
Buah puasa dalam Al-Qur’an melahirkan
manusia mutaqin. Jika mengacu pada kontek puasa, mutaqin disini mempunyai arti
mampu menjauhi perkataan tercela, perbuatan nista, dan pekerjaan-pekerjaan yang
tidak bermanfaat. Perbuatan-perbuatan sejenis itu adalah perbuatan yang
menuruti nafsu sayyiah atau nafsu amarah atau nafsu tercela. Jadi sebenarnya
hakikat mutaqin adalah orang-orang yang mampu menundukan nafsu nya sendiri yang
sering mengajak kepada perbuatan maksiat. Penundukan diri atas nafsu tersebut
dan berhasil, maka manusia mendapatkan status sebagai nafsu mutmainah atau
nafsu hasanah. Ibarat sebuah gelombang laut, nafsu yang senantiasa mengajak
kepada kemaksiatan bergerak terus yang kadang tinggi sehingga menggoncangkan
kapal laut, bahkan jika Nahkoda tidak begitu pandai membaca gerak gelombang, Kapal
tersebut akan karam dan seluruh penumpang tenggelam dan meninggal dunia.
Nafsu itu laksana gelombang sedang atau kecil yang bisa dikendalikan oleh Kahkoda,
tapi kadang sebagian penumpang yang tidak terbiasa melihat gelombang akan mabuk
laut, muntah dan seluruh tubuh keluar keringat dingin.
Begitu juga nafsu yang sudah mutmainah,
bagai kapal laut selam. Ada gelombang kuat dan ganas, kapal tetap tenang dan
berjalan sesuai dengan prosedur yang jelas. Di kedalaman laut, nahkoda bisa
membaca situasi yang akan terjadi. Bahkan permukaan laut yang tinggi, dan
gelombang yang menggunung tidak membuatnya berhenti untuk berlayar. Dia bersama
kru yang bertugas telah bersiaga dengan sempurna untuk menghadapi segala
kemungkinan yang terjadi secara professional. Kapal terus berjalan dan memonitor segala
situasinya melalui navigasi. Di dalamnya ada radar yang memberi informasi
terkait jarak kapal dengan daratan, kapal lain, serta kemungkinan rintangan
yang akan dihadapi agar terhindar dari tabrakan. Ia juga berfungsi sebagai
pendekteksi target. Navigasi juga dilengkapi dengan Satelit kapal atau GPS yang
berperan menentukan titik suatu Kapal di lautan atau di permukaan Bumi.
Nabi Muhammad pernah mengatakan demikian, “
Ada perang yang lebih besar dari Perang Badar, yaitu perang melawan hawa
nafsu”. Sebagian sahabat mendengar nya kaget. Mereka mengira bahwa peperangan
yang tidak imbang antara kaum muslim dan kafiriin saat itu adalah pertarungan
sangat mengerikan. Seperti Cicak melawan Buaya atau Semut melawan Gajah.
Seandainya, kaum muslimin tidak all out dan tidak merancang strategi
perang yang jenius, pada saat itu agama Islam tinggal kenangan. Sampai-sampai Rasulullah
turun tangan dan berdoa kepada Allah untuk menyelematkan agama-nya dari
serangan kaum kafirin. Realita yang sangat mengerikan saat para sahabat melihat
jumlah kaum kafirin dengan jumlah sangat besar dan pasukan nabi jumlah sangat
sedikit. Kondisi yang sangat sulit untuk mengandalkan kekuatan akal dan tenaga.
Jika head to head pasti kalah. Satu-satunya jalan yaitu menambah
kekuatan iman seraya mengharapkan pertolongan Allah agar kemenangan berpihak
kepada umat Islam. Terbukti, umat Islam menang dalam Perang Badar.
Tulah kekuatan nafsu mutmainah. Nabi
yang agung sebenarnya telah mengajarkan dalam praktek Perang Badar, Saat para
sahabat menyadari makna sebuah perjuangan hanya untuk menegakan kalimat Allah.
Saat seluruh energi difokuskan untuk kepentingan Sang Pencipta, maka
kekuatan-kekuatan spiritual dan kekuatan alam akan mendukungnya dengan sangat
sempurna. Perang Badar telah mengajarkan realita kekuatan tersebut secara
dahsyat. Para sahabat telah membuktikan kekuatan nafsu mutmainah, namun
mereka belum menyadari nya. dan ini hal yang lumrah, sebagaimana kita melakukan
sesuatu yang belum tahu definisi operasionalnya, tetapi sudah melaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari.
Para sahabat saat itu adalah kelompok yang
heterogen latar belakang status sosial dan kehidupan sehari-hari. Ada sahabat
yang secara psikologi sudah tuma’ninah mengikuti petunjuk nabi dalam
kehidupan sehari-hari, ada yang masih setengah-setengah, Ada juga yang masih
kental kecondongan kepada nafsu syayiah. Namun apapun kondisinya, mereka
tampil menjadi pembelajaran penting dan menjadi hukum-hukum syariat Islam bagi
umat Islam setelah nya. Salah satu contoh adalah saat Perang Uhud.
Berdasarkan pengalaman pada Perang Badar,
Nabi dan para sahabat telah mempunyai strategi perang sangat indah sekali,
yaitu di atas bukit dengan banyak benteng-benteng besar berupa bebatuan.
Seandainya musuh naik Kuda keatas bukit, pasukan kaum muslimin dengan mudah
melepaskan Busur Panah dengan leluasa. Strategi umat Islam berhasil. Banyak
pasukan kaum kafirin tewas dan yang lain lari tunggang langgang dengan
meninggalkan Kuda dan bekal tergeletak di kaki Bukit Uhud. Para pasukan nabi yang
masih condong pada nafsu sayyiah pun terpesona dengan harta kekayaan melimpah.
Barang ghonimah telah membutakan mata dan telinga seolah-olah tuli tidak
mendengar perintah nabi untuk tetap berada di posisi semula. Mereka berhamburan
lari ke bawah dan mengambil dengan suka cita. Nabi sedih melihat ini. Namun dia
pun menyadari, bahwa semua sudah didesain oleh Allah. Setiap kejadian menjadi
pembelajaran yang sangat penting.
Prediksi nabi benar-benar terjadi. Saat
sebagian pasukan nabi turun ke kaki bukit dan mengambil ghonimah,
pasukan kaum kafirin sudah berada di bukit. Mereka dengan mudah menyerang kaum
muslimin yang terlena. Bahkan perang ini, Rasulullah yang agung mengalami luka
berat. Para sahabat berhasil menyelamatkan Nabi. Namun sebagian besar, pasukan
Islam banyak yang luka dan meninggal dunia.
Sejarah ini telah menjadi pembelajaran kita
semua. Pertarungan nafsu selalu saja terjadi pada diri kita setiap saat. Hari
ini mungkin muncul nafsu mutmainah; bersih, tidak korupsi, menjadi
pendakwah dan penggerak masyarakat untuk taat terhadap syariat dan menolak
segala perbuatan maksiat, dan kecurangan. Namun, kita tidak bisa menjamin
kondisi batiniah selalu normal demikian. Hati kita bagai gelombang laut yang
bervariasi gelombangnya. Itulah nafsu kita. tentu dalam kondisi seperti ini,
kita memang perlu berlatih dengan serius agar kita bisa berenang di lautan dan bisa
menyelam di dasar laut agar semakin tahu, bahwa betapapun kondisi dohir kita
yang bergelombang, tetap hati selalut bersandar kepada Allah s.w.t. kita perlu “angen-angen”,
interopeksi diri beberapa bagian kelemahan-kelemahan untuk melakukan reformasi
nafsu masing-masing agar menjadi pribadi yang lebih mulia di hadapan Allah
s.w.t. Bukankah demikian ?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895