
Para pengamat menilai kebijakan penghematan
anggaran pola pemerintah Prabowo-Gibran terbelah. Termasuk masyarakat. Ada yang
pro dan kontra. Saya menikmati saja kolom komentar kedua belah pihak. Biarkan saja.
Semua mempunyai pandangan yang sama-sama baik. Justru perbedaan pandangan
tersebut cermin dari tanda-tanda kedewasaan berbangsa dan bernegara. Yang perlu
dihindari oleh pemerintah yaitu membungkam para kritikus. Sedangkan bagi para
pengkritik perlu hindari perbuatan anarkis, menebar kebencian kepada sesama anak
bangsa.
Namanya juga keluarga besar. Jika anak satu
masalah nya minimal satu. Jika anak sepuluh, minimal masalah juga sepuluh. Semakin
besar luas keluarganya, semakin besar persoalan dan potensi-potensi negatif dan
positif.ada sebagian “menggerutu” sepanjang hayat terhadap persoalan
yang ia alami. Sebagian lagi ada yang “tas-tes”, “cancut taliwondo”
mengurai masalah dengan trengginas.
Hari ini banyak orang mengeluh. Ada orang
tua, anaknya belum lama lulus kuliah dan juga belum lama menjadi honorer di
perkantoran sudah beberapa bulan belum mendapatkan gaji. Ia dari ratusan
honorer lainnya juga terkena imbasnya.
Di sisi lain banyak juga yang bersyukur. Para
petani mulai bisa tersenyum. harga beras naik. Pendapatan petani juga naik. Tapi
saat petani jalan-jalan ke kota dan refresing, mengeluh juga. sebab harga
nasi bungkus pun ikut naik. Yang tidak naik harga batagor, masih seribu. Bentuk
nya saja mulai ramping. Penjual batagor juga sudah sangat mafhum arti dari
efisiensi anggaran. Apalagi penjual seperti batagor tadi sudah sangat paham
prinsip ekonomi: “modal kecil, dapat banyak”. Ujung-ujungnya semua
manusia selalu mengeluh, meskipun status sosial semakin baik dan kebutuhan
hidup semakin sejahtera. Perasaan yang selalu muncul pada dirinya yaitu selalu
merasa berkurang. Q.S. Al-Ma’arij ([70]: 30) sebagai berikut: “Sungguh manusia
diciptakan bersifat mengeluh”.
Persoalan kemakmuran dan kemiskinan,
kenikmatan dan penderitaan sejak dulu sudah ada. ingat kisah Qarun, saat ia
menjadi santri nabi musa. Ia pemuda fuqara masakiin, tapi jenius. Konon pada
masa itu, hanya tiga orang yang mampu hapal dan memahami isi taurat: Musa,
Harun dan Qarun. Sayangnya, dari ketiga orang tersebut hanya Qarun yang senantiasa
merasa hidupnya menderita secara ekonomi. Ia merasa kondisi ekonomi yang
morat-marit menyebabkan tidak konsentrasi dalam menyebarkan ilmu dan berdakwah
di masyarakat. Ia membuat proposal doa kepada Musa agar mendoakan dirinya
menjadi orang yang hidup serba kecukupan: punya rumah, jabatan, harta kekayaan
melimpah dan kendaraan yang mewah. Menurutnya, cara tersebut agar dakwah lebih
mudah, efektif dan lebih cepat berhasil.
Kenyataannya tidaklah demikian. Saat Qarun
menjadi konglomerat, dakwah mati. Ia sudah tidak lagi pergi ke majlis ilmu. Ia sibuk
menghitung kunci-kunci gudang kekayaan setiap hari. Ia terus mengumpulkan harta.
Sudah banyak. Tapi masih merasa masih sedikit dan terus kurang.
Kisah qarun tidak sendirian. Orang-orang
yang sudah mapan hidupnya terkadang semakin menutup diri. Nikmat nya kehidupan
telah membentuk dirinya menjadi manja dan selalu ingin hidup seribu tahun. Kepedulian
kepada orang lain semakin lemah. Kepedulian kepada orang lain semakin hampa. Ada
transasksional. Kepedulian yang berdampak positif kepada dirinya, baik
kedudukan maupun juga kekayaan. Itu pola kehidupan modern yang telah dilakukan
penelitian oleh Ibnu Khaldun dalam Kitab Al-Muqadimah.
Tulisan ini tentu tidak akan menguraikan rekaman
kehidupan sosial dalam buku tersebut di atas. namun kisah Qarun adalah
kebenaran tesis Ibnu Khaldun. Bahwa manusia saat hidup semakin makmur, semakin
memanjakan diri dan melupakan kehidupan sosial. Itu sebabnya, suatu negara yang
sudah makmur dan mulai melupakan hakikat asal-usulnya, maka negara dan bangsa
tersebut akan hancur.
Kehidupan yang mengalami kemakmuran dan
kejayaan suatu bangsa dalam islam pernah terjadi pada masa nabi Muhammad saw. Saat
sebelum menjadi nabi, para sahabat nabi yang konglomerat hidup dengan
ugal-ugalan. Hidup berfoya-foya. Harta kekayaan menjadi semakin tidak berharga.
Tapi disisi lain ia tidak mempunyai empati terhadap rakyat jelata. Mereka melihatnya
bukan penuh kasihan dan membantu rakyat kecil, tapi memandang dengan pandangan
sinis dan dianggap sebagai kelompok yang mempunyai kasta yang berbeda. Itu sebabnya,
mereka tetap diciptakan oleh sistem sosial agar tetap menjadi kelompok kelas
bawah. Dengan cara ini, kaum bangsawan bisa menuruti hawa nafsunya tanpa batas.
Ketika Muhammad menjadi Nabi dan Rasul, sistem kehidupan di
rombak. Kekayaan yang sebelumnya dijadikan kasta tertinggi dari derajat
manusia, dirubah kecintaan kepada Allah (takwa) sebagai kasta tertinggi dalam
kehidupan sosial. Tidak peduli siapapun orangnya, ketika sudah tertanam pada
dirinnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka menjadi manusia yang paling
mulia. Itu sebabnya, para konglomerat dan hartawan pada masa itu ramai-ramai
membantu orang-orang yang membutuhkan dan hidup saling tolong-menolong dan
lebih hebatnya lagi sudah tidak ada lagi stratifikasi sosial di tengah-tengah
masyarakat. Semua bisa berkumpul dan berdialog dengan sangat hangat dan
berkualitas. Mereka menjadi bangsa yang sangat dewasa, yaitu bangsa yang
melihat manusia pada kualitas nya bukan pada asesorisnya.
Masyarakat Indonesia saat sekarang ini
menurutku sedang belajar untuk semakin bisa memahami makna sebuah kedewasaan. Jika
dalam literatur fiqh kedewasaan ditandai dengan perkembangan dan perubahan
biologis pada laki-laki dan perempuan, maka dalam pandangan teologis menurutku
kedewasaan semakin bijak menggunakan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh Allah
pada diri sendiri berupa akal-pikiran, tenaga, kesehatan, kesempatan dan juga
kehidupan.
Para pemimpin diharapkan bisa menggunakan
fasilitas tersebut untuk memperbaiki sistem kehidupan berbangsa dan bernegara
bukan hanya semakin baik ekonominya, semakin baik kerukunan sesama manusia,
kecerdasannya dalam ilmu pengetahuan, juga harus semakin baik dan berkualitas
dalam kehidupan dalam pandangan Allah SWT. Sebab pembangunan yang mengabaikan
sisi spiritual, maka hanya menciptakan robot-robot yang haus akan kebutuhan
materi saja.
Kita sebagai masyarakat biasa dalam kondisi
seperti ini juga untuk semakin belajar ikhtiar dan sumeleh model
burung-burung yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Ia begitu bahagia pergi di pagi
hari dan pulang di sore hari dengan perut penuh dengan makanan serta malam hari
ia senantias beribadah kepada Allah SWT. Angan-angan kemulyaan dunia perlu
diperkecil. Fasilitas diri perlu digunakan semaksimal mungkin untuk terus
ikhtiar, berusaha, berdoa dan terus memperbaiki kualitas diri. Kita perlu
menutup pintu “nggersula”, “menggerutu” terhadap kondisi hidup saat
sekarang ini. Sebab sikap dan pola hidup yang demikian hanya memperlemah
pikiran, energi dan etos kerja manusia. Belajar, bekerja dan berkarya karena Allah
jalan terbaik untuk membentuk pribadi yang tangguh dalam kondisi apapun.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872