
Pagi ini hamparan bumi di kampung ku basah. Tuhan telah memberikan
anugerah berupa berupa gerimis tapi agak lebat. Hujan tanggung. Sebentar. Meskipun
demikian, sangat memberi manfaat sangat besar. Hari-hari yang lalu terasa
sangat panas. Dengan kasih sayang-Nya, semua bahagia. Saat hilang kasih sayang-Nya,
manusia akan menderita selama-lama nya.
Menghitung hari atau lebih tepatnya menghitung jam. Sebentar lagi
tahun baru 2025 datang. Jika kita masih diberi kenikmatan umur, berarti masih
bisa melihat kenikmatan umur pada tahun baru. Jika kedahuluan kiamat kecil,
berarti sudah tidak lagi menyaksiskan tahun baru. Sungguh waktu sangat
berharga. Ia terus berjalan mengantarkan kita kearah kematian. Namun Islam
mengajarkan agar kita tetap hidup secara subtansional. Mati secara dhohiri,
tapi hidup secara maknawi, yaitu hidup ajaran-ajaran kehidupan dan nilai-nilai
kebaikan sebagai pencerah peradaban masa datang.
Penulis tidak akan terlalu keras melarang orang untuk melakukan apa
saja yang ia mau. Sebab semua nya pasti ada pertimbangan akal-pikiran. Ada kebahagiaan
dan ada kesenangan yang dikejar. Penulis menyakini bahwa manusia yang sudah
baligh berarti telah bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Mungkin secara
dhohir kurang tepat dilihat secara syariat, tapi bisa jadi ia hanya sebatas
baju penutup agar segala amal kebaikan tidak terlihat oleh manusia pada
umumnya.
Tentu saja penulis ingin mengajak kepada siapapun yang mau diajak
untuk “sama-sama” berfikir tentang “kepantasan” kita menyambut nikmat yang
diberikan oleh Allah berupa tahun baru. Mari sedikit meluangkan pikiran dan
hati untuk “berfikir sesaat” manfaat dan madzarat nya.
Guru kami yang mulia Syeikh KH Muhammad Cholil Bisri
Hari ini tingkah laku manusia beragam. Jika berbicara tentang kedzaliman,
sebenarnya kita telah melakukan kedzaliman kolektif. Kita mungkin tidak
menyadarinya. Apalagi orang-orang yang egois yang telah memposisikan diri
sempurna dan melihat orang lain adalah sumber masalah. Pada wilayah ini kita
sebenarnya kumpulan dari manusia dzalim. Tuhan telah menjelaskan dalam Q.S.
Al-A'raf ([7]:23) sebagai berikut: “Wahai Pemelihara kami (Ya Tuhan Kami),
sesungguhnya kami telah berbuat dhalim terhadap diri-diri kami. Jika Engkau
tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang
yang rugi”.
Andai saja setiap orang memanjatkan doa tersebut, mungkin sebagian dari
persoalan nasional telah selesai. Seorang pemimpin mengakui kedzaliman, maka
bertaubat dan akan memperlakukan rakyatnya seperti anak nya sendiri. Hakim melakukan
kedzaliman segera taubat memutuskan nya dengan cara adil tanpa pandang bulu. Seorang
ustadz mengakui kedzaliman, segera taubat. Jangan-jangan orientasi ceramah nya
sebatas “tenggorokan” dan tidak sampai pada perubahan qalbun salim. Pimpinan
ormas melakukan kedzaminan segera taubatan nasuha dan semakin mampu “memanusiakan
manusia” pada tempatnya. Seorang suami yang berbuat dzalim segera bertaubat
memperbaiki akhlak dan perilakunya. Seorang istri berbuat dzalim segera
bertaubat dan meminta maaf kepada suami dan anak-anak nya. Walhasil, jika ada “Gerakan
Nasional Pengakuan Berbuat Dzalim Masal”, Indonesia semakin baik-baik saja.
Kadang secara pribadi apa yang dikatakan oleh Cak Nun
“Pemimpin belum tentu pemimpin, ia bisa seorang pemberang yang
culas. Tokoh belum tentu tokoh, bisa juga ia seorang eksploitator yang penuh
nafsu. Panutan belum tentu panutan, ia bisa juga menjadi seorang penunggang dan
kita kudanya. Cendekiawan belum tentu cendekiawan, bisa juga ia manipulator
logika dan kebenaran ilmu. Ulama belum tentu ulama, bisa juga ia tidak berbeda
dengan blantik atau preman. Orang hidup mati sangat berhati-hati, penuh
kewaspadaan pikiran dan kerendahan hati, supaya tidak terlalu sengsara dan luka
parah”.
Bukankah itu dzalim kolektif? Bukan kah yang kita butuhkan saat
sekarang ini taubatan nasuha secara kolektif? Sudah bukan saat nya lagi
kita merasa superior yang lain inferior. Sudah tidak lagi merasa “inilah
aku”, tapi sudah saat nya “inilah kami” sebagaimana sumpah pemuda; “kami
berbangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia”.
Kita boleh berkata aku saat ada kesadaran tinggi tentang siapa
diriku dan akan kemana aku ini. Jika belum ada kesadaran tinggi sangat
membayakan diri. Ia akan terjebak pada perilaku Iblis.
Sebab kehidupan di dunia ini sebenarnya berpusat pada aku. Tak mungkin
diluar aku. Kehidupan semesata dengan segala isi dan fenomenanya tercetak
menurut pola yang ada pada-ku. Sebab si-aku menyadari sesadar-sadarnya telah
menerima anugerah Tuhan berupa cipta-rasa-karsa. Karena aku ketempatan
cipta-rasa-karsa atas kehendak Tuhan, maka aku terpanggil untuk interopeksi
diri
Mari kita sama-sama bermunajat kepada Allah. Kita memohon
keberkahan hidup, rezeki, umur, keluarga dan segala aktifitas kita bahkan
penderitaan serta perjuangan kita menjadi bagian dari aktivitas yang
mendapatkan ridha Allah swt. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872