Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menuju Tangga Kedewasaan



Minggu , 16 Februari 2025



Telah dibaca :  682

Para pengamat menilai kebijakan penghematan anggaran pola pemerintah Prabowo-Gibran terbelah. Termasuk masyarakat. Ada yang pro dan kontra. Saya menikmati saja kolom komentar kedua belah pihak. Biarkan saja. Semua mempunyai pandangan yang sama-sama baik. Justru perbedaan pandangan tersebut cermin dari tanda-tanda kedewasaan berbangsa dan bernegara. Yang perlu dihindari oleh pemerintah yaitu membungkam para kritikus. Sedangkan bagi para pengkritik perlu hindari perbuatan anarkis, menebar kebencian kepada sesama anak bangsa.

Namanya juga keluarga besar. Jika anak satu masalah nya minimal satu. Jika anak sepuluh, minimal masalah juga sepuluh. Semakin besar luas keluarganya, semakin besar persoalan dan potensi-potensi negatif dan positif.ada sebagian “menggerutu” sepanjang hayat terhadap persoalan yang ia alami. Sebagian lagi ada yang “tas-tes”, “cancut taliwondo” mengurai masalah dengan trengginas.

Hari ini banyak orang mengeluh. Ada orang tua, anaknya belum lama lulus kuliah dan juga belum lama menjadi honorer di perkantoran sudah beberapa bulan belum mendapatkan gaji. Ia dari ratusan honorer lainnya juga terkena imbasnya.

Di sisi lain banyak juga yang bersyukur. Para petani mulai bisa tersenyum. harga beras naik. Pendapatan petani juga naik. Tapi saat petani jalan-jalan ke kota dan refresing, mengeluh juga. sebab harga nasi bungkus pun ikut naik. Yang tidak naik harga batagor, masih seribu. Bentuk nya saja mulai ramping. Penjual batagor juga sudah sangat mafhum arti dari efisiensi anggaran. Apalagi penjual seperti batagor tadi sudah sangat paham prinsip ekonomi: “modal kecil, dapat banyak”. Ujung-ujungnya semua manusia selalu mengeluh, meskipun status sosial semakin baik dan kebutuhan hidup semakin sejahtera. Perasaan yang selalu muncul pada dirinya yaitu selalu merasa berkurang. Q.S. Al-Ma’arij ([70]: 30) sebagai berikut: “Sungguh manusia diciptakan bersifat mengeluh”.

Persoalan kemakmuran dan kemiskinan, kenikmatan dan penderitaan sejak dulu sudah ada. ingat kisah Qarun, saat ia menjadi santri nabi musa. Ia pemuda fuqara masakiin, tapi jenius. Konon pada masa itu, hanya tiga orang yang mampu hapal dan memahami isi taurat: Musa, Harun dan Qarun. Sayangnya, dari ketiga orang tersebut hanya Qarun yang senantiasa merasa hidupnya menderita secara ekonomi. Ia merasa kondisi ekonomi yang morat-marit menyebabkan tidak konsentrasi dalam menyebarkan ilmu dan berdakwah di masyarakat. Ia membuat proposal doa kepada Musa agar mendoakan dirinya menjadi orang yang hidup serba kecukupan: punya rumah, jabatan, harta kekayaan melimpah dan kendaraan yang mewah. Menurutnya, cara tersebut agar dakwah lebih mudah, efektif dan lebih cepat berhasil.

Kenyataannya tidaklah demikian. Saat Qarun menjadi konglomerat, dakwah mati. Ia sudah tidak lagi pergi ke majlis ilmu. Ia sibuk menghitung kunci-kunci gudang kekayaan setiap hari. Ia terus mengumpulkan harta. Sudah banyak. Tapi masih merasa masih sedikit dan terus kurang.

Kisah qarun tidak sendirian. Orang-orang yang sudah mapan hidupnya terkadang semakin menutup diri. Nikmat nya kehidupan telah membentuk dirinya menjadi manja dan selalu ingin hidup seribu tahun. Kepedulian kepada orang lain semakin lemah. Kepedulian kepada orang lain semakin hampa. Ada transasksional. Kepedulian yang berdampak positif kepada dirinya, baik kedudukan maupun juga kekayaan. Itu pola kehidupan modern yang telah dilakukan penelitian oleh Ibnu Khaldun dalam Kitab Al-Muqadimah.

Tulisan ini tentu tidak akan menguraikan rekaman kehidupan sosial dalam buku tersebut di atas. namun kisah Qarun adalah kebenaran tesis Ibnu Khaldun. Bahwa manusia saat hidup semakin makmur, semakin memanjakan diri dan melupakan kehidupan sosial. Itu sebabnya, suatu negara yang sudah makmur dan mulai melupakan hakikat asal-usulnya, maka negara dan bangsa tersebut akan hancur.

Kehidupan yang mengalami kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa dalam islam pernah terjadi pada masa nabi Muhammad saw. Saat sebelum menjadi nabi, para sahabat nabi yang konglomerat hidup dengan ugal-ugalan. Hidup berfoya-foya. Harta kekayaan menjadi semakin tidak berharga. Tapi disisi lain ia tidak mempunyai empati terhadap rakyat jelata. Mereka melihatnya bukan penuh kasihan dan membantu rakyat kecil, tapi memandang dengan pandangan sinis dan dianggap sebagai kelompok yang mempunyai kasta yang berbeda. Itu sebabnya, mereka tetap diciptakan oleh sistem sosial agar tetap menjadi kelompok kelas bawah. Dengan cara ini, kaum bangsawan bisa menuruti hawa nafsunya tanpa batas.

Ketika Muhammad  menjadi Nabi dan Rasul, sistem kehidupan di rombak. Kekayaan yang sebelumnya dijadikan kasta tertinggi dari derajat manusia, dirubah kecintaan kepada Allah (takwa) sebagai kasta tertinggi dalam kehidupan sosial. Tidak peduli siapapun orangnya, ketika sudah tertanam pada dirinnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka menjadi manusia yang paling mulia. Itu sebabnya, para konglomerat dan hartawan pada masa itu ramai-ramai membantu orang-orang yang membutuhkan dan hidup saling tolong-menolong dan lebih hebatnya lagi sudah tidak ada lagi stratifikasi sosial di tengah-tengah masyarakat. Semua bisa berkumpul dan berdialog dengan sangat hangat dan berkualitas. Mereka menjadi bangsa yang sangat dewasa, yaitu bangsa yang melihat manusia pada kualitas nya bukan pada asesorisnya.

Masyarakat Indonesia saat sekarang ini menurutku sedang belajar untuk semakin bisa memahami makna sebuah kedewasaan. Jika dalam literatur fiqh kedewasaan ditandai dengan perkembangan dan perubahan biologis pada laki-laki dan perempuan, maka dalam pandangan teologis menurutku kedewasaan semakin bijak menggunakan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh Allah pada diri sendiri berupa akal-pikiran, tenaga, kesehatan, kesempatan dan juga kehidupan.

Para pemimpin diharapkan bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk memperbaiki sistem kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hanya semakin baik ekonominya, semakin baik kerukunan sesama manusia, kecerdasannya dalam ilmu pengetahuan, juga harus semakin baik dan berkualitas dalam kehidupan dalam pandangan Allah SWT. Sebab pembangunan yang mengabaikan sisi spiritual, maka hanya menciptakan robot-robot yang haus akan kebutuhan materi saja.

Kita sebagai masyarakat biasa dalam kondisi seperti ini juga untuk semakin belajar ikhtiar dan sumeleh model burung-burung yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Ia begitu bahagia pergi di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut penuh dengan makanan serta malam hari ia senantias beribadah kepada Allah SWT. Angan-angan kemulyaan dunia perlu diperkecil. Fasilitas diri perlu digunakan semaksimal mungkin untuk terus ikhtiar, berusaha, berdoa dan terus memperbaiki kualitas diri. Kita perlu menutup pintu “nggersula”, “menggerutu” terhadap kondisi hidup saat sekarang ini. Sebab sikap dan pola hidup yang demikian hanya memperlemah pikiran, energi dan etos kerja manusia. Belajar, bekerja dan berkarya karena Allah jalan terbaik untuk membentuk pribadi yang tangguh dalam kondisi apapun.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872