Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menjadi Hidup Lebih Bermakna



Senin , 30 Desember 2024



Telah dibaca :  555

Pagi ini hamparan bumi di kampung ku basah. Tuhan telah memberikan anugerah berupa berupa gerimis tapi agak lebat. Hujan tanggung. Sebentar. Meskipun demikian, sangat memberi manfaat sangat besar. Hari-hari yang lalu terasa sangat panas. Dengan kasih sayang-Nya, semua bahagia. Saat hilang kasih sayang-Nya, manusia akan menderita selama-lama nya.

Menghitung hari atau lebih tepatnya menghitung jam. Sebentar lagi tahun baru 2025 datang. Jika kita masih diberi kenikmatan umur, berarti masih bisa melihat kenikmatan umur pada tahun baru. Jika kedahuluan kiamat kecil, berarti sudah tidak lagi menyaksiskan tahun baru. Sungguh waktu sangat berharga. Ia terus berjalan mengantarkan kita kearah kematian. Namun Islam mengajarkan agar kita tetap hidup secara subtansional. Mati secara dhohiri, tapi hidup secara maknawi, yaitu hidup ajaran-ajaran kehidupan dan nilai-nilai kebaikan sebagai pencerah peradaban masa datang.

Penulis tidak akan terlalu keras melarang orang untuk melakukan apa saja yang ia mau. Sebab semua nya pasti ada pertimbangan akal-pikiran. Ada kebahagiaan dan ada kesenangan yang dikejar. Penulis menyakini bahwa manusia yang sudah baligh berarti telah bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Mungkin secara dhohir kurang tepat dilihat secara syariat, tapi bisa jadi ia hanya sebatas baju penutup agar segala amal kebaikan tidak terlihat oleh manusia pada umumnya.

Tentu saja penulis ingin mengajak kepada siapapun yang mau diajak untuk “sama-sama” berfikir tentang “kepantasan” kita menyambut nikmat yang diberikan oleh Allah berupa tahun baru. Mari sedikit meluangkan pikiran dan hati untuk “berfikir sesaat” manfaat dan madzarat nya.

Guru kami yang mulia Syeikh KH Muhammad Cholil Bisri (Bisri, 2008) Pengasuh Pesantren Raudratutholibin pernah memberi mau’idzatul hasanah sebagai berikut: “Fitnah atau azab ditimpakan Allah kepada orang-orang dzalim dari ahlil-qaryah. Tetapi, sifat rahman Allah Yang Rahman itu menjanjikan kepada makhluk manusia yang mau istighfar untuk berkenan menghentikan fitnah atau azab tersebut”.

Hari ini tingkah laku manusia beragam. Jika berbicara tentang kedzaliman, sebenarnya kita telah melakukan kedzaliman kolektif. Kita mungkin tidak menyadarinya. Apalagi orang-orang yang egois yang telah memposisikan diri sempurna dan melihat orang lain adalah sumber masalah. Pada wilayah ini kita sebenarnya kumpulan dari manusia dzalim. Tuhan telah menjelaskan dalam Q.S. Al-A'raf ([7]:23) sebagai berikut: “Wahai Pemelihara kami (Ya Tuhan Kami), sesungguhnya kami telah berbuat dhalim terhadap diri-diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang rugi”.

Andai saja setiap orang memanjatkan doa tersebut, mungkin sebagian dari persoalan nasional telah selesai. Seorang pemimpin mengakui kedzaliman, maka bertaubat dan akan memperlakukan rakyatnya seperti anak nya sendiri. Hakim melakukan kedzaliman segera taubat memutuskan nya dengan cara adil tanpa pandang bulu. Seorang ustadz mengakui kedzaliman, segera taubat. Jangan-jangan orientasi ceramah nya sebatas “tenggorokan” dan tidak sampai pada perubahan qalbun salim. Pimpinan ormas melakukan kedzaminan segera taubatan nasuha dan semakin mampu “memanusiakan manusia” pada tempatnya. Seorang suami yang berbuat dzalim segera bertaubat memperbaiki akhlak dan perilakunya. Seorang istri berbuat dzalim segera bertaubat dan meminta maaf kepada suami dan anak-anak nya. Walhasil, jika ada “Gerakan Nasional Pengakuan Berbuat Dzalim Masal”, Indonesia semakin baik-baik saja.

Kadang secara pribadi apa yang dikatakan oleh Cak Nun (Nadjib, 2007) menampar ku sangat keras. Ia mengatakan begini:

“Pemimpin belum tentu pemimpin, ia bisa seorang pemberang yang culas. Tokoh belum tentu tokoh, bisa juga ia seorang eksploitator yang penuh nafsu. Panutan belum tentu panutan, ia bisa juga menjadi seorang penunggang dan kita kudanya. Cendekiawan belum tentu cendekiawan, bisa juga ia manipulator logika dan kebenaran ilmu. Ulama belum tentu ulama, bisa juga ia tidak berbeda dengan blantik atau preman. Orang hidup mati sangat berhati-hati, penuh kewaspadaan pikiran dan kerendahan hati, supaya tidak terlalu sengsara dan luka parah”.

Bukankah itu dzalim kolektif? Bukan kah yang kita butuhkan saat sekarang ini taubatan nasuha secara kolektif? Sudah bukan saat nya lagi kita merasa superior yang lain inferior. Sudah tidak lagi merasa “inilah aku”, tapi sudah saat nya “inilah kami” sebagaimana sumpah pemuda; “kami berbangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia”.

Kita boleh berkata aku saat ada kesadaran tinggi tentang siapa diriku dan akan kemana aku ini. Jika belum ada kesadaran tinggi sangat membayakan diri. Ia akan terjebak pada perilaku Iblis.

Sebab kehidupan di dunia ini sebenarnya berpusat pada aku. Tak mungkin diluar aku. Kehidupan semesata dengan segala isi dan fenomenanya tercetak menurut pola yang ada pada-ku. Sebab si-aku menyadari sesadar-sadarnya telah menerima anugerah Tuhan berupa cipta-rasa-karsa. Karena aku ketempatan cipta-rasa-karsa atas kehendak Tuhan, maka aku terpanggil untuk interopeksi diri (Surabaya, 2007). Jadi kami hakikatnya adalah aku sebab ketika kita sedang berbicara aku, maka ada aku-aku yang lain dalam kondisi sama dalam berbicara, bersikap dan berbuat apapun yang ia mau. Bebas. Tapi pada kondisi tertentu aku juga harus bersama-sama agar bisa menjadi kami untuk kebaikan Bersama. Sebab kebaikan yang mendatangkan rahmat Allah adalah kebaikan kolektif. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-A’raf ([7]:96) sebagai berikut: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.

Mari kita sama-sama bermunajat kepada Allah. Kita memohon keberkahan hidup, rezeki, umur, keluarga dan segala aktifitas kita bahkan penderitaan serta perjuangan kita menjadi bagian dari aktivitas yang mendapatkan ridha Allah swt. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872