
Beberapa hari lagi, umat Islam akan
melaksanakan ibadah yang sangat agung, yaitu puasa wajib di bulan Ramadhan. Sebagian
umat Islam ada menyabutnya dengan suka cita, ada juga yang kurang bahagia. Sikap
kurang bahagia mungkin karena bayangan puasa tahun lalu masih membekas hingga
saat ini; persoalan sakit, lapar yang terasa ekstrem, tidak ada atau kurang
tersedia kebutuhan dapur yang biasanya melonjak dratis. Biasanya Rp. 50.000
sudah cukup satu hari, tapi saat memasuki bulan Ramadhan membengkak sampai Rp.100.000
lebih. Bukan hanya Nasi dan lauk-pauknya, tapi juga makanan tambahan yang tidak
terduga membekaknya seperti; Es buah, kueh, buah-buahan, kurma dan ta’jilan
lain-nya. Belum lagi orang tua harus memikirkan lagi persiapan memperbaiki
rumah, mulai dari ngecat sampai ganti korden. Menyiapkan kueh dan sejenisnya. Anak-anak
tidak cukup hanya satu atau dua baju, tapi kadang satu anak sampai tiga biji
baju. Jika anak 4, berarti 12 pasang wajib sudah ada di Rumah. Biasanya orang
tua cukup hanya Baju Koko dan Sarung.
Penyambutan bulan Ramadhan di kalangan Pesantren dengan pengajian Kitab Kuning kilatan. Pengajian kitab-kitab besar seperti Shoheh Bukhari, Muslim, Tafsir Munir, Mughni Labib dan Muhadzab biasanya sudah mulai satu minggu sebelum puasa. Sedangkan kitab-kitab tipis seperti Fathul Qarib Pinggir, Safinnah Najah, Ayuhal Walad, Tijan Darori dan kitab-kitab tipis lain dimulai pada puasa kedua. Tradisi ini hanya ada di pesantren-pesantren yang berafiliasi Nahdlatul Ulama atau NU, atau juga pesantren yang mempunyai tradisi keilmuan seperti NU tadi. Menyambut bulan Ramadhan dengan memperbanyak literasi ilmiah para santri. Jadi tidak kepikir persoalan hal-hal yang remeh temeh persoalan makan atau baju. Bagi santri masa dulu, bisa menambah ilmu pengetahuan merupakan suatu kebanggan tersendiri melebihi kebanggaan punya baju atau sarung baru.

Di Pesantren para santri tidak mempunyai tradisi Ziarah Kubur, sebab mereka hampir tiap hari ada yang selalu Ziarah Kubur. Rata-rata para santri yang duduk-duduk di maqam(tempat kuburan para ulama, kiai dan dzuriyah pendiri pesantren) sedang melaksanakan ritual hapalan Al-Qur’an, atau Tatabahasa Arab Seperti Jurmiyah, Imriti dan Alfiyah. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk kegiatan ulumuddin. Ini pemandangan yang unik. Sebab bagi orang yang tidak tahu atau orang yang anti ziarah kubur, akan mudah menuduh para santri sedang meminta atau beribadah kepada ahli kubur. Tuduhan-tuduhan yang sering terjadi dari kelompok yang pendek pemahaman liberasi tentang kepesantrenan. Padahal bagi santri, tempat ini sangat favorit untuk hapalan, tenang, sepi dan tidak berisik. Jadi lebih mudah bisa cepat hapal. Berbeda jika hapalan di asrama yang penuh dengan puluhan santri-santri, ramai dan tidak efektif.

Disebagian lagi, ada tradisi Pesantren NU melaksanakan penutupan sementara kegiatan pesantren tahunan dengan mengadakan imtihan dengan berbagai kegiatan penampilan para santri. Kegiatan ini beragam. Sesuai dengan bakat dan minat santri. Jika santri suka hapalan Al-Qur’an akan menampilkan hapalan Al-Qur’an, jika tatabahasa arab, maka hapalan tatabasa arab, jika suka kitab kuning hapalan kitab kuning, jika suka seni, akan menampilkan berbagai seni mulai dari seni rupa, suara, drama dan lain-lain. selesai kegiatan ini baru hari berikutnya bersama-sama ziarah ke maqam dzuriah pesantren. Baru memasuki bulan Ramadhan, mereka ngaji atau memperlancar hapalan al-Qur’an.

Penyambutan bulan ramadhan di tengah-tengah masyarakat muslim beragam. Secara umum biasanya ziarah kubur di makam-makam umum yang orang tua atau saudaranya meninggal. Biasanya ada penjual bunga. Ini tradisi Indonesia yang meng-qiyaskan hadist nabi ketika Nabi pergi kuburan membawa pelepah daun kurma. Fungsinya untuk meringankan beban dosa akibat karena saat bersuci tidak bersih. Karena Indonesia tidak ada pelepah daun kurma, maka menggunakan bunga. Selain itu, bunga mempunyai simbol bentuk cinta kasih kepada orang yang dicintainya. Akhirnya, kedudukan simbol pada hal-hal tertentu pun menjadi sangat penting. Jika orang Melayu bisa dilihat dari memakai kain, jika kainya di bawah lutut, berarti sudah menikah. jika di atas lutut belum menikah. Simbol-simbol ini bukan ajaran Islam, tapi isyarat membantu sebagai petunjuk bahwa mereka sudah mempunyai status berbeda-beda. Bukankah memperjelas status seseorang menjadi sangat penting? Apa jadinya jika tidak ada simbol, orang bisa terperosok pada hal-hal yang seharusnya tidak boleh. Dari sini sebuah tradisi bisa membantu terlaksananya ajaran Islam dengan lebih baik dan lebih efektif.
Ada juga penyambutan bulan ramadhan dengan
biasa-biasa saja; tidak ziarah kubur dan juga tidak ngaji. Polos saja. Mereka menganggap
menyambut tidak disambut juga sama, bulan ramadhan pasti datang. Apalagi kalau
ada penambahan-penambah ilmiah tentang bagaimana nabi dan sahabat melakukan. Alasan-alasan
ini yang kemudian kadang malah tampil bukan menyelesaikan malah, tapi
menimbulkan masalah baru. Sebab orang-orang berbicara berdasarkan pemahaman
yang pendek.
Nabi Muhammad s.a.w berkaitan dengan
bahagia datang nya bulan ramadhan, dia berkata, “Barangsiapa yang bergembira
akan hadirnya bulan ramadhan, jasadnya tidak akan tersentuh sedikitpun dari Api
Neraka”. Hadist tersebut menunjukan suasana batin bahagia dari setiap muslim.
kebahagiaan karena iman dan kecintaan kepada Allah s.w.t atas ibadah puasa di
bulan ramadhan. Orang yang bahagia pada bulan Ramadhan sebenarnya pintu pertama
dari wujud jiwa yang agung dan bersih seorang hamba. Dia telah menunjukan pada
diri sendiri bahwa jiwa dan jasadnya sangat merindui perintah-perintah Tuhan
dalam wujud puasa. Orang-orang yang sangat “bronto” atau sangat cinta
sekali akan perintah Allah, berarti telah menempatkan diri sebagai orang yang
sangat mencintai-Nya dan orang yang sangat senang terhadap
perintah-perintah-Nya. Orang-orang seperti ini jelas sangat cocok mendapatkan
predikat terbebas dari Api Neraka. Jika terbebas dari Api Neraka, maka otomatis
Tuhan memasukan ke dalam surga-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2982
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884