Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyambut Bulan Ramadhan; Praktek dan Filosofis



Minggu , 12 Maret 2023



Telah dibaca :  464

Beberapa hari lagi, umat Islam akan melaksanakan ibadah yang sangat agung, yaitu puasa wajib di bulan Ramadhan. Sebagian umat Islam ada menyabutnya dengan suka cita, ada juga yang kurang bahagia. Sikap kurang bahagia mungkin karena bayangan puasa tahun lalu masih membekas hingga saat ini; persoalan sakit, lapar yang terasa ekstrem, tidak ada atau kurang tersedia kebutuhan dapur yang biasanya melonjak dratis. Biasanya Rp. 50.000 sudah cukup satu hari, tapi saat memasuki bulan Ramadhan membengkak sampai Rp.100.000 lebih. Bukan hanya Nasi dan lauk-pauknya, tapi juga makanan tambahan yang tidak terduga membekaknya seperti; Es buah, kueh, buah-buahan, kurma dan ta’jilan lain-nya. Belum lagi orang tua harus memikirkan lagi persiapan memperbaiki rumah, mulai dari ngecat sampai ganti korden. Menyiapkan kueh dan sejenisnya. Anak-anak tidak cukup hanya satu atau dua baju, tapi kadang satu anak sampai tiga biji baju. Jika anak 4, berarti 12 pasang wajib sudah ada di Rumah. Biasanya orang tua cukup hanya Baju Koko dan Sarung.

Penyambutan bulan Ramadhan di kalangan Pesantren dengan pengajian Kitab Kuning kilatan. Pengajian kitab-kitab besar seperti Shoheh Bukhari, Muslim, Tafsir Munir, Mughni Labib dan Muhadzab biasanya sudah mulai satu minggu sebelum puasa. Sedangkan kitab-kitab tipis seperti Fathul Qarib Pinggir, Safinnah Najah, Ayuhal Walad, Tijan Darori dan kitab-kitab tipis lain dimulai pada puasa kedua. Tradisi ini hanya ada di pesantren-pesantren yang berafiliasi Nahdlatul Ulama atau NU, atau juga pesantren yang mempunyai tradisi keilmuan seperti NU tadi. Menyambut bulan Ramadhan dengan memperbanyak literasi ilmiah para santri. Jadi tidak kepikir persoalan hal-hal yang remeh temeh persoalan makan atau baju. Bagi santri masa dulu, bisa menambah ilmu pengetahuan merupakan suatu kebanggan tersendiri melebihi kebanggaan punya baju atau sarung baru.


Di Pesantren para santri tidak mempunyai tradisi Ziarah Kubur, sebab mereka hampir tiap hari ada yang selalu Ziarah Kubur. Rata-rata para santri yang duduk-duduk di maqam(tempat kuburan para ulama, kiai dan dzuriyah pendiri pesantren) sedang melaksanakan ritual hapalan Al-Qur’an, atau Tatabahasa Arab Seperti Jurmiyah, Imriti dan Alfiyah. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk kegiatan ulumuddin. Ini pemandangan yang unik. Sebab bagi orang yang tidak tahu atau orang yang anti ziarah kubur, akan mudah menuduh para santri sedang meminta atau beribadah kepada ahli kubur. Tuduhan-tuduhan yang sering terjadi dari kelompok yang pendek pemahaman liberasi tentang kepesantrenan. Padahal bagi santri, tempat ini sangat favorit untuk hapalan, tenang, sepi dan tidak berisik. Jadi lebih mudah bisa cepat hapal. Berbeda jika hapalan di asrama yang penuh dengan puluhan santri-santri, ramai dan tidak efektif.


Disebagian lagi, ada tradisi Pesantren NU melaksanakan penutupan sementara kegiatan pesantren tahunan dengan mengadakan imtihan dengan berbagai kegiatan penampilan para santri. Kegiatan ini beragam. Sesuai dengan bakat dan minat santri. Jika santri suka hapalan Al-Qur’an akan menampilkan hapalan Al-Qur’an, jika tatabahasa arab, maka hapalan tatabasa arab, jika suka kitab kuning hapalan kitab kuning, jika suka seni, akan menampilkan berbagai seni mulai dari seni rupa, suara, drama dan lain-lain. selesai kegiatan ini baru hari berikutnya bersama-sama ziarah ke maqam dzuriah pesantren. Baru memasuki bulan Ramadhan, mereka ngaji atau memperlancar hapalan al-Qur’an.


Penyambutan bulan ramadhan di tengah-tengah masyarakat muslim beragam. Secara umum biasanya ziarah kubur di makam-makam umum yang orang tua atau saudaranya meninggal. Biasanya ada penjual bunga. Ini tradisi Indonesia yang meng-qiyaskan hadist nabi ketika Nabi pergi kuburan membawa pelepah daun kurma. Fungsinya untuk meringankan beban dosa akibat karena saat bersuci tidak bersih. Karena Indonesia tidak ada pelepah daun kurma, maka menggunakan bunga. Selain itu, bunga mempunyai simbol bentuk cinta kasih kepada orang yang dicintainya. Akhirnya, kedudukan simbol pada hal-hal tertentu pun menjadi sangat penting. Jika orang Melayu bisa dilihat dari memakai kain, jika kainya di bawah lutut, berarti sudah menikah. jika di atas lutut belum menikah. Simbol-simbol ini bukan ajaran Islam, tapi isyarat membantu sebagai petunjuk bahwa mereka sudah mempunyai status berbeda-beda. Bukankah memperjelas status seseorang menjadi sangat penting? Apa jadinya jika tidak ada simbol, orang bisa terperosok pada hal-hal yang seharusnya tidak boleh. Dari sini sebuah tradisi bisa membantu terlaksananya ajaran Islam dengan lebih baik dan lebih efektif.


Ada juga penyambutan bulan ramadhan dengan biasa-biasa saja; tidak ziarah kubur dan juga tidak ngaji. Polos saja. Mereka menganggap menyambut tidak disambut juga sama, bulan ramadhan pasti datang. Apalagi kalau ada penambahan-penambah ilmiah tentang bagaimana nabi dan sahabat melakukan. Alasan-alasan ini yang kemudian kadang malah tampil bukan menyelesaikan malah, tapi menimbulkan masalah baru. Sebab orang-orang berbicara berdasarkan pemahaman yang pendek.

Nabi Muhammad s.a.w berkaitan dengan bahagia datang nya bulan ramadhan, dia berkata, “Barangsiapa yang bergembira akan hadirnya bulan ramadhan, jasadnya tidak akan tersentuh sedikitpun dari Api Neraka”. Hadist tersebut menunjukan suasana batin bahagia dari setiap muslim. kebahagiaan karena iman dan kecintaan kepada Allah s.w.t atas ibadah puasa di bulan ramadhan. Orang yang bahagia pada bulan Ramadhan sebenarnya pintu pertama dari wujud jiwa yang agung dan bersih seorang hamba. Dia telah menunjukan pada diri sendiri bahwa jiwa dan jasadnya sangat merindui perintah-perintah Tuhan dalam wujud puasa. Orang-orang yang sangat “bronto” atau sangat cinta sekali akan perintah Allah, berarti telah menempatkan diri sebagai orang yang sangat mencintai-Nya dan orang yang sangat senang terhadap perintah-perintah-Nya. Orang-orang seperti ini jelas sangat cocok mendapatkan predikat terbebas dari Api Neraka. Jika terbebas dari Api Neraka, maka otomatis Tuhan memasukan ke dalam surga-Nya.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884