Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mereformasi Nafsu



Senin , 27 Maret 2023



Telah dibaca :  360

Buah puasa dalam Al-Qur’an melahirkan manusia mutaqin. Jika mengacu pada kontek puasa, mutaqin disini mempunyai arti mampu menjauhi perkataan tercela, perbuatan nista, dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermanfaat. Perbuatan-perbuatan sejenis itu adalah perbuatan yang menuruti nafsu sayyiah atau nafsu amarah atau nafsu tercela. Jadi sebenarnya hakikat mutaqin adalah orang-orang yang mampu menundukan nafsu nya sendiri yang sering mengajak kepada perbuatan maksiat. Penundukan diri atas nafsu tersebut dan berhasil, maka manusia mendapatkan status sebagai nafsu mutmainah atau nafsu hasanah. Ibarat sebuah gelombang laut, nafsu yang senantiasa mengajak kepada kemaksiatan bergerak terus yang kadang tinggi sehingga menggoncangkan kapal laut, bahkan jika Nahkoda tidak begitu pandai membaca gerak gelombang, Kapal tersebut akan karam dan seluruh penumpang tenggelam dan meninggal dunia. Nafsu itu laksana gelombang sedang atau kecil yang bisa dikendalikan oleh Kahkoda, tapi kadang sebagian penumpang yang tidak terbiasa melihat gelombang akan mabuk laut, muntah dan seluruh tubuh keluar keringat dingin.

Begitu juga nafsu yang sudah mutmainah, bagai kapal laut selam. Ada gelombang kuat dan ganas, kapal tetap tenang dan berjalan sesuai dengan prosedur yang jelas. Di kedalaman laut, nahkoda bisa membaca situasi yang akan terjadi. Bahkan permukaan laut yang tinggi, dan gelombang yang menggunung tidak membuatnya berhenti untuk berlayar. Dia bersama kru yang bertugas telah bersiaga dengan sempurna untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi secara professional.  Kapal terus berjalan dan memonitor segala situasinya melalui navigasi. Di dalamnya ada radar yang memberi informasi terkait jarak kapal dengan daratan, kapal lain, serta kemungkinan rintangan yang akan dihadapi agar terhindar dari tabrakan. Ia juga berfungsi sebagai pendekteksi target. Navigasi juga dilengkapi dengan Satelit kapal atau GPS yang berperan menentukan titik suatu Kapal di lautan atau di permukaan Bumi.

Nabi Muhammad pernah mengatakan demikian, “ Ada perang yang lebih besar dari Perang Badar, yaitu perang melawan hawa nafsu”. Sebagian sahabat mendengar nya kaget. Mereka mengira bahwa peperangan yang tidak imbang antara kaum muslim dan kafiriin saat itu adalah pertarungan sangat mengerikan. Seperti Cicak melawan Buaya atau Semut melawan Gajah. Seandainya, kaum muslimin tidak all out dan tidak merancang strategi perang yang jenius, pada saat itu agama Islam tinggal kenangan. Sampai-sampai Rasulullah turun tangan dan berdoa kepada Allah untuk menyelematkan agama-nya dari serangan kaum kafirin. Realita yang sangat mengerikan saat para sahabat melihat jumlah kaum kafirin dengan jumlah sangat besar dan pasukan nabi jumlah sangat sedikit. Kondisi yang sangat sulit untuk mengandalkan kekuatan akal dan tenaga. Jika head to head pasti kalah. Satu-satunya jalan yaitu menambah kekuatan iman seraya mengharapkan pertolongan Allah agar kemenangan berpihak kepada umat Islam. Terbukti, umat Islam menang dalam Perang Badar.

Tulah kekuatan nafsu mutmainah. Nabi yang agung sebenarnya telah mengajarkan dalam praktek Perang Badar, Saat para sahabat menyadari makna sebuah perjuangan hanya untuk menegakan kalimat Allah. Saat seluruh energi difokuskan untuk kepentingan Sang Pencipta, maka kekuatan-kekuatan spiritual dan kekuatan alam akan mendukungnya dengan sangat sempurna. Perang Badar telah mengajarkan realita kekuatan tersebut secara dahsyat. Para sahabat telah membuktikan kekuatan nafsu mutmainah, namun mereka belum menyadari nya. dan ini hal yang lumrah, sebagaimana kita melakukan sesuatu yang belum tahu definisi operasionalnya, tetapi sudah melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Para sahabat saat itu adalah kelompok yang heterogen latar belakang status sosial dan kehidupan sehari-hari. Ada sahabat yang secara psikologi sudah tuma’ninah mengikuti petunjuk nabi dalam kehidupan sehari-hari, ada yang masih setengah-setengah, Ada juga yang masih kental kecondongan kepada nafsu syayiah. Namun apapun kondisinya, mereka tampil menjadi pembelajaran penting dan menjadi hukum-hukum syariat Islam bagi umat Islam setelah nya. Salah satu contoh adalah saat Perang Uhud.

Berdasarkan pengalaman pada Perang Badar, Nabi dan para sahabat telah mempunyai strategi perang sangat indah sekali, yaitu di atas bukit dengan banyak benteng-benteng besar berupa bebatuan. Seandainya musuh naik Kuda keatas bukit, pasukan kaum muslimin dengan mudah melepaskan Busur Panah dengan leluasa. Strategi umat Islam berhasil. Banyak pasukan kaum kafirin tewas dan yang lain lari tunggang langgang dengan meninggalkan Kuda dan bekal tergeletak di kaki Bukit Uhud. Para pasukan nabi yang masih condong pada nafsu sayyiah pun terpesona dengan harta kekayaan melimpah. Barang ghonimah telah membutakan mata dan telinga seolah-olah tuli tidak mendengar perintah nabi untuk tetap berada di posisi semula. Mereka berhamburan lari ke bawah dan mengambil dengan suka cita. Nabi sedih melihat ini. Namun dia pun menyadari, bahwa semua sudah didesain oleh Allah. Setiap kejadian menjadi pembelajaran yang sangat penting.

Prediksi nabi benar-benar terjadi. Saat sebagian pasukan nabi turun ke kaki bukit dan mengambil ghonimah, pasukan kaum kafirin sudah berada di bukit. Mereka dengan mudah menyerang kaum muslimin yang terlena. Bahkan perang ini, Rasulullah yang agung mengalami luka berat. Para sahabat berhasil menyelamatkan Nabi. Namun sebagian besar, pasukan Islam banyak yang luka dan meninggal dunia.

Sejarah ini telah menjadi pembelajaran kita semua. Pertarungan nafsu selalu saja terjadi pada diri kita setiap saat. Hari ini mungkin muncul nafsu mutmainah; bersih, tidak korupsi, menjadi pendakwah dan penggerak masyarakat untuk taat terhadap syariat dan menolak segala perbuatan maksiat, dan kecurangan. Namun, kita tidak bisa menjamin kondisi batiniah selalu normal demikian. Hati kita bagai gelombang laut yang bervariasi gelombangnya. Itulah nafsu kita. tentu dalam kondisi seperti ini, kita memang perlu berlatih dengan serius agar kita bisa berenang di lautan dan bisa menyelam di dasar laut agar semakin tahu, bahwa betapapun kondisi dohir kita yang bergelombang, tetap hati selalut bersandar kepada Allah s.w.t. kita perlu “angen-angen”, interopeksi diri beberapa bagian kelemahan-kelemahan untuk melakukan reformasi nafsu masing-masing agar menjadi pribadi yang lebih mulia di hadapan Allah s.w.t. Bukankah demikian ?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895