadi jalan sukses hidupnya, maka saat itulah anda juga akan menjadi kaya pahala dan amal sholeh besok di hadapan Allah swt. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900